“Sial!” Rutuk Meera dalam hati. Dia sudah berada di dalam mobilnya dan sedang memukul-mukul roda kemudi untuk menyalurkan frustasinya. Kenapa sih dia menyiram Gyan dengan kopi? Hari ini seharusnya dia merayu pria itu dengan mulut manis agar menyetujui kerjasama itu. Tapi kenapa? Ya Tuhan. Meera membodoh-bodohkan dirinya sendiri sambil menutup wajah. Dia terlalu terbawa emosi, ternyata dia masih menyimpan marah akibat kejadian beberapa tahun yang lalu itu. Dan sekarang, dia meluapkannya kembali. “Aduh gimana ini?” bisiknya dengan suara frustasi. Kalau sudah begini, Gyan mana mungkin mau menyetujui kerjasama itu? Meera mengacaukannya dan dia tak punya lagi alasan untuk berharap lebih. Semua telah berakhir. Meera pun menyetir keluar dari pelataran parkir kafe menuju ke kantor. Sesampainy

