Lima puluh sembilan hari sudah berlalu. Rasanya hampir tidak bisa dipercaya, ternyata aku bisa melaluinya tanpa menjadi gila. Meski dapat kulihat bayang wajahnya hampir di setiap sudut kampus ini, seolah-olah dia tidak pernah pergi, seolah-olah dia selalu ada di sekitarku.
Seperti saat ini, dari bangku taman tengah kampus, tempatku tengah duduk di bawah rindang pohon cemara dapat kulihat bayangnya yang sedang menuruni tangga dari lantai dua dengan langkah tegap dan perlahan, pandangannya terarah padaku. Matanya cukup mewakili apa yang tak dapat diucapkan oleh lisan yang terkunci rapat karena keadaan sekitar yang ramai tak memungkinkan untuk bicara. Begitupun denganku yang hanya dapat membalas tatapan itu dengan pandangan penuh kerinduan. Seperti saat itu, lebih dari satu tahun yang lalu, ketika awal jalinan kisah kasih kami terajut, kami lebih sering bicara dari mata ke mata. Terlalu takut untuk saling bicara, terlalu takut jika kata-kata yang diucapkan tak sesuai yang ada di dalam hati.
Karena lidah seringkali tergelincir oleh keraguan, juga prasangka. Maka mata adalah satu-satunya cara untuk bicara.
"Sophia!"
"Hmmm?"
"Berapa kali sudah aku memanggilmu tapi kau tak mendengar. Padahal jarak kita hanya dipisahkan sebuah meja. Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan sampai-sampai seolah lupa ada aku di sini?"
Bara agak kesal karena sedari tadi Sophia sepertinya mengacuhkannya. Padahal mereka sedang dikejar deadline untuk mading kampus edisi bulan ini yang kurang dari seminggu lagi. Sedangkan masih ada beberapa materi yang belum selesai dibahas karena waktu yang tersita untuk ujian semester. Sementara beberapa anggota lain meminta izin karena harus mengikuti ujian perbaikan nilai dan beberapa orang lain entah dimana tak ada kabar. Maka tersisa mereka berdua saja akhirnya yang harus menyelesaikannya.
Sebenarnya mereka memiliki sebuah ruang kesekretariatan yang terletak di sayap barat gedung bersebelahan dengan kantin dan ruang-ruang kesekretariatan dari UKM lain. Tapi karena hanya mereka berdua yang bisa hadir, maka mereka memutuskan untuk pergi ke taman tengah saja supaya lebih nyaman dan tidak menjadi sasaran biang gosip. Apalagi dengan status Bara yang merupakan salah satu mahasiswa 'most wanted' yang selalu mendapat perhatian gadis-gadis di kampus.
"Maaf. Aku kurang fokus." Kata Sophia sambil menundukkan kepalanya berusaha menormalkan perasaannya.
Sebenarnya Bara bukannya tidak paham dengan sikap Sophia saat itu. Ia dapat mengira apa yang sebenarnya sedang dipikirkan gadis yang sudah dikenalnya sejak awal mereka masuk di kampus ini. Sejak awal itu pula Bara sebenarnya sudah dibuat penasaran dengan kepribadiannya sehingga membuat Bara selalu berusaha mendekatinya dan menggali informasi apapun tentangnya.
"Okay, kita lanjut saja. Jadi, bagaimana dengan kolom puisi untuk edisi kali ini. Edisi-edisi sebelumnya kau yang meng-handle, tapi sampai sekarang kau belum menyerahkan puisimu." Papar Bara sambil memeriksa lembaran-lembaran kertas di meja.
"Aku..." Jawaban Sophia yang terhenti membuat Bara mengalihkan perhatiannya kembali padanya. Sophiapun kini tengah menatap Bara. Padangannya seolah hendak mengatakan banyak hal tapi entahlah, Bara hanya bisa menerka-nerka.
"Apa?"
"Aku tidak bisa."
"Maksudmu?"
"Puisinya. Aku tidak bisa menulis puisi untuk edisi bulan ini."
Jawaban itu tentu membuat Bara cukup cemas. Masalahnya selama ini Sophialah yang selalu mengisi kolom puisi, tidak ada orang lain.
"Bagaimana dengan puisi lamamu, yang belum pernah dimuat tentunya. Kau pasti sudah menulis banyak puisi selama ini kan? Tidak apa-apa jika kita memuat puisi lama, tidak harus yang baru."
"Tidak bisa. Ma..maksudku.., aku tidak mau lagi berurusan dengan apapun itu yang berhubungan dengan puisi. Aku sudah memutuskan untuk berhenti menulis puisi. Dan mungkin.., aku akan menghancurkan semuanya, aku akan membakar semuanya." Jelas Sophia sedikit gugup. Ia tak percaya akhirnya dapat mengatakan satu hal yang cukup mengganggunya itu belakangan ini.
"Sophia! Kau bercanda kan?" Tanya Bara tak percaya. Disandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan disedekapkan tangannya. Matanya menatap tajam pada Sophia.
"Aku serius!" Jawab Sophia memasang ekspresi datar yang sulit dibaca oleh Bara.
Beberapa saat kemudian hanya keheningan yang hadir di antara mereka. Tidak ada satupun yang berniat kembali membuka suara. Keduanya hanya saling menerawang jauh dalam pikiran masing-masing.
Begitu banyak pertanyaan kini berseliweran di benak Bara. Bukankah Sophia sangat suka menulis puisi, lalu kenapa dia tiba-tiba mengatakan ingin berhenti menulis puisi? Bukankah Sophia pernah mengatakan bahwa melalui puisi dia dapat menyuarakan isi hatinya yang tidak dapat disampaikan lisannya? Bukankah melalui puisi yang ditulis Sophia Bara dapat sedikit banyak 'membaca' dan mengenali dirinya? Lalu bagaimana jika Sophia tidak ingin menulis lagi? Bukankah itu artinya tidak akan ada lagi pintu baginya memasuki dunia Sophia? Bara berdecak dan mengacak-acak rambutnya.
"Maafkan aku, Bara. Maaf karena baru mengatakan hal ini menjelang deadline. Sungguh aku tidak bermaksud mengacaukan mading kita." Nampak raut penyesalan di wajah Sophia membuat Bara berusaha untuk dapat tersenyum maklum.
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Kita bisa memuat puisi Rendra atau sastrawan lain. Tidak masalah."
"Ya. Terima kasih sudah mau mengerti dan itu adalah solusi yang bagus. Kau memang selalu bisa diandalkan."
"Ah, kau ini. Apa itu pujian? Jika iya, maka aku senang. Karena aku senang maka kau akan aku traktir setelah ini. Jangan menolak!" Merekapun tertawa membuat orang-orang yang melihatnya menengok penasaran. Setelahnya mereka kembali membahas beberapa hal lain hingga lewat tengah hari lalu pergi ke sebuah cafe tak jauh dari kampus.
Menjelang sore, hujan turun begitu deras disertai angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Sophia dan Bara masih terjebak di cafe. Obrolan mereka yang awalnya mengalir lancar terpaksa tersendat karena suara mereka nyaris tak bisa didengar satu sama lain dengan jelas. Akhirnya mereka hanya saling diam dan mengarahkan pandangan ke luar jendela, menikmati tarian hujan.
Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Begitupun beberapa pengunjung lain yang memilih untuk bertahan di cafe seperti mereka berdua. Beberapa orang nampak asik dengan membaca buku. Beberapa lainnya hanya menunduk dan mengaduk-aduk minuman dengan bosan. Hanya tiga orang di sudut cafe yang masih terlihat ceria dengan tetap berusaha menyambung obrolan dan canda tawa meski harus sedikit berteriak satu sama lain agar suara terdengar jelas.
Beberapa kali Bara mencuri pandang ke arah Sophia. Melihat ekspresi gadis itu yang tenang dan dalam tapi sulit dibaca itu menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi Bara. Mungkin benar bahwa laki-laki pada dasarnya menyukai tantangan, maka Sophia bagi Bara juga merupakan tantangan, berupa sebuah kode rumit yang harus dipecahkan.
"Hujan tadi seperti badai ya?" Tanya Sophia memecah keheningan setelah hujan mulai reda menyisakan gerimis tipis.
"Ya. Sepertinya mulai memasuki musim penghujan." Jawab Bara lalu menyesap kembali kopinya yang hampir dingin.
"Seseorang pernah memanggilku dengan nama Arashi yang berarti badai."
Mendengar hal yang baru saja diungkap Sophia, Bara meletakkan cangkir kopinya dan menatap Sophia. Nampak bibir berwarna merah jambu itu melengkung membentuk senyuman tipis. Ada kedalaman makna tertangkap oleh Bara pada kata-kata nya.
Seperti tahu ada sepasang mata mengarah padanya, Sophiapun mengalihkan pandangannya dari jendela. Ditatapnya laki-laki di hadapannya dan senyuman di bibirnya semakin ditarik. Senyuman yang sesungguhnya jarang nampak tergambar di wajahnya.
"Tentu bagi orang itu kau adalah seseorang yang berharga. Sampai-sampai dia memakai panggilan Arashi. Badai?" Bara menjeda sejenak sebelum kemudian melanjutkan. "Jadi, menurutnya kau seperti badai yang bisa memporak-porandakan dirinya. Sepertinya dia tergila-gila padamu, Sophia."
Sebenarnya Bara tidak terlalu suka dengan opini yang baru saja disampaikannya itu. Tapi entah mengapa hanya itulah yang terlintas di pikirannya setelah Sophia mengatakan ada seseorang yang memberinya panggilan Arashi. Meski Sophia tidak mengatakan bahwa orang itu laki-laki atau perempuan, kuat dugaan Bara bahwa orang itu adalah laki-laki. Hal itu membuat Bara merasakan sesuatu yang sesak di dadanya, apakah ini yang namanya cemburu?
Sementara itu Sophia kini terdiam dan senyumnya menghilang sudah. Apa yang dikatakan Bara membuatnya tiba-tiba melihat bayangan Al dengan wajah sendu. Bayangan itu seolah berada tepat di depan matanya. Bayangan itu menghadirkan kembali kenangan yang berputar-putar dalam benaknya.
**
Benar memang aku pernah tergila-gila padanya. Aku mabuk bersamanya. Aku tenggelam dalam dunianya. Aku hidup kemudian mati dan kembali hidup karenanya. Namun itu semua berakhir sudah. Sejak saat itu, kuputuskan bahwa aku harus mengakhirinya. Tak ada lagi puisi dalam hidupku.
duhai, usia yang berselendang senjakala
telah kutanam jejak perjalanan di luas savana
kupintal musim demi musim di paras wajahmu
laut dan ombak kugoreskan dalam riang salju
yang menutup separuh jari-jari lenganku
menuliskan gemuruh angin yang menyentuhmu
ragu-ragu
...
Berulangkali k****a pesan singkat yang masuk selepas maghrib tadi. Berulangkali pula kuseka air mata yang terus saja menderas ini. Berulangkali pertanyaan-pertanyaan timbul tenggelam dalam benak, tanpa terjawab. Sesak!
Kucoba memahami semua ini sesederhana mungkin. Kucoba mengurai persoalan ini satu demi satu seterang mungkin. Kubuang segala angan dan apapun itu yang pernah kita bicarakan. Omong kosong!
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Sebuah pesan baru masuk, satu hal yang tidak kuharapkan sama sekali saat ini. Tidakkah kau tahu bahwa hanya ketenangan yang aku butuhkan sekarang? Menyebalkan! Mau apa lagi kau!
"Maafkan aku, Shi."
Kubiarkan saja pesan itu, untuk apa aku membalasnya. Biar saja dia menunggu. Atau, biar saja dia berpikir aku telah tertidur.
Perlahan kupaksa diriku bangkit meski kepala terasa begitu berat. Nyeri terasa di kedua kakiku karena berjam-jam bersimpuh di lantai yang dingin. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Kubasuh wajahku tiga kali, begitu juga lengan, kepala, dan kakiku. Ibu selalu bilang, wudhu dan sembahyang selalu dapat membuat pikiran tenang.
"Sophia.. Bangun, Sophia.. Subuh."
Terdengar ketukan pintu dan suara ibu memanggil. Apa yang ibu bilang tadi? Subuh? Ah, sial! Rupanya aku tertidur sewaktu sembahyang.
"Iya, Bu."
"Sudah siang, terlambat subuhmu."
"Iya, Bu. Ini sudah bangun."
Dengan kepala yang terasa masih berat aku mencoba segera berdiri. Sial, sakit sekali kepalaku. Kulirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Benar-benar terlambat aku.
Aku selalu yakin tak ada yang terjadi karena kebetulan. Setiap yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan, sudah ada skenarionya. Meski aku bukanlah seorang yang religius, tapi aku yakin itu.
Begitu juga dengan apa yang terjadi pagi ini. Aku terlambat bangun pasti juga memang sudah 'tertulis' demikian, mungkin supaya aku tidak bertemu dulu dengannya, seperti yang aku pikirkan semalam bahwa lebih baik aku menghindarinya sementara waktu.
Seperti yang orang-orang katakan, jarak terkadang diperlukan untuk mengajarkan kita apa itu rindu. Jarak juga memberi kita kesempatan untuk kembali pada kejernihan pikiran, menata perasaan. Mungkin jarak itulah yang kami butuhkan sekarang.
Lebih kurang satu jam lagi bus yang aku tumpangi ini sampai di terminal kota tujuanku, Kota Satria, tempatku menemukan puisiku ketika tiba-tiba ponselku bergetar, tanda ada pesan baru saja masuk.
"Kelas sudah mulai sejak lima belas menit yang lalu. Di mana kamu?"
Kubiarkan saja pesan itu tanpa menjawabnya dan segera kualihkan ke mode pesawat saja ponselku. Biar saja, aku hanya ingin kesunyian saat ini. Suara-suara dalam kepalaku sudah terlalu keras gaungnya, membuatku tak bisa mendengarkan suaraku sendiri.
Hidup ini terlalu berharga jika hanya sekedar mendengarkan suara dari luar. Kau bisa saja menjadi tuli akan suaramu sendiri. Kau hanya akan bergerak berdasarkan suara-suara yang bahkan seringkali tak tepat untuk kau dengar. Bukan berarti suara-suara itu tak ada yang benar. Hanya saja kau perlu benar-benar memilah dengan bijak, bukan dengan perasaan, bukan pula dengan sekedar kepatuhan.
"Mbak, sudah sampai. Sudah di terminal ini."
"Oh, iya, Pak. Maaf."
Dengan tergagap kucoba menguasai keadaan. Rupanya lagi-lagi aku tertidur. Syukurlah bapak kernet yang baik hati ini membangunkanku, jika tidak bisa balik lagi aku ke rumah.
"Hati-hati turunnya, Mbak. Pelan-pelan, Ndak usah buru-buru. Masih kliyengan gitu, Mbaknya."
"Iya, Pak. Terima kasih, Pak," jawabku sambil berusaha memberikan senyum paling manis yang kubisa.
Setelah turun dari bus, kutarik nafas dalam-dalam dan kupejamkan mata sejenak mencoba menenangkan diriku. Tinggal beberapa kilometer lagi jarakku dengannya dan itu membuatku benar-benar gugup, tak seperti biasanya. Menyebalkan sekali, ini pasti karena pesan yang dia kirim semalam.
Bergegas aku berjalan menembus lalu-lalang orang-orang yang sepertinya dikejar waktu. Dikejar waktu? Oh, s**t! Kurogoh saku jaket dan kuraih ponselku, hampir pukul sembilan. Kumatikan mode pesawat sambil terus berjalan menuju salah satu angkot bertuliskan O2 di papan atasnya yang siap melaju meski baru ada empat penumpang di dalamnya. Beruntungnya aku.
Begitu duduk, di pojokan, kembali kutatap layar ponselku. Sial, tetap saja aku penasaran. Apa? Sembilan belas pesan baru dan itu semua darinya? Kebiasaan! Tidak sabaran! Baru sepuluh menit angkot ini melaju ponselku bergetar tak henti-henti. Semua mata tertuju padaku. Mau tak mau kuangkat panggilan itu.
"Dimana kamu? Aku di depan kostmu."
"Masih di angkot."
"Baik. Aku tunggu di sini."
Tut... Tut... Tut...
Gila! Mau apa dia? Kenapa dia selalu bertindak sesuka hatinya. Bagaimana kalau ada teman kampus yang melihatnya di sana? Apa dia tidak berpikir apa yang mungkin terjadi? Bisa tamat riwayatnya! Khawatir, maka segera kukirimkan pesan padanya.
"Pergi dari sana! Bagaimana kalau ada yang melihatmu?"
"Aku tidak peduli. Aku ingin segera bertemu denganmu."
"Aku tidak mau!"
"Kita harus bicara, Shi!"
"Aku bilang aku tidak mau! Kenapa kau memaksa?"
"Kumohon, Sayang. Jika setelah ini kamu putuskan tak ingin bertemu lagi denganku, maka aku akan pergi."
Hampir saja pecah air mataku membaca pesan terakhirnya. Kenapa terdengar begitu mudahnya dia mengatakan hal semacam itu? Atau, apakah memang dia sebenarnya ingin segera pergi meninggalkanku, memutuskan hubungan kami?
Apa yang harus aku lakukan? Kenapa d**a ini terasa begitu sesak? Apa yang aku inginkan sebenarnya?
Aku tak tahu hidup macam apa yang akan kujalani jika tanpanya di sisiku. Tapi seyakin apapun aku dengan hubungan ini, apa gunanya jika bertepuk sebelah tangan. Apa gunanya jika dia sendiri ragu. Bahkan keteguhanku selama ini tidak cukup bisa membuatnya yakin dengan semua ini.
Kita memang tak bisa berharap pada waktu. Kita tak bisa menggantungkan apapun pada waktu. Waktu tak bisa mengubah apapun. Waktu hanya akan terlewat begitu saja, meninggalkan kenangan atau tanpa meninggalkan apapun. Jika seseorang berubah setelah sekian waktu, bukan waktu yang mengubahnya, tetapi karena pikirannya yang terus bergerak.
Satu tahun lebih kita menuliskan cerita ini bersama, Al. Cerita kita yang penuh dengan puisi. Entah bagaimana mulanya, aku tak ingat lagi, tapi hari-hari setelah itu selalu penuh dengan puisi. Tawamu jadi puisi, marahmu jadi puisi, bahkan tatap teduh matamu jadi puisi.
Namun satu tahun itu ternyata tak cukup memantapkan hatimu. Kau masih saja ragu, bahwa kita bisa melalui ini bersama, bahwa kita berhak bahagia, bahwa kita tak salah telah saling jatuh cinta.
kau adalah Bisma;
aku Srikandi di kisah yang lain
bukan Kurusetra mempertemukan kita;
namun cinta yang begitu hening.
"Apa kau akan terus diam saja?"
Tanyanya memecah keheningan setelah akhirnya kami sepakat untuk bertemu di rumah yang semestinya kami tempati bersama nanti. Rumah yang ia siapkan setelah kami meresmikan hubungan. Saat itu kami sangat optimis bahwa semua akan berjalan dengan lancar dan baik-baik saja.
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan jadi aku hanya diam semenjak sampai di sini, dimana kami seharusnya merajut mimpi-mimpi, menuliskan puisi-puisi.
"Shi, maki saja aku jika kamu mau. Tapi kumohon jangan diam seperti ini."
Wajahnya nampak memelas tapi sungguh bibir ini rasanya terkunci. Bibir ini hanya bergetar menahan isak tangis yang entah dapat mewakili perasaanku entah tidak. Hingga tak terasa air mataku saja yang mengalir, terasa panas dan deras.
Melihatku mulai menangis, dia kemudian berusaha memelukku tapi entah kenapa kudorong begitu saja. Padahal sisi lain diriku begitu mendamba pelukan itu. Betapa aku merindukan kehangatan pelukannya.
"Jangan sentuh aku!" Sentakku dengan nada tinggi sambil menepis kedua tangannya.
"Baiklah, maafkan aku. Tapi kumohon berhentilah menangis, Sayang." Rayunya mencoba menenangkanku.
"Kenapa aku tak boleh menangis, hah? Kenapa? Aku begitu terluka dan aku tidak boleh menangis? Siapa kau berani melarangku?" Suaraku terdengar seperti teriakan yang aku sendiri terkejut mendengarnya. Aku tidak pernah berbicara sekeras ini dulu padanya. Aku tidak pernah bicara dengan nada setinggi ini sebelumnya. Al pun terkejut.
"Shi, kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Kenapa? Kaupun selalu berkata apapun yang kau mau padaku, jadi akupun bisa berkata apapun yang aku mau padamu." Kata-kata yang keluar dari mulutku semakin tak terkendali.
"Shi, maafkan aku. Tentang pesan yang kukirim semalam..."
"Cukup! Aku tak mau dengar!" Sebelum Al berhasil menjelaskan persoalan itu aku tidak tahan untuk tidak menghentikannya. Aku tahu pasti dia punya alasan tapi sungguh aku tidak ingin mendengarnya.
