Bab 8. Skandal?

1105 Words
Seno senang melihat istrinya yang semakin semangat dengan kegiatan bisnisnya. Anna yang sibuk dan semakin menerima panggilan dari klien atau pelanggan. Sebelumnya Anna lebih sering berdiam diri, melamun dan berdecak kesal jika mendengar rengekan dua anaknya. Anna memang terlihat bosan akhir-akhir ini dan dia sendiri pada akhirnya memutuskan kembali ke dunia bisnis. Sebenarnya sudah lama Seno menyarankan istrinya itu untuk berbisnis, memberi fasilitas pengasuh untuk anak-anak mereka. Tapi, Anna selalu menolak dan beralasan dia yang belum sepenuhnya mau kembali berbisnis. Sejak Anik menjadi babysitter anak-anak mereka, Anna seperti mendapatkan semangat baru dan dia b*******h dengan dunianya yang sempat hilang. “Ooooh, Mas P … oh, Senooo.” Tubuh Anna rubuh di atas Seno saat merasakan o*****e. Seno sedikit tersentak, entah kenapa dia berpikir Anna yang sedang memikirkan seseorang dan bukan dirinya saat berhubungan. Dia menghentak pinggulnya dari bawah hingga Anna terhuyung, saat hampir di ujung dia mendorong tubuh Anna, meraih celana dalamnya dan menutupi juniornya yang meledak-ledak. “Seno?” delik Anna, dia heran dengan sikap diam Seno setelah pelepasan. “Kenapa?” “Nggak apa-apa. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan kerjaan.” Seno berkilah. “Kamu memang selalu sibuk, Sen.” Anna rebah di sisi Seno, menatap bebas langit-langit kamar. “Kamu tadi bilang Mas … Mas siapa?” Anna tersentak kaget. “Aku menyebut nama kamu, Seno.” “Nggak, nggak. Kamu bilang Mas P … lalu kamu dengan cepat mengubah dengan menyebut namaku.” Anna menggeleng, tidak mau mengaku. “Aku hanya menyebut nama kamu, Seno!” Seno berdecak kecil. “Apa apaan kamu. Curiga denganku?” “Anna, aku nggak curiga. Aku dengan jelas mendengar kamu menyebut nama selain aku.” “Itu artinya kamu curiga denganku!” ketus Anna, dan dia berusaha mempertahankan pendapatnya. Seno menghela napas pendek, dia yang begitu yakin dengan apa yang dia dengar saat bercinta barusan. “Baiklah,” ucapnya pelan, tidak mau berdebat. Anna tampak kesal, dia bangkit dari rebahnya, beranjak dari tempat tidur dan melangkah cepat menuju kamar mandi. Seno menatap nanar tubuh polos Anna, mengingat keseharian Anna akhir-akhir ini, terkadang menerima panggilan dan bersungut-sungut ke luar balkon, lalu berbicara pelan sambil melihat-lihat keadaan. Tiba-tiba layar ponsel Anna menyala, Seno meraihnya dan berusaha membuka kode. Ternyata Anna telah mengubah kode ponselnya, hal yang tidak pernah dilakukan. Tapi Seno masih bisa membaca sebuah pesan pendek yang datang dari nomor kontak bernama Panca. Panca : Jadi siang ini di Hening’s café. Di sana— Seno tidak bisa membaca pesan setelahnya. Dada Seno berdetak, dan dia yang jadi curiga. Mengingat istrinya yang hampir menyebut nama seseorang yang huruf awalnya adalah P saat meraih kepuasan. Apakah itu Panca yang tertera di ponsel Anna? Seno meletakkan kembali ponsel ke tempat awal, dia memainkan ponselnya dan memeriksa beberapa surel bisnis yang masuk dan harus dia jawab. Tak lama kemudian, Anna ke luar dari kamar mandi dengan handuk di tubuh. Dia tampak segar tapi wajahnya masih cemberut. Dia melirik Seno yang sudah berpindah, duduk di sofa sambil fokus memandang layar ponsel di tangan. Dia tergerak memeriksa ponselnya di atas meja kecil, meraihnya dan membukanya. Senyuman manis tersungging di ujung bibir saat membaca sebuah pesan. Dia yang tidak menyadari bahwa Seno yang diam-diam memperhatikannya. “Aku ada janji makan siang dengan Betty,” ujar Anna. Seno berdehem, dia tahu Anna berbohong. “Ke mana?” “Café dekat butik.” Seno ingat nama cafe tempat Anna dan Panca janji bertemu, cafe Hening namanya, dan dia sudah memeriksa bahwa tidak ada café Hening di dekat butik istrinya. Café Hening hanya satu di Jakarta dan berada di dekat Hotel berbintang di Jakarta Timur. “Café apa?” Anna berubah masam. “Ya, café apalah di dekat butik.” “Oke. Hm … Betty?” “Ya, Betty, rekan bisnisku. Masa kamu nggak percaya sih?” “Aku percaya, Anna Sayang.” Anna lalu bersiap-siap, duduk di depan meja rias dan membersihkan wajahnya. “Kamu ke kantor hari ini?” tanyanya, sedikit heran karena Seno yang tampak santai. “Ya, dan aku langsung rapat jam sembilan nanti.” Seno meletakkan ponsel dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Dia sempat melirik ponsel Anna yang menyala, dan lagi-lagi ada sebuah pesan dari nama Panca. Tapi dia pura-pura tidak melihat. *** Seno sudah berada di dalam kantornya dan dia langsung duduk di depan komputer besar dan menyalakannya. Sambil menunggu file yang dia inginkan terbuka, dia menghubungi seseorang lewat telepon di atas meja kantor. “Nugi, aku ingin kamu ikuti Anna siang ini. Dia janji dengan seseorang bernama Panca di café Hening, samping hotel Maritim. Kamu kirim foto-foto mereka ke emailku dan cari tahu siapa Panca.” Seno menutup telepon setelah mendengar kata baik dari Nugi, bawahannya yang berperan sebagai intel di perusahaan. Memeriksa sebentar data di layar komputer, dia kemudian menghubungi Wita dan memastikan peserta rapat lengkap di ruang rapat. Pikiran Seno terbelah saat rapat berlangsung, memikirkan sikap Anna dan pekerjaannya yang semakin banyak, sebuah proyek baru yang sudah menelan banyak dana dan dia yang tidak mungkin mundur, meskipun ada penurunan profit di bulan ini secara keseluruhan. “Halo.” Seno menerima panggilan dari Nugi. “Seno, dia teman lama Anna waktu SMA. Aku sudah mengirim foto-foto mereka.” Seno mengakhiri panggilan dan dengan cepat membuka foto-foto istrinya yang sedang berduaan di dalam café bersama pria, yang bernama Panca. Foto-foto yang biasa dan tidak mencurigakan. Tapi sebuah video yang membuatnya terhenyak saat mereka berpelukan dan berciuman bibir sekilas, lalu Anna yang tampak keberatan saat berpisah. Seno membuka pesan-pesan dari Nugi, menginformasikan bahwa Panca adalah kakak kelas Anna saat SMA, Panca mencintai Anna tapi Anna tidak menerima cintanya, dan mereka yang tidak berpacaran. Panca bertemu saat Anna aktif di pameran yang dilaksanakan Kementerian Perdagangan bulan lalu. Seolah membuka tabir lama, Anna dan Panca menjalin hubungan sekarang. Menurut Nugi, mungkin Panca menggoda Anna dan memberinya semangat baru, dan mungkin pula Anna yang mulai bosan dengan kehidupannya sekarang. “Dia lajang dan tidak pernah menikah,” ujar Nugi saat ditanya Seno. *** Sejak tahu istrinya berubah dan berulah, Seno lebih fokus bekerja dan bekerja. Dia tidak mau bertanya langsung ke Anna, tahu Anna yang pasti jengah dan marah-marah, seperti yang dia alami beberapa malam lalu. “Oh, maaf,” ucap Seno saat membuka pintu kamar mandi, dan dia yang mau buang air air. Dia melihat istrinya sedang duduk di toilet dan menerima panggilan. Anna pucat pasi, dan cepat-cepat menyelesaikan panggilannya. Lalu berdiri saat selesai. “Telepon penting,” ujarnya dan berlalu dari toilet. “Oh.” Seno mendesah dan tersenyum kecil. “Lain kali dikunci dari dalam, maaf jadi ganggu,” ujarnya santai, dia tahu Anna yang pasti sedang menerima telepon dari Panca. Anna tersenyum malu, mengedipkan matanya ke Seno. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD