Desakan untuk Haidar

1081 Words
Safira sudah kembali pulang ke rumahnya. Dia tetap pulang tepat waktu. Setelah Razka selesai belajar di sekolah. Dia menjemputnya. Dan mereka pulang bersama. Razka awalnya kesal, saat tahu ternyata mamah dan kakaknya pergi ke rumah Oma dam opa. Namun, saat dibawakan makanan kesukaannya, dia langsung luluh dan kembali ceria. "Kak, pokonya Mamah sudah urus semuanya. Kamu besok sekolah ya." Ini bukan pertanyaan. Melainkan. Permintaan. Safira tidak mau, jika anaknya bolos terlalu lama. "Aku takut Mah," ujarnya sembari menunduk. Tangannya bergetar, membuktikan bahwa dirinya tidak main-main. "Kak, tenang aja. Semua akan baik-baik saja. Gak akan ada yang berani ngeledekin Kamu lagi di sekolah." Liana diam. Bayangan teman-temannya tertawa sembari mengejek, membuatnya langsung ketakutan. Ada rasa sedih yang tidak bisa dia gambarkan, agar orang lain bisa merasakannya juga. Karena perasaan itu terlalu dalam. "Atau, Kamu mau Papah tahu?" Safira bukan menakuiti anaknya. Dia hanya ingin Liana berhenti ketakutan seperti ini. Dia harus tahu, bahwa tidak sendirian menghadapi semua ini. "Enggak. Aku gak mau Papah sampai mengetahuinya. Besok Aku sekolah." Sang ibu tersenyum. Dia yakin, bahwa anaknya kelak akan menjadi orang yang menyayangi keluarganya. Seperti saat ini, alasan anak itu menyembunyikannya dari Haidar karena dia tidak mau menjadi beban pikiran lelaki itu. Pada Safira juga sama, jika dia tidak mendesak, mana mungkin Liana berbicara "Ya sudah, Kamu sebaiknya istirahat. Pasti lelah kan?" Dia sangat khawatir dengan kondisi putrinya, Liana benar-benar menjadi sangat pendiam. Biasanya, saat kumpul bersama saudara yang lain, dia bisa tertawa lepas. "Iya Mah." Bukan hanya Liana. Safira juga membutuhkan rebahan. Karena jarang sekali keluar,.sekalinya pergi. Badan terasa langsung mudah pegal. Entahlah, mungkin karena efek umur juga berpengaruh. Sementara itu, Haidar benar-benar menyelesaikan tugas kerjanya. Baru bertemu dengan Lana. Wanita itu sedang cemberut padanya. Dia merasa tidak dipedulikan. "Maaf, Aku kerja dulu. Soalnya, tadi banyak deadline." "Aku menunggu terlalu lama. Kamu pikir. Setelah semalam pergi tanpa pamit, Kamu bisa lolos begitu saja." Sewotnya. Langsung mengrluarkan kekesalannya. "Jangan berlebihan. Bukannya Kamu yang memintaku pergi?" Tanyanya terbawa emosi. Dia sedang kelelahan dan pusing. Jadi, tidak bisa mengontrol emosnya dengan baik. Lana menatap tajam Haidar. Dia merasa ada yang berbeda dari laki-laki itu. Tidak seperti biasanya, selalu berkata lemah lembut dan selalu berprilaku baik. "Ya sudah, pergi saja." Lana menunjukan tangannya ke arah pintu keluar yang berpungsi sebagai pintu masuk juga. "Maaf ya, Aku gak bermasud kasar sama Kamu. Sudah minum obat? Tadi ada apa minta Aku ke sini?" Suaranya berubah menjadi lembut dan penuh kasih sayang. Lelaki itu sadar, dia terlalu keras pada wanita yang bahkan tidak pernah dia bentak. Namun, akhir-akhir ini dia sering melakukannya. Dia juga yakin, bahwa sakitnya Lana karena memikirkan hubungan mereka yang tidak jelas arahnya. "Bukan urusanmu," ketusnya. "Lana, jangan seperti anak kecil. Ya sudah, kita cari makan siang dulu yuk." Haidar bangun dari kursi. Dan mengulurkan tangannya. Agar wanita itu ikut dengannya. "Duduk kembali. Aku mau bicara serius sama Kamu." "Tentang apa?" "Duduk." Dia pasrah, lalu kembali ke posisi awal. "Aku sudah lelah. Jika pengajuan ini kembali dilakukan. Dan pihak sana tetap bertahan dan kembali menang. Aku gak tahu lagi harus gimana. Intinya, ini kesempatan terakhir kita. Jika kamu sungguh-sungguh. Mari kita pergi, dan memulai hidup yang baru." Deg Dia terpaku di tempat. Secara tidak langsung Lana memintanya agar mereka bisa kabur. Ini situasi yang sangat sulit. "Apa tidak terlalu gegabah. Aku tidak bisa meninggalkan anak-anak begitu saja." Lemah. Itulah Haidar setelah jadi seorang ayah. Apapun yang berhubungan dengan anaknya. Dia harus pikirkan ulang. "Kita bisa bawa mereka." "Itu namanya egois." "Lalu? Kamu mau Aku pergi sendirian?" Dia menantang lelaki itu. "Jangan!" Reflek, dia mengeluarkan suara sedikit kencang. "Mari kita pergi bersama. Kamu adalah harapan terakhirku. Karena selama ini, hanya Kamu yang selalu ada dan bisa membuatku tenang." Kenapa rasanya sangat sulit, padahal ini adalah jalan terbaik agar dia bisa bersama dengan wanita yang sangat dicintainya, yang sudah lama dia idam-idamkan. Bahkan rela membohongi istrinya sendiri. Hanya demi nafsu semata. Dia mentap wanita itu, manik mata mereka bertemu. Lana terlihat seperti sangat memohon padanya. Haidar benar-benar berada di posisi yang sulit. "Beri Aku waktu untuk memikirkan semuanya dengan baik." "Berapa lama?" Dia sadar, sudah menjadi wanita yang jahat. Namun, dia merasa melakukan hal yang benar. Karena mereka saling mencintai. Dia merasa berhak atas diri laki-laki itu. Meskipun harus membuat Haidar menjadi orang jahat juga. Karena meninggalkan istrinya. "Tidak bisa dipastikan. Namun, Aku akan memberikan jawaban secepatnya." "Kamu gak lagi cari cara buat menolak kan? Aku gak punya banyak waktu." Sedikit panik, Lana merasa langsung tidak enak hati. Sepertinya ada yang tidak beres dari perkataan lelaki itu. " Tidak tahu. Aku hanya perlu waktu untuk berpikir ulang. Karena jika kita salah langkah. Bukan hanya Aku yang hancur, tapi kamu juga." "Kita sudah tidak ada harapan untuk memperbaiki semuanya. Mereka tidak akan menerima kita kembali. Kamu pikir, mudah untuk Safira melupakan semua ini? Pasti sulit. Dia tidak akan sudi, jika kamu menyentuhnya sekalipun itu di hati." Haidar mencerna dengan baik ucapan itu. Dia singkronkan dengan yang dialaminya. Lana benar, Safira sudah beda, perempuan itu benar-benar menutup pintu hatinya. Sepertinya sangat sulit untuk mendapatkan maaf wanita itu . Karena saat dirinya mendekat, sang istri selalu berusaha menjauh. Namun, dia tidak akan menyerah begitu saja. Semisalnya harus berpisah pun. Setidaknya dengan cara yang lebih baik. Ketika dia sudah benar-benar menyelesaikan semua masalahnya. "Aku tidak tahu. Biarkan seperti ini dulu." "Aku tidak memaksa Kamu. Semua pilihan ada pada dirimu sendiri. Namun, Kamu harus bisa mengakhiri sesuatu yang kamu mulai sendiri." "Iya." Sudah tidak memiliki bahan untuk dibicarakan. Selain sadar posisi. Dia juga hanya bisa berharap. Kelak dia ada dipihak yang beruntung. "Aku keluar dulu ya, bentar lagi selesai waktu istirahatnya." "Silahkan." Lana tidak bisa menahan, karena Haidar memiliki tanggung jawab. Entah memang sengaja menghindar, atau dia sudah tahu tanggung jawab. Haidar pergi ke kantin kantor. Dia memesan kopi, untuk dibawa ke meja kerja. Hari ini, dia tidak ada selera untuk makan. Dia hanya butuh asupan yang bisa membuatnya tetap sadar. "Lo dimarahin Bu manager Bang? Kok pucet amat mukanya?" Tanya salah satu staf, yaitu juniornya. Mereka memang tidak terlalu formal jika berkomunikasi, karena Haidar tidak suka dipanggil dengan sebutan 'Pak' "Enggak, lagi pusing aja mikirin kerjaan." "Lah biasanya juga bodoamatan." "Ya gimana lagi, udah jadi tanggung jawab." "Perempuan emang gitu Bang, hatinya lembut. Cepet banget buat luluh. Tapi, Lo harus inget. Mereka butuh kepastian." "Maksudnya?" "Gue gak sengaja lihat kalian." Entah harus ditaruh di mana mukanya saat ini, dia benar-benar sudah tidak bisa mencari alasan bahkan untuk sekedar mengelak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD