Fitry sudah memakai baju pengantin. Lengkap. Fitry tampak menawan dengan baju pengantin berwarna putih bersih. Fitry masih menatap dirinya dari cermin besar. Kata ibunya tadi, ia cantik. Andai, ia juga menikah dengan orang yang dia cintai. Mungkin hari ini selain cantik, ia juga akan bahagia.
Gadis itu berjalan pelan ke arah tempat duduk. Mengingat rok yang ia kenakan adalah rok span yang lumayan ketat. Hingga membuatnya susah bergerak.
Gadis itu memandang kamarnya yang sudah disulap menjadi kamar pengantin dengan nuansa putih gading. Malam nanti, bukan hanya dirinya sendiri yang akan tidur di kamar ini. Melainkan Setya juga, lelaki yang akan berstatus sebagai suaminya.
Ia benar-benar sendirian di dalam kamar. Jika menambah drama sedikit mungkin tidak apa-apa bukan? Misalnya mengganti rok dengan celana training dan kabur lewat jendela? Kebetulan di luar jendelanya tidak ada orang. Toh pernikahan ini juga sudah lumayan drama.
Fitry terkekeh, menertawakan niat bodohnya yang tidak mungkin ia lakukan. Ia tak akan mau mempermalukan ayah dan ibunya di depan orang banyak.
"Fit," panggil Lala sambil membuka pintu. Gadis dengan dress berwarna cream itu masuk. Disusul oleh Herni yang juga mengenakan dress dengan warna yang sama.
"Cantik," Lala mengelus kedua pundak Fitry pelan. Matanya berkaca. "Kalo ada apa-apa bilang kita, ya. Kita bakal siap sedia bantuin," lanjutnya.
"Ah, kenapa berasa kayak mau nganterin anak gadis ke pelaminan sih?" Lala berdiri, mencari tisu dan menghapus air matanya. "Untung make-upnya gak luntur," lanjutnya.
"Kalian disuruh bawa turun Fitry malah ngegosip." Sukma, ibu Fitry ikut masuk kamar. "Ayok turun, Setyanya udah siap."
Semuanya mengangguk, tapi tak ada yang beranjak. Bahkan Sukma sekalipun.
"Kamu cantik, Sayang. Ah, perasaan baru kemarin ibu gantiin popok kamu. Tapi sekarang kamu udah mau berkeluarga aja. Ayah sama ibu cuma mau yang terbaik buat kamu, Nak. Dan kita yakin, Setya adalah yang terbaik."
Fitry mengangguk sekali lagi.
"Jangan nangis nanti make-upnya luntur," ucap Sukma. "Yuk keluar."
Sukma menggandeng tangan Fitry, bersama dengan Lala dan Herni yang mengikuti di belakang.
Ramai, itu yang Fitry lihat saat memasuki area ruang tamu yang dijadikan tempat dilangsungkannya akad. Wajar saja, mengingat calon suaminya, ayah mertua, dan ayahnya adalah orang-orang yang cukup dipandang.
Fitry di arahkan untuk duduk di sebelah Setya. Pemuda itu nampak gagah dengan setelan jas hitamnya. Mata mereka bertabrakan sebentar, sebelum akhirnya keduanya saling buang muka.
"Semua siap?" tanya penghulu.
Setya mengangguk. Lalu pemuda itu menjabat tangan calon ayah mertuanya.
"Saudara Asetya Hermawan, aku nikahkan kamu dan aku kawinkan kamu dengan putriku, Fitry Ardya, dengan mahar seperangkat alat salat dan emas 10 gram di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Fitry Ardya dengan mahar tersebut, tunai."
Sultan dan Setya melakukan ijab qabul dengan lancar.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu lagi.
"Sah!" jawab semua orang.
Setelah itu, acara dialanjutkan dengan doa, dan pemasangan cincin oleh kedua pengantin.
Semua tamu dan keluarga tampak bahagia. Senyum lebar atau tangis haru memenuhi ruangan. Hanya pasangan pengantin saja yang tersenyum namun tak bahagia.
Setelah ijab qabul dilakukan, keduanya melakukan sungkeman dengan kedua orangtuanya. Sesi haru, yang membuat semua tamu undangan ikut meneteskan air mata. Tak terkecuali sang pengantin wanita. Fitry bahkan sampai tak sanggup berbicara karena tangisnya yang sampai membuatnya segukan.
