Anik sudah melupakan wawancara beberapa bulan yang lalu yang mengecewakan, di saat dia melamar pekerjaan sebagai babysitter sepasang anak. Dia tetap menjalankan aktifitas biasanya, bekerja sebagai barista di café kecil dan datang mengunjungi panti asuhan, mengajar dan mengasuh anak-anak balita. Anik tidak menyerah, dia melamar pekerjaan sebagai babysitter di keluarga lain, dan lamarannya yang lagi-lagi diterima.
“Besok aku wawancara.”
“Kenapa sih suka banget jaga anak?”
“Ya, suka aja, jaga anak itu butuh sabar dan … lucu.”
“Duh, Nik. Apa nggak bosan. Aku aja capek liat ibuku ngurus cucu-cucunya. Tapi apa boleh buat, ibuku juga butuh uang dari kakakku.”
Anik tersenyum kecil mendengar keluhan Desi tentang ibunya yang kesehariannya merawat dan menjaga dua keponakannya yang masih kecil-kecil, dua tahun dan enam bulan. Ibunya digaji kecil kakaknya, tapi lumayan untuk mengusir kesepian.
“Yah, di samping gaji yang lumayan.”
“Tapi kamu, ‘kan belum pernah kerja di rumah orang kaya.”
Anik mengulum senyumnya, dia memang tidak pernah bekerja di rumah orang berada, tapi sudah pernah hidup dan menikah, bahkan merawat orang berada. Entahlah, dia malah menyukai kesehariannya saat menikah dengan Ronan dan mengurusnya, apalagi di saat Ronan sehat dan banyak bercerita tentang hidupnya, meskipun bergelimang harta kekayaan tapi tidak bahagia, terlebih memiliki istri yang sudah berkhianat. “Menikah denganmu adalah bagian hidupku yang paling bahagia, Nik.” Ucapan Ronan yang melecut bahagianya, dan saat itu fisik Ronan yang cukup sehat.
“Ya … makanya aku ingin mencoba,” ujar Anik.
Seorang pelanggan datang, Anik dan Desi langsung berhenti berbincang.
“Hai, Cantik. Biasa,” ucap pelanggan itu ke Anik, dan Anik tersenyum mengangguk, langsung membuatkan kopi dan mempersiapkan kue kesukaan pelanggan tetapnya.
“Hari yang menyenangkan?” tanya pelanggan itu.
“Oh, iya, Mas.”
“Saya nggak yakin, kalo diamat-amati, kayaknya lagi bimbang nih.”
Desi tertawa dan langsung menyela. “Iya, Mas Kukuh, lagi bingung dengan kerjaan. Dia mau pindah kerja.”
“Wah, nanti siapa yang buatin kopi terenak untuk saya? Jangan pindah, Mbak Anik.”
Anik tertawa kecil, menggeleng dan Desi yang senyum-senyum senang.
“Serius, Mbak Anik?”
“Lagi usaha, Mas.”
“Wah, jangan. Saya serius lo. Jangan berhenti, ntar saya rindu lo, rindu itu ... berat."
“Minum kopinya dulu, Mas,” sela Desi, dan Anik yang melotot ke arahnya.
Pelanggan yang bernama Kukuh pergi dan duduk di kursi di dekat meja kasir. Dia adalah pelanggan tetap café dan Anik adalah barista favoritnya.
Tiba-tiba ponsel Anik berbunyi dan dia sedikit kaget, karena menerima panggilan dari kantor Senopati Group, tempat di mana dia melamar pekerjaan sebagai babysitter.
“Sebentar, Des,” ujar Anik, dan dia langsung menjauh dari meja kasir ke sudut ruang.
“Halo. Selamat siang, saya Andi Burhan, dari Senopati Group. Apa saya bicara dengan mbak Danika?”
“Iya. Iya, Pak Andi. Saya Danika.”
“Apa kabar, Mbak Danika?”
Anik tertegun mendengar sapaan di sana, dan dia merasa senang. “Baik, baik, Pak Andi.”
“Wah, baik ya. Saya ikut senang. Begini, Mbak Danika. Saya ingin menyampaikan kabar baik.” Ada deheman di ujung sana. “Mbak Danika lulus wawancara dan bisa bekerja mulai lusa.”
Anik mengernyitkan dahinya, heran dengan kata-kata Andi. “Bukannya saya nggak lolos, Pak?” tanyanya.
“Nggak, nggak. Mbak lolos dan diterima. Bisa mulai bekerja lusa?”
Anik merasa heran, tapi dia teringat akan gaji besar yang akan dia terima bulan depan. “Baik, Pak.”
“Oke, saya ucapkan selamat sekali lagi ya?”
“Terima kasih, Pak.”
Anik mengakhiri panggilan dengan perasaan bingung.
“Hei.” Desi menegur Anik yang setengah melamun.
“Eh, oh. Desi,” desah Anik dan dia buru-buru meletakkan ponsel di dalam saku.
“Dari siapa?” Desi bertanya dan dia yang ingin tahu.
“Mau tau aja.”
“Iya dong, orang itu harus kepo biar nggak penasaran.”
Anik tertawa kecil. “Ntar aku cerita.”
***
Anik mencuci tangannya setelah selesai membuat kopi pelanggan terakhir sore ini dan dia yang akan bersiap-siap pulang.
“Jadi?” tanya Desi, masih penasaran siapa yang menghubungi Anik dan membuatnya senang dan bingung. Dia baru saja menutup pintu café.
“Orang Senopati, tentang lamaranku.”
“Ha? Kamu diterima atau gimana?”
“Aku malah disuruh kerja mulai lusa.”
Mata Desi terbelalak, dan dia berseru senang. “Aniiik! Selamaaat!” ucapnya girang.
Anik terlihat kurang bersemangat.
“Kok?” delik Desi, yang seketika heran melihat reaksi Anik setelahnya.
“Banyak yang bikin aku heran, Des.”
“Apa emangnya?” Desi memperbaiki posisi duduknya, serius ingin mendengarkan penjelasan Anik selanjutnya.
“Wawancara itu sudah selesai dan sudah ada hasilnya, aku juga sudah tahu siapa yang lolos. Namanya Julia, dan seharusnya dia sudah bekerja sebagai babysitter di rumah itu beberapa bulan lalu. Tapi kenapa aku dihubungi dan dinyatakan lulus tadi?”
“Mungkin butuh dua babysitter?”
Anik menggeleng. “Mereka butuh satu orang dengan gaji yang lumayan.”
“Atau berubah pikiran?”
Anik diam beberapa saat, mengangguk kecil. “Iya mungkin,” desahnya, masih ragu.
“Kenapa sih, Nik?”
Anik menggeleng kecil. Entahlah, dia masih mengingat wawancaranya dengan seorang pria tampan, yang tidak lain adalah papa dari anak-anak yang akan dijaga. Pria itu bertanya apakah mereka yang sudah pernah saling bertemu, dan pertanyaan itu kedengaran aneh. “Nggak apa-apa.”
“Aku tau, kamu pasti kangen bau kopi, dan akan lebih sering cium bau minyak kayu putih.”
Anik mendengus tersenyum, “Ya, aku mungkin kurang yakin dengan pekerjaan baru ini, apa menyenangkan atau sebaliknya.”
“Kamu, ‘kan bisa balik ke sini kapan aja. Aku bisa bicarakan soal ini ke omku.” Desi menepuk-nepuk pundak Anik, menyemangatinya. Dia mengerti Anik menginginkan kehidupan yang lebih baik.
***
Anik merasa dejavu saat berdiri di depan pagar rumah besar dan mewah. Dia mengingat saat dirinya tinggal cukup lama di rumah mendiang suaminya, yang begitu besar dan mewah. Dia merasakan bahagia waktu itu meskipun dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar luas suaminya, dan dia dilarang melihat-lihat ruang-ruang lainnya di rumah suaminya itu. Tidak masalah bagi Anik, dia bahagia menikah dengan Ronan.
“Mbak Danika?”
“Iya, Bu. Saya Danika, panggil saja Anik.”
“Oh, Anik. Ayo ikut saya.”
Bersambung