Bab 10. Kita Pernah Bertemu

1214 Words
Seno dan Anna pulang ke rumah tepat pukul sepuluh malam dan tentu saja rumah dalam keadaan sangat sepi. Anak-anak mereka yang sudah tidur, juga para pekerja rumah tangga, dan sebagian masih terjaga di bagian luar. Jamuan bisnis yang lancar dan Seno yang mendapatkan banyak pencerahan dari perbincangan, khususnya untuk pengembangan usaha dan bisnisnya di masa depan. Begitu pula dengan Anna yang bertemu mitra bisnis baru, dan dia yang mulai berpikir untuk tidak menjual pakaian saja, dia ingin merambah ke tas dan sepatu, serta barang-barang yang diincar kaum hawa. “Aku nggak ahli skincare, Seno.” “Tapi nggak salah dicoba. Bisnis skincare sedang tinggi-tingginya, dan kamu bisa belajar.” Anna menggeleng, dia tidak yakin bisa menggeluti bisnis kecantikan yang dibicarakan dalam jamuan bisnis beberapa waktu lalu. “Ya, nggak apa-apa kalo nggak yakin. Kita juga nggak perlu ikut-ikutan,” ujar Seno, memaklumi Anna yang kurang percaya diri. “Nggak semua bisnis skincare maju, Seno. Fara saja bangkrut dan dia kembali menjalani binsis pakaian,” ujar Anna. “Kita melihat orang-orang yang sukses di bidang itu, bukan melihat orang-orang yang bangkrut.” Anna menghela napas panjang, mengamati kerutan-kerutan di wajahnya di cermin. Seno memegang bahu Anna. “Bisa dimulai dari wajahmu, kamu rajin menjalani perawatan wajah dan rambut.” Dia membelai rambut Anna, tapi dengan cepat menarik tangannya, mengingat Anna yang marah saat rambutnya disentuh dan dia yang baru saja ke luar dari kamar mandi. “Kenapa?” Anna bertanya, heran melihat sikap aneh Seno. “Aku ingat kamu yang marah malam itu, saat aku menyentuh rambutmu.” Anna menggeleng tersenyum. “Bukankah kita sudah melupakan pertengkaran itu dan aku yang sudah minta maaf.” “Ya.” Seno berjalan menuju lemari baju dan berganti pakaian. Anna diam-diam memperhatikan suaminya yang sudah telanjang dan hendak bertukar pakaian tidur. Fisik Seno sangat sempurna, memiliki wajah blasteran yang tampan dengan kulit tubuh bersih terang, tinggi tubuh yang proporsional dan memiliki senyum yang menawan. Wajar Seno memiliki banyak idola, khususnya kaum wanita. Bahkan Fara pernah menyatakan kekagumannya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat terlintas sosok Panca, yang menurutnya juga memiliki kelebihan meskipun fisiknya yang tidak sesempurna Seno. Seno sudah berpakaian dan dia yang bersiap-siap tidur. Juga Anna yang sudah selesai membersihkan wajah, dan dia pun menyusul Seno di atas tempat tidur. Anna memiringkan posisi tidurnya menghadap Seno, meraba-raba dadanya. Seno meraih tangan Anna yang meraba dadanya dan mengecupnya dalam-dalam. “Aku senang dengan pencapaianmu dan semangatmu.” Anna tertawa kecil, dia meraba d**a Seno hingga ke bawah perutnya. “Maaf, aku … aku sedang tidak b*******h,” ujar Seno, dan Anna menarik tangannya dengan wajah kecewa. Seno menghela napas panjang, lega telah berhasil menolak. “Kamu marah?” “Nggak, aku hanya lelah, Anna.” Anna berdecak dalam hati, menyesalkan sikap Seno. “Senin depan aku berangkat ke Kendari, aku yang akan bertemu dengan klien baru di sana.” “Dengan siapa kamu pergi?” “Pak Mulyo.” “Bawahan Ronan?” “Ya, klien ini dulunya adalah mitra bisnis Ronan. Aku juga membawa Wita.” Anna terdiam beberapa saat, berdesah pelan. “Baiklah.” Seno menoleh ke Anna dan memperhatikan ekspresi wajahnya, dia tahu Anna yang memiliki banyak rencana di saat dia pergi. “Kamu nggak bertanya berapa lama aku di sana?” “Ya?” “Satu minggu.” “Ok.” Anna menghela napas panjang. “Aku … akan merindukanmu.” Seno tersenyum tipis. “Aku juga,” desahnya, dia lalu mengecup lembut dahi Anna. Tak lama kemudian, Anna tidur dan Seno yang malah terjaga. Tidak bisa tidur, Seno beranjak dari tempat tidur, berpindah duduk di sofa kecil dan memainkan ponselnya. Ada beberapa pesan dari Nugi tentang Panca yang ternyata tinggal di apartemen area butik Anna. Informasi ini membuat Seno haus juga sedikit lapar, dan dia yang ingin pergi ke dapur. Seno bangkit dari duduknya, melangkah menuju pintu kamar, dan keluar. Langkah Seno memelan saat melihat lampu temaram di dapur, dan dia mencium aroma masakan yang harum, membuatnya tidak saja merasa haus tapi juga lapar. Langkahnya kemudian terhenti tepat di depan meja makan, tertegun melihat babysitter anak-anaknya yang baru saja selesai memasak mi instan. “Oh!” Anik terkejut saat berbalik dan dia memegang mangkuk yang mengeluarkan asap. “Lapar malam-malam begini?” tanya Seno ke Anik, dan dia tersenyum melihat wajah Anik yang terkejut. “Ah, iya, Pak. Saya … tadi belum makan malam, dan merasa sangat lapar sekarang.” Anik ragu meletakkan mangkuk di atas meja makan, dan dia yang tampak ingin pergi. “Makan di sini saja, Danika,” ujar Seno. Karena panasnya mangkuk di tangan, Anik meletakkan mangkuk berisi mi instan di atas meja makan di dekatnya, dan duduk. Seno malah duduk di depannya. Anik tampak segan, ragu memulai. “Makan saja, saya temani.” Anik sangat lapar, dia meniup sebentar mi panasnya dan menyantapnya dengan pelan. “Sebelumnya saya melihat kamu yang haus malam-malam, sekarang saya melihat kamu yang lapar,” ujar Seno, mengingat suatu malam dia melihat Anik di dapur dan minum. “Iya, Pak.” Anik tertawa segan, dan dia yang kurang nyaman. Hanya beberapa suap, dan dia yang sudah merasa kenyang. “Kenyang?” tanya Seno, melihat Anik yang sepertinya tidak ingin melanjutkan makannya. Anik mengangguk lemah, dan dia yang memang tidak sanggup menghabiskan mi instan yang masih tersisa di mangkuknya. Seno menarik mangkuk bekas makan Anik. “Boleh?” tanyanya. “Pak, saya bisa masakin yang baru untuk Bapak.” “Nggak perlu. Saya memang lapar tapi tidak mau makan terlalu banyak. Sayang jika ini tidak dihabiskan.” Anik akhirnya membiarkan Seno mengambil mangkuk mi-nya, dan mulai makan. Dia tersadar akan sesuatu saat Seno memegang sendok. “Saya ambilkan sendok yang baru.” “Nggak usah, Nik. Kamu ambilkan saya air minum saja,” ujar Seno, tetap menggunakan sendok bekas Anik pakai. Anik beranjak dari duduknya, mengambil segelas air minum di dispenser, lalu kembali duduk di depan Seno setelah meletakkan segelas air minum. “Enak sekali,” decak Seno, dia yang tampak menikmati mi instan buatan Anik. Anik tersenyum kecil, dan dia yang bersiap-siap berdiri, tidak ingin mengganggu Seno. “Jangan pergi, duduklah.” Seno menahan tangan Anik dan menyuruhnya duduk. Anik kembali duduk, dan dia yang lebih tenang, karena tampaknya Seno yang tidak aneh-aneh. “Kamu senang bekerja di rumah saya?” tanya Seno sambil menikmati mi instan sisa dengan pelan. “Iya. Saya betah di sini, saya senang dihargai dan digaji tinggi, dan anak-anak yang sangat saya sayangi.” Seno terkesima mendengar jawaban Anik, dan suara Anik yang lebih merdu dibandingkan saat wawancara. Mungkin saja karena suasana yang berbeda, dan sekarang lebih santai. Seno langsung menduga bahwa Anik adalah perempuan yang asyik diajak bicara. “Pak, saya ingin tahu kenapa saya dipanggil bekerja, padahal Bapak sudah bilang saya tidak lulus wawancara,” ujar Anik bertanya. Seno tidak segera menjawab, dia menghabiskan mi instan sisa Anik. “Kita pernah bertemu, kamu saja yang lupa.” Wajah Anik berubah. “Iyakah?” Seno berdehem, meraih dua lembar tisu dan melap-lap bibirnya. “Danika, saya sebenarnya sudah mengenal kamu sebelum wawancara, dan saya cukup terkejut saat tahu kamu ikut melamar. Saya sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengatakan kamu tidak lulus, sebaiknya performa wawancara kamu yang terbaik. Hanya saja … saya teringat akan almarhum sahabat saya … Ronan Kuncoro, suamimu.” Anik tersentak dan terdiam. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD