Istri

829 Words
Setelah drama pagi yang sangat menjengelkan bagi Fitri, siang ini tak kalah menjengkelkan lagi. Entah sudah berapa kali dia adu otot leher dengan Setya. Pria di depannya ini memang suka sekali adu mulut. "Istri itu harus nurut apa kata suami!" "Dih, enggak-enggak-enggak! Baru jadi suami sehari aja belagu. Suami itu punya kewajiban. Dan kamu tidak menjalankan kewajiban kamu dengan baik. Gak usah sok-sokan ngaku suami deh." Fitri berjalan ke arah pintu. Hendak keluar dari kamar. Semenjak ada orang asing yang juga tinggal di kamarnya, ia merasa, kamarnya begitu sesak. Siang ini, setelah makan siang, Setya menarik lengan Fitri dengan tidak santai menuju kamar. Lalu tiba-tiba mengutarakan maksud dan tujuannya. Dengan enteng lelaki itu berkataberkata; "Kita harus pindah rumah sore ini. Penyamaran kita bakal lebih efisien kalau kita udah gak tinggal sama orang tua lagi." Fitri membelalak. Lelaki itu pikir, pindah rumah segampang membalikan telapak tangan? Dia enak tinggal tarik koper. Fitri bagaimana? Ia harus memilah dan memilih apa yang harus ia bawa bersamanya dan apa yang harus ia tinggal sebagai kenangan. Tentunya membereskan semua itu butuh waktu. Fitri juga sudah lelah, kalau-kalau Setya lupa, kemarin Fitri hampir berdiri seharian dengan menggunakan sepatu hak tinggi karena tamu yang datang tak jiga berkurang sampai malam. "Enggak! Kamu mah enak tinggal tarik koper. La aku? Kamu nggak liat barang di kamar ini sebanyak apa?" "Kamu kenapa keras kepala sekali? Tugas istri itu mentaati suami! Lagian kalau soal barang, kamu bisa beli lagi setelah kita pindah rumah." Setya sudah hampir habis kesabaran. Gadis di depannya ini, siapa sangka di balik wajah lugunya, ia adalah gadis keras kepala. Fitri yang sudah memgang gagang pintu berbalik, menatap setya tajam. "Bapak Asetya, saya manusia bukan robot, bisa cape, bisa lelah, dan bisa mager. Bisa banget. Bapaknya beruntung saya bukan psikopat, kalo saya psikopat, mungkin sekarang bapak sudah ada di ruang tahanan saya dengan kuku jari yang terpisah dari jari bapak." Fitri memberi gestur mencabut kuku jarinya satu demi satu. Sangat menghayati di tambah tatapannya yang tajam. Entah kenapa bisa membuat Setya merinding sebentar. "Dan lagi, Fitri adalah orang yang sangat menghargai uang. Banyak orang yang gak bisa makan di luar sana. Eh aku malah enak-enak buang-buang uang buat sesuatu yang udah aku punya. Apa gak kurang ajar namanya?" Yah, level mereka memang berbeda. "Besok sore, apa susahnya sih cuma di undur sehari. Kamu coba liat sekali lagi kamar ini. Aku punya banyak banget barang yang harus di pilih buat di bawa ke rumah baru. Makasih banget tawarannya buat beli-beli hal gak penting. Dan, for your information, kaki aku udah berasa tebel sangking pegelnya. Berdiri seharian pake heels itu nyiksa, di tambah dapet suami model begini. Dobel nyiksa! Jangan tambahin siksaan dengan nyuruh buru-buru deh. Seenggaknya, kalo gak bisa jadi suami yang baik, jadilah lelaki yang baik!" Setya menghela nafas panjang, oke dia mengalah. Ya, lalaki memang selalu salah kan? Terlepas dari apa yang ia sampaikan memang benar atau salah. "Oke-oke, kita pindah besok sore. Puas kamu?!" Fitri mengangkat kedua bahunya acuh, laku berbalik arah. Keluar kamar dengan tak lupa menutup pintu hingga menimbulkan bunyi yang cukup membuat ayahnya menegurnya dari kamar samping. Setya menatap pintu kamar dingin. Tak habis pikir dengan apa yang diliatnya. Ia pikir, Fitri adalah tipe wanita yang penurut dan bisa di ajak kerja sama. Ternyata ia salah. Sepertinya ia butuh sedikit tenaga ekstra. *** "Ibu masak apa?" tanya Fitri sesampainya ia di dapur. "Pisang goreng sama bakwan buat ngemil. Kamu bantuin ibu dong." Fitri mengangguk, lalu mulai membuka kulit pisang satu persatu. "Sulit ya menikah sama orang yang baru kita kenal?" Ibu buka suara. Fitri hanya mendengar tanpa memberi respon apapun. "Sesulit apapun itu, berbakti pada suami adalah hal yang wajib. Melayani suami dengan baik adalah hal yang wajib. Surga kamu bukan lagi di telapak kaki ibu, Sayang. Surgamu sekarang ada si telapak kaki suamimu. Hormati dia, ingatkan dia ketika salah, jadilah makmum yang baik." Fitri samar melihat ibunya msnusap matanya cepat. Sang ibu menangis. "Melepas anak perempuannya pergi adalah hal yang sulit. Tapi ibu tau, anak perempuan ibu sudah mampu, anak perempuan ibu adalah gadis hebat, anak perempuan ibu pasti bisa jadi istri yang baik." Ibu mengecilkan api kompornya, menghadap anaknya penuh. Di lihatnya Fitri yang sedang mengupas pisang sambil menangis. "Setiap rumah tangga, pasti akan selalu ada saja konflik. Dua karakter, dua kepribadian, dan dua sikap juga sifat yang berbeda, di jadikan satu dalam ikatan pernikahan itu gak mudah. Tapi percayalah, di setiap kssulitan pasti ada kemudahan. Baik buruknya Setya, dia adalah suamimu. Letak surgamu sekarang. Berbaktilah, jadilah istri yang baik. Sama seperti saat kamu berbakti pada ayah ibu ya, Sayang." Fitri mengangguk, ia mengusap air matanya dan memeluk ibunya erat. Setelah malam ini, ia akan menjadi istri yang baik, terlepas Setya memandangnya sebagai istri ataupun tidak. Setidaknya selama tiga tahun ini, terlepas dari kontrak aneh yang sudah mereka sepakati, ia adalah seorang istri yang sudah setya sahkan secara agama juga negara. "Makasih, Ibu," ucapnya terbata. *** jangan lupa komen dan tal love yaa. ikuti aku yuk di ig: sitimays13
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD