Tak ada seorang pun yang berani menyapa Reina, termasuk Alvin dan Jihan. Mereka yang biasa akrab pun tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menghindar. Kini, alarm tanda bahaya mereka memerah darah. Lebih baik berpura-pura tak melihat daripada terkena kalimat pedas yang menampar muka. Reina melempar dirinya di atas kursi kerja. Tas jinjing hitam, terlepas dari rengkuh jemari yang melemah. Tangan kanannya memijit kening yang penuh kerutan amarah. Kamu harus tinggal bersamaku untuk merawat luka ini, hingga benar - benar pulih seperti sedia kala. Kalimat menyebalkan itu memenuhi otaknya sekarang. Menggema seperti teriakan iblis penghuni malam. Suara lembut itu terdengar menyeramkan. Macan betina itu kini terjebak dalam perangkap sang pemburu. Terantai oleh luka ringan yang menjadi awal

