Dengan tas kamera yang terasa berat di pundak, Karan bergegas melewati ruang keluarga. Suara ibu nya menghentikan langkahnya di depan pintu.
“Karan, kamu mau ke mana?” tanya Sari, suaranya penuh perhatian.
“Aku mau keluar, Bu. Bikin video,” jawab Karan singkat, menyesuaikan tali tas di bahunya.
“Kamu nggak sarapan dulu?”
“Nggak, Bu. Mumpung cuacanya cerah seperti ini dan masih pagi, bagus buat bikin video,” ujarnya, mencoba terdengar meyakinkan.
Padahal, di dalam hatinya, dia sendiri tidak tahu harus pergi ke mana. Pikirannya masih berantakan setelah pertemuan makan malam beberapa hari lalu, dan kabur ke balik lensa kamera adalah satu-satunya pelarian yang dia pikirkan.
Sari menghela napas lembut, melihat kegelisahan yang jelas terpancar dari raut putrinya. Dia tak bisa mencegah, hanya bisa menatap Karan masuk ke mobil dan melaju pergi, meninggalkan rumah.
Sari berdiri di ambang pintu, menatap mobil Karan yang perlahan menghilang di tikungan jalan. Sebuah desahan penuh makna keluar dari bibirnya.
“Semoga setelah pernikahanku nanti, Karan akan ikut bahagia... seperti aku yang bahagia,” gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar, ditujukan pada ruang kosong yang ditinggalkan putrinya.
Dia tahu kegelisahan yang bersembunyi di balik tekad Karan untuk pergi. Dia melihat ketegangan itu di mata putrinya malam itu di restoran, dan dalam setiap keheningan canggung yang menyelimuti mereka sejak pengumuman pernikahan. Tapi hatinya dipenuhi harapan bahwa semua ini akan berakhir baik, bahwa kebahagiaannya bisa menular.
Sebelum keraguan bisa menggerogoti lebih dalam, dering telepon dari butiknya memecah kesunyian. Sari menghela napas, mengusap sudut matanya yang basah, lalu mengangkat panggilan dengan suara profesional yang sudah kembali terkendali, sambil berdoa dalam hati agar doa tulusnya untuk Karan suatu hari nanti akan menjadi kenyataan.
**
Karan menghentikan mobilnya di tepi sebuah urban park yang cukup luas di tengah kota. Taman ini memiliki sedikit sentuhan pedesaan, terdapat sebuah kolam kecil dengan air mancur, hamparan rumput hijau yang terawat, dan yang paling menarik perhatiannya, sebuah jembatan kayu tradisional (jembatan gantung mini) yang membentang di atas kolam tersebut. Pemandangannya natural namun tetap aesthetic, cocok untuk latar belakang kontennya. Suasana pagi yang cerah membuat cahayanya sempurna.
Dengan sigap, dia mengeluarkan tripod, kamera mirrorless, dan sebuah papan whiteboard kecil dari tasnya. Dia memasang semua peralatan di ujung jembatan kayu, dengan latar belakang kolam dan pepohonan.
Ide kontennya hari ini adalah “5 Bahasa Cinta Versi Anak Kreatif yang Bikin Emak-emak Bingung” sebuah konten komedi ringan tentang miskomunikasi antara generasi kreatif dan orang tua mereka.
Setelah mengecek framing dan audio, dia memberi isyarat pada dirinya sendiri di kamera dan mulai merekam.
“Nomor satu, Acts of Service versiku bukan nyapu atau ngepel, tapi tiba-tiba bikin desain logo gratis buat usaha temen, sampe lupa tidur!” ujarnya dengan ekspresi lebay sambil menulis poin itu di papan tulis.
Dia melanjutkan dengan penuh semangat. “Nomor dua, Words of Affirmation. Bukan ‘Kamu anak pintar’, tapi ‘Story kamu insightfully banget, sis! Engagement ratenya wow!’”
Saat berpindah posisi untuk poin ketiga, Karan terlalu fokus pada kamera dan tidak memperhatikan kayu licin di jembatan akibat embun pagi. Kakinya meleset.
Aakh!teriaknya singkat sebelum tubuhnya oleng. D
alam upaya menyelamatkan diri, dia malah menginjak ujung tripod. Kamera dan tripod goyah hebat, sementara Karan sendiri terjatuh dengan tidak anggun, mendarat di p****t di atas papan kayu jembatan.
Papan whiteboard yang dia pegang terlempar dan jatuh plung ke kolam di bawahnya, mengambang dengan tulisan “Acts of Service” yang mulai luntur.
Dia terduduk diam sejenak, kaget. Lalu, melihat whiteboardnya yang mengambang dan kamera yang masih merekam dengan angle miring yang aneh, tawa ngikiknya pecah.
“Ya ampun… ambrol deh kontennya,” gumanya sambil tertawa sendiri, menyadari kejadian ini justru mungkin materi reel yang lebih lucu dan autentik daripada skrip yang dia siapkan.
Suara keras Karan jatuh menarik perhatian beberapa pengunjung taman. Seorang bapak paruh baya yang sedang joging berhenti, wajahnya berkerut antara khawatir dan ingin tertawa.
Seorang ibu muda yang mendorong kereta bayi menahan senyum. Beberapa anak kecil malah tertawa terbahak-bahak melihat papan tulis yang mengambang di kolam.
“Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya bapak joging itu, mendekat dengan langkah hati-hati di atas jembatan kayu.
Karan yang mukanya merah padam karena malu, mengangguk cepat sambil berusaha berdiri. “Nggak apa-apa, Pak! Cuma... basah-basah dikit,” jawabnya sambil menyeka lumpur di celana jeansnya.
Dia melirik ke arah kamera yang masih merekam, menyadari dirinya kini menjadi bahan tontonan dadakan. Daripada panik, dia malah menyeringai malu ke arah lensa, menambahkan adegan spontan yang jauh lebih menghibur daripada rencana awalnya.
*
Karan mengemasi peralatannya dengan gerakan cepat, rasa malu perlahan digantikan oleh kegelian atas kejadian tadi. Dia masuk ke mobilnya, dengan celana jeans sedikit ternoda lumpur dan lengan baju yang basah karena berusaha mengambil papan tulisnya dari kolam.
Dia membutuhkan kafein dan ketenangan. Lima menit berkendara kemudian, dia berhenti di Kafe “Nook & Niche”, sebuah kafe industrial-minimalis favoritnya yang sepi di pagi hari.
Suasana nyaman dengan aroma kopi sangrai dan musik jazz instrumental yang lembut langsung menenangkannya. Dia memesan iced hazelnut latte dan croissant almond ke konter, lalu memilih sofa empuk di sudut paling belakang yang tersembunyi oleh rak buku tinggi.
Sambil menunggu pesanannya, dia menarik napas lega. Menatap hiasan tanaman di atas meja, pikirannya yang sempat kacau mulai berdamai. Mungkin hidup seatap dengan Rainer tidak akan semenyeramkan itu.
Mungkin.
Pesanannya datang. Dia menyesap latte-nya, menikmati manisnya kacang hazelnut dan dinginnya es. Namun, tatapannya yang sedang melayang-layang tiba-tiba tersangkut pada sebuah sosok di area outdoor kafe, jauh di seberang ruangan.
Tubuhnya menegang seketika.
Di sana, duduk di sekitar meja tinggi dengan tiga orang lainnya yang terlihat seperti rekan bisnis.
Rainer.
Dia terlihat begitu santai dalam kemeja lengan panjang yang digulung, berbincang serius sambil sesekali menunjuk ke layar laptop di depannya. Sinar matahari pagi menyinari profilnya yang tegas.
“Astaga! Dia lagi!” gumam Karan lirih, jantungnya berdebar kencang. “Aku nggak nyangka akan bertemu dia di sini!”
Tanpa pikir panjang, Karan langsung membalikkan badannya, memunggungi area outdoor. Dia merosot lebih dalam ke sofa, berusaha menyembunyikan dirinya di balik rak buku, berharap Rainer tidak melihatnya. Namun, perasaan tenang tadi langsung menguap, digantikan oleh kewaspadaan dan rasa jengkel yang familiar. Sepertinya, Rainer memang ditakdirkan untuk mengacaukan harinya.