“Pernikahan itu sakral, bukan ajang buat main-main! Kamu ngerti?!” ucap Fitri sesaat setelah membaca kontrak konyol yang diberikan Setya.
Setya memandang dingin wanita yang siang tadi baru saja ia sahkan menjadi istrinya.
“Aku gak pernah main-main sama apa yang aku lakukan dan aku ucapkan!”
"Pernikahan gak sebercanda ini!"
"Nyatanya, takdir sedang bercanda."
Gadis itu menghela nafas berat. Tak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki di hadapannya. "Kalo niat kamu cuma gini. Kenapa kamu setuju waktu kita dijodohkan? Aku juga akan menolak jika saja kamu bilang dari awal kalau akan ada kontrak dipernikahan ini!"
"Karena itu aku gak bilang. Karena jika kamu menolak. Aku yakin, semua kerja kerasku selama ini akan sia-sia."
Fitri menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gadis itu menangis dalam diam. Benar kata Setya. Takdir memang sedang bercanda. Entah apa rencana Tuhan yang disiapkan untuknya.
"Aku pikir, ketika teman-temanku bilang orang tua pasti tau yang terbaik untuk anaknya. Kamu adalah pilihan terbaik. Aku pikir, ketika ayahku menjodohkanku denganmu terlepas dari alasan yang lain, kamu memang pria yang baik. Aku pikir, karena Ayah Sigit adalah orang baik, beliau juga pasti memiliki anak yang baik." Fitri terkekeh. "Bodohnya aku. Kamu boleh ikut menertawakan. Bener kata orang. Beberapa orang sebenarnya tidak baik. Mereka hanya pura-pura baik."
Fitri mengangkat lagi surat kontrak yang di berikan Setya padanya.
"Kontrak." Ia membaca, lalu menatap Setya tajam. "Pihak pertama; Asetya Hermwan. Pihak kedua; Fitri Ardya." Fitri kembali menjeda. Terkekeh sebentar, lalu gadis itu kembali melanjutkan.
"Satu, kedua belah pihak tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Dua, kedua belah pihak boleh memiliki kekasih asal jangan sampai keluarga tau. Tiga, pihak pertama akan menafkahi pihak kedua secara penuh selama pihak kedua menjadi istrinya. Empat, kedua pihak akan bercerai setelah 3 tahun pernikahan. Tertanda, Asetya Hermawan, Fitri Ardya." Fitri mengangguk-angguk.
"Menarik," katanya. "Tapi, karena aku pihak kedua aku akan menambah dan mengurangi isi dari kontrak aneh ini."
Setya nampak berpikir karena permintaan Fitri. Lelaki itu bahkan tak menyangka gadis yang terlihat lemah lembut bisa setegas ini.
"Tidak perlu banyak berpikir Bapak Asetya yang terhormat. Biarkan aku, atau ceraikan aku malam ini juga."
Setya menghela nafas panjang. "Oke," katanya.
Fitri terseyum. "Untuk poin tiga, tidak perlu bersusah payah. Aku masih bisa membiayai hidupku sendiri. Lalu, tambahkan untuk tidak boleh menyentuh. Dalam artian yang aku yakin kamu mengerti. Selanjutnya, untuk memiliki pasangan. Sudsh ku bilang pernikahan bukan permainan. Aku bukan wanita egois. Jadi siapapun aku akan memperbolehkan kamu memiliki pasangan. Tapi, aku akan teatap menganggap bahwa aku adalah seorang istri. Aku akan mencari pendamping dsat kita benar-benar bercerai. Tapi, kamu juga tidak boleh melarangku dekat dengan siapapun."
Setya mengangguk, lelaki itu mendekati Fitri yang masih duduk di kursi riasnya. "Seperti kamu yang menanggap dirimu seorang istri, seprti itu juga aku. Sebelum kita benar-benar bercerai, kita tetap seorang suami istri. Dan sudah kewajiban seorang suami untuk menafkahi istrinya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus menerima," ucapnya final. Setya berjalan ke arah tas miliknya berada. Lelaki itu lalu mengambil kertas di dalamnya. Lalu meminta kembali kertas yang ia berikan pada Fitri.
Setya menulis kembali kontrak yang baru. Dengan menambahkan poin yang di minta.
"Nggak modal banget, Pak." Fitri terkekeh melihat Setya yang menulis kembali surat kontrak yang baru.
Lelaki itu memandang tajam gadis yang katanya istrinya itu. "Kamu pikir gara-gara siapa aku harus nulis ulang kontrak yang baru?"
"Kamu pikir gara-gara siapa aku harus cape-cape mikir buat nambahin isi kontrak konyol itu?" balas Fitri tak mau kalah.
Sunyi, tak ada lagi yang berbicara. Sepertinya, berbicara pun percuma. Karena sepertinya, keduanya hanya akan adu mulut.
"Ah, tambahin satu lagi dong." Setya menoleh sambil menghela nafas berat. Apa lagi yang diinginkan gadis ini.
"Pacaran boleh, tapi selama pernikahan ini berlangsung, aku gak mau ada perzinahan."
Setya berdiri dari duduknya. Lelaki itu menbanting pena yang di pegangnya hingga patah. "Apa di matamu aku terlihat seperti orang yang suka tebar bibit di manapun?"
Fitri yang tidak pernah menerima perlakuan seperti ini tentu saja terkejut. Di tambah lagi Setya memandangnya dengan tajam. Seolah-olah mau menelannya hidup-hidup.
"Aku gak pernah bilang gitu. Dan aku juga gak perduli."
Setya menghela nafas berat. Ia berjalan lagi ke arah tasnya. Mengambil sebuah pena yang baru, lalu kembali menulis.
"Ah lagi."
Setya menggeram kesal, ia meremat pena yang sedang di pegangnya kencang. Bahkan buku-buku jarinya memutih.
"Kita harus pisah kamar." Fitri tersenyum. Ini harusnya menjadi poin penting.
"Aku tau," jawab Setya tanpa minat. Pemuda itu ikut tersenyum kecil melihat Fitri yang tersenyum. Karena ia tau, hal ini bukan hanya tak adil untuknya, tapi untuk Fitri juga.
"Tapi karena malam ini kita gak bisa pidah kamar, aku tidur di atas, kamu tidur di bawah."
Setya melotot, ia menoleh kembali ke arah Fitri. Pria itu hanya mentapnya tajam. Namun tatapannya seolah berkata, "kenapa harus aku?"
"Ini kamarku, dan aku perempuan. Laki-laki gak mungkin gak mau ngalah sama perempuan kan?" Fitri menjelaskan tanpa diminta. Lagi-lagi, Setya hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya ia akan mengalami tiga tahun yang sulit.
***
Pagi ini bunyi alarm membangunkan Fitri lebih pagi. Ia meraba bantal di sebelahnya. Entah kenapa sekarang bantalnya berbulu. Ia terus meraba, hingga mendapatkan ponsel yang ia cari. Mematikan alarm, lalu terduduk.
Sambil masih mengumpulkan nyawa, gadis itu celingukan. Mengecek apa yang terjadi pada bantalnya hingga membuatnya jadi berbulu.
Matanya membelalak sempurna, kantuk yang hinggap di matanya hilang seketika. Nyawanya tetkumpul sepenuhnya. Lalu ia menjerit Sekencang-kencangnya. Tak lupa ia memberi Setya, yang harusnya tidur di bawah malah tidur di atas kasur tendangan terkencangnya.
Teriakan kencang Fitri tentu mengagetkan Setya. Bukan hanya pemuda itu, bahkan keluarganya juga. Terbukti dengan ketukan kencang dari sang ayah di pintu kamarnya.
"Fitri? Kamu denger ayah? Buka pintunya, FITRI!" Suaranya terdengar sangat khawatir. Fitri jadi tak enak hati.
Fitri melirik Setya yang berdiri sambil memegangi punggungnya tajam. Pria itu juga kehilangan kantuknya akibat teriakan Fitri yang menekakan telinga, dan tendangannya yang terasa mematahkan tulang punggungnya. "Lu gila ya?!" katanya pelan saat menyadari mertuanya ada diluar pintu.
"Fitri kamu dengar ayah?" Ketukan di pintu semakin kencang. Suara sang ayah juga semakin khawatir. Membuat Fitri turun dari tempat tidurnya dan berlari membuka pintu.
"Ia ayah?" katanya, mencoba terlihat natural.
"Kamu kenapa teriak jam segini? Ada masalah?" tanya ayahnya sambil mengecek tubuh putrinya.
"Fitri oke. Tadi cuma liat kecoa di kamar mandi terus kaget karena kecoanya terbang."
Sidik menghela nafas lega. "Suamimu mana?"
"Itu lagi ... kayaknya lagi mandi. Tadi sama Firti di suruh ngusir kecoa. Hehehe."
Ayahnya tersenyum. Mengelus puncak kepala putrinya. "Ya udah ayah tinggal."
Fitri menghela nafas lega. Untung saja ayahnya tak curiga.
Fitri kembali masuk kamar. Gadis itu tak lupa mengunci pintu. Terlihat Setya duduk sambil bermain ponsel di meja rias milik Fitri.
"Kemu lupa apa aturannya?" Gadis itu berbicara tajam. Laki-laki tetaplah laki-laki, ia akan selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan!
"Aku udah tidur di bawah, tapi entah kenapa bisa pindah ke atas." Setya membela diri. Ia benar-benar tidak tau kenapa dirinya bisa berakhir tidur dia atas ranjang bersama Fitri. Seingatnya semalam, ia buang air kecil. Lalu karena dingin ia naik ke atas kasur. Tapi kasur miliknya, bukan milik Fitri. Sepertinya ia hanya sedang bermimpi.
"M-maaf," ucapnya akhirnya.
Fitri mengela nafas panjang. Masih pagi, tapi ia sudah hampir di buat jantungan oleh Setya. Jika di novel-novel online yang pernah ia baca, si istri biasanya jantungan karena roti sobek suaminya. Berbeda dengannya yang jantungan karena melihat wajah suami di pagi hari. Semoga hari ini tidak menjadi hari yang buruk.
****
Jangan lupa tap love dan komen yaa:)