Garis depan

2167 Words

. “Angkasa?” panggil Naviza tak lagi berbisik. Ini kesekian kalinya ia panggil lelaki itu. Suaranya lebih keras dari sebelumnya. Penekanannya lebih jelas dan kesabarannya mulai habis. Angkasa tak kunjung menjawab, tak memberi respon apapun. Dia hanya duduk menekuk lututnya lalu menenggelamkan dagunya diantara puncak lututnya. Matanya menatap hampa satu titik yang tidak jelas apa itu. Mungkin ujung kakinya, mungkin debu-debu yang tak bisa temukan garis batasnya atau sesuatu yang tak bisa dilihat siapapun terkecuali dia. Angkasa seakan sedang berada pada dimensi yang lain. Jiwa dan pikirannya mungkin tak sedang menyatu bersama sukmanya. Terbang menjelajah masa yang sulit ia identifikasi namanya. Suara Naviza terdengar jelas di gendang telinganya, tapi Angkasa seakan enggan bersuara. Memb

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD