CHAPTER 1
Langit dengan lembaran kelabu dan gerimis tipis sore ini seakan mewakili suasana hatiku. Juga mahkota kamboja yang berguguran satu-satu, seakan mengingatkan bahwa ada yang mestinya kurelakan, kepergianmu. Kepergian yang sama sekali tak kuinginkan. Kepergian yang begitu menyakitkan.
Di sini aku sekarang, hanya berteman deretan pohon-pohon kamboja yang menjulang. Memandang kamboja putih dengan kuning di pusatnya itu memaksa pikiranku jauh melayang pada cerita yang ramai dibicarakan orang-orang. Al, apa kau ingat, mereka mengatakan bahwa bunga kamboja adalah representasi dari kesetiaan seorang perempuan yang ditinggalkan oleh kekasihnya karena maut yang menjemput. Sekarang lihat, aku di sini hanya bisa memeluk pusaramu, menangisi kepergianmu. Ingin aku menjelma pohon kamboja itu dan menemanimu selalu, tak peduli angin dingin akan merontokkan daun-daunku. Bukankah demikian yang kau inginkan? Bukankah pesan itu yang hendak kau sampaikan padaku secara tersirat ketika saat itu kau mengatakan betapa kau sangat menyukai bunga kamboja, supaya hatiku senantiasa hanya tertuju padamu bahkan andai maut memaksa untuk berpaling, maka ia tak akan mampu?
Mungkin tak ada yang pernah mengira bahwa mencintai bisa menjadi begitu menyakitkan, begitu pula dengan Sophia. Ia hanya pecinta amatir yang baru pertama kali merasakannya. Seperti seorang pengembara yang buta tentang daratan yang akan ditelusurinya, tanpa peta, tanpa pengetahuan apapun tentangnya. Bermodal tekad dan intuisi yang mengalir begitu saja bersama angin, ia seakan tak peduli pada apa saja yang mungkin akan dihadapi.
Sophia tidak sanggup untuk percaya bahwa mimpi buruk yang dialamimya tiga malam sebelum Al koma ternyata akan benar-benar menjadi kenyataan. Dia berusaha keras melupakannya. Dia meyakinkan diri bahwa itu hanyalah bunga tidur semata. Lalu pesan-pesan ganjil yang Al kirimkan Minggu pagi, yang mungkin suatu hari nanti tak akan pernah terlupakan, itu membuatnya benar-benar takut, semakin takut. Mimpi buruk itu terus saja membayanginya, membuat jantungnya serasa diremas kuat. Sampai tiba-tiba pesan terakhir yang Sophia kirimkan sore harinya tak kunjung dibalas, ia tidak sanggup memikirkan apapun lagi. Lalu kabar itupun datang, memberikan kepastian yang membuatnya tak sanggup lagi untuk berdiri. Al pergi.
Kenapa kau tiba-tiba pergi begitu saja, Al? Kau pergi meninggalkanku dengan rasa yang gamang ini. Kau pergi seolah-olah kau benar-benar telah menyelesaikan semua urusanmu di dunia ini. Benarkah kau memang telah selesai dengan semua itu, Al? Bagaimana denganku? Kita belum selesai. Kita belum selesai dengan rasa ini.
Kau tahu, waktu itu aku hanya terbawa emosi, tidak benar-benar marah. Kau tahu aku tak pernah bisa marah padamu. Waktu itu aku hanya, baiklah kuakui saja, meminta perhatian lebih darimu. Bukankah kau tahu aku selalu seperti itu?
Aku menyesal. Aku sungguh menyesal mengapa aku bersikap kekanak-kanakan dan membiarkan hari-hari terakhir itu terlewat dengan pertengkaran yang tidak berarti. Andai aku tahu.., andai aku tahu kau akan pergi, Al.
Kenapa kau lakukan ini padaku, Al? Bagaimana aku setelah ini, tanpamu. Kenapa kau seenaknya saja berkata bahwa aku harus jadi gadis yang kuat, tegar? Apa maksudmu? Apa kau pikir itu mudah? Atau kau berkata demikian supaya kau tak perlu lagi melindungiku, berada di sisiku dan menguatkanku, supaya kau bisa segera pergi meninggalkanku, seperti saat ini dan memintaku melupakanmu begitu saja? Aku tidak bisa.., aku tidak akan bisa, Al. Kumohon jangan memaksaku, kau pasti tahu ini tidak mudah bagiku bukan? Tidak secepat ini, tidak dengan cara seperti ini.
Langit makin gelap, lembaran-lembaran awan kelabu beberapa saat lalu mulai mengumpul dan semakin menebal membentuk altostratus dengan sedikit saja semburat jingga yang mampu menerobos celah-celahnya. Angin berhembus dingin menggoyang ranting-ranting deretan pohon kamboja yang bunga-bunganya mulai gugur dan jatuh di jalan setapak antar blok areal pemakaman, juga di atas gundukan-gundukan pusara dengan batu nisan marmer hitam bertinta emas di sekitarnya. Sedangkan gerimis makin deras menyamarkan air mata yang kian tak terbendung. Tetapi gadis itu seakan tidak peduli dan enggan beranjak dari tempatnya. Isak tangisnya terdengar begitu pilu, mengiris hati siapapun yang mendengarnya, termasuk laki-laki yang kini berdiri tak jauh di belakangnya, dibawah pohon kamboja yang cukup besar dan tinggi. Pandangan lelaki itu tak pernah putus tertuju hanya ke satu arah sejak kedatangannya, menyimpan berbagai makna yang terpendam dalam.
Sophia, gadis yang mengenakan setelan hitam dengan selendang menutupi kepalanya itu bersimpuh di samping gundukan tanah merah yang masih basah berselimutkan taburan berbagai macam bunga di kompleks pemakaman keluarga Keraton. Seorang diri menangisi kepergian sang kekasih, juga kisah cinta terlarang mereka berdua. Tak ada siapapun lagi di sana, karena memang Sophia sengaja menunggu sampai prosesi pemakaman selesai hingga semua orang pergi dan baru setelahnya mendekati area makam. Kekhawatiran penolakan atas kehadirannya yang membuatnya melakukan hal itu. Tak ada yang menginginkan dia ada di sini, pikirnya. Bahkan mungkin dia akan diusir begitu saja andai ada anggota keluarga Al, keluarga Keraton, mengetahui keberadaannya di sekitar tempat itu. Beruntunglah Sophia, karena dengan bantuan Ilham, sepupu Al, dia dapat masuk dengan mudah.
"Sophia, kumohon dengarkan aku. Aku mengerti jika ini berat bagimu, aku tahu itu, tapi aku yakin pelan-pelan kau akan dapat menerima apa yang memang sudah digariskan ini. Sebentar lagi malam dan gerimis makin deras. Lihat! Kau sudah hampir basah kuyup, kau bisa sakit. Sebaiknya kita pulang sekarang. Aku akan membantumu lagi suatu hari nanti jika kau ingin datang ke sini.
Bagaimana?"
Tanpa disadari, Ilham kini telah berdiri di samping Sophia sambil menaunginya dengan payung hitam yang cukup besar untuk mereka berdua. Ajakannya untuk segera pulang hanya ditanggapi dengan diam. Ilham hanya dapat menghela nafas panjang. Dia tahu betul apa yang dirasakan Sophia saat ini. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui kisah asmara rahasia antara Sophia dan Al, sejak awal.
Kisah asmara yang menurut Ilham penuh dengan resiko. Sebagai lelaki dewasa berusia 34 tahun, meski belum menikah, tentu Ilham telah mempunyai cukup banyak pengalaman menjalani kisah asmara yang membuatnya sedikit banyak dapat 'membaca' kemungkinan apa saja yang bisa terjadi dalam hubungan Sophia dan Al. Tak hanya sekali ia mengingatkan Al akan hal itu. Tapi ia sadar betul, ia hanya orang yang berdiri di luar lingkaran, yang hanya bisa melihat, tidak mengalami dan merasakannya secara langsung. Tentu hal itu menyebabkan penilaian dan cara pandang yang berbeda di antara keduanya. Namun di luar itu semua, Ilham dapat melihat binar mata keduanya ketika dalam beberapa kali kesempatan ia pergoki saling curi pandang, binar mata penuh cinta.
