Bab 5. Babysitter Baru

1141 Words
Sore itu Anik diberi penjelasan tentang keadaan rumah, posisi kamarnya yang berada di dekat dapur, juga ruangan-ruangan lainnya, serta fasilitas yang akan dia dapatkan selama bekerja. Dia cukup puas mendengar penjelasan Uwi, kepala asisten rumah tangga keluarga Baskara Senopati. “Ada yang mau ditanyakan?” tanya Uwi, dia tampak puas dan senang dengan sosok babysitter baru. “Anak-anak? Pandu dan Cecilia?” “Ah, pertanyaan yang cantik. Keduanya sedang menginap di rumah oma dan opa. Besok mereka pulang dan kamu akan saya perkenalkan.” Anik mengangguk tersenyum. Uwi memperhatikan Anik dengan seksama. Entahlah, dia memiliki firasat baik mengenai sosok Anik. Selama briefing singkat, Anik mendengar dengan baik dan tidak banyak bertanya, juga gestur tubuhnya yang sopan, tidak berjalan mendahului. “Baik, Bu Uwi, terima kasih banyak atas penjelasannya,” ucap Anik sopan. “Sama-sama, Anik. Hari ini cukup istirahat dulu, pakaian sudah disiapkan di dalam kamar, semua ada di dalam kamar dan kamu bisa bebas menggunakan dapur yang ada di dekat kamar.” “Baik, Bu.” Ada beberapa dapur di rumah itu dan Anik yang hanya dibolehkan menggunakan dapur yang ada di dekat kamarnya. Anik mengerti bahwa rumah orang berada memiliki beberapa peraturan yang harus dipatuhi. *** Anik sudah rapi dan cantik dengan seragam babysitternya dan dia berdiri tegap di teras rumah menyambut kedatangan Cecilia dan Pandu siang itu. Sebuah mobil van mewah berhenti tepat di depan Anik. Seorang sopir ke luar dan membukakan pintu bagian tengah mobil, lalu membantu wanita cantik turun dari mobil, kemudian menyambut anak laki-laki berusia tiga tahun dan menggendongnya. Anik langsung mendekati wanita yang dia yakini adalah ibu dari anak-anak yang akan dia asuh. “Saya Anik, Bu.” “Oh, ya.” Anna gugup sebentar, cukup terkesan dengan sikap ramah dan sopan Anik. “Sama Mbak ya?” tawar Anik ke anak laki-laki yang digendong sopir. Anak itu menoleh ke Anik, dan lucunya dia yang langsung menurut. “Wah, Ajaib nih. Langsung nurut, Mbak.” “Saya Anik, Pak—” “Bejo.” Anna juga terkesan melihat Anik yang cekatan. Anik juga dengan sigap menenteng dua tas besar dengan satu tangan, dan tangan lainnya menggendong Pandu yang bertubuh semok, dan dia yang tidak tampak canggung atau keberatan. Entahlah, dia yang tampak melupakan latar belakang Anik yang merupakan istri mendiang sahabat suaminya. Tak lama kemudian, anak perempuan cantik turun dari mobil sambil mendekap boneka monyet, dan dia yang langsung heran melihat perempuan asing menggendong adiknya yang tampak nyaman. “Ceci, ini mbak Anik.” Anna memperkenalkan Ceci ke Anik yang tersenyum hangat ke arahnya. Ceci masih dengan wajah bingungnya. “Biar saya bawa, Mbak Anik.” Bejo baru saja selesai mengeluarkan barang-barang dari mobil, dan mengambil dua tas yang Anik bawa sebelumnya. “Oh, iya, Pak.” Anik tersadar bahwa dia yang harus menangani dua anak. Dia mendekati Ceci dan meraih tangannya, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah. Anna memperhatikan Anik yang berjalan cepat dengan kedua anaknya, menghela napas panjang. Sepertinya Anik sangat fokus dengan pekerjaannya, dan dia yang langsung memberi perhatian ke anak-anaknya, tanpa basa basi yang membosankan. Awal yang baik, batinnya, dan dia melihat kedua anaknya yang langsung menurut. Tampak Cecilia pasrah saat tangannya digandeng kuat Anik. Anik sudah berada di dalam kamar Pandu, dan Cecilia yang ikut dengannya. “Mbak urus Pandu dulu ya? Ceci boleh dekat Mbak,” ujar Anik, mulai melepas pakaian Pandu. Ceci mengangguk. “Seneng di rumah opa dan oma?” tanya Anik dengan senyum manisnya. “Nggak. Aku nggak suka di sana, opa dan oma galak.” “Oh. kok bisa?” “Iya. Opa malah-malah telus.” Pandu ikut menyela. Anik tertawa melihat Pandu yang lucu. Dia mengangkat kedua tangan Pandu dan mencium ketiaknya. “Hmmm, wangi.” Pandu tertawa kegelian, dan Ceci menertawakan Anik. “Ketek aku wangi juga, nggak ya?” Anik menggelitik Ceci lalu menarik bajunya dan menyingkap bagian ketiak. “Wanginyaaa.” Ceci cekikikan, dan Pandu tertawa renyah. Sepertinya dua anak itu nyaman dan senang dengan Anik. Sementara itu di luar kamar, Anna mendengar suara-suara jerit dan tawa kedua anaknya dari pintu kamar Pandu yang setengah terbuka. Sudah lama sekali dia tidak mendengar jejeritan anak-anaknya, dan tidak serenyah ini. Dia yakin Anik bisa bekerja dengan baik, dan ini adalah awal yang sangat baik baginya, dia yang bisa lebih fokus berbisnis. *** Anik baru saja selesai menidurkan Ceci setelah membacakan dongeng pengantar tidur. Ceci adalah anak yang susah tidur dan Anik merasa puas bisa membuatnya tidur lebih cepat. “Sudah tidur?” Anik sedikit kaget, karena Anna berada di luar kamar Ceci. “Oh, Bu Anna. Iya, Bu. Ceci sudah tidur." “Maaf, ngagetin kamu.” “Nggak apa-apa, Bu.” “Biasanya dia jam sepuluh atau jam sebelas baru bisa tidur. Ini awal yang baik.” “Iya, Bu. Bu Uwi sudah jelasin ke saya kalo Ceci kesusahan tidur.” “Kamu pasti punya trik rahasia.” “Haha, nggak juga, Bu. Biasa saja. Saya bacakan dongeng yang belum pernah dia dengar, membiarkan imajinasinya berkeliaran sampai dia mengantuk dan … tidur.” Anna mengangguk tersenyum, puas dengan kerja Anik di malam pertama. Tiba-tiba terdengar bunyi deru mesin mobil di luar. “Saya pamit dulu, Bu,” ucap Anik tiba-tiba, dia yakin suami Anna yang baru pulang dari kantor malam-malam. “Oh, sebentar, saya perkenalkan dulu suami saya. Kamu belum bertemu, ‘kan?” “Sudah, Bu.” Anna mendelik heran. “Waktu wawancara,” ujar Anik. “Oh, iya.” Anna menyadari kekeliruannya, lupa bahwa Seno yang mewawancara semua pelamar, termasuk Anik. “Nggak apa-apa. Biar suami saya tahu kamu sudah mulai bekerja hari ini.” “Baik, Bu.” Anik memilih menurut dan tidak mau membantah, meskipun dia sebenarnya jengah diperkenalkan dengan suami Anna. Masih sedikit trauma saat Seno yang langsung menyatakan bahwa dia tidak lolos wawancara. Pintu terbuka dan Seno melangkah masuk. Dia tampak terkesima melihat Anna dan Anik berdiri berdampingan. “Seno.” Anna mendekati Seno dan memeluknya erat, dan Seno memberi kecupan hangat di ujung bibirnya. Keduanya lalu berjalan bersama mendekati Anik. “Danika,” sapa Seno saat berdiri di depan Anik. “Saya, Pak.” “Panggilnya Anik, Seno,” ralat Anna. “Oh, ya.” Seno dan Anik saling berjabat tangan, dan sikap Seno yang datar-datar saja. “Selamat bekerja, Anik,” ucapnya. Seno menoleh ke Anna, mengangguk kecil seolah memberi isyarat. “Oh ya. Nanti aku susul,” ujar Anna, mengerti suaminya yang ingin segera beristirahat. Dia lalu beralih ke Anik. “Suami saya sering pulang malam. Dia mengurus banyak perusahaan di berbagai bidang,” ujarnya. Anik mengangguk, dia yang cukup mengerti dengan pengusaha yang memiliki segudang kesibukan. “Saya juga akan berbisnis. Saya harap kamu bisa bekerja dengan baik.” Anik mengangguk semangat. “Saya bisa diandalkan, Bu,” ucapnya yakin. “Ya, saya tau. Ceci dan Pandu yang langsung menyukai kamu.” Anik mengangguk lagi, senang dengan dukungan Anna. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD