"Gue gak sengaja lihat kalian."
Pikirannya langsung blank.
Dia mencoba untuk tetap biasa saja. Namun, tidak bisa. Meskipun sesama lelaki, dan mungkin bisa menjaga rahasia. Haidar harus tetap waspada. Bagaimanapun juga, dia tidak tahu. Siapa saja orang yang benar-benar berada di pihaknya atau hanya sekedar ingin bermain-main. Karena mengetahui rahasianya.
"Lihat apa?"
Selayaknya orang yang merasa tidak bersalah, dia akan menjawab pertanyaan dengan bertanya. Haidar melakukannya senatural mungkin, agar tidak terlihat mencurigakan.
"Lo gak butuh penjelasan dari Gue kan?" Tanyanya sembari menarik turunkan alisnya.
"Mau apa?"
To the point. Sudah kepalang basah, tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia akhirnya bertanya tujuan lelaki itu mengatakan hal tersebut.
"Enggak ada. Hanya ingin mengingatkan saja. Sebagai junior yang baik, gak mau sampai seniornya masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Sepandai-pandainya Lo tutupin semua dengan wajah polos. Mereka akan sadar dengan sendirinya. Mungkin, Lo bisa berpura tidak perduli, tapi mereka akan semakin penasaran, dan giat cari bukti. Bukan cuma posisi Lo yang terancam, tapi Bu Lana juga. Lo harus bisa tanggung jawab, semisalnya nanti dia kehilangan segalanya."
Deg
Semakin bingung Haidar dibuatnya. Dia menatap sang junior dengan tajam. Ingin marah, tapi yang dikatakan lelaki itu memang benar.
"Thanks."
Hanya ucapan terima kasih, yang bisa dia berikan. Karena, tidak ada lagi hal yang harus dibicarakan. Dia memilih kabur, agar pembicaraan ini tidak semakin luas dan menyudutkannya. Dia tidak biasa berbagi beban pikiran dengan orang lain.
Tidak tahu harus berkata apa lagi, lidahnya terasa sangat kelu. Pikirannya juga kacau. Dia hanya ingin melihat Lana baik-baik saja. Karena menjadi alasan seseorang kesakitan adalah hal terjahat yang pernah dilakukannya.
Hari ini, dia melupakan waktu makan siangnya. Dia melanjutkan pekerjaan, agar bisa segera pulang ke rumah.
Dalam kondisi sedang bekerjapun, dia masih memikirkan bagaimana cara agar mendapatkan maaf istrinya, setidaknya. Dia harus bisa membujuk Safira.
Meskipun belum menemukan jalan keluar, tapi setidaknya. Hubungan mereka harus membaik. Karena itu adalah kunci ke tahap yang selanjutnya.
Dia mulai kembali mengingat, apa yang disukai dan tidak disukai sang istri. Ada beberapa hal opsi yang bisa dilakukannya. Agar mendapatkan sebuah maaf. Namun, dia tidak yakin akan berhasil.
Safira sedang duduk santai, setelah memastikan anak-anaknya sudah kenyang dan menyelesaikan tugas dari sekolahnya. Dia bisa istirahat sejenak.
Ternyata, sedikit sibuk membuatnya lupa pada permasalahannya dengan Haidar. Apa mungkin, sebaiknya memang mencari kesibukan? Safira bertanya-tanya sendiri.
Dia ingin sekali pergi ke orang lain, dan menceritakan masalahnya. Namun, ini bukan kabar baik yang harus dibagi-bagi. Menceritakan kepada orang lain, sama saja membagi beban pikiran untuk si penerima. Dia terbiasa memendam segalanya sendiri. Karena yakin, masih ada Allah yang akan membantunya berdiri.
Kecuali, memang sudah saatnya mereka mengetahui semua ini. Safira ikhlas. Dia juga sadar, tidak bisa selamanya menutupi ini semua. Ada kalanya mereka akan sadar, tanpa dia bercerita langsung.
Dia memandangi cincin pernikahannya dengan sang suami. Tidak pernah menyangka, ternyata bisa secepat itu masalah datang menimpanya. Atau, mungkin selama ini. Dia saja yang terlalu tidak perduli. Padahal, sudah sangat jelas. Wangi parfum perempuan yang selalu menempel di tangah suaminya, kala dia mencium punggung tangah Haidar saat pulang dari kantor itu bukan wangi parfumnya.
Sore harinya, Haidar sudah bisa pulang ke rumah. Dia sengaja terburu-buru keluar dari kantor agar tidak berpapasan dengan Lana. Sekal lagi, dia bukan sedang menghindar. Hanya saja, perlu sedikit banyak waktu untuk beristirahat.
Sesampainya di rumah, sang istri ternyata sudah pulang.
Ucapan salamnya tetap dijawab, tapi ekpresi wajah sang istri belum juga berubah, masih tetap datar. Dia tidak langsung membahas ke mana anak dan istrinya pergi. Sengaja memberi jeda, agar tidak terlihat seperti seorang pengekang. Entahlah, hari ini dua sudah banyak bermain peran. Bahkan, membohongi diri dan perasaannya sendiri.
Haidar memakai baju santai, dia juga merebahkan dirinya terlebih dahulu di kasur. Sedari tadi, Safira belum masuk ke dalam kamar. Sepertinya, wanita itu sangat betah berdiam diri di depan televisi. Padahal, sebelumnya tidak pernah seperti ini.
Ketika Haidar pulang, dia selalu sibuk menyambut, bertanya mau makan apa, pakai baju apa, bagaiman pekerjaan di kantor dan dia juga bertanya mau kopi atau teh. Walaupun pada akhirnya, meskipun dia menjawab kopi, Safira akan menyedihkan teh dengan alasan kesehatannya.
Dan saat ini, dia rindu. Meskipun baru beberapa hari dia tidak merasakannya, dia sudah merasa sangat kehilangan sosok istrinya.
Bunyi perutnya tidak bisa dia tahan lagi. Tidak bisa dipungkiri, dia memang lapar. Namun, terlalu malas untuk makan saat di kantor.
Haidar bangkit, dia butuh asupan untuk tetap berenergi. Keluar dari kamar, bukannya langsung pergi ke dapur, kakinya melangkah membawa ke hadapan Safira. Sengaja memilih duduk berdekatan.
"Kamu masak apa hari ini?"
Sangat canggung, dan tidak profesional. Haidar sangat gemas, melihat tingkah sang istri yang mendiaminya. Jika bukan masalah besar, mungkin dia akan meledek Safira habis-habisan, atau membawa wanita itu ke dalam pelukannya, dan mengatakan kata maaf yang teramat dalam. Namun, karena situasi berbeda. Dia menahan diri.
"Belum masak."
Jawabnya jujur, sembari menonton acara yang ditayangkan di televisi. Meskipun tidak terlalu suka, ini lebih baik, dibandingkan harus menatap suaminya.
"Anak-anak belum makan berarti?"
"Kenapa? Kamu mau nuduh Aku nelantarin anak-anak? Biarin mereka kelaparan? Ya enggak mungkin Aku tega begitu."
Nada bicara Safira sudah mulai naik, dan di situlah Haidar berpikir bahwa dia salah bertanya.
"Bukan gitu, Aku lapar."
Nada bicaranya dibuat selembut mungkin, mengharapkan rasa iba untuknya.
"Di kulkas, ada kue dari ibu."
"Kamu pergi ke sana?" Tanyanya kaget, sudah hilang nada lembut yang sebelumnya digunakan. Jujur saja, di saat seperti ini dan Safira pergi ke rumah ibunya. Pikiran Haidar langsung ke arah yang negatif, dia tidak bisa berpikir jernih.
Sangat takut, jika mengadu pada keluarganya, maka rumah tangganya sudah benar-benar berada di ujung tanduk perpisahan.
"Iya, maaf Mas. Aku gak bisa bantu Kamu. Seandainya nanti mereka datang dan membawaku pulang."
Melihat kepanikan yang terjadi. Dia memanfaatkan dengan baik, meskipun berbohong. Safira hanya ingin tahu, reaksi sang suami.
"Pulang? Pulang ke mana? Ini rumah Kamu. Rumah kamu itu Aku. Sampai kapanpun, Aku gak ijin Kamu meninggalkan rumah tangga kita."
Haidar sudah memegang lengan istrinya. Dia tidak perduli lagi dengan rasa lapar. Asalkan Safira tidak pergi.
"Jangan berlebihan. Aku gak akan bisa kamu tipu lagi, kita kan di sini hanya karena anak-anak. Kamu gak mencintaiku Mas. Memangnya, Kamu sanggup berpura-pura selamanya. Suatu saat anak-anak pasti mengerti kok, jadi tidak perlu diteruskan ya, Kamu bisa menjadi dirimu sendiri dan hidup bahagia dengan orang yang sesungguhnya Kamu cintai."
Perih, tapi dia merasa sudah mulai kebal dengan rasa sakitnya.