Suara derit gerbang yang terbuka menyadarkan Farida dari lamunannya. Sebuah mobil sedan Mercedes Benz A-Class berwarna night black memasuki halaman. Kelegaan seketika datang di hatinya melihat kedua orang yang dinantinya telah kembali. Ilham keluar terlebih dulu dan mengembangkan payung untuk kemudian segera berlari membukakan pintu untuk Sophia.
Kelegaan yang baru saja didapat lagi-lagi harus kembali menjadi raut kecemasan di wajah Farida melihat Sophia begitu pucat dan lemah dipapah Ilham. Segera ia berlari dan menghampiri keduanya untuk membantu Ilham membawa Sophia masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tamu, didudukkannya Sophia di atas sofa panjang berwarna putih tulang dengan karpet abu gelap di bawahnya, lalu ia pun segera duduk di sebelahnya. Ditangkupkan dua telapak tangannya di wajah Sophia. Terasa dingin dan nampak jejak air mata di kedua sisi pipi yang tirus itu. Hatinya serasa teriris dan tak berdaya melihat keadaan Sophia saat ini.
Tak tahan melihat mata ibunya yang berkaca-kaca, segera saja Sophia menampilkan segaris senyum tipis yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja, meski hatinya ingin sekali berteriak bahwa sesungguhnya ia tidak baik-baik saja. Tapi rasa sayang yang begitu besar membuatnya harus kuat agar tidak membuat ibunya sedih. Ditahannya segala rasa sakit dan duka lara. Biarlah ia sendiri saja yang menanggungnya.
"Maafkan Sophia membuat ibu cemas sampai harus menunggu. Berapa lama ibu di luar tadi? Apakah lama? Kenapa tidak menunggu di dalam saja?" Tanya Sophia merasa tak enak hati membuat ibunya harus menunggu kepulangannya di luar sedangkan hujan sore itu menjadikan udara terasa cukup dingin. Digenggamnya tangan sang ibu yang ada di kedua sisi pipinya.
"Tidak. Tidak terlalu lama. Dan jangan minta maaf, Sayang. Rasa cemas seorang ibu pada anaknya memang sudah seharusnya. Karena itu adalah wujud kepedulian dan kasih sayang." Jawab Farida kemudian mengecup kening sang putri dengan penuh kasih sayang.
Sophia segera merengkuh tubuh sang ibu setelah kecupan itu terlepas. Ada begitu banyak kata dalam benaknya yang berebut minta dikeluarkan tapi pada akhirnya tak satupun yang lolos. Ia hanya ingin sebuah pelukan untuk bersandar, pelukan ibunya yang begitu hangat. Pelukan yang membuatnya terasa begitu damai dan membuat segala beban dipundaknya seolah lenyap begitu saja, meski hanya sementara. Tapi itu cukup bagi Sophia sejenak beristirahat dari lelah yang teramat sangat.
Ya. Sophia sesungguhnya merasa teramat lelah. Lelah yang hampir tak dapat lagi ia tanggung. Lelah menghadapi segala macam gejolak dalam diri, gejolak yang bahkan seringkali tidak ia mengerti. Begitu banyak pertanyaan. Begitu banyak hal yang menuntut penjelasan. Begitu banyak yang tak dapat diungkapkan. Semuanya telah lama menumpuk dan mengendap dalam benak Sophia.
Sekarang Al telah tiada. Tiada lagi tempat pelipur lara. Tiada lagi tempat untukku lari dan bersembunyi dari segala hal yang membuatku lelah itu.
Lari? Bersembunyi? Apakah benar Al hanyalah tempat yang aku tuju untuk bersembunyi dalam pelarianku? Benarkah demikian?
Tidak. Al bukanlah pelarian. Dia adalah segalanya. Dia adalah orang yang aku cintai. Al adalah orang yang sangat berarti.
"Sophia." Farida mempererat pelukannya sambil mengusap punggung Sophia memberikan efek hangat dan menenangkan. Betapa ringkih punggung putrinya, pikir Farida. Tubuhnya pun terasa lebih kurus. Beberapa hari ini tentu terasa sangat berat bagi Sophia.
"Aku baik-baik saja, Bu."
"Ya. Ibu tahu. Karena anak ibu yang cantik ini adalah gadis yang kuat. Ibu buatkan teh jahe ya?" Sepertinya ide bagus untuk minum teh jahe di sore hari dengan gerimis yang dingin ini, pikir Farida. Teh jahe dapat menghangatkan tubuh dan juga membantu menenangkan pikiran.
"Oh, tentu aku mau sekali. Aku rindu teh jahe buatan ibu."
"Tunggu sebentar, akan ibu buatkan."
"Kalau begitu aku akan mandi dulu setelah itu aku akan segera turun."
Sophia bangun dari duduknya dan bergegas menuju kamar di lantai dua. Ditahannya nyeri di d**a yang masih tak kunjung reda. Sekuat tenaga ia langkahkan kaki menaiki tangga meski keringat dingin mulai bercucuran. Tangannya berpegangan mencengkeram kuat pada pembatas untuk menopang tubuhnya supaya tidak limbung dan terjatuh. Ia bertekad tidak ingin ibunya sampai tahu sakit yang ia rasakan.
"Kamu mau teh jahe juga, Ilham? Biar sekalian aku buatkan." Tanya Farida ramah ketika akan menuju ke dapur.
"Kalau tidak merepotkan, Mbak."
"Hey, justru aku yang sudah merepotkanmu dengan menumpang di sini. Ditambah lagi kamu juga membantu Sophia untuk bisa ke makam Al. Aku sangat berterima-kasih, Ilham. Entah bagaimana nanti aku akan membalas budi baikmu."
"Mbak, sudahlah. Jangan pikirkan itu. Saya senang melakukannya dan tidak merasa direpotkan sama sekali."
"Kamu baik sekali, Ilham."
Ilham hanya tersenyum menanggapi pujian itu. Kenyataanya ia melakukan semua itu memang karena ia ingin melakukannya. Juga demi Al tentunya.
Ketika ia baru saja hendak pergi menuju kamarnya, tiba-tiba langkahnya terhenti mengingat sesuatu yang harus ia sampaikan pada Farida.
"Mbak."
"Iya. Ada apa? Kamu perlu sesuatu yang lain?"
"Ah, tidak. Bukan itu. Ehm.., ini soal Sophia. Saya khawatir kesehatannya sepertinya kurang baik. Tadi saya melihatnya seperti menahan sakit, dia juga pucat sekali. Apa kita tidak perlu membawa Sophia ke dokter?"
Farida terdiam beberapa saat sebelum dapat menjawab pertanyaan Ilham tersebut. Kepalanya menunduk dan nampak oleh Ilham ia beberapa kali menghirup dan menghela nafas panjang. Seperti tengah menimbang sesuatu untuk dikatakan atau tidak.
Setelah beberapa saat hanya keheningan yang ada di antara mereka, Farida mengangkat kepalanya dan memandang Ilham dengan tatapan yang sendu. Tatapan yang sarat dengan kesedihan mendalam. Tatapan yang menyiratkan ketidakberdayaan.
"Baiklah, aku akan memberitahumu satu hal. Tapi aku mohon setelah ini jangan pernah membahasnya dengan Sophia, dia tidak akan suka." Setelah jeda beberapa saat, Farida melanjutkan penjelasannya. "Sophia memang sakit, Ilham, sejak lahir. Ia menderita penyakit jantung bawaan. Dokter memang mengatakan bahwa itu adalah jenis yang ringan, tapi kondisi bisa berubah sewaktu-waktu, banyak faktor yang dapat mempengaruhinya. Selama ini dokter hanya mengharuskan untuk selalu memantau jika saja ada keluhan. Selama ini dia baik-baik saja. Tapi... Aku tidak pernah tenang. Aku selalu khawatir keadaannya akan memburuk. Kau melihatnya tadi kan?"
Ilham kehilangan kata-katanya. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi hal yang baru saja diketahuinya itu. Ia hanya terdiam dan mengusap bibirnya, lalu mematung. Farida berusaha untuk tersenyum meski sulit dan berbalik menuju dapur, meninggalkan Ilham dalam keheningan.
**
Ilham duduk di tepi ranjang. Ditatapnya sebuah kotak kayu kecil dengan hiasan ukiran bunga kamboja yang ada di pangkuannya. Pikirannya menerawang jauh entah kemana sampai tak sadar dengan ketukan di pintu kamarnya. Beberapa kali namanya dipanggil tapi ia tak kunjung mendengar sampai ketukan itu semakin keras dan iapun terhenyak dari lamunannya.
"Ya, tunggu sebentar." Jawabnya dan segera meletakkan kotak kayu itu di dalam laci nakas di samping tempat tidurnya.
"Makan malam sudah siap. Nyonya Farida dan putrinya juga sudah menunggu di meja makan." Itu adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumahnya bertahun-tahun sejak kedua orang tuanya belum meninggal, Bi Maryam namanya.
"Oh, oke." Jawab Ilham sambil menutup pintu kamarnya. Tapi kemudian ia terdiam bertanya-tanya karena wanita enam puluh tahun di depannya itu tak beranjak dan hanya menatap lurus ke matanya seperti sedang menerka-nerka sesuatu.
"Ada apa, Bi?" Tanya Ilham bingung.
"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja Den Ilham kelihatan..., entahlah. Apa semua baik-baik saja? Apa ada yang bisa Bibi bantu?" Tanya Maryam penuh perhatian.
Maryam sudah sangat mengenal Ilham karena ia sudah mengasuh putra dari almarhum majikannya itu sejak anak itu bayi. Segala tingkah laku Ilham sangat dipahaminya. Bahkan selama ini Ilham tidak pernah dapat menyembunyikan sesuatu, bahkan perasaannya, pada Maryam. Maryam seperti seseorang yang dapat membaca pikirannya. Kadang Ilham merasa ngeri dengan wanita satu itu. Meski iapun juga sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Apalagi semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat Ilham baru berusia lima belas tahun, Maryamlah orang terdekatnya selain Al.
"Ah, Bibi ini membuat saya takut saja. Apa Bibi benar-benar bisa membaca pikiran?" Tanya Ilham dengan nada bercanda dan menggandeng lengan sang bibi, menariknya untuk segera menuju ruang makan.
"Hah, dasar anak ini. Bibi sudah merawatmu sejak bayi, bahkan bau kentutmu bibi juga hafal." Jawab Maryam dengan bahasanya yang selebor. Lalu merekapun tertawa bersama dan Bi Maryam kembali mengingatkan Ilham tentang beberapa tingkah lakunya dulu ketika anak-anak yang sebenarnya itu adalah olok-olok sampai mereka sampai di ruang makan, membuat Farida dan Sophia penasaran.
"Jadi, dulu Ang Ilham sering ingusan, Bi?" Tanya Sophia sambil menawan tawa.
"Betul itu. Dulu itu Den Ilham sebentar-sebentar flu, kena hujan sedikit langsung meler hidungnya, kena angin sedikit langsung bersin-bersin." Terang Maryam sambil tertawa.
"Bibi ini membuat saya malu di depan gadis cantik. Bagaimana saya akan laku!" Sergah Ilham sambil memerengutkan bibirnya membuat Sophia tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana mau laku, tingkah seperti anak-anak begitu." Canda Farida tak mau kalah.
"Aku pikir selama ini Ang Ilham selalu nampak cool dan berwibawa di luar. Ternyata aslinya seperti ini ya, Bi?" Kelakar Sophia.
"Oh, yang ditampakkan di luar itu cuma akting supaya meyakinkan orang-orang saja bahwa Den Ilham ini psikolog sungguhan, Non Sophia." Jawaban Maryam seketika membuat gelak tawa memenuhi ruang makan yang sebelumnya selalu sepi dan dingin itu.
"Ah, sudah-sudah. Yang jelas sekarang Ilham yang satu ini sudah jadi laki-laki yang tampan. Ugh, tertawa membuat perut ini jadi kelaparan. Apa yang Bibi masak untuk makan malam?" Tanya Ilham lalu duduk di kursi seberang Sophia. Meski sebenarnya hidangan sudah tertata di meja, ia tetap bertanya untuk mengatasi grogi karena melihat dan mendengar tawa renyah Sophia tadi. Lalu merekapun makan bersama sambil sesekali kembali berbincang ringan mengenai hal-hal yang tidak terlalu serius membuat suasana menjadi hangat.
Satu kali Farida menatap Ilham dan tersenyum padanya seolah ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena akhirnya Sophia bisa sejenak melupakan kesedihannya dan tertawa riang meski Ilham harus menjadi bahan tertawaan mereka. Namun Ilham sendiri sadar betul bahwa tawa Sophia sangat berharga bagi Farida. Juga bagi dirinya, tawa itupun terasa sangat berarti.
Entah perasaan apa yang tengah ia rasakan kini. Ia sendiri belum dapat meyakinkan diri. Yang jelas ia merasa bahagia dapat melihat Sophia kembali riang.
"Bagaimana kalau kita pulang besok pagi, Bu." Tanya Sophia setelah acara makan malam mereka selesai.
"Besok? Kamu yakin? Apa kamu tidak merasa lelah?" Ilham tiba-tiba menanggapi pertanyaan Sophia sebelum Farida sempat menjawab. Seketika Farida dan Sophia mengarahkan pandangan mereka padanya.
"Ma..maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud lancang." Jawab Ilham kikuk.
"Tidak apa-apa." Farida membalasnya sambil tersenyum. "Jadi, kamu mau pulang besok, Sayang?" Tanya Farida dengan nada lembut setelah mengalihkan pandangannya ke arah Sophia.
"Iya, Bu. Sebentar lagi ujian semester, jadi aku tidak mau terlalu banyak membolos."
Meski hal itu memang benar, tapi alasan sebenarnya bukanlah itu. Alasan sebenarnya mengapa ia ingin segera pulang ke kota mereka adalah karena kota ini akan membuatnya terus mengingat Al. Akan semakin sulit baginya untuk mengatasi kesedihan yang tak tertahankan ini. Jika ia segera pulang maka ia akan dapat menyibukkan diri dengan kuliah juga kegiatan lain dan perlahan-lahan dapat menata hatinya.
"Baiklah jika memang itu yang kamu mau. Kita pulang besok." Jawab Farida lalu meraih tangan Sophia dan mengusap punggung tangannya lembut.
"Kalau begitu biar saya antar kalian." Ilham menawarkan diri nampak antusias.
"Tidak perlu, Ang Ilham. Kami sudah cukup merepotkanmu." Jawab Sophia.
"Benar. Kami sudah cukup merepotkanmu. Kami akan naik kereta saja. Bagaimana Sophia?"
"Tentu. Aku suka naik kereta. Pasti akan menyenangkan. Lagi pula sudah lama aku tidak naik kereta."
"Hmmm, baiklah. Tapi jika kalian butuh sesuatu nanti, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya."
"Tentu." Jawab Farida dan Sophia kompak.
Sebenarnya rasanya berat harus segera berpisah dengan Sophia, entah mengapa. Ia masih ingin berlama-lama ada di dekatnya. Sejujurnya ia merasa agak kecewa dengan penolakan mereka atas tawarannya untuk mengantar mereka pulang. Tapi ia juga harus tahu diri dan tidak dapat memaksakan kehendak. Tapi satu hal yang ia yakin, mungkin ia harus mencari cara untuk dapat mendekati Sophia.
**
Di lain tempat, di sebuah kamar yang cukup luas dengan perabotan dari kayu jati yang banyak dihiasi ukiran menonjolkan nuansa klasik dan mewah, seorang wanita pertengahan tiga puluhan yang begitu anggun dengan terusan panjang dan kerudung hitam tengah duduk di depan meja rias. Pandangannya terkunci pada cermin di depannya. Nampak bekas-bekas kesedihan di wajahnya. Tapi sesungguhnya lebih banyak amarah terpendam dalam dadanya. Tangannya bergetar, mengepal, meremas roknya hingga kusut.
Sebuah ponsel tergeletak di meja rias itu. Layarnya menyala menampakkan sebuah aplikasi layanan pesan yang terbuka. Sebuah nama yang tak asing nampak ada di urutan paling atas dalam deretan pesan yang masuk. Sebuah nama yang dalam satu tahun ini mengusik pikirannya. Sebuah nama yang sangat dibencinya. Sophia.
Sebuah dering ponsel lain terdengar dari arah ranjang tapi tak ia pedulikan. Hingga dering ketiga ia baru beranjak dan meraih ponsel itu, menerima panggilan dari seseorang di seberang sana.
"Ada apa?" Tanyanya dengan nada datar dan dingin, menunjukkan bahwa suasana hatinya sedang tidak begitu baik.
Setelah mendengarkan jawaban dari lawan bicaranya beberapa saat, wajahnya nampak makin merah. Ia mengetatkan gigi dan memejamkan mata, berusaha menahan diri untuk tidak menghancurkan barang-barang yang ada di depannya karena amarah yang semakin memuncak. Semarah apapun, mengingat dimana ia berada saat ini, ia tetap harus menahan diri dan menjaga sikap.
"Kamu sudah pastikan bahwa itu memang dia?" Sekali lagi ia berusaha meyakinkan diri.
"Benar, Nyonya. Tidak salah lagi. Apa Nyonya perlu melihat fotonya supaya lebih yakin?"
"Tidak perlu. Aku tidak mau melihat wajah p*****r kecil itu. Tapi kau simpan saja dulu foto itu. Siapa tahu suatu saat nanti akan berguna."
"Baik, Nyonya. Apa yang harus saya lakukan setelah ini?"
"Seperti sebelumnya. Tetap awasi mereka dan laporkan padaku jika ada sesuatu yang menarik. Kau mengerti?"
"Baik. Saya mengerti Nyonya." Dan panggilanpun terputus.
**