Anna menoleh ke belakang, memastikan keadaan aman, barulah dia berujar pelan. “Mas, aku baru sampai di rumah.” “Kenapa nggak beritahu aku, Sayang. Aku menunggu info darimu.” “Ck, Seno pulang.” “Ha?” “Ya. Jangan telepon dulu, nanti setelah keadaan aman, aku menghubungimu.” Anna langsung mematikan ponselnya. Tampak Seno memperhatikan gelagat Anna yang seperti ketakutan, dan dia yang bertambah tidak tega jika dia menekan wanita yang telah melahirkan anak-anaknya itu, memilih membiarkan saja. Anna kembali masuk ke dalama kamarnya. “Klien dari Thailand, kami mengadakan kerjasama.” “Oh. Oke.” Seno tahu pasti dari Panca. “Semoga kerjasama kalian sukses dan menghasilkan banyak uang,” ujarnya. Anna menghela napas lega, karena tampaknya Seno yang tidak mencurigainya. “Kenapa lebih cepat pul