Lalu setelahnya, dilanjutkan dengan acara resepsi. Saat di mana kedua pengantin harus berdiri untuk menyambut tamu yang hadir.
Beberapa jam berlalu, dan seakan tak ada habisnya, tamu undangan terus berdatangan. Entah berapa ribu undangan yang ayahnya dan ayah mertuanya edarkan. Yang pasti, kaki Fitry sudah mulai sakit dan lelah sekarang. Ia bahkan belum sempat duduk sama sekali.
Saat istirahat untuknya adalah saat dimana ia harus berganti pakaian. Dengan pakaian yang lebih ribet tentunya.
"Hah ... aku rindu baju training," ucap Fitry saat dirinya sedang di bantu mengenakan baju berwarna putih gading dengan ukuran yang mengembang. Yang di bantu oleh penata busana yang lagi-lagi adalah pilihan orang tuanya.
"Sabar ya, Mbak. Toh ntar malem gak pake baju juga," ceplos salah satu dari penata rias yang sedang membantunya. Fitry hanya tersenyum canggung. Mungkin nanti malam ia bisa mengajak sang suami berkenalan dengan benar dulu.
***
Akhirnya acara selesai. Fitry benar-benar bisa beristirahat sekarang. Setelah mencopoti semua aksesoris dan menghapus make-upnya tentu saja.
Suara gemercik air terdengar dari kamar mandi. Setya langsung masuk kamar mandi setelah sampai di kamar tadi. Sepertinya lelaki itu sedang membersihkan diri.
Tak mau ambil pusing, Fitry kembali mencopoti satu persatu aksesori rambut yang ditempel di kepalanya. Tidak terllau besar dan berat, tetapi cukup banyak.
Rambutnya terasa kaku karena hairspray yang disemprotkan cukup banyak tadi. Entah akan berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk membersihkan rambutnya.
Setelah selesai dengan rambut, ia menunggu Setya untuk bergantian kamar mandi. Bajunya sudah berganti dengan baju santai biasa. Karena baju pengantinnya sudah di leaps di bantu oleh kedua sahabatnya di kamar sang ibu tadi.
Setelah beberapa menit, Setya keluar dengan pakaian lengkap. Rupanya lelaki itu sudah berganti pakaian di kamar mandi.
Tak lama, Fitry masuk kamar mandi dengan handuk dan pakaian di tangannya. Fitry mandi cukup lama. Untuk menghilangan make-up, juga hairspray di rambutnya. Badannya terasa pegal semua. Mungkin mandi air hangat bisa sedikit membuat lelahnya berkurang.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Fitry ragu untuk keluar kamar mandi. Ini pertama kalinya ia hanya berdua dengan lelaki dalam satu ruangan. Fitry yakin, tak akan terjadi apapun malam ini. Namun jiwa perempuannya mau tak mau selalu waspada dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah beberapa menit berlalu, Fitry memberanikan diri keluar. Terlihat Setya yang duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Benar kata Lala. Suaminya ini memang tampan. Fitry merasa bodoh sekarang. Apa dia sekarang menyukai Setya? Hanya karena wajahnya saja? Tidak, tentu tidak. Memang siapa yang tak suka melihat lelaki tampan? Fitry pun juga begitu. Namun bukan berarti, semua pria tampan ia cintai. Untuk saat ini, pria tampan yang ia cintai hanya ayahnya. Cinta pertama untuknya.
Fitry duduk canggung di depan meja riasnya. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Fitry ...," panggil Setya pelan. Yang tentu saja masih terdengar oleh gadis itu.
"ya?" jawabnya canggung.
"Saya minta waktu untuk mengobrol sebentar boleh?"
Fitry mengangguk, kenapa bahasanya harus seformal ini?
Setya berjalan menuju kopernya. Mengambil sebuah kertas di sana.
"Ini, saya sudah membuat surat kontrak dengan poin-poin di dalamnya. Kamu bisa menambah poin-poin lain. Tapi yang pasti, kita akan bercerai setelah 3 tahun pernikahan."
Fitri membatu. Tak tau harus merespon apa. Malam pertama yang biasanya menjadi malam bahagia bagi pengantin. Malah jadi malam paling semu di hidupnya.
"Pernikahan gak sebercanda ini!" katanya akhirnya.
Setya terkekeh pelan.
"Tapi nyatanya, takdir sedang bercanda."