"Shi..." Panggilannya terdengar begitu lembut. Nadanya seolah mengungkapkan ketidakberdayaan.
"Pesan itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Tak ada lagi yang perlu kita bicarakan."
Segera aku berdiri dan berpaling hendak beranjak pergi. Tapi dengan cepat dia menahanku, memelukku dari belakang dengan begitu erat. Punggungku menempel di dadanya. Aku bisa merasakan kehangatan itu. Aku bisa merasakan degup jantungnya yang memburu.
"Aku mencintaimu, Shi. Sungguh, aku mencintaimu. Tapi..."
Kata-kata itu meluncur dengan halus penuh kesungguhan di telingaku. Terasa aliran udara hangat membuat tengkukku meremang. Aku melemas, lututku seolah jadi layu dan tak kuat menopang tubuhku.
"Lepaskan!" Pintaku dengan nafas tercekat.
"Shi, dengarkan aku."
"Cukup! Aku tak mau dengar apa-apa lagi. Semuanya sudah berakhir. Semuanya berakhir dengan keraguanmu. Lepaskan aku!"
"Aku hanya tidak ingin kau terluka, Sayang. Jika kita teruskan semua ini, orang-orang akan mencibirmu tak henti-henti, entah sampai kapan, bahkan mungkin setiap kali mereka melihatmu, juga di belakangmu. Mereka akan menyudutkanmu."
"Berapa kali harus kukatakan lagi, aku tidak peduli dengan mereka. Kenapa bahagiaku harus bergantung pada apa yang orang-orang pikirkan? Aku mencintaimu, sangat. Aku mencintaimu meski kita begitu berbeda. Aku mencintaimu, status dan usia bukan alasan untuk mengekang cinta ini."
"Aku tahu, Sayang. Itu memang benar. Usia bukan halangan pula bagiku. Tapi kumohon, tenanglah supaya kita bisa berpikir lebih jernih lagi."
Tubuhku terasa makin lemas. Air mataku semakin deras mengalir. Ingin rasanya aku berteriak. Aku merasa tidak berdaya dan ketidakberdayaan ini sungguh menyiksa.
Merasakan aku tak lagi berontak. Al mendudukkanku lagi di sofa. Sejenak kami saling mengunci pandangan. Ditangkupkan tangannya di kedua sisi wajahku. Diusapnya air mata yang mengalir dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu lembut terasa.
"Shi, dengarkan aku! Tak ada yang salah dengan cinta ini. Hanya saja, akan tak sesulit ini jika kita menyadari hal ini lebih awal."
Aku terdiam mendengar kata-katanya, mencoba memahami apa yang sebenarnya dia maksud. Aku tahu dia selalu berkata apa adanya. Selama ini dia selalu menyampaikan sesuai yang ada di hati dan pikirannya.
"Aku sungguh mencintaimu. Tidakkah kau percaya padaku? Aku juga tidak pernah main-main dengan perasaan ini. Tapi kau juga harus tahu bahwa kenyataannya hubungan ini memang tidak mudah."
"Jadi, apa ini karena dia? Kau ragu karena istrimu?" Dari sekian banyak pertanyaan yang ada di kepalaku, entah kenapa justru pertanyaan ini yang terucap.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu apa? Berkali-kali kukatakan padamu, aku tak memintamu meninggalkannya. Aku bersedia berbagi dengannya. Bahkan jika kau hanya bisa menemuiku sekali saja dalam seminggu, atau beberapa saat saja, aku tak keberatan. Akupun tak keberatan jika kita hanya bisa saling pandang dari kejauhan."
"Shi..."
Air mata mengalir dari sudut-sudut matanya. Ia nampak begitu terluka. Seketika itu dia menunduk dan memalingkan wajahnya dariku. Keheninganpun menyelimuti di antara isak yang saling bersahutan.
Apa yang salah dari semua ini? Bukankah cinta bisa datang pada siapa saja, kapan saja? Lalu kenapa seakan-akan semua itu pengecualian bagi kami?
seperti tenggelam
tangan menggapai-gapai udara yang enggan tergenggam
bukan tak ingin berteriak
habis tenaga tergulung ombak
remuk badan menghantam karang
remuk jiwa didera kecewa
**