Sejujurnya, dalam lubuk hatinya yang terdalam, ada rasa iri yang membayang bahkan mungkin cemburu, entahlah. Sophia, gadis muda itu, diakui atau tidak, memang membuat hatinya bergetar ketika pertama kali dia melihatnya. Saat itu, Al mengajak Ilham untuk menjenguk Sophia yang sakit. Bahkan dengan wajah pucatnya saat itu, dia tetap tampak menawan di mata Ilham. Tapi seketika hatinya serasa diremas saat perjalanan pulang, Al membuat pengakuan padanya bahwa Al jatuh cinta pada gadis itu. Ya, gadis muda yang Ilham pikir hanya seorang anak dari sahabat Al, tak lebih, gadis muda yang Ilham pikir terlalu jauh selisih usianya dengan Al.
Ilham yang merupakan seorang psikolog keluarga tentu tak serta merta mencerca dan menghakimi Al. Setidaknya dia berusaha memahami apa yang terjadi dalam diri Al yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri itu. Ilham telah terbiasa secara profesional memahami suatu persoalan secara mendalam dari berbagai sudut pandang. Selalu ada yang menjadi 'pendorong' ketika seseorang melakukan sesuatu 'kan?
Lagi pula, bagaimanapun sejak kecil mereka sudah dekat. Mereka tumbuh bersama di lingkungan Keraton dengan aturan yang ketat dan kadang terasa mengekang, apalagi mengenai pernikahan. Anggota keluarga Keraton tidak dapat menikah bahkan sekedar menjalin hubungan asmara dengan seseorang dengan bebas, sesuai keinginan diri sendiri. Pernikahan mereka sepenuhnya diatur para tetua dengan mempertimbangkan berbagai hal terutama garis keturunan dan kelas sosial. Bahkan untuk sekedar bergaulpun mereka tidak dapat menjalin pertemanan dengan sembarang orang.
Al, menurut penilaian Ilham selama ini, adalah sosok yang cenderung melawan arus, melawan untuk bisa melakukan hal-hal sesuai dengan caranya, melawan untuk mencapai kebebasannya. Tapi di sisi lain, Al juga merupakan sosok menyenangkan yang selalu berusaha membawa dan menyebarkan energi positif, keceriaan dan kehangatan di tengah lingkunan keluarga mereka yang kaku dan dingin. Karena itulah Ilham selalu mengaguminya, apalagi jika mengingat sebenarnya ada sekian banyak hal yang sebenarnya selalu Al pendam sendiri, sesuatu yang kelam dari dirinya. Karena itulah, semampunya Ilham berusaha memahami apa yang menjadi 'pendorong' sehingga Al berani mengambil resiko dengan menjalani kisah asmara dengan Sophia, satu hal yang mungkin tidak akan pernah bisa dimengerti oleh keluarga mereka.
"Sophia."
"Aku masih mau di sini, menemaninya."
"Sophia, kumohon."
"Pulanglah dulu, Ang. Aku bisa naik taksi nanti."
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini. Aku yang membawamu kemari maka aku pula yang akan mengantarkanmu kembali. Ibumu sudah mempercayakanmu padaku hari ini. Aku tidak ingin membuatnya kecewa. Lagi pula, aku tidak mau mengambil resiko jika mereka nanti memergokimu datang ke sini."
"Aku akan menghadapinya. Aku tidak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan jika mereka memergokiku di sini. Aku tidak akan peduli lagi dengan hinaan dan caci maki mereka. Aku ke sini untuk Al, hanya untuknya. Aku hanya ingin bersamanya. Aku hanya ingin menemaninya. Kumohon, mengertilah, Ang."
"Sophia, aku mengerti. Percayalah! Sungguh aku mengerti apa yang kau rasakan sekarang. Tapi Al sudah pergi."
"Tidak! Tidak! Ini terlalu cepat baginya pergi, Ang!" Jawab Sophia dengan nada agak tinggi dan menggelengkan kepalanya, menolak apa yang telah terjadi.
"Tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat jika menyangkut kematian, Sophia. Dia datang ketika itu memang adalah waktunya untuk datang."
Perkataan Ilham yang diucapkannya dengan nada rendah namun penuh penekanan itu seketika membuat Sophia terdiam. Satu hal yang sama sekali tidak bisa dibantah oleh Sophia. Satu hal yang terasa begitu menyesakkan dadanya.
Ya, Tuhan. Rasanya Sophia ingin terus mendebat Ilham yang dipanggilnya Ang itu. Tapi di sisi lain, apa yang dikatakan Ilham sama sekali tak salah memang, tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat jika itu menyangkut kematian. Keterikatan manusialah yang membuat kedatangannya seringkali seolah-olah tidak atau belum tepat waktunya, membuat manusia berusaha mengingkari apa yang sudah menjadi kepastian.
"Ayo, Sophia. Ibumu sudah berulangkali menanyakanmu. Dia pasti khawatir," bujuk Ilham dengan lembut.
Mendengar kata ibu sekali lagi membuat Sophia seketika menoleh pada Ilham, menatapnya ragu. Benar memang dia harus segera pulang karena ibunya pasti khawatir, tapi rasanya masih demikian berat meninggalkan Al sendirian di sini. Diarahkan kembali pandangannya pada pusara itu. Sejenak Sophia memejamkan mata, menguatkan hati. Kilasan-kilasan memori tentang kebersamaan mereka berdua terlihat begitu jelas, membuat dadanya terasa nyeri. Entah itu disertai tawa canda maupun tangis duka, kebersamaan itu tetap tak akan mudah dilupakan tentunya.
Dihirupnya nafas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan, berharap nyeri itu berkurang. Setelah beberapa saat kemudian, Sophia membuka matanya dan berusaha berdiri, mencoba mengabaikan rasa sakit yang tak kunjung reda. Kepalanya serasa berputar-putar dan kakinya lemas, hampir saja dia terjatuh jika Ilham tak sigap memapah tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa kan, Sophia? Sepertinya kau sakit," tanya Ilham khawatir. Dia menyadari seperti ada yang tidak beres dengan kesehatan Sophia, wajahnya nampak sangat pucat.
"Aku tidak apa-apa, Ang Ilham."
"Kau yakin? Kau pucat sekali. Bagaimana kalau kita mampir ke dokter dulu sebelum pulang?"
"Tidak perlu. Aku hanya lelah."
Sesaat Ilham terdiam, berusaha menimbang antara memaksa membawa Sophia ke dokter untuk memastikan keadaannya atau langsung membawanya pulang saja. Ia sungguh khawatir.
"Ang, ayo kita pulang."
"Baiklah. Kita pulang sekarang."
Ilham yakin Sophia sedang menahan rasa sakit, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, dia pun nampak semakin lemah untuk berjalan. Tapi begitulah Sophia, seperti yang diceritakan Al padanya, keras kepala, menyimpan rasa sakitnya sendiri tak jauh beda dengan Al. Ah, betapa mereka adalah pasangan yang serasi andai saja Al tak harus pergi secepat ini, tentunya mereka dapat saling memahami dan mengobati satu sama lain.
Selama perjalanan pulang ke rumah Ilham, tempat menginap sementara Sophia dan ibunya di kota ini, mereka berdua hanya diam. Ilham ingin memberi waktu bagi Sophia menerima garis takdir ini tanpa terburu-buru supaya tidak membuatnya semakin tertekan dan menderita. Sementara Sophia menerawang jauh ke luar kaca mobil di sampingnya dengan tatapan kosong, Ilham berkali-kali menengok ke arahnya sekedar untuk memastikan keadaannya.
Jadi sekarang, aku harus menerima bahwa kau hanya bisa hidup dalam kenangan, Al, rasanya seperti mengiris luka lama yang bahkan belum kering benar.
Aku merasakan kembali kekosongan itu. Kekosongan yang dingin sebelum kau datang dalam hidupku sebagai sosok seorang lelaki, bukan sekedar sahabat ibu yang harus aku hormati. Kekosongan yang mungkin tak akan pernah orang lain pahami apa sebabnya. Kekosongan yang suatu kali pernah membuatku ingin mengakhiri saja hidupku sebelum akhirnya kau datang dan membuatku berani untuk kembali menanam harapan.
Kali ini, aku rasa ini tidak akan mudah bagiku, Al. Apalagi, seperti yang selalu kau bilang dulu, bahwa aku keras kepala. Ya, aku begitu keras kepala dengan tetap membiarkan rasa cinta ini tumbuh meski bagi mereka itu adalah satu kesalahan, kesalahan besar. Lalu, sebenarnya apa yang kau harapkan dariku setelah kau pergi, Al? Agar aku menjalani hidupku dengan baik dan mencari kebahagiaan lain untuk menggantikanmu?
Aku mencintaimu, Al. Sungguh. Tapi kenapa mereka selalu mengatakan bahwa cinta ini salah? Apa memang aku salah, Al? Apakah rasa ini juga salah dan tidak seharusnya kubiarkan tumbuh? Lalu bagaimana denganmu, tidakkah cinta yang kau tunjukkan padaku itu sungguh-sungguh? Tidakkah kau memang benar-benar mencintaiku?
**
Farida, ibu Sophia, merasa sangat cemas menanti Sophia yang tak kunjung kembali. Tak sabar, ia berjalan mondar-mandir di teras sambil berkali-kali memandang ke arah gerbang. Berulangkali pula ia tengok ponsel yang ada digenggamannya, memeriksa pesannya yang tak lagi dibalas Ilham sementara ia tidak dapat menghubungi ponsel Sophia yang ternyata tidak aktif.
Meskipun dua puluh menit lalu Ilham telah menyampaikan bahwa mereka akan segera pulang, tetap saja Farida tak dapat menghilangkan raut kekhawatiranya jika mereka belum benar-benar ada di hadapannya. Berbagai spekulasi melintas dalam pikirannya, bagaimana jika ada yang melihat Sophia, bagaimana jika mereka menyakitinya lagi dengan tajamnya kata-kata yang melebihi belati.
Farida sebenarnya telah berulangkali melarang Sophia pergi ke pemakaman itu. Dia tahu betul seperti apa keluarga Al, begitu menjunjung tinggi martabat dan kehormatan, mereka tidak tergoyahkan. Sophia dinilai telah melukai martabat dan kehormatan mereka. Keluarga itu pikir Sophialah yang memulai segalanya, menggoda Al, menjerat dan membuatnya melanggar norma yang ada, melawan ketentuan turun-temurun yang begitu dijaga dalam sistem keluarga Keraton.
Tidak. Tidak ada yang salah dengan cinta Sophia dan Al, Farida yakin satu hal itu. Mereka hanya begitu lugu dan mengikuti arus begitu saja, membiarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Bukankah itu adalah suatu kemurnian? Farida dapat melihat ketulusan di antara mereka berdua. Bagaimanapun Farida tahu betul seperti apa Sophia, putri kesayangannya, meski bukan dia yang mengandung dan melahirkannya, tapi dia merawatnya sepenuh hati semenjak bayi Sophia masih merah. Begitu juga dengan Al, Farida mengenal baik siapa Al karena persahabatan mereka semenjak SMA, Al selalu berbagi keluh-kesahnya pada Farida begitupun sebaliknya, mereka selalu bertukar pikiran dan saling memberi masukan atas masalah-masalah yang mereka hadapi.
Adakah cinta yang salah? Apakah status sosial dan perbedaan usia dapat menjadi patokan salahnya suatu cinta? Lalu seperti apa cinta yang benar? Apakah di dunia ini benar dan salahnya cinta hanya seperti hitam dan putih yang diyakini kebanyakan orang di luar sana? Tapi bukankah yang banyak itu juga belum tentu adalah yang benar?
Farida memang tidak menikah, tapi bukan berarti dia tidak mengenal cinta. Cinta itu pernah tumbuh bersemi di hati Farida meski tak bisa berakhir dengan sebuah kehidupan indah bersama seseorang yang dicintainya. Bagi Farida, cinta tak selalu harus berujung pernikahan. Bahkan baginya, cinta tak selalu harus diungkapkan, cinta cukup ditunjukkan dengan perbuatan, salah satunya adalah melepaskan dia yang dicinta untuk dapat meraih kebahagiaannya. Cinta tidak mengekang. Karena itulah Farida tak pernah sekalipun menghakimi Al maupun Sophia karena cinta mereka. Karena Farida melihat kebahagiaan hadir ketika mereka bersama.
Bagi sebagian orang mungkin sikap Farida yang seperti itu hanyalah sebuah kenaifan, omong kosong yang hanya ada di negeri dongeng. Tapi dia bukanlah seseorang yang mudah goyah oleh orang lain. Kehidupannya sendiri telah mengajarkan cukup banyak hal.
Awalnya memang tak mudah bagi Farida menerima kenyataan itu. Dia tak pernah menyangka putrinya yang begitu polos itu akhirnya akan menapaki jalan cinta yang tak biasa ini, yang bagi kebanyakan orang tidak seharusnya dilaluinya. Bukan karena Farida tak mempercayai kemurnian cinta putrinya maupun kesungguhan Al, tapi semata-mata karena kekhawatiran seorang ibu terhadap putrinya. Dia sadar sepenuhnya kemungkinan-kemungkinan apa saja yang akan dihadapi Sophia dan Al. Dia sungguh tidak sanggup membayangkan semua itu, hinaan, caci maki, bahkan sumpah serapah yang mungkin dilontarkan orang-orang.
Sophia 'mengenal' cintanya diusia yang ke-18, dialah Al yang berusia 42 tahun. Meski sebenarnya mereka sudah saling mengenal sejak Sophia masih kecil karena Farida sering membawa Sophia setiap pertemuannya dengan Al. Al juga seringkali berkunjung ke rumah Farida dan sesekali mengajak Sophia bermain, membaca buku bersama, atau sekedar bercanda dan berbincang tentang hal-hal sederhana. Kedekatan mereka tumbuh begitu saja tanpa ada yang pernah mengira bahwa pada akhirnya cintalah yang bersemi antara keduanya, cinta antara laki-laki dan perempuan.
Bukankah memang seperti itulah cinta, bisa tumbuh kapan saja, dimana saja, dan pada siapa saja?
**
Sophia kecil sebenarnya adalah anak yang ceria, mudah bergaul dan mempunyai cukup banyak teman, entah itu di sekolah maupun di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Tapi suatu waktu tiba-tiba keceriaannya hilang ketika menjelang kelulusan Sekolah Dasar. Dia bukanlah anak yang ceria dan mudah bergaul lagi. Dia menjadi cenderung tertutup dan pendiam, sulit mengutarakan apa yang dia rasa dan pikirkan. Setiap kali Farida mengajaknya bicara, Sophia lebih banyak diam dan mengatakan dia baik-baik saja. Sebenarnya Farida sempat curiga, menduga bahwa Sophia mungkin mengalami bullying di sekolah, bisa jadi terkait statusnya sebagai anak dari seorang single parent, pikir Farida. Tapi pihak sekolah yang dimintai keterangan memastikan bahwa Sophia tidak pernah mengalami bullying semacam itu. Sedangkan teman-teman di sekitar tempat tinggal mereka yang ditanyainya pun tidak tahu kenapa Sophia tiba-tiba berubah, merekapun bingung karena merasa tidak terjadi sesuatu apapun seperti pertengkaran atau perselisihan.
Jadilah Sophia menjalani masa pubertasnya di SMP hingga SMA tanpa seorangpun teman. Kesehariannya hanya antara rumah dan sekolah. Meski prestasinya tidak pernah mengecewakan, tapi Farida selalu mencemaskan perihal kehidupan sosial putrinya tersebut. Tidakkah Sophia merasa membutuhkan seorang teman untuk berbagi cerita, tidakkah ia merasa kesepian, dan berbagai kecemasan lain dalam benak Farida. Beruntung kehadiran Al sedikit banyak membantu Sophia menemukan kembali keceriaannya, meski itu tidak pernah lagi sama seperti sebelumnya. Al yang meski usianya terpaut jauh dari Sophia ternyata dapat menyesuaikan diri dan menyelami kedalaman hatinya. Farida merasa sangat bahagia dengan perubahan itu, meski dalam hati ia masih menyimpan berbagai kejanggalan dan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya itu. Rasanya seperti misteri yang tak kunjung menemui titik terang. Sophia seperti menciptakan batas yang tidak mengizinkan siapapun untuk melewatinya, entah itu Al maupun Farida.
Apa yang sebenarnya kau pendam, Sophia?
**