Pagi-pagi seekali Setya sudah terbangun dari tidurnya. Pria itu tidak melihat tanda-tanda ada Fitri di kamarnya. Tak mau ambil pusing, pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Jam masih menunjukkan 04:30. Setya shalat subuh terlebih dahulu. Setelah shalat, Setya masih tidak melihat Fitri di kamar mereka. Lalu terdengar suara pintu terbuka. Fitri masuk sambil membawa segelas kopi dan sepiring roti.
"Makan dulu, Pak."
Setya hanya terdiam. Fitri tidak sedang kerasukan kan? Atau jangan-jangan gadis itu menambahkan racun ke dalam makanan dan minuman yang ia suguhkan. Astagfirullah, baru saja menghadap Allah, sekarang sudah berbuat dosa lagi.
"Kalo boleh tau, kamu baik gini dalam rangka apa, ya?"
"Aku mah dari dulu juga emang baik. Kok aneh bapaknya malah baru tau."
Setya mengangkat tangannya, memberi tanda pada Fitri untuk berhenti.
"Aku belum setua itu sampai harus di panggil pak, btw."
Fitri mengangguk. "Pak, boleh tanya gak?"
"Don't--" Setya mengusap wajahnya kasar. "Oke, tanya aja," katanya.
"Bapak kenapa berhenti bicara formal sama aku?"
"Gak papa, karena ku pikir, kamu enggak diumur di mana aku harus bicara formal. Dan kamu juga harusnya tau, aku gak diumur di mana kamu bisa manggil pak."
Fitri mengangguk."Padahalmah kalo di kantor semua orang juga manggilnya pak," gumamnya pelan. Namun sepertinya Setya masih mendengarnya dengan baik.
"Beda kasus dong. Mereka karyawan. kamu, emh ... ah udahlah, siap-siap kan aja apa-apa yang mau dibawa."
Fitri tentu bukan gadis polos yang tidak tau apa maksud dari Setya. Atau, Fitri boleh salah paham maksud Setya tadi adalah ia akan mengatakan Fitri istrinya kan? Ia tersenyum kecil, lalu kembali perduli.
Fitri mengangguk. "Udah kok," ujarnya.
"Oke kalo gitu kita bisa berangkat pagi, kebetulan aku ada kerjaan pagi ini."
Fitri kembali mengangguk. "Oke."
Setya menatap bingung, Fitri tidak sedang dalam pengaruh minuman keras kan? Ia yakin betul semalam Fitri masih berbicara dengan kasar padanya. Atau jangan-jangan gadis itu mulai punya perasaan padanya? Setya terkejut sendiri dengan pemikirannya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari Fitri yang sedang mengumpulkan koper dan kardus miliknya yang tidak beraturan.
Gadis itu terlihat sedang merapikan barangnya yang lain sambil bersenandung. Mungkin moodnya sedang baik sekarang.
"Halo? ... Enggak, Han. Aku berangkat pagi ... gak papa, ada ayah sama ibu dan sodara yang lain juga yang bisa bantu."
Setya masih memperhatikan sepertinya gadis itu di telepon oleh temannya. Setya masih tak habis pikir, kenapa seseorang bisa berubah hanya dalam satu malam? Inikan bukan novel fantasi
"Gak dimakan rotinya, Pak?"
Setya tersadar dari lamunannya. "Eh, i--iya."
Sudahlah lupakan saja. Bukankah malah bagus Fitri bisa berubah jadi lebih baik padanya.
"Fitri, ayah boleh masuk?" Terdengar suara ayah Fitri dari luar.
"Masuk aja, Ayah. Pintunya gak dikunci."
"maaf ayah ganggu. ayah cuma mau tanya, nanti kamu berangkat jam berapa?" skepalasidik keluar dari pintu sambil tersenyum.
"Fitri mah ikut setya aja. kan makmum."
Sidik beralih menatap menantunya. Mencari jawaban.
"Mungkin sekitar jam 8 nanti, Yah. Di sana banyak yang harus dikerjakan soalnya."
Sidik mengangguk."Oke, ayah sama ibu siap-siap juga kalo gitu."
"Jangan ganteng-ganteng ya, Yah. Takutnya ayah bikin para wanita tersepona nanti."
Sedik terkekeh, bahkan Setya pun ikut terkekeh.
"Waduh, gawat dong. Ayah udah ganteng dari sananya. Gimana dong?"
Fitri ikut tertawa kecil. "Pede banget ayah, padahal ayah kan bukan Kim Seokjin."
"Emang bukan, orang ayah miripnya sama Kim Taehyung."
"Oh pantes aku cantik banget kaya Jeni blek ping."
"Bibit unggulan, wajar dong."
***
Hanya satu kata yang keluar dari mulut Fitri saat melihat rumah yang akan ia tinggali. "Waw." Ini benar-benar di luar ekspektasinya. Rumah orangtuanya besar, tapi rumah Setya ini lebih besar lagi.
Ia melihat sekeliling, nampaknya bukan hanya dirinya yang terpesona, ayah, ibu dan adiknya juga.
Setya membukakan pintu untuk keluarga barunya. Memepersilahkan mereka semua masuk.
Sekali lagi, mereka di buat takjub. Ruang tamunya saja bisa di jadikan lapangan bulutangkis ini. Mereka melanjutkan memasuki ruang tengah. Bahkan ruang tengahnya bisa untuk main futsal. Fitri geleng-geleng kepala. Akan butuh waktu seharian hanya untuk membersihkan rumah yang akan ia tinggali ini.
Sebenarnya tidak, Fitri hanya berlebihan. Rumah Setya memang luas, tapi tidak seluas itu sehingga bisa untuk bermain bulu tangkis dan futsal. Namun bisa untuk berenang, karena di area belakang, sudah ada kolam renang yang cukup luas. Dan tak jauh dari kolam, ada lapangan hulu tangkis lalu dua puluh meter ke kiri, ada sebuah meja tenis. Sepertinya Setya gemar berolahraga.
Fitri menatap sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah ayunan kecil di bawah pohon yang Fitri sendiri belum tau itu pohon apa. Gadis itu mendekat. Menepuk-nepuk pohon besar yang ternyata adalah pohon mangga dengan sebuah ayunan yang nampak begitu nyaman. Ini akan jadi spot favorit Fitri saat ia butuh ketenangan.
Fitri duduk diam di atas ayunan. Bergerak pelan sambil merasakan terpaan angin sepoi-sepoi mengenai wajahnya. Gadis itu tersenyum kecut, membayangkan akan seperti apa hidupnya tiga tahun ke depan? Di rumah megah nan mewah yang Fitri sendiri ragu akan menemukan sedikit kebahagiaan.
Sebenarnya Fitri sadar, terlalu konyol menjodohkannya dengan Setya hanya karena sebuah janji yang di lakukan orangtuanya. Gadis itu juga sangat sadar, ia di jodohkan setelah kebakaran besar terjadi di kantor pusat milik ayahnya. Tentu saja hal itu membuat kerugian besar. Fitri juga tau, kalau Sigit-ayah Setya-membantu ayahnya selepas kebakaran terjadi. Di zaman ini, memang siapa yang mau menolong dengan cuma-cuma? Bukankah wajar jika Fitri beranggapan dirinya dijual?
Tidakkah terlalu jahat mengorbankan anak sendiri untuk menutup kerugian? Fitri sangat menyayangi Sigit. Bahkan terlepas dari apapun yang sudah ayahnya itu lakukan padanya. Sehatusnya ia bersyukur, perjodohan ini tidak terjadi pada adiknya. Juga, terlepas dari janji dan kontrak yang telah dibuat oleh ayah dan suaminya, mereka tetap bertanggung jawab atas dirinya. Semoga saja. Tiga tahun tidaklah lama. Anggap saja Fitri sedang belajar. Belajar sabar, ikhlas, dan tabah dengan semua cobaan yang Tuhan berikan. Karena ia yakin, di ujung jalan pasti ada cahaya. Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya sendirian.
"Fitri, ayo makan dulu. Malah bengong di bawah pohon mangga."
Fitri tersenyum. "Iya, Bu." Gadis itu tidak sadar jika dirinya meneteskan air mata. Fitri menyeka matanya dengan tangan. Menarik nafas dalam, lalu berlari masuk ke dalam rumah. Ah, padahal pekerjaannya banyak, ia malah nangis di sini.
Fitri berlari kecil memasuki rumah, gadis itu berharap, semoga saja tiga tahunnya tidak begitu menyakitkan.
***
jangan lupa tap love dan komen ya.
makin dekat denganku di IG yuk.
follow: sitimays13