Bab 18. Dejavu Anik

1100 Words
“Cukup, Pak. Saya sudah selesai dan harus segera tidur. Bapak juga perlu istirahat, ‘kan?” ujar Anik menolak. Seno mengangguk. Anik bersiap-siap naik ke dasar kolam tapi tampaknya Seno belum puas bersamanya. Dia menahan tangan Anik yang memegang tiang tangga. “Nik.” Anik menoleh dan dia sedikit kikuk saat melihat wajah Seno yang agak berubah. Seno mendekatinya dan masih memegang tangan Anik. “Besok kamu nggak perlu bangun terlalu pagi,” ujarnya. “Saya masih ingin ngobrol denganmu.” Anik terdiam, tadinya dia senang bisa berkompetisi dengan Seno, tapi sekarang dia yang melemah. “Pak—” “Ibu Anna sedang tidak ada di rumah.” “Tapi—” “Saya penguasa rumah ini, dan kamu yang nggak perlu khawatir.” Anik menelan ludahnya, dan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Apalagi tubuh Seno sudah sangat dekat dengannya dan Seno yang masih memegang tangannya. Anik menarik tangannya, tapi Seno menahannya. “Hei, saya nggak apa-apain kamu, saya hanya butuh teman.” “Tapi ini sudah malam, Pak.” Anik bergetar melihat sorot tajam mata Seno yang intens ke matanya beberapa detik. Getarannya semakin hebat saat kaki Seno menyentuh kakinya di dalam kolam, dan Seno yang sengaja menyentuhkan kakinya ke betis Anik naik turun. Tersadar dirinya yang terbuai, Anik mundur, lalu naik ke permukaan dan duduk di tepi kolam. Seno tersenyum hangat ke arahnya, lalu berenang mendekat, menangkap salah satu kaki Anik dan mengangkatnya hingga terlihat di permukaan air. Tangan Seno menyusuri betis Anik hingga ke ujung jari-jarinya. Anik terperangah saat Seno mencium telapak kakinya, lalu mengulum ibu jari. “Bapak … butuh istirahat karena baru saja pulang dari perjalanan jauh,” ujarnya mengingatkan, seraya menarik kakinya dengan pelan dari wajah Seno. Seno menatap Anik yang berdiri dari duduknya, dan melangkah cepat menuju kursi malas, meraih handuk besar dan menutupi seluruh tubuhnya. Dia terus saja mengamati Anik dengan seksama, ingin memastikan Anik berjalan dengan hati-hati agar tidak terpeleset seperti yang terjadi sebelumnya. Sambil mengatur emosi yang berkecamuk, Anik berjalan menuju pintu rumah dan masuk, dan dia mendengar suara ceburan air kolam renang di belakangnya. Sepertinya Seno masih melanjutkan renangnya. Langkah Anik terhenti saat melewati dapur, dan dia merasa lapar. Dia membuka lemari makanan dan meraih satu bungkus mi instan. Dia tidak sengaja menoleh ke jendela dapur yang menghadap ke kolam renang dan menyingkap tirainya. Dia melihat Seno yang melanjutkan renangnya di malam yang larut. Kembali membuka lemari makan, meraih satu bungkus mi instan lainnya dan memanaskan air. Sambil menunggu air masak, Anik masuk ke dalam kamar, membersihkan tubuhnya dari air kolam renang dan dia merasa sangat segar setelah berpakaian kering. Dengan lilitan handuk di kepala, Anik kembali ke dapur dan air yang dia jerang sudah mendidih. Dia lanjut masak mi instan sambil memandang keadaan di luar, ingin memastikan apakah Seno sudah selesai berenang. Anik mendengus tersenyum mengingat momen yang terjadi barusan, dia yang berenang bersama Seno dan dia diam-diam merasa senang. Apalagi saat mengingat perlakuan Seno yang tidak dia duga, membelai betis dan mencium telapak kakinya. Bawah perutnya bergetar dan bagian intim yang berkedut, masih merasakan mulut dan lidah Seno yang memainkan ibu jari kakinya. Ini dejavu, mengingat kedekatannya dengan Ronan yang juga berawal dari berenang bersama. “Kamu pandai sekali berenang, tapi sepertinya kamu belum mampu mengatur emosi dan kamu yang ingin cepat sampai di sana,” tegur Ronan suatu pagi, melihat Anik berenang di pagi hari di belakang rumahnya. Dia mengulurkan tangannya ke Anik yang berada di kolam, menarik Anik. “Saya tenang kok, Pak,” kilah Anik, dan dia yang memang tenang sebenarnya. “Tapi gaya berenang kamu terlihat tidak tenang, kamu harus belajar lagi, atau mungkin kamu yang harus mengubah cara berenang agar lebih baik, strategi itu penting.” Anik mendengus tersenyum mengingat Ronan yang ikut terjun ke kolam renang dan menunjukkan cara berenangnya. Dia tertawa saat itu karena Ronan terlihat lamban dan dia yang tergerak ingin bertanding. Anik berseru menantang, dan Ronan dengan senang hati menerima tantangan. Keduanya lalu berenang berlomba, dan ternyata Ronan yang lebih dulu menyelesaikan putaran. Dia menertawakan Anik yang cemberut karena kalah jauh. Anik menghela napas panjang disertai emosi yang bercampur aduk, mengingat ciuman pertama Ronan di pipinya setelah berenang pagi itu, dan dia yang tahu Ronan yang sedang mengalami masalah berat dalam rumah tangganya. Dia sebenarnya tahu isu skandal Anna, mendengar dari bisik-bisik Uwi dan Lisna, bahwa Anna menginap di hotel bersama pria idaman lain. Dia tidak percaya awalnya, tapi dia mendengar sendiri Anna yang menghubungi pria dengan suara manja, dan Anna yang menyebut-nyebut Panca. Mi sudah selesai masak dan lengkap dengan toping, telur setengah matang, ayam goreng, tomat dan sayuran hijau. Anik pun menikmati minya sambil memandang keadaan di luar rumah, dan dia melihat Seno yang ternyata sudah menyelesaikan berenangnya, duduk sambil memainkan ponsel di bangku santai. Setelah berenang tentu terasa sangat lapar, hingga dalam waktu singkat Anik sudah menghabiskan minya. Menghela napas panjang, dia ragu memasak untuk Seno, khawatir Seno yang tidak lapar dan mi yang tidak dimakan. Anik bangkit dari duduknya, mengingat Seno yang baru saja dari perjalanan jauh, dia yakin Seno pasti lapar setelah berenang. Dia memutuskan untuk membuatkan mi, yakin sebentar lagi Seno yang akan masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan dapur kembali bersih dan rapi, Anik masuk ke dalam kamar dan dia yang ingin segera beristirahat. Hari yang menyenangkan dia lewati, Pandu sudah hafal huruf-huruf secara lengkap hari ini dan mulai mengerti cara menghitung. Anik merasa sangat bangga dengan pencapaiannya, dan Cecilia yang semakin manja, lalu keduanya yang tidak bertanya tentang keduaorangtua yang sama-sama sibuk, membuat pekerjaannya terasa sangat mudah. Sementara itu Seno kembali masuk ke dalam rumah, dan langsung masuk ke dapur karena ingin minum. Seketika aroma masakan yang sangat wangi tercium olehnya, dan dia melihat asap mengepul dari balik tudung saji di atas meja makan. Dia tersenyum lebar saat membuka tudung saji, duduk dan langsung menyantap mi instan. Sambil menikmati mi, mata Seno tertuju ke pintu kamar Anik yang tertutup rapat. Dia senyum-senyum mengingat kejadian barusan, berenang bersama Anik dan dia yang bisa melihat sekujur tubuh Anik dari dekat. Ternyata Anik tidak saja memiliki wajah menawan yang tidak membosankan, tapi juga bentuk tubuh yang molek, tinggi dan jenjang, dan lengan yang sekal. Dia yakin Ronan yang pasti melewati kebahagiaan lengkap saat bersama Anik. Seno menggeleng tersenyum mengingat Anik yang terdiam saat dia pegang betisnya, buah d**a kembar Anik yang naik turun karena ibu jari kakinya dicium dan dikulumnya. Mi sudah habis, perut pun terasa kenyang dan mantap. Mi yang sangat nikmat bagi Seno dan dia yang lega. Dan dia yang seolah melupakan Anna yang malam ini menginap di hotel bersama selingkuhan, malah menginginkan momen yang lebih seru bersama Anik. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD