Eps. 5 Kenapa Ditinggal?

1023 Words
Karan yang biasanya bisa duduk berjam-jam di sudut favoritnya itu, kini merasa seperti penyusup di wilayah sendiri. Setiap tegukan iced latte-nya terasa seperti pengkhianatan, karena dia harus terus-menerus mengintip dari balik rak buku untuk memantau gerak-gerik Rainer. Yang membuatnya semakin risih, Rainer sepertinya harus bolak-balik ke konter untuk mengambil air atau ke toilet, sehingga berulang kali melintas di lorong yang tidak jauh dari sofanya. Setiap kali langkah kaki itu mendekat, Karan akan mengangkat buku besar tentang seni ilustrasi dari rak di sampingnya, seolah-olah sangat asyik membacanya, dan menutupi separuh wajahnya. Atau, dia akan membalikkan badan sepenuhnya, pura-pura sangat fokus memandangi tanaman hias di pot dekat jendela. 'Sampai kapan akan begini? Kapan dia akan pergi?' Karan kesal, merasa kebebasannya direnggut. Kejadian lucu itu terjadi saat pelayan membawa pesanan kedua untuk meja Rainer. Sang pelayan, seorang muda yang tampak ceroboh, berjalan terlalu cepat dengan nampan berisi beberapa gelas. Saat melewati dekat sofa Karan, kakinya tersandung karpet yang agak melorot. “Aduh!” seru pelayan itu. Sebuah gelas berisi air mineral terguncang dan sebagian isinya tumpah, tepat mengenai punggung dan bahu Karan yang sedang membelakangi. “Hah?!” Karan terkejut, langsung melompat berdiri. Rasa basah yang dingin membuatnya refleks berputar, dengan ekspresi kaget dan kesal yang tak terbendung. Dan di sanalah, tepat di hadapannya, Rainer berdiri. Dia baru saja hendak kembali ke mejanya dan menjadi saksi langsung atas insiden itu. Matanya yang tajam menatap Karan yang basah kuyup sebagian, lalu ke wajahnya yang memerah karena malu dan kaget. Karan membeku. Dia lihat! Pasti! Dengan cepat, dia kembali duduk dan mengangkat buku itu lagi, kali ini hampir menutupi seluruh kepalanya, berusaha terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, jantungnya berdetak kencang. Dia tidak melihat senyum tipis yang mengembang di bibir Rainer sebelum pria itu berbalik dan berjalan pergi, seolah menemukan sesuatu yang sangat menghibur pagi ini. “Maaf, sungguh maaf, Nona!” ucap pelayan itu dengan panik, matanya membelalak penuh ketakutan. Karan langsung menoleh, tapi alih-alih marah, ekspresinya justru berubah menjadi cemas. Dia buru-buru melirik ke arah Rainer. “Nggak apa-apa, benar-benar nggak apa-apa,” bisiknya cepat pada pelayan, sambil mencoba tetap tersembunyi di balik buku di tangannya. Dia tidak mempermasalahkan tumpahan air itu sama sekali. Yang dia khawatirkan adalah perhatian yang mungkin akan menarik tatapan Rainer ke arahnya. Pelayan itu, yang merasa sangat bersalah, segera mengelap punggung Karan dengan serbet bersih yang dia bawa. “Boleh saya bawa ke dry cleaner terdekat? Atau saya ganti biaya cucinya?” “Nggak, nggak, nggak usah! Ini cuma air, nggak masalah,” tolak Karan dengan tegas, suaranya terdengar agak terburu-buru. Dia bahkan memberikan senyum tipis yang dipaksakan agar pelayan itu cepat pergi. “Benar-benar hanya masalah kecil. Sudah, nggak apa-apa.” Pelayan itu masih ingin memprotes, tetapi melihat ketegasan Karan, dia hanya bisa mengangguk dan berulang kali mengucapkan terima kasih. “Terima kasih banyak atas pengertiannya, Nona.” Begitu pelayan itu pergi, Karan menghela napas lega. Namun, napas itu tertahan di tenggorokan ketika pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan sepasang mata cokelat tajam dari balik rak buku. Rainer sedang menatapnya dengan ekspresi datar, satu alisnya terangkat sedikit, seolah baru saja menyaksikan sebuah adegan yang cukup menarik perhatiannya. Karan segera menunduk, merasakan panas di pipinya. Panggilan dari rekan kerjanya yang tiba-tiba menyelamatkan Karan dari tatapan itu. Suara pria di seberang telepon Rainer terdengar cukup keras, membahas urgent tentang campaign klien. Saat Rainer sedikit membalikkan tubuhnya untuk fokus pada panggilan itu, memberikan punggungnya pada arah Karan, itu adalah kesempatan emas. Karan tak berpikir dua kali. Dengan gerakan cepat dan senyap, dia menyapu laptop, charger, dan buku catatannya ke dalam tas. Gelas kopi setengah habis dan muffin blueberry yang belum tersentuh sama sekali ditinggalkan di meja sebagai bukti kepergiannya yang terburu-buru. Dia tak peduli. Prioritasnya satu, menghilang sebelum Rainer menutup telepon. Dia melesat menyusuri lorong rak buku, menyelinap keluar melalui pintu samping kafe tanpa menarik perhatian siapa pun. Udara luar yang hangat menyambutnya, tapi jantungnya masih berdebar kencang. Di dalam kafe, Rainer mengakhiri panggilan dengan kalimat singkat, “Ya, aku rasa itu ide yang bagus. Kita bahas detailnya di kantor besok.” Dia menutup telepon, dan tanpa jeda, pandangannya langsung kembali tertuju ke sudut seberang. Ekspresi datarnya berubah menjadi sebuah kerutan di dahi. Meja itu kosong. Gelas kopi dan muffin yang tadi masih ada, kini hanya menyisakan noda bekas gelas di atas meja kayu. Seolah-olah penghuninya menguap begitu saja. “Ke mana dia pergi?” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri. Matanya yang tajam menyapu seluruh area kafe dengan cermat, memindai setiap sudut, setiap wajah. Tapi tidak ada tanda-tanda wanita berambutan cokelat lebat yang tadi duduk dengan tubuh tegang itu. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, akhirnya muncul di bibir Rainer. Bukan senyum ramah, melainkan senyum yang penuh arti. Seolah ini adalah sebuah permainan yang justru menjadi semakin menarik. Rainer mencoba memaksa pikirannya kembali ke spreadsheet dan strategi pemasaran di layar laptopnya. Dia tidak seharusnya peduli dengan wanita ceroboh dari masa lalunya yang sebentar lagi akan menjadi saudara tirinya. Fokus, itu kuncinya. Setelah satu jam berkutat dengan laporan kuartalan, dia menutup laptop dan beranjak untuk membayar tagihan. Saat melangkah meninggalkan mejanya, pandangannya secara tak sengaja tertumbuk pada kursi kosong di seberang. Lalu, sesuatu berkilau di bawah meja. Dia berhenti. Membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas. Di lantai, terselip di antara kaki-kaki kursi, terbaring stylus pen tablet yang elegan dan sebuah flashdisk kecil berbentuk karakter kucing, perlengkapan vital untuk seorang ilustrator digital. “Astaga!” gumamnya, suara rendah penuh rasa tak percaya. “Kenapa dia bisa meninggalkan barang penting seperti ini?” Dia berusaha untuk terus melangkah. 'Masa bodoh! Bukan urusanku. Biar saja dia yang rugi.' Pikirannya berteriak agar dia pergi. Namun, kakinya menolak bergerak. Sebuah konflik singkat namun intens terjadi dalam dirinya. Prinsipnya yang dingin berbenturan dengan sesuatu yang lain, mungkin rasa tanggung jawab, atau mungkin sesuatu yang lebih dalam yang enggan dia akui. Dengan gerakan kesal, Rainer mendengus keras.“Sial!” desisnya, setengah marah pada dirinya sendiri. Dia membalikkan badan, berjongkok, dan mengambil kedua barang itu. Stylus dan flashdrive kucing itu terasa hangat di genggamannya. Dengan muka masam, dia memasukkan barang-barang Karan itu ke dalam saku jaketnya, sambil mengutuki diri sendiri karena telah terlibat lagi dengan kekacauan yang bernama Karan Velda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD