(Bagian 1: Kecemburuan yang Membakar)
Setelah meninggalkan Adrian Pramoedya yang terpaku dengan kehancurannya, aku dan Adrian Sanjaya berjalan menuju balkon hotel untuk mencari udara segar. Namun, langkah kami terhenti saat sebuah teriakan melengking memecah keanggunan pesta malam itu.
"BERHENTI KAU, WANITA JALANG!"
Aku berbalik dan melihat Maya berlari ke arah kami dengan wajah yang sangat merah, seolah-olah dia baru saja kehilangan akalnya. Beberapa tamu undangan mulai berbisik-bisik, dan lampu-lampu kamera wartawan mulai mengarah ke kami. Maya tidak peduli lagi pada citranya; rasa irinya melihatku bersinar di samping Adrian Sanjaya telah melampaui logika sehatnya.
"Kau pikir kau siapa, hah?!" Maya menunjuk wajahku dengan jarinya yang gemetar. "Kau hanya anak pungut yang beruntung! Ibu, lihat dia! Dia berpura-pura menjadi bangsawan padahal dia hanya buruh pabrik yang bau keringat! Tuan Sanjaya, jangan tertipu oleh wajahnya yang dipoles ini!"
(Bagian 2: Ketenangan di Tengah Badai)
Aku menatap Maya dengan tatapan yang sangat datar. Tidak ada kemarahan di wajahku, hanya rasa kasihan yang mendalam. Adrian Sanjaya hendak melangkah maju untuk membungkamnya, namun aku menahan lengannya. Aku ingin menyelesaikan ini dengan tanganku sendiri.
"Sudah selesai bicaranya, Maya?" tanyaku dengan nada yang sangat rendah namun terdengar jelas di seluruh ruangan yang kini mendadak sepi.
"Kau..." Maya terengah-engah, matanya melotot tajam.
"Kau bilang aku bau keringat?" aku melangkah mendekatinya, membuat Maya secara insting mundur satu langkah. "Keringat itulah yang membiayai kuliahmu selama tiga tahun ini. Keringat itulah yang membelikanmu tas mewah yang sedang kau peluk itu. Dan keringat itulah yang membayar obat jantung Ibu setiap bulan sementara kau sibuk berpesta dengan uang kirimanku."
(Bagian 3: Kebenaran yang Menyakitkan)
Aku mengeluarkan ponselku dan menyalakannya. Aku memutar sebuah rekaman suara—rekaman pembicaraan Maya dengan temannya di malam aku diusir, yang sempat terekam secara tidak sengaja oleh CCTV di ruang tamu rumah kami yang kini sudah berada di bawah kendali tim IT Adrian Sanjaya.
Di dalam rekaman itu, suara Maya terdengar sangat jelas: "Tenang saja, foto editan itu sudah kusebar. Ibu pasti akan mengusir si Arini kolot itu, dan semua harta peninggalan Ayah akan jatuh ke tanganku saja. Dia terlalu bodoh karena terlalu mencintai kita."
Suara itu menggema di seluruh aula. Ibu, yang berdiri tidak jauh dari sana, menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya berubah dari pucat menjadi sangat terpukul. Para tamu undangan mulai mencemooh Maya.
"Maya... kau..." Ibu jatuh terduduk di kursi terdekat, air matanya mulai mengalir. "Kau memfitnah kakakmu sendiri?"
(Bagian 4: Skakmat Terakhir)
Maya mencoba merebut ponselku, namun Adrian Sanjaya dengan sigap menghalangi tangannya. "Cukup, Nona Maya," suara Adrian menggelegar. "Keamanan, tolong bawa wanita ini keluar. Dia bukan hanya mengganggu privasi asistenku, tapi dia juga telah melakukan pencemaran nama baik dan penipuan keuangan."
Dua petugas keamanan bertubuh besar segera memegang lengan Maya. Dia memberontak, berteriak-teriak seperti orang gila, namun tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang merasa kasihan padanya. Saat dia diseret melewati karpet merah, dia sempat menatapku dengan kebencian yang murni.
Aku hanya berdiri tegak, menatap kepergiannya tanpa satu pun tetes air mata. Di sampingku, Adrian Sanjaya membisikkan sesuatu yang membuat hatiku sedikit menghangat. "Ini baru awal dari keadilanmu, Arini. Dunia akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya."
Runtuhnya Kesombongan
Setelah Maya menghilang dari pandangan, suasana aula perlahan kembali mencair, namun bisik-bisik para tamu masih terasa seperti dengungan lebah. Aku bisa merasakan tatapan Ibu yang tertuju padaku, tatapan yang penuh dengan kehancuran. Beliau mencoba melangkah mendekat, tangannya yang gemetar terulur seolah ingin menyentuh lenganku yang kini tertutup kain satin halus.
"Arini... anakku... apakah semua itu benar?" suara Ibu terdengar sangat rapuh, tidak ada lagi nada merendahkan yang biasanya kudengar.
Aku tidak membiarkan beliau menyentuhku. Aku melangkah mundur dengan halus, menjaga jarak yang sangat jelas. "Bukankah Ibu sudah mendengar sendiri rekamannya? Selama ini, Ibu membiarkan Maya menghisap darahku, lalu membuangku saat aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan. Sekarang, setelah melihat aku berdiri di sini, apakah Ibu baru sadar siapa yang benar-benar peduli padamu?"
Ibu terisak, air matanya membasahi pipinya yang mulai berkeriput. "Ibu salah, Arini. Maafkan Ibu... pulanglah, Nak. Kita mulai lagi semuanya."
Aku tersenyum pedih. "Rumah itu sudah bukan rumahku lagi, Bu. Malam saat Ibu mengusirku di bawah hujan, aku sudah tidak punya keluarga. Sekarang, aku punya kehidupan baru, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya lagi, termasuk Ibu."
Adrian Sanjaya melangkah maju, tangannya mendarat di bahuku dengan mantap. "Acara utamanya sudah selesai, Arini. Mari kita pergi. Masih banyak hal yang lebih penting daripada meratapi orang-orang yang terlambat menyesal."
Aku mengangguk, lalu berbalik membelakangi Ibu yang masih menangis tersedu-sedu. Saat aku berjalan keluar dari aula megah itu, aku merasa sayapku yang selama ini patah akhirnya tumbuh kembali. Aku bukan lagi korban. Aku adalah wanita yang baru saja memenangkan perang terbesar dalam hidupku.