(Bagian 1: Bayangan dari Masa Lalu)
Baru saja aku dan Adrian Sanjaya melangkah menjauh dari Ibu dan Maya, sebuah suara yang sangat kukenali menghentikan langkah kami. Suara yang dulu selalu membuat jantungku berdebar karena cinta, namun kini hanya menyisakan rasa mual yang luar biasa.
"Arini? Benarkah itu kau?"
Aku berbalik perlahan. Di depanku berdiri Adrian Pramoedya—mantan kekasihku yang dulu memilih untuk percaya pada fitnah Maya dan memutuskanku di saat aku paling hancur. Dia mengenakan jas yang cukup mahal, namun jika dibandingkan dengan Adrian Sanjaya yang berdiri di sampingku, dia terlihat seperti asisten yang kurang berpengalaman.
Wajahnya tampak sangat kacau. Matanya menyisir penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku bisa melihat keterkejutan, kekaguman, dan rasa tidak percaya yang campur aduk di sana. "Kau... kau terlihat sangat berbeda. Maya bilang kau menghilang setelah kejadian itu. Aku mencarimu, Arini."
(Bagian 2: Kebohongan yang Terbongkar)
Aku tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin di telingaku sendiri. "Mencariku, Adrian? Atau mencari cara untuk memastikan aku benar-benar hancur agar kau tidak merasa bersalah karena telah membuangku?"
"Arini, dengarkan aku dulu. Aku hanya... aku hanya tersulut emosi saat melihat foto-foto itu," ucapnya mencoba mendekat, namun tatapan tajam dari Adrian Sanjaya di sampingku membuatnya terhenti di tempat.
"Sepertinya kau punya masalah dengan penglihatanmu, Tuan Pramoedya," sela Adrian Sanjaya dengan suara yang berat dan mengintimidasi. "Wanita ini bukan lagi seseorang yang bisa kau panggil namanya dengan begitu santai. Dia adalah asisten pribadiku. Dan dari apa yang kudengar, kaulah pria yang membiarkan permata ini dibuang ke selokan hanya karena sedikit debu?"
Adrian Pramoedya tampak mengecil. Dia mengenal siapa Adrian Sanjaya—pria yang perusahaannya bisa menghancurkan karier Adrian Pramoedya hanya dengan satu panggilan telepon. "Tuan Sanjaya... saya tidak bermaksud... saya hanya kaget melihat Arini di sini."
(Bagian 3: Skakmat yang Menyakitkan)
Aku melangkah maju, menatap mata mantan kekasihku itu. Tidak ada lagi rasa cinta, yang tersisa hanyalah rasa kasihan melihat betapa dangkalnya pria ini.
"Kau tahu, Adrian? Saat aku kehujanan malam itu dan mengetuk pintumu untuk meminta penjelasan, kau bahkan tidak membukakan pintu. Kau lebih memilih mendengarkan suara Maya yang sedang merayakan kemenangannya," ucapku dengan nada datar namun menusuk. "Sekarang lihatlah diriku baik-baik. Aku berdiri di tempat yang tidak akan pernah bisa kau jangkau, bersama pria yang jauh lebih hebat dari dirimu dalam segala hal."
Aku merogoh tas kecilku, mengeluarkan sebuah undangan kerja sama bisnis yang tadinya akan diberikan perusahaan Adrian Sanjaya kepada perusahaan tempat mantanku bekerja. Di depan matanya, aku meremas kertas itu menjadi bola kecil.
"Tadi, aku berniat meminta Tuan Sanjaya untuk mempertimbangkan kerja sama dengan perusahaanmu," ucapku sambil tersenyum manis yang sangat mematikan. "Tapi setelah melihat wajahmu malam ini, aku menyadari bahwa bekerja sama dengan orang yang tidak punya prinsip sepertimu hanya akan merugikan kami. Pertemuan kita selesai sampai di sini."
(Bagian 4: Berjalan Menuju Masa Depan)
Aku membalikkan badan, membiarkan Adrian Pramoedya terpaku di tempatnya dengan wajah yang hancur karena penyesalan. Dia baru saja menyadari bahwa dia tidak hanya kehilangan seorang kekasih, tapi juga peluang emas yang bisa menyelamatkan kariernya.
Adrian Sanjaya merangkul pundakku, seolah menunjukkan pada semua orang di pesta itu siapa yang dia lindungi. "Kau melakukannya dengan sangat baik, Arini," bisiknya.
Aku mengangguk, merasakan beban berat di pundakku perlahan-lahan menguap. "Terima kasih, Adrian. Aku merasa... aku merasa baru saja lahir kembali."
Kehancuran Sang Pengkhianat
Adrian Pramoedya tampak menelan ludah berkali-kali. Matanya melirik ke arah tangan Adrian Sanjaya yang masih melingkar protektif di pinggangku. Dia tahu benar, di dunia bisnis yang kejam ini, Adrian Sanjaya adalah hiu besar, sementara dia hanyalah ikan kecil yang bisa ditelan kapan saja.
"Arini... aku... aku minta maaf. Aku hanya dikompori oleh Maya. Dia menunjukkan pesan-pesan singkatmu dengan pria lain, dia bilang kau..." suaranya melemah saat aku menatapnya dengan pandangan menghina.
"Dan kau percaya begitu saja? Tanpa bertanya padaku? Tanpa melihat mataku?" aku memotong kalimatnya dengan tajam. "Itu artinya kau tidak pernah benar-benar mengenalku, Adrian. Sepuluh tahun aku menemanimu dari nol, tapi dalam sepuluh menit kau membuangku karena kata-kata seorang gadis labil seperti Maya."
Adrian Sanjaya yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengeluarkan ponselnya. Dia menekan sesuatu di layar, lalu menunjukkannya pada si mantan kekasihku itu. Itu adalah grafik saham perusahaan tempat Adrian Pramoedya bekerja.
"Kau tahu, Tuan Pramoedya?" suara Adrian Sanjaya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Aku baru saja mengakuisisi lima belas persen saham perusahaanmu sore tadi melalui perusahaan cangkang. Aku berencana menjadikannya hadiah untuk Arini sebagai bentuk kompensasi atas rasa sakit yang kau berikan padanya. Jadi, secara teknis... mulai besok, wanita yang kau sebut 'simpanan' ini adalah atasanmu. Dia punya kuasa penuh untuk memecatmu atau membiarkanmu tetap bekerja sebagai bawahan yang paling rendah."
Mendengar itu, Adrian Pramoedya hampir saja jatuh terduduk jika dia tidak berpegangan pada pinggiran meja. Wajahnya yang tadi mencoba memelas kini berubah menjadi penuh ketakutan. Dia membayangkan bagaimana setiap hari dia harus menghadapku, wanita yang dulu dia usir, sebagai bosnya sendiri.
Aku menatapnya dengan rasa puas yang tak terkira. "Nikmatilah sisa malammu, Adrian. Karena mulai besok, hidupmu tidak akan pernah tenang lagi. Setiap kali kau melangkah ke kantor, kau akan teringat bahwa wanita yang kau buang malam itu adalah orang yang kini menggenggam nasibmu."