Bab 6. Semangat Anik

1108 Words
Sudah satu bulan lebih Anik bekerja menjadi babysitter di rumah Seno dan dia yang sangat menyukai pekerjaan barunya ini. Anak-anak yang baik dan penurut, dan lincah saat diajak bermain. Khususnya Ceci, yang cerewet dan Anik suka dengan beragam cerita anak itu, juga Pandu yang kritis dengan kata-kata yang tidak terprediksi. Terlebih, gaji yang diterima sangat besar. Sore ini adalah waktu yang menyenangkan. Anik menemani Ceci dan Pandu berenang di kolam renang di laman belakang rumah, dan dia yang selalu awas dengan keduanya. Mereka bertiga berendam di dalam kolam yang dangkal dan tertawa bersama. Tampak Seno memperhatikan Anik yang sedang menjaga kedua anaknya, mengamati dari balik kaca mata hitamnya. Entah kenapa dia yang diam-diam mengagumi Anik, tubuh yang tinggi berisi dan parasnya yang tidak membosankan, juga memiliki senyum yang manis. Dadanya berdesir saat mengingat pesan Ronan yang menginginkannya menikahi Anik. Seno tak sengaja menoleh ke pintu gerbang rumah, melihat Anna yang berjalan ke luar sambil membawa dua jus jeruk. Dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke tablet yang ada di atas pangkuannya. Anna tersenyum lebar ke arah Seno, mendekati Seno. Lalu keduanya berciuman bibir dan menggumam mesra. “Ah,” desah Anna saat duduk rebah di bangku santai di samping Seno. Seno mendengus tersenyum. Sejak Anik bekerja di rumah mereka, Anna menunjukkan semangatnya, dan dia yang selalu menebar senyum bahagia. “Bagaimana dengan bisnismu?” tanya Seno, meletakkan tablet di atas meja di sampingnya, meraih gelas jus jeruk dan meneguknya hingga setengah. “Anik memang berkah dalam hidupku, dan aku yang semakin tenang menjalankan bisnis. Kamu tau, aku dipercaya Kementerian Perdagangan untuk membuka tiga stan di acara Pameran minggu depan.” “Wow.” “Tiga, Seno. Tiga!” seru Anna dengan perasaan bangga. Seno tertawa renyah. “Aku sungguh bangga kepadamu.” “Orang-orang sukar mendapat kesempatan besar itu. Fara saja hanya mendapat jatah satu dan dia kurang bersemangat.” “Oh.” Seno mendesah pelan, mengingat Fara dan skandalnya. “Keputusan kita sangat tepat, memperkerjakan Anik, dan dia babysitter yang cekatan. Ceci dan Pandu yang sangat nyaman dengannya.” Seno menghela napas panjang, sekilas memperhatikan Anik dan dua anaknya dari balik kacamata hitamnya, dan membenarkan pendapat istrinya. “Andai Fara tau kalo Anik bekerja di sini,” gumamnya. “Aku nggak khawatir soal itu, dan aku sudah siap. Anik juga bukan siapa-siapa sekarang dan dia cukup tau diri. Dia … terlalu fokus.” “Maksudmu?” “Kamu ingat dia yang datang ke rumah Ronan saat melayat. Dia tidak melihat kita-kita yang sibuk menenangkan Fara.” “Ya.” Seno mengangguk kecil, mengingat momen mewawancara Anik di ruang kerjanya, dan Anik yang ternyata sama sekali tidak mengenalnya, bahkan kebingungan saat ditanya apakah mereka yang pernah bertemu sebelumnya. “Aku juga nggak khawatir jika Anik tahu bahwa kamu adalah sahabat almarhum suaminya. Aku yakin dia nggak akan mempermasalahkan, atau justru dia malah bertambah sayang dengan anak-anak kita.” Anna beranjak dari duduknya, mendekati Seno dan rebah di d**a Seno. Seno mendekapnya dan mengusap-usap bahu polosnya. “Dia bekerja dengan sangat baik, dan dia yang pasti butuh uang. Aku yakin dia nggak akan macam-macam, dia … nggak seperti Julia atau babysitter-babysitter lainnya yang pernah bekerja di rumah ini.” Seno lagi-lagi melirik Anik lewat kaca mata hitamnya, yang masih sibuk bermain bersama Ceci dan Pandu. Dia mengingat pesan Ronan seminggu sebelum meninggal dunia untuk menikahi Anik. Tiba-tiba saja muncul perasaan aneh di dalam hati, dia yang mulai nyaman dengan kehadiran Anik di rumahnya. Sedikit khawatir dengan perasaannya yang mungkin berubah menjadi perasaan sayang dan butuh. *** Anik tiba-tiba terbangun dari mimpinya, dia yang barusan bertemu Ronan. “Ah, ck.” Anik berdecak sebal, karena dia yang sebelumnya merasa sangat bahagia berjumpa suaminya. Melirik ke jam digital di samping tempat tidur, waktu menunjukkan tepat pukul satu dan dia yang merasa haus. Menoleh ke botol plastik di atas meja di dekatnya yang berisi air tapi tidak penuh. Dia meraih botol plastik itu dan meneguk air hingga habis. Ternyata masih kurang dan dia yang masih merasa haus. Mau tidak mau dia harus ke luar kamar dan ke dapur. Anik sudah berada di dapur sekarang dan dia menuangkan air minum ke dalam botolnya. “Belum tidur?” Anik terkejut, menoleh ke belakang. Seno tampak baru datang ke dapur dan pria itu yang bercelana pendek dan memakai kaus tipis tanpa lengan. Anik mengangguk, tanpa berkata apa-apa. Cepat-cepat dia menutup botol plastiknya dan pergi dari dapur menuju kamarnya. Seno tertegun melihat sikap panik Anik, dan dia menggeleng tersenyum. Dia mengambil segelas air minum dan meneguknya hingga habis. Entah kenapa dia merasa dirinya dan Anik semakin dekat dan seolah sehati, sama-sama terbangun dan haus di dini hari. Anik sudah berada di dalam kamarnya, duduk di kursi setelah meneguk habis satu botol air. Masih terngiang-ngiang di telinganya suara berat Seno yang menegurnya, dan dia yang malah memilih diam. Dia jadi khawatir Seno tersinggung akan sikapnya yang tidak menanggapi sapaannya, malah buru-buru pergi masuk ke dalam kamar. *** Pagi yang ceria, Anik kembali bekerja mengurus dua anak asuhnya. Dia sudah melupakan kejadian semalam dan fokus bekerja. “Pandu, Mbak mandiin Ceci dulu ya? Pandu main ini aja dulu,” ujar Anik. Entah kenapa Pandu agak rewel pagi ini dan dia yang terus memeluk kaki Anik. “Nggak mau, mau sama Mbak,” rengek Pandu. “Ih, aku malu kalo telanjang di depan kamu, Pandu!” oceh Ceci yang sudah mengerti bahwa dia dan Pandu berbeda dan harus terpisah saat mandi. Pandu menangis, dan Anik yang mulai kewalahan. Anik memeluk Pandu dan membujuknya. “Cuma sebentar, Mbak nggak lama mandiin Ceci ya, Sayang?" Melihat wajah teduh Anik, Pandu seolah tersihir dan dia mengangguk lemah, kembali rebah di atas tempat tidur dan memainkan mobil-mobilannya. Anik dengan cepat memandikan Ceci, memakaikan baju seragam sekolahnya dan mendandaninya dengan rapi dan cantik. “Wah, kerena rambutku!” seru Ceci senang, dan dia yang sudah siap pergi ke sekolah pagi ini. Anik merapikan pakaiannya sebelum ke luar kamar. Dia beralih ke Pandu dan mendekapnya. “Eh, kamu demam.” Anik sedikit panik. Dia dengan cepat memeriksa kotak obat. “Nggak mau minum obat, Mbaaak.” Pandu menggeleng kuat, tidak suka rasa obat yang aneh dan sepat di mulutnya. Anik dengan sabar membujuk hingga Pandu yang akhirnya anak itu mau minum obat. “Anak pinter, kesayangan Mbak Anik,” puji Anik, memeluk erat Pandu, dan mencium pipinya yang hangat. Dia yakin Pandu yang hanya demam biasa dan segera sembuh. Baru saja Anik ke luar kamar bersama Ceci dan Pandu yang berada di gendongannya, Anna berdiri di depan pintu kamar dan dia tampak kaget melihat Pandu yang kurang bersemangat. Anna tampak cantik dan rapi pagi itu. “Lho? Kenapa?” tanya Anna, heran melihat Pandu yang cemberut. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD