Bab 3. Dia Saja

1011 Words
Anna kesal karena babysitter yang menjaga anak-anaknya tidak memuaskan hati dan perasaannya. Julia memang telaten mengurus dan merawat, juga jago mengajar, serta bahasa Inggris yang mumpuni, dan sangat disiplin. Dia juga mampu menarik perhatian anak-anaknya, bahkan nilai mapel Bahasa Inggris Cecilia mulai menunjukkan kemajuan di sekolah TKnya. "Saya sering lia si Julia itu suka meratiin pak Seno. Kalo pak Seno pulang kerja, dia tuh suka menye-menye, Bu. Cara ngomongnya dibuat-buat, biar kesannya manis manja di depan pak Seno," adu Uwi, asisten Anna di rumah, yang sudah belasan tahun mengabdi di keluarga Seno. "Oh, gitu. Aku juga sebenarnya punya firasat begitu, tapi nggak yakin. Julia menurutku terpelajar dan nggak mikir begituan." "Justru semakin terpelajar jadinya pinter cari perhatian. Duh, Bu, jaga pak Seno, takutnya diambil pelakor." "Mana mungkin, Wi. Julia harusnya ngaca. Lagi pula Seno nggak seperti itu." "Ya, namanya pelakor itu cuma butuh digaruk, Bu. Laki mah nggak mandang wajah. Ingat dulu si Ovie, yang jaga anak-anak, dandan habis kalo ada pak Seno. Eh, sekarang kejadian lagi. Begitu resikonya kalo punya suami ganteng kayak pak Seno. Iya sih, saya tahu pak Seno nggak bakal tertarik, tapi kalo begini terus Ibu yang kewalahan dan kesal, ‘kan?” Anna mendengus, membenarkan pendapat Uwi bahwa suaminya tampan dan berduit, ada banyak wanita yang tergila-gila, dan hanya dirinya yang keluar sebagai pemenang. Lagi pula, dia sangat mengenal Seno yang tidak mungkin bertingkah. Suaminya itu gila kerja, dan hanya nyaman dengan dirinya. Tiba-tiba Cecilia muncul dari luar rumah, berlari mendekati mamanya dan merengek manja. "Mama, aku nggak mau lagi sama mbak Julia." "Kenapa?" tanya Anna heran. "Dia marahin aku karena nggak ngerti pelajaran." "Eh, nggak boleh begitu. Harus belajar." Cecilia menggeleng, dia yang tidak mau lagi dijaga Julia. Julia tampak tergopoh-gopoh berjalan menuju Anna, dan dia berusaha membujuk Cecilia. "Nggak! Aku nggak mau!" pekik Cecilia, memandang Julia penuh amarah. "Maaf, Bu. Besok tugas Bahasa Inggris harus selesai, tapi Cecilia nggak mau ngerjain," ujar Julia. "Nggak mau! Capek!" teriak Cecilia, dan dia malah mendekati Uwi. Julia pasrah, tidak mau memaksa. "Maaf, Bu. Saya harus ke kamar Pandu," ujarnya dan dia yang tampak keteteran. Anna tercenung, berpikir mungkin ini adalah petunjuk bahwa dia yang harus bertindak, dia beralih ke Cecilia dan berujar. "Ceci harus ngerjain PRnya." "Nggak, aku capek. Tadi mbaknya marah-marah, matanya melotot weee.” Ceci memeluk perut gendut Uwi kuat-kuat, dan Uwi yang menenangkannya. Anna akhirnya bertindak, mengadukan kinerja Julia yang kurang baik ke Seno, bahwa babysitter pilihannya tidak bisa mengendalikan emosi Ceci. Julia akhirnya harus menelan pil pahit, dia diberhentikan setelah baru tiga minggu bekerja mengasuh Ceci dan Pandu. *** Minggu yang berat bagi Anna, sudah tiga kali babysitter berganti setelah Julia, dan semua menyerah karena Cecilia yang tidak bisa ditaklukkan. Anak itu semakin keras kepala dan susah diatur. Anna bahkan mengajukan babysitter pilihannya, tapi tetap berakhir sama, bahkan Cecilia sakit-sakitan dan jarang ke sekolah, juga Pandu yang tidak terawat. “Aku pusing, Seno. Apa aku nggak usah berbisnis saja?” keluh Anna, dan dia yang benar-benar pasrah. “Nggak ada yang bisa merawat seperti Noni dulu,” ujarnya lagi. Noni adalah babysitter anak-anaknya yang mengasuh Pandu dan Ceci sejak bayi hingga berusia empat tahun lebih, tapi sudah berhenti karena menikah dan tinggal di luar Jawa. “Katamu ada lima pelamar, dan kita sudah mencoba empat orang, masih ada satu lagi, ‘kan?” Seno menghisap rokoknya dalam-dalam, pikirannya tertuju ke Anik. “Ya,” desahnya. “Kenapa nggak dihubungi?" “Aku yakin kamu pasti nggak menyetujuinya.” Anna mendelik heran. “Kenapa bisa begitu?” tanyanya, malah semakin penasaran. Seno menghela napas panjang. “Dia Anik, istri kedua almarhum Ronan.” “Ha?” Anna langsung bereaksi, menggeleng tidak percaya. “Kok bisa dia melamar? Lulusan apa sih dia?” “Aku juga nggak tahu kenapa berkasnya bisa lolos, tapi aku langsung mengerti karena dia menyertakan bukti-bukti pengalamannya mengasuh anak-anak. Mungkin itu pertimbangan yang dilihat Andi,” ujar Seno, menyinggung salah satu orang yang bertanggung jawab dalam penerimaan berkas orang-orang yang mengajukan lamaran. Anna tercenung, mengingat sosok Anik. Dia tidak begitu mengenal Anik, dia juga baru tahu bahwa Anik adalah istri kedua sahabat suaminya. Tapi dia cukup mengenal Fara, juga tahu skandalnya dengan berondong. “Nggak salah kita pekerjakan dia, Seno,” desahnya tiba-tiba. Seno menyudahi rokoknya yang sudah pendek, menekannya kuat di asbak. “Kamu yakin?” tanyanya. Ada desiran yang tidak biasa di dalam dadanya. Anna menoleh sebentar ke Seno. “Ya.” “Tapi dia … istri kedua yang—” “Sepertinya kita perlu melihat dua sisi. Aku tahu Fara yang berulah.” “Oh, kamu tahu itu?” “Ya, dan itu penyebab Ronan sakit, lalu Anik yang menjadi pelariannya.” Seno tersentak lagi. “Jadi kamu sudah tahu lama tentang pernikahan Ronan yang kedua.” Anna mendengus tersenyum. “Kamu terlalu sibuk di kantor, Seno Sayang. Aku tentu banyak tahu tentang segala hal, terkait rumah tangga orang-orang. Dan nggak ada guna memberitahumu.” Seno tersenyum sinis, dia yang memang tidak mau tahu tentang gossip-gossip apapun di dalam keluarga, atau kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dia yang hanya tahu bekerja dan mencari uang sebanyak-banyaknya. “Aku pikir kamu pasti nggak setuju jika aku menunjuk Anik. Sebenarnya dia cukup meyakinkan saat wawancara. Tapi aku pikir dia istri kedua Ronan … dan kamu yang sudah melihatnya di hari pernikahan, lalu sumpah serapah Fara kepadanya. Aku tentu ingin menjaga perasaanmu, Ann.” Anna tersentuh dengan kata-kata suaminya. “Haha, Seno. Aku memang tahu desas desus pernikahan itu, tapi aku nggak tau siapa perempuan yang disebut-sebut pelakor. Aku tahu ini bukan salah Anik, dan dia yang murni ingin merawat Ronan. Aku memaklumi keputusan mereka menikah, karena merawat orang sakit dan lemah tidaklah mudah. Kasih sayang yang berlimpah dan cinta … tulus merawat, dan harus menyentuh seluruh tubuh, hmmm.” Seno menarik pinggang Anna ke dekatnya, lalu memburu bibir halusnya. “Haha, Seno, kamu bau rokok.” “Hmmm.” Seno tak peduli, tetap melumat bibir Anna dan Anna yang terbuai, hingga akhirnya dia menggendong Anna masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian, terdengar tawa derai bahagia dari Anna disertai lenguhan panjang Seno. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD