Bab 9 : Perang Harus Terjadi

1248 Words

Meera menengok ke belakang, dan memastikan orang yang barusan bicara itu adalah Pak Yuko, dan benar. Si Kukang versi Kilio itu menatap balik Meera dengan mata berkilat. Tatapannya menghakimi seolah Meera sedang ongkang-ongkang di jam bekerja, padahal jam masih kantor masih tiga menit lagi. Oke, tapi bukan itu masalah sebenarnya. Dia tidak peduli dimirip-miripkan dengan ibu-ibu tukang gosip di tempat tukang sayur, karena yang lebih penting saat ini adalah, bagaimana caranya meraih surat di meja Ratih sebelum dilihat oleh Kasie dan Pak Yuko, dan termasuk Ratih sendiri. “Oh, Pak,” balas Meera dengan kaget. “Selamat pagi Pak Yuko,” si gadis penjilat terseyum dan menyapa Pak Yuko. “Pagi, Pak Yuko,” seru Ratih. “Pagi semua,” balas Pak Yuko ringan. Pria itu kemudian menatap kembali ke Meera

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD