Bab 8: Pertemuan di Balik Topeng Kemewahan

831 Words
(Bagian 1: Tatapan yang Membakar) Langkah kakiku di atas karpet merah terasa begitu ringan namun pasti. Setiap bunyi detak sepatu hak tinggiku seolah menjadi lonceng kematian bagi ketenangan Maya. Saat aku memasuki aula utama yang megah dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan, semua percakapan seolah berhenti sejenak. Aku bisa merasakan ratusan pasang mata tertuju pada kami, terutama pada sosok Adrian Sanjaya yang berdiri gagah di sampingku. Namun, mataku hanya tertuju pada satu titik. Di sudut ruangan, dekat meja jamuan, Maya berdiri dengan gelas sampanye yang hampir jatuh dari tangannya. Di sampingnya, Ibu tampak mematung, wajahnya yang tadi penuh tawa sombong kini pucat pasi. Mereka menatapku seolah-olah aku adalah hantu yang merangkak keluar dari kegelapan hujan malam itu. (Bagian 2: Suara yang Tak Lagi Lemah) Aku dan Adrian berjalan mendekat ke arah mereka. Aku bisa melihat Maya mencoba mengatur napasnya, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menyerangku kembali. "Arini...?" suara Ibu terdengar parau, hampir tidak keluar. "Kau... bagaimana mungkin kau bisa ada di sini dengan pakaian seperti itu?" Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah kulatih berkali-kali di depan cermin. "Dunia ini kecil, Bu. Ternyata kebenaran tidak butuh waktu lama untuk menunjukkan dirinya sendiri," jawabku dengan nada yang sangat tenang dan elegan. Tidak ada lagi nada memohon dalam suaraku. Maya melangkah maju, wajahnya merah padam karena malu dan marah. "Pasti ini hasil merayu pria lagi, kan? Hebat sekali kau, Arini! Setelah diusir dari rumah, kau langsung mendapatkan mangsa baru yang lebih kaya? Kau benar-benar tidak tahu malu!" teriak Maya, suaranya mulai menarik perhatian tamu-tamu penting di sekitar kami. (Bagian 3: Pembelaan Sang Penguasa) Ibu bukannya membela, justru menatapku dengan jijik. "Jadi benar kata Maya? Kau menjual dirimu demi kemewahan ini? Arini, kau benar-benar telah mencoreng nama baik keluarga kita!" Sebelum aku sempat membalas, aku merasakan tangan Adrian melingkar di pinggangku, sebuah pelukan protektif yang sangat kuat. Aura di sekitar Adrian seketika menjadi dingin dan mencekam. "Jaga mulutmu, Nona muda," suara Adrian terdengar rendah namun begitu mengintimidasi hingga Maya seketika terdiam. "Wanita di sampingku ini adalah asisten pribadiku dan orang yang paling kuhormati. Jika kau sekali lagi menghinanya dengan kata-kata kotor itu, aku pastikan besok pagi namamu dan keluargamu akan masuk ke dalam daftar hitam seluruh perbankan di negara ini." Maya gemetar. Dia baru menyadari siapa pria yang berdiri di sampingku. Dia mengenal wajah Adrian Sanjaya dari majalah bisnis yang sering dia baca secara sembunyi-sembunyi. Keberaniannya yang palsu seketika menguap, digantikan oleh ketakutan yang nyata. (Bagian 4: Skakmat untuk Maya) Aku melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Maya, menatap tepat ke dalam matanya yang gelisah. Aku membuka tas kecilku dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah kupersiapkan. "Oh, omong-omong, Maya," bisikku dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami bertiga. "Aku punya rincian laporan keuangan dari kampusmu. Ternyata uang kuliah yang selama ini aku kirimkan tidak pernah kau bayarkan ke universitas. Kau menggunakannya untuk membeli tas branded yang sedang kau pegang itu, kan? Bagaimana jika Ibu tahu bahwa anak kesayangannya ini adalah seorang penipu?" Wajah Maya berubah menjadi abu-abu. Gelas di tangannya bergetar hebat. Di pesta yang semegah ini, di tengah orang-orang yang dia ingin buat terkesan, Maya akhirnya menyadari bahwa dia bukan lagi pemenangnya. Aku menatapnya dengan penuh kemenangan. "Permainan baru saja dimulai, Maya," ucapku pelan sebelum berbalik pergi bersama Adrian, meninggalkan mereka berdua dalam kehancuran yang tak bersuara. Luka yang Tak Berdarah Ibu tampak tergagap melihat reaksi Adrian. Namun, bukannya sadar, matanya justru beralih pada kalung berlian yang melingkar di leherku. "Arini... Ibu tidak menyangka kau akan sejauh ini. Kau rela berdiri di samping pria asing dan mengancam adikmu sendiri hanya demi terlihat kaya? Ke mana rasa hormatmu sebagai anak sulung?" Kata-kata Ibu bagaikan sembilu yang menyayat luka lama. Aku menatap wanita yang dulu sangat kuhormati itu. "Rasa hormat, Bu?" tanyaku dengan tawa getir yang tertahan. "Di mana rasa hormat Ibu padaku saat Ibu membuang uang obat jantung yang kubeli dengan darah dan keringatku sendiri? Di mana rasa sayang Ibu saat Ibu lebih memilih percaya pada foto editan Maya daripada anak yang selama sepuluh tahun ini memberi Ibu makan?" Ibu terdiam, namun egonya masih terlalu tinggi untuk meminta maaf. Dia justru memalingkan wajah. "Itu karena kelakuanmu sendiri yang mencurigakan!" "Mencurigakan karena aku terlalu lelah untuk berdandan? Mencurigakan karena aku pulang pagi dengan baju kotor akibat lembur di pabrik?" Aku melangkah maju, membiarkan kemarahan yang selama ini kupendam mengalir di setiap kata. "Malam ini, lihatlah baik-baik, Bu. Pria di sampingku ini adalah orang yang menghargaiku lebih dari keluarga sendiri. Jika Ibu menganggapku sebagai aib, maka anggaplah aku sudah mati sejak malam hujan itu. Mulai sekarang, aku tidak punya Ibu, dan Ibu tidak punya anak bernama Arini." Aku melihat Ibu tersentak. Ada kilat penyesalan yang sangat tipis di matanya, namun Maya segera menarik tangan Ibu, mencoba membisikkan sesuatu untuk kembali meracuni pikirannya. Namun, aku tidak peduli lagi. Melihat mereka gemetar di tengah kemewahan ini sudah cukup bagiku untuk menyadari bahwa pengabdian butaku selama ini adalah sebuah kesalahan besar. "Ayo, Tuan Adrian," ucapku sambil memutar tubuh, membelakangi mereka berdua. "Aroma di sini tiba-tiba menjadi sangat menyesakkan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD