Bab 7. Teman Lama

1073 Words
“Badannya agak hangat, Bu.” “Oh.” “Demam biasa, sudah mulai berkeringat kok,” jelas Anik tenang. Anna menghela napas lega. Apalagi Pandu yang sangat lengket dengan Anik, kepalanya bersender di d**a Anik dan dia yang tidak tertarik dengan mamanya. “Papa!” teriak Ceci ke papanya yang juga sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia berlarian menuju papanya. “Saya dua hari ini sangat sibuk. Saya titip anak-anak ya?” ujar Anna. “Aman, Bu.” “Oh, Pandu Sayang. Makan sama Mbak Anik ya?” Pandu mengangguk lemah, dan dia mengeratkan pelukannya di leher Anik. Anna menghela napas lega, karena Pandu tidak rewel dan nyaman bersama babysitternya. Pagi yang sibuk bagi Anik tapi dia menikmati paginya hari itu. Sambil menggendong Pandu yang gendut, dia tetap bisa memastikan kebutuhan Ceci sampai berangkat ke sekolah. “Bye, Mbak Anik!” seru Ceci dari dalam mobil yang disetir Bejo. Karena Pandu demam, Anik tidak bisa mengantar dan menjaga Ceci di sekolah hari ini. Anik masuk kembali ke dalam rumah, dia yang berpas-pasan dengan Seno yang juga bersiap-siap pergi. “Pandu demam?” tanya Seno ke Anik. Mungkin ini saatnya Anik memperbaiki sikapnya di depan Seno. “Iya, Pak. Tapi sudah keringat dingin. Sudah saya kasih obat dan dia sudah makan juga,” jawab Anik ramah. Seno mengangguk kecil. “Ok, nanti kalo ada apa-apa, kalo panasnya bertambah, hubungi saya saja, dan jangan hubungi Ibu. Dia sibuk sekali.” “Oh, baik, Pak Seno.” Anik mengangguk lagi. Seno meraba-raba dahi Pandu dengan tangannya, “Sudah lebih baik.” “Iya, Pak. Sebentar lagi juga main,” ujar Anik. Anik terkesima melihat sosok Seno dari jarak yang sangat dekat. Pria ini sungguh tampan dan sempurna, juga kebapakan. Kulit tubuhnya yang bersih dan aroma parfum lembut yang sukar sekali dilupakan. “Pak Seno,” panggil Anik ke Seno yang berbalik menuju pintu depan. Seno pun berbalik lagi ke Anik, bertanya ada apa. “Maafkan saya semalam.” “Semalam?” “Saya … saya yang langsung masuk kamar.” “Ah itu.” Seno tertawa kecil dan Anik terkesima melihatnya. “Saya tau kamu kaget,” ujar Seno. Anik tersenyum lebar, mengangguk kecil dan merasa termaafkan. “Saya pergi dulu, Nik,” pamit Seno, dan dia yang merasa lebih akrab dengan Anik. “Iya, Pak. Hati-hati,” balas Anik dan dia yang merasa sangat lega. *** Anna senang dengan kesibukannya sekarang dan dia bangga atas pencapaiannya. Meskipun baru memulai bisnis beberapa beberapa bulan, dia sudah dipercaya untuk bekerja sama dengan perusahaan fashion ternama, juga pihak pemerintah yang memberi pinjaman besar. “Terima kasih, Suamiku Sayang. Mmmuah.” Anna senang mendapat panggilan suaminya di tengah-tengah kesibukannya di pameran. Seno telah mengirim dana segar untuknya sebagai tambahan modal. Dia beralih kembali ke klien-klien yang berdatangan ke salah satu stannya. “Anna?” Anna tersentak mendengar suara laki-laki yang menyapanya. Dia menoleh dan terkejut. “Mas Panca?” Laki-laki yang bernama Panca itu tersenyum lebar ke Anna. “Anna!” serunya lagi dan kali ini lebih gembira. “Mas! Ya ampun, Mas Panca. Apa kabar?” Anna mendadak berbunga-bunga melihat Panca. Panca tertawa lebar, mendekati Anna dan menjabat tangannya dengan sangat erat. “Bisa bisanya kita bertemu di sini.” “Haha, iya. Ini stanku, Mas.” “Oh, begitu. Aku tadi jalan-jalan dan melihat stan ini dan mengingat seorang teman yang suka sekali warna marun.” Anna tersipu mendengar kata-kata Panca, seolah mengenangnya, dan merah marun adalah warna favoritnya. Panca memperhatikan Anna dengan seksama. “Kamu tetap saja cantik seperti waktu SMA dulu.” “Haha, bisa saja kamu, Mas. Mas sendiri?” “Aku belum menikah, dan kesulitan mencari penggantimu.” “Hahaha, ya ampun, Mas. Sudah ah, lupakan masa lalu kita,” ujar Anna, masih dengan sikap malu-malunya. Panca memandang Anna, terlintas di benaknya akan masa lalu mereka berdua. Panca yang naksir Anna dan menyatakan perasaannya saat duduk di bangku SMA dulu. Namun, Anna menolak karena keduaorangtuanya yang melarangnya berpacaran. Yang menarik, Panca tetap menganggap Anna sebagai kekasih hati, sampai pada akhirnya Panca lebih dulu tamat dan kuliah di luar negeri, tepatnya di Manila. “Kasihku yang tak sampai,” ujar Panca pelan, dan Anna yang tersipu-sipu. “Tugas di mana sekarang, Mas?” tanya Anna akhirnya, tidak ingin terbuai dengan masa lalunya dengan Panca. “Aku bekerja di perusahaan gas dan perminyakan. Kebetulan hari ini aku menemani adikku yang memiliki stan di sana.” Panca menunjuk sebuah stan makanan yang berada lumayan jauh. “Aku jalan-jalan dan tertarik melihat warna stan ini … dan ternyata … eh, kamu si cantik Anna.” Anna tertawa renyah, dan dia yang senang dengan suasana hatinya. “Kamu dan Baskara—” “Ya, aku punya sepasang anak di pernikahan kami, Cecilia dan Pandu.” “Pandu … mirip namaku.” “Aku yang menamakannya, dan … terus terang aku memang terinsipirasi dengan nama nama Mas Panca. Yah … Pandu … Panca.” “Oh, haha. Begitukah?” Anna tanpa ragu mengangguk. “Ah, senang sekali bertemu," desah Panca dengan senyum manisnya. Anna tertawa lepas hari itu dan dia yang bersemangat. Dia pun bertukar nomor ponsel dengan Panca dan malah bergabung di grup alumni SMA mereka. Anna selama ini memang tertutup sejak menikah, dia tidak memiliki kegiatan yang membuatnya lebih “hidup”. Anna dan Panca saling berbagi cerita, dan Panca juga ikut membantu mempromosikan butik Anna sehingga stan Anna ramai dikunjungi. *** “Dari siapa?” Mendengar Seno bertanya, Anna cepat-cepat memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya. “Dari klien bisnis.” “Oh.” Seno lalu beralih ke ponselnya, membalas pesan dari sekretarisnya. Sebenarnya barusan Anna membalas pesan dari Panca yang menanyakan kabarnya dan dia membalasnya. Hubungannya dengan Panca semakin dekat lewat maya dan Anna yang merasa senang jika menerima pesan darinya. Anna sudah mengingatkan Panca untuk tidak menghubunginya dan lebih suka menerima pesan. “Sibuk di kantor, Seno?” tanya Anna. “Ya, seperti biasa. Aku ada proyek baru di BSD, Rukmana Group menyewa alat berat di perusahaan. Proyek mulai minggu depan dan kami yang sudah sepakat.” “Wah, banyak uang nih.” “Iya dong, bisa nambah modal usaha kamu. Kamu bisa menambah koleksi berlian.” “Haha, Seno. Hmmm.” Anna mendekap lengan Seno dan matanya tertuju ke luar mobil, melihat pemandangan di sisi jalan tol. Pikirannya tiba-tiba tertuju ke Panca, dan perasaannya menghangat, mengingat sebuah pesan dari Panca yang menanyakan kabarnya dengan emotikon hati berwarna merah. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD