CHAPTER 4

2618 Words
Sepanjang perjalanan pulang menuju kost, Sophia tak mengucapkan sepatah katapun membuat Bara bingung. Ia berpikir apakah mungkin tadi dia telah salah bicara ketika di cafe sehingga Sophia marah dan mendiamkannya. Ia melajukan mobilnya cukup lambat sambil mengingat apa yang terakhir kali mereka bicarakan sebelum tiba-tiba Sophia seolah membisu. Bukankah terakhir kali mereka tadi hanya bicara soal panggilan Arashi, lalu apakah tanggapannya tentang hal itu sudah menyinggung Sophia, batin Bara bertanya-tanya. Hingga kemudian Bara menepikan mobilnya di depan gerbang sebuah bangunan lantai dua bercat abu-abu muda tidak jauh dari kompleks kampus, Sophia masih diam, tenggelam dalam dunianya sendiri. Bara memanggil namanya beberapa kali tapi ia tidak merespon sama sekali. Lalu Bara memberanikan diri menyentuh pundak Sophia setelah beberapa kali menimbang sambil kembali memanggil namanya. Sophia terlonjak kaget mendapati sebuah tangan di pundaknya lalu menoleh ke arah Bara dengan tatapan penuh tanya. Ada perasaan yang tidak bisa Sophia pahami karena sentuhan itu. Serasa ada getar yang merambat tapi rasanya berbeda. Perasaan itu membuatnya canggung dan segera mengalihkan pandangannya dari Bara lalu mencoba menengok ke kaca depan dan samping mobil, menerka dimana mereka sekarang. Bara yang juga agak terkejut dengan reaksi Sophia seketika mengangkat tangannya dari pundak Sophia. Namun tangan itu terhenti dan tetap melayang di udara. Bara tertegun dengan tatapan Sophia yang mengarah tepat pada matanya. Ingin rasanya ia mengarahkan tangannya untuk membelai wajah cantik di depannya itu. Tetapi ketika kemudian dilihatnya Sophia nampak canggung dan mengalihkan pandangannya, diurungkanlah niatnya. "Kita sudah sampai." Kata Bara memecah kecanggungan di antara mereka. "Ah, ya. Terima kasih." Jawab Sophia datar. "Ehm.., maaf tadi aku tidak bermaksud.., tidak sopan. Maksudku.., tanganku tadi.. di pundakmu. A..aku harap kau tidak tersinggung." Bara mencoba menjelaskan dengan terbata-bata. Raut penyesalan nampak jelas di wajahnya. "Oh, itu. Tidak. Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf karena lagi-lagi tidak mengacuhkanmu. Sepertinya aku kacau sekali hari ini ya?" Sophia mencoba tertawa untuk mencairkan suasana tapi jelas terdengar seperti tawa yang dibuat-buat di telinga Bara. "Apa kau baik-baik saja? Apa kau sedang banyak pikiran? Aku tidak bermaksud hendak ikut campur. Tapi, kalau kau perlu seseorang untuk bicara, jangan pernah merasa sungkan denganku. Aku bisa menjadi pendengar yang baik. Aku juga bisa menyimpan rahasia dengan baik." Nampak sebuah ketulusan dari kata-kata Bara, Sophia tahu itu. Tapi tentu tidak mudah baginya untuk menerimanya. Mungkin Bara memang tulus dan berniat baik, tapi Sophia terlalu takut untuk membuka dirinya. Dia takut jika itu ia lakukan, maka Bara akan berubah dan tidak bisa menerima Sophia seperti apa adanya dia. Selain itu Sophia juga merasa jika dia terlalu dekat dengan Bara maka itu artinya dia telah mengkhianati cintanya pada Al. Meski di satu sisi Sophia merasa cukup nyaman berada di dekat Bara. Selama ini, selama mereka saling mengenal, Bara seringkali menunjukkan perhatiannya. Ketika dalam beberapa kesempatan Sophia kesulitan mengemukakan apa yang ada di pikirannya, Bara ternyata dapat menangkap maksudnya dan menyampaikan hal itu mewakili dirinya. Sadar atau tidak, Bara menempati sudut penting di hati Sophia. "Terima kasih." Hanya dua kata itu yang sanggup Sophia ucapkan menjawab pernyataan Bara. Sesungguhnya Bara agak kecewa mendengarnya. Tetapi dia tetap berusaha untuk tersenyum. "Aku sangat berharap suatu hari nanti kau akan cukup mempercayaiku, Sophia." Sekali lagi Bara mencoba meyakinkan gadis itu. Sophia hanya tersenyum menanggapinya, lalu segera pamit dan keluar dari mobil. Bara mengamati punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangan di balik gerbang, menatapnya gamang. Beberapa saat ia hanya terdiam dan mencengkeram setir mobilnya. Dia merasa hampir putus asa menghadapi Sophia yang begitu sulit dimengerti. Dia merasa Sophia selalu menjaga jarak darinya, memasang tembok tinggi supaya tidak dapat dilaluinya. Tapi Bara juga merasa tidak dapat mundur dan menyerah begitu saja. Hatinya sudah terlanjur tertuju dan terikat pada Sophia. Sebenarnya, andai dia mau, tidak akan sulit baginya untuk mendapatkan gadis lain yang mungkin tak kalah cantik dari Sophia. Sebagai mahasiswa 'most wanted' dengan tampang yang tidak bisa dikatakan tidak tampan, juga kepandaiannya dalam bidang akademik maupun keaktifannya dalam organisasi kemahasiswaan, Bara merupakan sosok idola bagi gadis-gadis di kampusnya bahkan kampus lain. Tak jarang ia dapati gadis-gadis yang secara terang-terangan mengungkapkan perasaan mereka membuatnya jengah. Namun bukan sekedar kecantikan yang dapat membuat Bara terpikat. Itulah yang ia rasakan terhadap Sophia. Ia merasa ada sesuatu yang lain dalam diri gadis itu. Sesuatu yang membuatnya sulit mengalihkan perhatiannya. Meski ia sendiri masih belum benar-benar bisa memahaminya. Sementara itu di kamarnya, Sophia termenung menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Disentuhnya cermin itu tepat di bayangan wajahnya, lalu turun ke pundaknya. Masih jelas dalam ingatannya rasa dari sentuhan tangan Bara beberapa saat lalu. Ia memutuskan untuk melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Mandi air dingin mungkin akan dapat menenangkan diri, pikirnya. Tapi ternyata ia salah. Setelah melepaskan semua pakaiannya, Sophia kembali termenung di bawah shower. Disentuhnya pundak kanan dengan tangan kirinya, diusapnya perlahan. Getaran itu masih terasa. Dipejamkan kedua kelopak matanya, meresapi sentuhannya sendiri. Lalu tangan kanannya diarahkan ke pundak kiri, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri kini. Sejenak ia terbuai dan lupa dengan segala hal. Hingga tiba-tiba kilasan bayangan Al muncul dalam benaknya. Seketika digeleng-gelengkannya kepala berusaha mengembalikan dirinya pada kesadaran. Dinyalakannya shower dan air dinginpun mengguyur seluruh tubuhnya. Air mata mengalir dari sudut-sudut mata, tak terbendung lagi. Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutup mulut untuk meredam isak tangisnya. Ia terus menangis tak mempedulikan gigil yang mulai menyerang. Ia hanya ingin melepaskan perasaan yang begitu menyesakkan d**a itu. Lebih dari tiga puluh menit kemudian Sophia baru keluar kamar mandi dengan mantel handuknya. Tubuhnya bergetar menggigil membuat langkahnya sempoyongan. Bibirnya nampak biru keunguan. Sedangkan matanya nampak sembab. Setelah mencapai ranjang, dibaringkannya tubuhnya perlahan. Ditariknya selimut hingga mencapai bawah dagu. Tubuhnya meringkuk seperti udang di bawah selimut. Dipejamkan matanya dan beberapa saat kemudian iapun telah terlelap dalam tidurnya. Lewat tengah malam Sophia terbangun karena lapar dan nyeri di dadanya. Kepalanya juga terasa berat dan berdenyut-denyut. Perlahan ia mendudukkan diri dan bersandar di kepala ranjang. Diaturnya nafas mencoba menenangkan diri. Setelah beberapa kali menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, nyeri di dadanya terasa sedikit berkurang. Kemudian iapun turun dari ranjang dan menuju ke sudut kamar kostnya dimana terdapat sebuah kulkas dan meja yang menempel di bawah jendela. Dibukanya pintu kulkas dan dikeluarkannya sebungkus roti tawar, mentega, keju layer, juga toples berisi bubuk minuman coklat siap seduh. Sambil menunggu air di teko listrik mendidih, dibuatnya setangkup sandwich dengan dua helai roti tawar dengan olesan mentega dan diisi selembar keju layer. Sebelum ia mengisi perutnya yang keroncongan itu, Sophia mengambil ponselnya di atas nakas lalu kembali duduk di depan meja dekat jendela. Setelah itu dia menyeduh secangkir coklat yang menjadi favoritnya ketika suasana hati tak menentu, lalu segera melahap sandwich-nya sambil menimbang sesuatu dan menatap ponsel di depannya. Coklat hangatnya kini tinggal separuh ketika ia akhirnya mengambil keputusan. Jam menunjukkan pukul dua dini hari, tapi ia bertekad hendak mengirimkan pesan saat itu juga. Maka diketiknya sebuah pesan singkat dan mengirimkannya tanpa ragu pada seseorang yang sejak sore tadi membuatnya gundah. Setelah memastikan pesannya telah terkirim, diletakkannya ponselnya kembali di atas meja dan disesapnya sisa coklat hangatnya yang sudah hampir dingin. Sophia tidak mengharapkan segera mendapat pesan balasan karena ia pikir tentu orang itu masih tertidur. Maka iapun kembali menuju ranjangnya dan merebahkan diri. Kepalanya masih terasa berat dan berdenyut-denyut. Ia berusaha memejamkan matanya kembali meski sulit karena berbagai hal terus berkelebatan dalam pikirannya. Keesokan harinya, sebelum pukul delapan Sophia telah berada di ruang kesekretariatan mading kampus. Ia sengaja datang lebih awal berharap hal itu dapat mengurangi rasa gugupnya. Dalam ruangan itu ia berjalan mondar-mandir dengan ponsel dalam genggamannya. Pandangannya tertuju pada langkah-langkah kakinya. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang tergesa di lorong menuju ruangan itu. Langkah kaki yang tidak disadari oleh Sophia. Nampak seorang pemuda mengenakan kemeja flanel motif tartan warna biru tua dan jeans warna senada dengan sneaker putih dan tas punggung di pundaknya. Pemuda itu terhenti di depan pintu yang terbuka menatap seorang gadis yang mengenakan blouse warna peace dipadu dengan rok payung hitam yang menutupi hingga bawah lutut. Beberapa saat pemuda itu terpana dan membiarkan dirinya larut. Merasa seolah ada yang tengah memperhatikan, Sophia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangan ke pintu. Nampak segaris senyum mengembang di bibirnya membuat pemuda di depannya itu juga ikut tersenyum. "Aku kira kau tidak akan datang." Sophia maju satu langkah mendekati Bara. "Mana mungkin aku tidak datang jika kau yang meminta." Balas Bara melangkah masuk dalam ruangan membuat jarak mereka kini hanya sekitar tiga langkah kaki. "Benarkah?" Tanya Sophia mulai makin gugup. "Ya, tentu." Jawab Bara mantap. Sejenak kemudian mereka terdiam dan hanya saling pandang. Mata keduanya saling mengunci. Masing-masing dari mereka mencoba saling membaca satu sama lain. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Bara penuh antusias. "A..aku.. Aku ingin memastikan satu hal. Ma..maksudku, kemarin kau berkata bahwa.. ka..kau berharap suatu hari nanti.. aku bisa cukup.. cukup mempercayaimu bukan?" Sophia berusaha menyampaikan tujuannya meminta Bara menemuinya dengan agak terbata. Bara terdiam, menyimak dengan hati-hati setiap kata yang terucap dari bibir Sophia. Merasa Bara menunggu penjelasannya lebih lanjut, Sophiapun kembali berbicara setelah menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aku ingin berusaha mempercayaimu mulai sekarang dan mungkin setelah ini kita bisa bicara mengenai lebih banyak hal. Tapi sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu." Sophia hampir tak percaya ternyata ia bisa mengatakan hal itu dengan begitu lancar. "Apa itu? Aku dengan senang hati akan membantumu memastikannya. Tak perlu sungkan mengatakannya." "Bara..." "Ya?" "Sentuh aku!" Bara cukup terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Sophia. Dia juga takut jika ternyata dia salah dengar. Sophia meminta untuk menyentuhnya? Apa maksudnya? Sentuhan macam apa yang ia maksud? Bara tidak berani membayangkan apa-apa. Sebagai seorang pemuda yang mulai cukup dewasa tentu dia merasa terpancing dengan kata-kata Sophia yang seolah mengundang itu. Jujur saja, begitu mendengarnya Bara merasakan adanya aliran hangat yang mulai menyelimuti tubuhnya. Tapi ia tidak yakin, mengapa Sophia mengatakan hal semacam itu. Apakah ia benar-benar menginginkannya ataukah ia hanya sekedar menguji Bara untuk memenangkan kepercayaannya? Melihat Bara tak kunjung memberikan tanggapan, Sophia mulai panik. Ia takut jika kini Bara memikirkan hal-hal yang buruk tentangnya. Apakah sekarang Bara menilai rendah dirinya karena terang-terangan meminta pemuda itu menyentuhnya? Tapi Sophia merasa sudah kepalang basah. Ia harus segera memastikan satu hal itu yang telah membuatnya begitu resah. "Kau tidak mau melakukannya, Bara?" Tanya Sophia terdengar kecewa. "Sophia... A..Aku..." Bara tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ditatapnya mata Sophia lekat-lekat. Entah mengapa Bara seperti melihat kesedihan terpancar dari mata itu. Diapun maju dua langkah ke arah Sophia tanpa memutus pandangannya. Kini mereka hanya terpisah jarak satu langkah. Mereka dapat mendengar suara nafas masing-masing yang mulai memburu. "Aku tidak sedang mengujimu, Bara." Kata Sophia lirih. Mendengar hal tersebut, tangan kanan Bara mulai terangkat mendekati wajah Sophia. Beberapa saat kemudian telapak tangannya telah menangkup sisi kiri wajah Sophia yang terasa begitu halus. Disisipkannya empat jarinya menyibak rambut panjang Sophia yang tergerai ke belakang telinga gadis itu. Sedangkan ibu jarinya mulai mengusap pipi yang kini bersemu merah jambu. Sophia terpejam merasakan sentuhan itu. Tengkuknya meremang dan dapat dirasakan olehnya getaran yang merambat ke seluruh tubuhnya. Getaran yang sebelumnya hanya dapat ia rasakan oleh sentuhan Al dan seseorang dari masa lalunya. Kini, getaran itu kembali dihadirkan oleh sentuhan Bara. Sama-sama terhanyut dalam kedekatan itu, tak terasa jarak keduanya semakin terkikis. Kening mereka telah menempel satu sama lain. Tangan kanan Bara semakin menekan, menarik tengkuk Sophia supaya semakin dekat. Sedangkan tangan kirinya sudah berada di pinggang Sophia. Perlahan namun pasti Bara mengecup bibir Sophia. Meski hanya sekilas, Bara dapat merasakan kelembutan bibir gadis itu membuatnya ingin kembali merasakannya. Namun ia tidak yakin, apakah memang ini yang Sophia inginkan. Sophia sendiri sebenarnya sangat menikmati sentuhan Bara, juga kecupan singkatnya. Sejujurnya iapun merasa kurang dengan satu kecupan saja. Ia ingin lebih. Karena itu ia merasa agak kecewa setelah beberapa saat kemudian Bara kembali terdiam. Maka ia memberanikan diri untuk menrengkuh Bara. Kedua tangannya dirangkulkan ke leher Bara dan dikecupnya bibir pemuda itu. Tak hanya mengecup singkat, Sophia mulai memagut bibir bawah Bara dengan lembut, merasakan kekenyalan yang memabukkan. Bara terpana dibuatnya. Hingga kemudian dia mulai membalas pagutan Sophia. Keduanya semakin hanyut dan terlena. Nafas mereka semakin memburu. Desahan dan erangan terdengar bersahutan. Beruntung kondisi di sekitar mereka sepi karena banyak mahasiswa yang malas pergi ke kampus jika ujian sudah lewat. Setelah beberapa lama ciuman itu berlangsung, mereka terpaksa menghentikannya karena sama-sama kehabisan nafas. Nampak bahu keduanya naik turun tak teratur. Kening mereka masih menempel satu sama lain. Tubuh mereka pun masih tidak berjarak. Namun tidak ada satu katapun terucap. Sophia dan Bara masih mencoba menata diri, memahami apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Satu hal yang tidak pernah terbayangkan sama sekali sebelumnya. Mereka berdua sama-sama tidak pernah menyangka akan dapat seintim itu. "Apakah yang ingin kau pastikan sudah jelas sekarang?" Bara bertanya karena hatinya diliputi rasa penasaran yang tak tertahankan. "Ya." Jawab Sophia singkat dan lirih. "Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" "Tidak ada. Biarkan tetap seperti ini sebentar lagi." "Baiklah." "Aku akan mengatakannya, apapun yang ingin kau tahu tentangku. Tapi tidak sekarang. Kuharap kau mau mengerti, Bara." "Tentu. Aku akan menunggu." Bara sadar, untuk menghadapi Sophia, dia tidak dapat memaksa dan terlalu menekannya. Dia sadar bahwa Sophia meski nampak kuat di luar tapi sesungguhnya sangat rapuh di dalam. Maka tak ada cara lain saat ini kecuali membuatnya tetap nyaman ada di dekatnya. Sophia mungkin merasa egois dengan meminta Bara menyentuhnya untuk memastikan apa yang dirasakannya. Tapi apa yang kemudian ia peroleh dari sentuhan itu sedikit banyak mulai dapat meyakinkannya. Ia merasa bahwa sentuhan itu Bara lakukan bukan sekedar karena ia yang meminta. Tapi karena Bara mungkin juga merasakan dorongan yang sama seperti yang dirasakannya. Ia merasa Bara mungkin merasakan hal yang sama. Meski di satu sisi Sophia masih tidak dapat berpaling dari Al, tapi dia juga merasa ingin semakin dekat dengan Bara. Tidak dapat dipungkiri bahwa ia selalu mendamba sosok yang dapat membuatnya merasa diinginkan, dicintai. Perasaan mendamba yang pernah membuatnya begitu kesepian dan menunggu dengan putus asa. Lalu salahkah jika kini setelah Al pergi, ia ingin membuka diri untuk Bara? ** "Al, ketika kau jauh dariku, apa kau merindukanku?" "Apa kau tidak pernah berhenti meragukanku, Sayang?" "Kenapa kau menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?" "Dan kenapa juga kau mengulang pertanyaan yang sudah berkali-kali kau tanyakan?" Sophia hanya berdecak menahan kesal di hatinya. Tidak akan ada ujungnya jika dia tetap mendebat Al. Akhirnya dia kembali menyandarkan kepalanya di bahu kokoh laki-laki itu. "Jika suatu hari nanti aku tidak lagi bisa di sisimu, apa kau akan merindukanku? Apa kau akan selalu mengenangku?" Sophia terkejut mendengar Al menanyakan hal seperti itu. Iapun segera mengangkat kepala dari bahu Al dan mengarahkan pandangan padanya. "Apa yang kau bicarakan? Memangnya kau akan pergi kemana? Bukankah baru saja kau protes dengan pertanyaan serupa dariku, lalu kenapa sekarang kau malah berbalik menanyakan hal itu padaku? Apa kau meragukanku?" Cecar Sophia menahan emosi. Wajahnya memerah kaku. Tatapannya yang tajam seolah ingin menguliti laki-laki di hadapannya itu. Al hanya menanggapinya dengan tersenyum lalu direngkuhnya tubuh Sophia dalam pelukannya. Dikecupnya puncak kepala gadis itu berkali-kali. "Maafkan aku. Aku hanya takut kehilanganmu. Aku takut jika harus jauh darimu." "Jika kau takut, maka jangan pernah berpikir untuk pergi. Jangan pernah sekali-kali kau coba berpikir untuk menjauh dariku. Karena aku juga takut." ** Jika dapat memilih, tentu tak ada seorangpun yang mau untuk berpisah dengan seseorang yang dicinta. Tapi kenyataan yang ada ternyata tidak selalu sesuai seperti yang diinginkan. Pada setiap perjumpaan, akan selalu ada ujung menuju perpisahan. Maka yang tersisa setelahnya hanyalah kenangan. Al memang telah pergi. Tapi ia akan selalu menjadi kenangan yang kubiarkan hidup dalam ruang memori. Karena melupakannya sungguh akan menjadi pekerjaan berat yang mungkin tidak akan pernah sanggup kulakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD