Terharu

1117 Words
  Haidar sudah kembali ke rumah, dia juga sekarang sudah memakai pakaian kerja. Namun, rasanya dia masih ingin menemani sang istri  di rumah. Melihat Safira menahan rasa sakit, membuatnya tidak tega untuk meninggalkan sendiran. Meskipun sebenarnya dia tahu bahwa istrinya bukan wanita yang lemah.  Namun, hari ini terasa berbeda. Dia merasa ingin selalu berdekatan dengan sang istri. “Sudah pukul setengah delapan, nanti  Kamu terlambat loh,” ujarnya dengan nada bicara yang lemah lembut. Melihat sang suami masih bermalas-malasan berada di sampingnya, membuat Safira menjadi tidak tenang. Dia tidak ingin, menjadi alasan Haidar terlambat hari ini. Padahal, biasanya wanita yang sakit sangat senang dimanja. “kamu bener gak mau dipanggilkan tukang pijat?” Tanyanya untuk kesekian kali. Masih ingin memastikan. Memang awalnya sangat sakit, tapi setelah diobati salep oles rasanya sedikit reda, sepertinya hanya butuh istirahat saja untuk menjadi pulih. Apalagi, obat pereda nyari yang sempat diminumnya. “Enggak. Sudah deh, jangan mulai. Lebih baik, sekarang Kamu pergi kerja. Nanti terlambat bahaya loh.” “Ngusir?” Tanyanya semabari cemberut. Jika sedang berdua seperti ini, rasanya Safira memiliki tiga anak, dan lelaki di hadapannya ini adalah anak bungsunya. Karena kelakuannya bahkan lebih manja dari Razka. “Bukan begitu. Ya sudah, terserah Kamu saja.”   Safira akhirnya mengeluarkan jurus terakhirnya, karena hanya dengan ini, suaminya akan luluh. “Iya deh, ini mau berangkat.” Sebelum istrinya benar-benar marah. Haidar akhirnya mengalah, dia memutuskan untuk bersiap-siap pergi bekerja. “Ingat ya, nanti Kamu jangan kelelahan dulu. Makan anak-anak pesan online saja. Lantai sudah kusapu dan dipel. Tidak ada cucian piring. Kamar mandi juga sudah dibersihkan. Tidak ada alasan untuk pergi mengerjakan tugas rumah.” Semanis ini memang  kelakuan pria dua anak ini. Bagaimana Safira tidak jatuh cinta di setiap harinya. “Sampah?” Jika sedang seperti ini, Safira malah sengaja ingin bermain-main. Dia tahu, Haidar pasti lupa dengan yang satu itu. “Akan dibuang sekalian Aku berangkat kerja. “ “Aku hanya keseleo, Kamu gak perlu berlebihan. Setelah beberapa jam nanti sudah bisa bangun lagi. Jadi, tidak usah terlalu khawatir berlebihan.” “No, Aku gak akan mau ambil resiko. Jika Kamu kenapa-kenapa nantinya.” “Kalau begitu, sama saja Kamu tidak percaya padaku.” Haidar yang sudah memegang tasnya itu, kini kembali duduk di samping istrinya yang sedang berbaring. “Kamu tidak boleh terluka. Karena jika Kamu terluka, Aku tidak akan bisa melewati hari dengan baik.” “Haha …, kenapa Aku jadi merasa Kamu terlalu mencintaiku?” “Memangnya selama ini yang Aku lakukan tidak cukup membuatmu yakin?” Safira terdiam, dia malah gagal fokus dengan jam dinding yang sudah menunjukan hampir pukul 8 beberapa menit lagi. “Baiklah, sepertinya hari ini memang Aku harus istirahat,” ujarnya sembari tersenyum.    “Selamat istirahat istri. Suami pergi kerja dulu ya. Handphone jangan dimatikan.”  Haidar akan marah, jika Safira sulit dihubungi. “Siap.” Sebagai salam perpisahan. Haidar tidak lupa mengecup kening sang istri dan memeluknya sebentar, sembari membisikan sesuatu yang bisa membuat Safira tersipu malu. Setelah benar-benar pergi. Safira yang pada dasarnya tidak bisa diam itu, perlahan bangun dan mengecek apa yang dikerjakan sang suami. Ternyata benar, semunya sudah rapi. Memang tidak salah, Allah menakdirkannya bersama dengan  Haidar. Manusia satu itu sangat sulit untuk ditebak, tapi rasa cintanya dia tuangkan secara nyata. Tidak pernah dia membanyangkan memiliki keluarga yang sama seperti cerita yang biasa dibaca setiap ada waktu luang. Hampir tidak ada cacat, rumah tangganya sangat berjalan mulus. Jika sedang tidak baik-baik saja sekalipun, itu karena dirinya sendiri. Terkadang, ada saja yang Safira lakukan untuk menguji kesabaran suaminya. Seperti meminta ijin bekerja, padahal ini sudah komitmen sejak awal pernikahan. Bahwa Safira tidak perlu bekerja. Terkadang dia merasa heran, dan bertanya-tanya. Sampai kapan Haidar akan begitu sabar menghadapinya. Karena semakin lelaki itu menunjukan rasa cintanya, Safira semakin takut akan sebuah kehilangan. Dia merasa tidak akan sanggup menghadapi dunia jika tidak ada lelaki itu disampingnya. Bersama dengan pria itu, dia sudah sangat lengkap. Jika tiba-tiba dia harus kehilangan suaminya. Mungkin, dunianya tidak akan baik-baik saja. Dengan memikirkannya saja, Safira sampai meneteskan air matanya. Ini mungkin terlihat lebay, tapi orang lain tidak ada di posisinya. Mereka tidak merasakan cinta yang sama sepertinya, tidak tahu bagaimana rasanya memiliki tapi takut kehilangan. Karena sepenuhnya dia sadar, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua ada masanya. Maka ketika bahagia, dia akan mengingat kesedihan begitupun sebaliknya. Sejauh ini, wanita itu masih merasakan aman, dia belum pernah kecewa, sehingga dia takut akan merasakannya.  Bisa dibilang Safira adalah tipe manusia dengan rasa percaya diri yang minim. Dia mengatur nafasnya, menghapus air matanya, mencari posisi yang nyaman. Karena semua pekerjaan sudah selesai, dia berniat untuk memainkan ponsel pintarnya. Membuka salah satu aplikasi pesan singkat, di sana ada beberapa pembaharuan dari teman-temannya. Dia setia menonton, tanpa membalas atau mengupate tentang dirinya di aplikasi tersebut. Dia merasa, kehidupannya bukan untuk konsumsi publik. Tidak ada juga hal yang bisa dia pamerkan. Baginya, privasi keluarga tetap nomor satu. Dia hanya mengunggah satu foto keluarga di profilnya. Hanya untuk menandakan bahwa dirinya sudah menikah dan memiliki anak. Agar tidak ada yang salah paham.  Biasanya, isi status teman-temannya adalah berupa kebahagiaan. Mereka sangat senang memberikan informasi tentang kehidupan. Seperti masakan harian, aktivitas atau sekedar perasaan yang saat itu mereka rasakan. Entah untuk apa tujuannya, tapi hal tersebut terkadang membuatnya sedikit merasa iri. Karena aktivitasnya tidak ada yang berubah, kesehariannya hanya di rumah, sekalinya keluar hanya ke rumah ibunya saja atau belanja bulanan. Jika sedang begini, dia jadi rindu sahabat lamanya yang bernama Lana. Sudah lama sekali mereka tidak berkabar. Meskupun wanita itu selalu mengaupdate status tapi Safira hanya berani melihatnya, tanpa membalas. Dia merasa malu, karena saat ini mereka sudah beda. Padahal, dulu mereka sempat berjanji untuk saling mengabari. Ternyata, beda keadaan membuat kedunya menjadi canggung. Mereka hanya akan berbalas pesan ketika sedang ada perayaan besar saja, seperti ulang tahun, lebaran atau tahun baru. Selebihnya, sibuk dengan kehidupan masing-masing. Terakhir kali, dia melihat sahabatnya itu memposting dirinya sedang berada di sebuah ruangan kantor. Safira hanya tersenyum. Dia merasa bahagia dengan pencapaian sahabatnya itu. Setelah beberapa saat, dia merasa tiba-tiba kantuk melanda, akhirnya, dia memutuskan untuk rebahan. Sepertinya, ini efek samping dari obat pereda nyeri yang sempat dia minum setelah sarapan.   Kebahagia seseorang tidak bisa kita ukur, hanya dengan apa yang kita lihat, karena yang bisa menilai rasa bahagia seseorang hanya rasa syukurnya sendiri. Semakin banyak dia bersyukur, maka semakin banyak pula kebahagian yang dirasakan. Sebagian orang akan melihat, bawha Safira adalah manusia beruntung, hidupnya penuh dengan cinta dan kasih sayang Haidar. Namun siapa yang akan menyangka, bahwa dalam hati kecil wanita itu juga menginginkan seperti orang lain rasakan. namun, saat rasa itu datang, dia akan langsung mengingat. ada anak-anak yang harus dia jaga dan rawat dengan baik di atas kepentingannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD