Kamar Tidur

1228 Words
Menjelang sore, semua Keluarga kembali pulang ke rumah masing-masing. Menyisakan dua orang pengantin baru yang tak seperti pengantin baru. Setelah mengantar kepergian kedua orang tuanya dan kedua mertuanya, Fitri memutuskan untuk merapikan barang-barang yang ia bawa. Gadis itu memasuki kamar utama. Bersebalahan dengan kamar kosong yang pintunya masih terkunci. Fitri mulai membuka kopernya satu persatu, merapihkan barang-barangnya, lalu menyusun segala sesuatu di tempatnya. Saat ia akan merapikan baju-bajunya, Fitri agak terkejut saat tau di dalam lemari pakaian sudah penuh dengan baju milik Setya. Bukankah di surat kontrak tertulis bahwa keduanya akan tidur secara terpisah? Fitri menarik nafas dalam. "Sabar, Fit, sabar. Mungkin Setyanya lupa kalo kita pura-pura." Gadis itu keluar kamar, mencari si pemilik rumah besar. Fitri mendesah lelah saat melihat Setya sedang duduk di meja makan dengan segelas kopi, sebuah laptop, dan satu toples biskuit. Ia menghampiri Setya dengan santai. Ia masih tetap bertekad menjadi istri yang baik selama 3 tahun ke depan! "Pak, kok baju bapak ada di lemari pakaian aku? Kan di kontrak udah di tulis kalo kita bakal tidur terpisah?" ucapnya sesaat setelah berhadapan dengan pria yang masih sibuk menatap laptopnya itu. "Baju apa?" jawabnya tak begitu perduli. "Baju bapak, ya kali baju tetangga." Lelaki itu menutup laptopnya, lalu menatap Fitri tajam. "Pertama, aku gak setua itu sampai kamu bisa panggil, Pak. Kedua, aku gak pernah naro barang sembarangan. Jadi kemungkinan bajuku ada di lemarimu itu, gak mungkin." "Ck!" Fitri berdecak. "Kalo gak liat sendiri juga aku gak akan ngomong, Pak." Sepertinya Setya harus sabar dengan panggilan itu. Karena Fitri terlihat nyaman memakainya. "Ayok pindahin dulu. Gak usah banyak alasan. I'm not your babu. Jadi bapak gak bisa main suruh-suruh gitu aja." Setya mengernyit. "Aku gak nyuruh kamu apapun," katanya dengan sedikit bingung. "Bapak mau nyuruh aku buat mindahin baju kan? Iya kan?" Lelaki itu berdiri. "Mana, di mana bajunya?" katanya sedikit menahan kesal. "Di kamar lah, gak mungkin juga ada di dapur." Fitri mengikuti Setya yang berjalan cepat menuju kamar. "Eh tunggu." Fitri bergerak cepat saat Setya akan memasuki kamar yang salah. "Yang itu, bukan yang ini," katanya memberi tahu. Setya sepertinya harus menambah stok kesabarannya untuk tiga tahun ke depan. "Ini kamarku, ini kamarmu." Lelaki itu menjelaskan dengan singkat. Yang mudah di mengerti oleh Fitri. "Terus kenapa koperku di masukin ke kamar ini?" Setya menaikan bahunya tak perduli. "Siapa yang masukin?" "Kayaknya para orang tua," jawab Fitri tak begitu yakin. "Ayah ibuku tau ini kamar tidurku. Mereka juga pastinya gak akan berpikir anak mereka yang baru menikah bakal tidur pisah kamar kan?" Fitri mengangguk, benar juga. Dia mengaku salah kali ini. "Jadi ini kamarku?" tanyanya sambil menunjuk kamar sebelah kamar utama. "Iya." "Oke." Lalu, Fitri membuka pintu kamar Setya, menarik keluar koper-koper yang belum ia keluarkan isinya. Para orang tua itu, senang sekali manambah kerjaan untuk anak-anak mereka. Namun dari depan pintu, Setya menghadangnya. "Ngapain?" tanyanya. "Mindahin ini ke kamar itu," ucap Fitri sambil menunjuk koper dan pintu bergantian. "Kamarku kan di situ," lanjutnya lagi. Lalu tiba-tiba, Setya menarik kembali koper Fitri ke dalam. "Eh-eh, kok di masukin lagi sih, Pak?" Gadis itu berpikir sejenak. Lalu berjalan cepat dan menarik kembali koper miliknya. Setelah Setya sampai di depan lemari. "Apa-apaan, Bapak?! Di surat kontrak udah di tulis kalo kita tidur secara terpisah! Jangan seenaknya gitu dong!" Setya memutar bola mata malas. "Siapa juga yang mau tidur sama kamu?" Lalu ia membuka pintu lemarinya, bajunya tertata rapi di sana. Kemudian ia meraba sesuatu di balik baju-baju. Lalu baju dan rak otomatis bergeser. Membuat Fitri yang baru melihat hal seperti itu terheran-heran. Gadis itu pikir, sesuatu seperti itu hanya ada di film-film. "Pintu rahasia?" tanyanya polos. "Ya, aku sengaja bikin ini supaya kita gak akan kebingungan kalo semisal orang tua kita datang mendadak. Kita bisa lewat pintu ini." Fitri mengangguk. Dasar orang kaya. "Dan lemari itu." Setya menunjuk sebuah lemari besar yang lain yang ada di ujung kamar. "Di sana ada baju-baju wanita. Jaga-jaga untuk sesuatu yang tak diinginkan." Fitri kembali mengangguk. Dasar orang kaya. "Saklar itu." Lalu Setya menunjuk saklar yang tampak seperti saklar lampu di lemari tepat di tempat di mana lelaki itu tampak meraba-raba tadi. "Itu saklar yang sama yang ada di lemari kamar kamu. Fungsinya juga sama. Buat buka pintu ini," katanya menjelaskan "Waw," ucap Fitri sambil mengangguk. "Dasar orang kaya." Lalu Setya merebut koper dari tangan Fitri, membawanya masuk ke kamar sebelah. Lalu, akhirnya, Setya membantu Fitri memberesi barang-barangnya hingga selesai. Fitri adalah gadis baik yang diajarkan dan dididik dengan baik oleh orang tuanya. Maka dari itu, sejengkel apapun Fitri pada Setya, gadis itu tak lupa mengucapkan terimakasih. *** Maghrib tiba, Fitri sudah mandi dan bersiap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Shalat 3 rakaat Maghrib. Setelah itu, Fitri pergi ke dapur. Ia akan memasak sesuatu untuk makan malamnya dan Setya. Fitri membuka kulkas. Dari modelnya saja Fitri tau itu kulkas mahal. Namun yang ia temukan hanya sosis dan nuget yang tinggal tersisa setengah. Juga botol air mineral. Kulkas mahal tapi tak ada isinya. Lalu Fitri membuka rice cooker, masih ada nasi. Nasi ini pasti cukup untuknya dan Setya. Lalu ia membuka lemari makanan. Masih ada sisa rendang tadi siang. Fitri terdiam sejenak, dapur luas begini isinya mampu membuat prihatin. Sebenarnya Fitri sendiri berasal dari kalangan orang berada. Ayahnya memiliki bisnis kelapa sawit. Sang ibu juga memiliki butiknya sendiri yang sudah ada beberapa cabang. Namun sang ayah selalu membiasakan Fitri untuk hidup secara sederhana. Dari kecil, Fitri selalu diajari untuk membeli sesuatu yang memang dibutuhkan. Beli fungsinya, bukan egonya. Karena ego manusia tidak akan ada habisnya. Jadi, melihat megahnya rumah Setya dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya membuat Fitri menganga takjub. Kenapa dia bahkan membeli kulkas yang sebesar truk ekspedisi kalau isinya cuma sosis dan nugget? Juga segala kemewahan yang Fitri sendiri tak terpikirkan sebelumnya akan bersama kemewahan ini selama 3 tahun ke depan. "Dasar orang kaya." Fitri mengehentikan lamunannya, lalu mengambil piring rendang, sosis, nugget, juga nasi yang sebelumnya sudah ia pindah ke mangkok besar. Ia tidak akan membuat yang ribet, gadis itu hanya akan mencampurkan semu bahan itu menjadi satu. Awalnya ia menggoreng nugget sampai keemasan, lalu di tiriskan. Lalu memotong sosis kecil-kecil, dan menggorengnya dengan sedikit minyak. Setelah dirasa cukup matang, Fitri memasukan bumbu rendang beserta dagingnya yang sebelumny juga sudah ia potong kecil ke dalam penggorengan berisi sosis yang sedang di goreng. Oseng sebentar, tak perlu menunggu lama, Fitri lalu mencampurkan nasi ke dalam penggorengan juga. Tak perlu menambah bumbu apapun. Karena bumbu rendang yang berlimpah sudah mambu membuat rasa menjadi enak. Fitri membolak-balikan semua bahan hingga tanak. Setelah itu, angkat dan sajikan. Baunya saja sudah mampu membuat perut Fitri keroncongan. Gadis itu lalu meletakkan nasi gorengnya di atas meja makan. Lalu pergi menghampiri Setya yang sepertinya sedang ada di ruang tengah menonton televisi. "Pak, aku masak nasi goreng. Aku masakin buat bapak juga. Itung-itung rasa terima kasih karena bapak udah bantu beres-beres tadi." Sebenarnya Fitri sudah sangat siap dengan penolakan. Namun siapa sangka Setya langsung berdiri dan berjalan menuju meja makan. "Kamu masak apa?" tanya Setya setelah melihat nasi goreng yang Fitri buat. "Nasi goreng rendang. Mau masak yang lain juga cuma ada sosis sama nugget doang di kulkas." Setya mengangguk mengerti. Mengambil piring dan sendok lalu mengambil beberapa sendokan besar nasi ke dalam piringnya. Juga mengambil beberapa nugget goreng. Lelaki itu makan dengan lahap. Fitri di sebrang meja tersenyum. "Ohh, jadi gini rasanya masakin suami." Eh? **** Ikuti aku yuk di IG: sitimays13
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD