Bab 2. Wawancara

1277 Words
"Sebentar." Seno menghentikan rapatnya sejenak karena menerima panggilan dari Anna. "Ya, An?" "Please, Seno. Aku ingin baby sitter untuk Ceci dan Pandu paling lambat lusa, dan aku nggak mau tau. Aku sibuk sekali di butik, dan aku harus mempersiapkan segala hal untuk pameran Kementerian Perdagangan. Ini kesempatan terbesarku." "Iya iya, An. Aku sudah membuka lowongan, besok akan ada wawancara di kantorku, dan ada lima kandidat kuat." Anna berdecak di ujung sana, lalu dengan tanpa pamit dia mengakhiri panggilan. Seno melanjutkan rapatnya sambil berusaha mengusir perasaan jengahnya. Anna baru saja memulai bisnis dan usaha beberapa bulan, mulai sibuk kembali sejak lima tahun vakum dan fokus mengurus rumah tangga. Anna sebenarnya memang terbiasa sibuk bisnis, dan Seno yang pada akhirnya memberi peluang. “Pak, ada telepon dari pak Mulyo, katanya penting.” Wita, sekretaris Seno, dengan pelan dan sopan menyerahkan telepon genggamnya ke Seno. “Tanya ada apa, rapat sebentar lagi selesai,” balas Seno dengan pelan pula. “Baik, Pak.” Wita pergi dari tempat duduk Seno, bersungut-sungut menuju ruang sepi sambil menerima panggilan dari Mulyo. Tak lama kemudian, rapat berakhir dan dia dengan cepat kembali ke posisi duduk Seno. “Katanya terkait status perusahaan almarhum pak Ronan, Pak Seno,” ujarnya. Seno dengan cepat mengambil telepon genggam dari tangan Wita. “Halo.” “Pak Seno, maaf mengganggu rapat Bapak.” “Baru saja rampung, Pak. Bagaimana dengan tawaran pembelian yang saya ajukan?” tanya Seno, sudah mengetahui arah pembicaraan Mulyo. “Itu yang ingin saya sampaikan, pihak keluarga besar pak Ronan menyetujui.” Senyum kecil tersungging di ujung bibir Seno. “Lusa saya ke sana.” “Bagaimana besok, Pak Seno?” “Saya ada jadwal wawancara untuk beberapa orang yang akan bekerja di rumah saya, dan cukup memakan waktu.” “Baik, Pak. Lusa saja kalo begitu.” Seno mengakhiri panggilan dengan perasaan puas. Ronan memang sudah membicarakan tentang pengalihan perusahaan ke tangannya, karena tidak memiliki kandidat untuk mengurus perusahaan, juga tidak memiliki anak. Satu-satunya yang mewarisi adalah Fara, istri sahnya, dan Fara yang tidak memiliki kemampuan mengurus perusahaan besar. Ronan berpikir lebih baik dilimpahkan saja ke Seno yang mampu mengurus banyak perusahaan, dan dia menjual perusahaannya dengan harga yang sudah disepakati. “Wita, kamu hubungi lima calon babysitter anak-anak saya, jadwal berubah lebih pagi.” “Jam berapa, Pak?” Wita sudah siap dengan ponselnya. Seno berpikir sejenak. “Mulai jam delapan.” “Baik.” *** Anik memarkirkan motor di parkiran, setelah menggantungkan helm di kaca spion motornya, dia memandang gedung tinggi dengan perasaan kagumnya. “Mbak, wawancara juga?” Seorang perempuan seumuran bertanya ke Anik. “Iya, Mbak. Kok tau? Mbak juga ikut wawancara?” Anik balik bertanya, sedikit heran karena perempuan itu tahu bahwa dia akan mengikuti wawancara. Perempuan itu mengulurkan tangan kanannya. “Julia, kamu?” “Oh, Anik.” Julia dan Anik lalu berjalan bersama menuju gedung kantor Senopati Group. “Aku tadi tanya-tanya satpam dan dia suruh aku ikutin motor kamu, katanya kamu juga peserta wawancara.” Anik tertawa kecil, dia sebelumnya ditanya satpam tentang tujuannya datang ke kantor tanpa lanyard di d**a, dan dia yang menjawab bahwa dia mendapat undangan wawancara pekerjaan. Setelah satpam memastikan, barulah dia diarahkan untuk memarkirkan motor di tempat yang sudah disediakan. “Sudah punya pengalaman jaga anak-anak, Anik?” “Ya, aku sudah biasa jaga anak-anak di panti.” “Oh.” “Kamu?” “Aku sebelumnya babysitter anak ekspatriat selama dua tahun. Aku berhenti karena mereka pindah ke Bandung.” “Oh.” “Kamu sendiri?” “Ya, aku jaga anak-anak panti, dan aku juga bekerja di café.” Julia manggut-manggut, dia mengamati Anik beberapa saat dan dia menganggap bahwa Anik bukanlah saingan yang berarti. Ternyata sudah ada dua kandidat babysitter duduk di depan ruangan. Anik dan Julia menyapa mereka sebentar dan duduk menunggu giliran. “Sudah mulai?” tanya Anik ke peserta yang duduk di sampingnya. “Ya, Baru saja masuk satu orang.” “Oh,” desah Anik, dan dia yang sedikit mulai tegang. Dia menoleh ke arah Julia yang sedang bercakap-cakap ramah dengan peserta yang lain, dan mereka yang tampak sangat percaya diri. Entahlah, Anik merasa ini bukan hari baiknya, dan dia yang pesimis. Dia hanya memiliki pengalaman merawat bayi-bayi dan anak-anak panti yang pasti akan berbeda dibandingkan merawat anak-anak orang berada. “Kamu lulusan apa?” tanya peserta yang duduk di samping Anik. “Oh, aku lulusan manajemen,” jawab Anik, yang lulus kuliah manajemen secara online. “Oh.” “Aku punya pengalaman jaga anak-anak di panti asuhan.” “Oh.” peserta itu manggut-manggut mendengar jawaban Anik, senyum merendahkan tersungging di bibirnya. “Kok bisa lulus administrasi ya? bukannya beda jaga anak-anak panti jika dibandingkan dengan jaga anak-anak orang kaya. Katanya yang diutamakan adalah sarjana bahasa Inggris atau pendidikan anak usia dini." “Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa diterima,” ujar Anik lugas, memaklumi keheranan peserta itu. “Ya, nggak apa-apa juga sih. Namanya juga peruntungan,” ujar peserta itu lagi, mengamati sekujur tubuh Anik yang memang sangat proporsional dibanding fisiknya. Keadaan yang tidak menguntungkan Anik, dia yang semakin pesimis. Terlebih, dia adalah peserta terakhir yang diwawancara. “Good luck, Anik,” ucap Julia yang baru saja ke luar dari ruang wawancara dan dia tersenyum lebar. Sepertinya dia melewati wawancara yang meyakinkan, membuat Anik pasrah dan agak menyerah. “Terima kasih, Julia,” balas Anik. “Aku duluan ya?” pamit Julia, dan Anik mengangguk. Anik menghela napas panjang, menunggu namanya dipanggil. *** Sementara itu di dalam ruangan, Seno tampak puas setelah mewawancara calon babysitter yang bernama Julia, memiliki pengalaman yang lumayan dalam mengasuh dan merawat anak-anak, dan kemampuan bahasa asing yang tidak meragukan. “Masih ada satu peserta lagi, Pak,” ujar Wita. “Oh, saya kira sudah selesai.” “Ini dokumen-dokumennya,” ujar Wita, menyerahkan berkas lamaran ke tangan Seno. “Panggil saja,” ujar Seno malas-malasan, dia tidak begitu semangat karena tidak yakin peserta selanjutnya akan melewati proses wawancara yang meyakinkan seperti Julia. Dada Seno berdesir hebat saat melihat foto peserta wawancara terakhir yang bernama Danika Nada Damayanti di lembaran lamaran. Lebih terkejut lagi saat melihat peserta itu masuk dan melangkah ke meja kerjanya. “Danika,” desah Seno, matanya mengerjap melihat sosok Danika, berpakan rapi dan tubuhnya yang tinggi semampai sempurna. “Iya, Pak.” Anik mengangguk dan dia masih berdiri. “Oh, silakan duduk,” ujar Seno. Kebetulan apa ini, dia membatin. Dia yang sama sekali tidak menduga bahwa istri mendiang sahabatnya ikut melamar pekerjaan sebagai babysitter anak-anaknya. Anik duduk dengan pelan, lalu mengangguk tersenyum ke arah Seno. Entah kenapa Seno mendadak resah dengan senyuman Anik. “Kita pernah bertemu?” tanya Seno, seolah tidak mampu mengendalikan keadaan. Anik mengernyitkan dahinya, dia yang tidak mengerti pertanyaan Seno. “Oh. baiklah.” Seno memperbaiki posisi duduk sambil memperbaiki jas kerjanya, menduga bahwa Anik yang mungkin memang tidak mengenalnya sama sekali. Dia ingat Anik yang fokus mengurus Ronan, tanpa melihat orang-orang sekelilingnya, termasuk saat melayat, dan Anik yang tidak berhasil mendekati jenazah mendiang. Wawancara yang tidak begitu semangat, dan Seno langsung memutuskan bahwa Anik belum layak diterima. “Maaf.” “Nggak apa-apa, Pak. Saya senang sudah diberi kesempatan untuk wawancara. Saya tahu saya hanya memiliki pengalaman di panti asuhan, dan ternyata bukan pengalaman itu yang Bapak harapkan.” Anik menunduk hormat dan pamit. Dia sungguh-sungguh menunjukkan rasa terima kasihnya karena telah diberi kesempatan. Seno tertegun melihat punggung kecil Anik yang berlalu dari pintu ruangan. Dia memiliki alasan kuat menolak Anik yang tentu saja tidak dia ungkapkan. Tidak ingin ada hal-hal yang kurang baik terjadi di keluarganya. Anna yang pasti menolak keras karena juga mengenal Anik yang tidak lain adalah istri kedua Ronan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD