Bab 9. Pagi Ceria

1146 Words
Seno lalu menutup pintu kamar mandi, dia sempat menatap wajah Anna yang menyembunyikan sesuatu, dia bisa melihat ketakutan di balik wajahnya. Anna kembali diam-diam menghubungi Panca lewat pesan, mengatakan bahwa dia yang nyaris saja ketahuan oleh suaminya, dan menyuruh Panca untuk tidak menghubunginya seharian ini. Sementara itu di toilet, Seno mendengus tersenyum mengingat kejadian barusan. Dia heran dengan sikap istrinya itu. Anna sangat membenci perselingkuhan dan dia membenci pelakor dalam rumah tangga. Tapi kenapa sekarang istrinya itu yang berselingkuh, seolah menjilat ludahnya sendiri. Menurut laporan dari Nugi, hubungan Anna dan Panca belum jauh, keduanya jarang bertemu setelah pertemuan makan siang di café Hening. Terlebih, Panca dikabarkan melakukan perjalanan dinas ke Kalimantan beberapa minggu. Nugi berpendapat bahwa keduanya hanya ingin ngobrol sambil mengenang masa-masa SMA, dan Anna yang menginginkan kebebasan, dan Seno pun masih memaklumi. “Sibuk sekali istriku ini,” ujar Seno saat kembali masuk ke dalam kamar, dia mengacak rambut Anna. “Hei, kamu habis cebok langsung menyentuh rambutku,” keluh Anna, terganggu dengan sikap Seno. “Aku sudah mencuci tanganku.” Seno menarik tangannya, dan dia yang tetap tenang. Anna tidak pernah bersikap seperti ini dan tidak masalah jika dia mengacak rambutnya setelah ke luar kamar mandi, dan itu hal yang biasa dia lakukan untuk menunjukkan perasaan sayangnya. “Kamu … ke mana?” seru Anna bertanya ke Seno yang melangkah ke pintu kamar. “Oh, aku khawatir mengganggu, jadi aku tidur di luar saja.” “Seno?” “Ya, maaf aku ganggu kamu yang … sibuk.” “Seno!” Anna dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah mendekati Seno di dekat pintu. “Kamu cepat sekali tersinggung.” “Bukannya kamu yang cepat tersinggung. Aku tidak bermaksud mengotori rambut indahmu, tapi pikiran kamu sudah kacau.” “Oke, oke. Aku yang salah!” murka Anna. Seno menatap Anna dengan perasaan kesalnya. “Tidurlah, aku tahu kamu ingin tenang,” ujarnya, lalu ke luar dan menutup pintu. Anna menghela napas pendek saat pintu ditutup di hadapannya, lalu dia yang diam-diam merasa bersalah, menuduh Seno yang merasa tersinggung dan dia yang sebenarnya baru saja menerima panggilan Panca. *** Jutaan rupiah sudah mendarat mulus ke rekeningnya dan Anik yang merasa sangat senang. Dia kagum dengan keadaan keluarga Seno yang sempurna dan memiliki banyak uang. Pasti mereka menghabiskan ratusan juta per bulan untuk membiayai keseharian, atau mungkin milyaran karena Seno yang menangani perusahaan besar. “Hmmm lezatnya jus buatan mbak Anik,” decak Cecilia setelah minum jus buatan Anik, dia sampai mengangkat gelas tinggi-tinggi menginginkan tetesan terakhir jus yang dia baru saja habiskan. “Besok dibuat lagi, nggak boleh terlalu banyak, nanti perutnya melilit,” ujar Anik mengingatkan. “Hmmm.” Kepala Ceci menggeleng, masih mengingat kelezatan jus buatan Anik. “Haha, bisa aja kamu, Ceci.” Uwi gemas melihat tingkah Ceci dan anak itu selalu ceria sejak diasuh Anik. “Enak ahhh.” Pandu ikut-ikutan berdecak dan dia yang sudah menghabiskan jusnya. “Ih, minum apa sih?” Anna tiba-tiba muncul di dapur dan dia yang ternyata mendengar decakan mulut anak-anaknya dan mengatakan hal yang sama tentang jus. “Jus wortel dan jerut buatan mbak Anik enak banget lo, Ma. Hmmm.” Seketika dapur mendadak ceria karena Cecilia yang menggemaskan. “Terima kasih, Anik. Anak-anak saya jadi suka sayuran dan jus buah,” ucap Anna. “Iya, Bu. Pandu kemarin ngemil sayur dan buah yang banyak dan dia yang sudah gampang BAB,” lapor Anik. Pandu sebelunnya mengalami kesusahan saat buang air besar, tapi setelah pola makannya diatur baik oleh Anik, dia yang semakin sehat dan buang air yang lebih lancar. “Ah, senang banget kamu yang merawat anak-anak,” ujar Anna dengan senyum hangatnya. “Mbak Anik jangan berhenti ya?” ujar Ceci tiba-tiba. Anik tertawa kecil. “Siapa yang mau berhenti?” “Takutnya mbak Anik menikah dan pergi dari rumah ini.” “Haha, bisa aja kamu, Ceci.” Cecilia menunjukkan wajah khawatirnya. “Kamu kok senang banget sama mbak Anik?” tegur Anna ke Ceci yang memeluk Anik. “Karena mbak Anik itu wangiii,” jawab Ceci dan dia mencium-cium pinggang Anik. “Kalo Bu Uwi? Wangi nggak?” tanya Uwi dengan sikap usilnya, ikut gemas melihat tingkah anak-anak pasangan Anna dan Seno, terutama Cecilia yang semakin lengket dengan babysitter barunya. “Nggak, Bu Uwi bau kecut,” ketus Cecilia. “Iya, bau ecuuut,” beo Pandu dan dapur yang semakin meriah dengan canda tawa. “Nik, jaga anak-anak ya? Saya pergi dulu,” pamit Anna setelah suasana reda. Anik mengangguk tersenyum, dia memang senang dengan kedua anak asuhnya yang penurut dan pintar. Anna berjalan dengan berlenggak lenggok menuju ruang depan, mendekati Seno dan keluar rumah bersama. “Ada apa ramai-ramai di dapur?” tanya Seno ke istrinya saat berada di dalam mobil, dia yang sebelumnya mendengar tawa canda di dapur. Anna membuka cermin kecilnya dan memastikan dandanannya. “Biasa, anak-anak yang suka dengan Anik, bilang Anik wangilah dan Uwi yang nggak wangi.” Seno terkekeh. “Aku senang Anik yang sangat telaten merawat anak-anak. Pandu sudah tidak memiliki masalah dengan pencernaannya dan babnya yang lancar.” “Oh ya?” “Ya, aku senang ada Anik, aku yang bisa tenang ke mana-mana.” Seno mengangguk-angguk, dia dan Anna sudah tidak lagi beradu argumen sejak pertengkaran kecil mereka suatu malam. Seno memilih untuk tidak mau terlalu memikirkan sikap istrinya, dan memberinya keleluasaan. “Ck, tadi Ceci merengek-rengek, dia yang nggak mau Anik berhenti.” “Oh, begitu.” “Ya, nggak tau kenapa anak itu tiba-tiba mengkhawatirkan Anik.” Tiba-tiba ponsel Seno berbunyi satu kali, dan Seno membuka sebuah pesan yang tertera di layar ponselnya. Nomor tak dikenal : Jadi datang ke hotel, Seno? Seno dengan cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku. Anna sempat melihat pesan di ponsel Seno dan membacanya. “Dari siapa?” tanyanya, mencurigai isi pesan yang di abaca barusan. “Klien.” “Ngajak ke hotel?” “Ya, ada urusan penting besok malam, terkait proyek baru.” “Tapi kamu nggak menyimpan nomornya?” “Oh ya.” Seno merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya kembali, dia menamakan nomor yang beru saja mengirimnya sebuah pesan singkat dengan nama Beni. “Beni?” “Ya, rekan bisnis baru.” Entahlah, Anna kurang percaya dengan sikap dan kata-kata suaminya. Seno mendengus tertawa, menyadari sikap Anna yang berlebihan, tapi dia memakluminya. “Kenapa, Hm? Nggak percaya, kamu bisa hubungi dia sekarang,” tantangnya, menyodorkan ponselnya ke Anna, dia tidak pernah mengunci ponselnya, dan dia tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Anna. Mata Anna mengerling malas, karena mulai curiga, tapi Seno tetap dengan sikap tenangnya. “Halo, Wita.” Seno menerima panggilan dari sekretarisnya. “Pak, kedatangan Bapak dan istri sudah ditunggu.” “Ya, saya dan istri saya sedang dalam perjalanan.” Seno mematikan ponselnya dan memasukkan lagi ke dalam sakunya. Dia dan Anna diundang ke acara jamuan bisnis di sebuah hotel berbintang yang diadakan mitra bisnis terdekatnya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD