Sakit

1190 Words
 Safira merasa dirinya kesiangan, dia terburu-buru bangun dari tempat tidur, tapi saat hendak bangun, dia tiba-tiba merasa kesakitan, pinggulnya terasa sakit. Padahal semalam baik-baik saja. Mendengar pekikan sang istri, Haidar langsung terbangun. “Kamu kenapa?” tanyanya dengan suara yang masih berat, layaknya orang yang baru bangun dari tidurnya. Dia tidak memberikan waktu untuk bermalas-malasan sebentar saja. Agar nyawanya berkumpul semua. Da langsung melihat kea rah sang istri, memastikan bahwa Safira tidak baik-baik saja. “Enggak tahu, tiba-tiba sakit pas bangun tidur. Sepertinya keseleo.” “Ya sudah, kamu tidur lagi saja.” “Gak bisa, Ini sudah pukul  5 pagi. Aduh, kesiangan. Mana belum masak. Anak-anak juga belum bangun.” ”Sudah, jangan terlalu khawatir. Biar nanti Aku bangunin anak-anak. Kamu tidur lagi aja, hari ini biar Aku yang masak.” Safira melihat suaminya, dia tidak enak hati. “Aku bisa kok,” ujarnya berusaha untuk kuat. Padahal, pinggulnya terasa sangat ngilu. “Tidak, pokoknya Kamu diam di sinin. Serahkan semuanya kepada Papah dua anak ini.” Cup Karena tidak ingin mendengar  istrinya bicara lagi, dan memaksakan diri. Setelah mengecup kening sang istri, haidar langsung bangun dari kasur dan pergi keluar kamar. Hal pertama yang dia lakukan adalah pergi  ke kamar mandi untuk bebersih, dan lanjut beribadah. Setelah itu, memebangunkan anak-anak . tidak lupa dia juga membuatkan air hangat untuk mengompres sang istri. “Kamu bisa kompres sendiri enggak?” “Bisa,” jawabnya sembari mengangguk. “Aku tinggal masak dulu ya?” “Iya, maaf ya, jadi kamu yang harus repot-repot masak .” “Bicara apa sih? Aku kan hanya goreng  telur dan nugget saja. Nasi masih ada banyak. Kamu mau sarapan apa?” “Terserah Kamu saja.” “Yakin?” “Hmm.” “Baiklah, tunggu beberapa menit lagi ya, pesanan akan segera sampai.” Safira hanya bisa tersenyum, di tengah rasa sakit yang melanda. Pagi hari yang cukup buruk untuknya, dia mencoba mengumpulkan kekuatan agar segera bisa merasa lebih baik. “Kok Papah yang masak, Mamah kemana?” Tanya Rezka. Ketika dia sudah memakai seragam sekolah. “Mamah lagi sakit Dek,” ujar Haidar yang masih asik memperhatikan kematangan telur yang sedang digorengnnya. Liana yang berdiri di ambang pintu, mendengar apa yang Papahnya katanya, tanpa bertanya sakit apa. Liana langsung berbalik badan untuk memastikan sendiri . bagaimana keadaan mamahnya. Dia sedikit berlari sembari memasang dasinya yang belum sepenuhnya rapi. Setelah mengetuk pintu, dan dipersilahkan untuk masuk. Dia langsung menghampiri mamahnya yang terlihat sedang mengompres pinggulnya sendiri, dengan posisi berbaring. “Mamah kenapa?” “Enggak apa-apa Kak, ini hanya keseleo. Ketika bangun tidur tidak hati-hati.”  Safira berusaha terlihat baik-baik saja, dia bahkan rela menahan sakit, dengan sengaja duduk agar Liana percaya. Liana menghembuskan nafasnya, terlihat sekali ada kelegaan di raut wajahnya. “Kamu sudah menyiapkan segala keperluan sekolah Kak?” “Sudah Mah,” ujarnya sembari duduk di samping sang ibu. “Kakak kenapa? Kok terlihat sedih begitu? Masih memikirkan biaya sekolah?” “Bukan Mah, Kakak pengen jalan saja ke sekolahnya. Bareng sama teman-teman.” “Siapa?” “Teman-teman sekolah,” jawabnya setenang mungkin. “lebih baik diantar Papah saja. Lagipula, ini masih pagi, nanti keringatan.” “Boleh ya Mah?”  tanyanya sembari memberikan tatapan memohon. Safira tidak tega, dia berpikir sejenak, lalu berbicara. “Ijin Papah sendiri ya?” Liana terlihat keberatan, bibirnya maju beberapa senti. Anak itu cemberut. Safira mengerti sekarang, anak sulungnya sedang meminta bantuan agar mendaatkan ijin dari papahnya. “Baiklah, cepat sarapan. Nanti Mamah yang bilang sama Papah. Tapi, jangan aneh-aneh ya Kak. Jangan bercanda saat berjalan bersama teman-teman.” “Siap.” Liana berpamitan kepada mamahnya, karena setelah sarapan dia akan langsung berangkat sekolah sendiri. “Kakak dari mana?” Tanya Haidar, dia mencai ke kamar sang anak, tapi tidak ada. Mereka malah berpapasan di ruang tengah. “Kamar mamah.” “Oh, ya sudah. Mari kita sarapan.” Liana mengangguk, mereka berjalan bersama ke arah dapur. Di sana, sudah ada Rezka yang sudah tidak sabar ingin segera makan. Dari mereka berdua, yang paling dekat dengan Haidar adalah si anak bungsu ini. Rezka sangat manja sekali dengan papahnya. Berbeda dengan Liana yang memiliki sifat pendiam. Dia lebih dekat dengan ibunya. Meskipun Safira sangat cerewet, dia merasa lebih nyaman dengan sang ibu. “Mamah gak bisa sarapan sama kita ya?” Tanya Rezka. Dia ingin menemui mamahnya, tapi ditahan oleh papahnya dengan alasan mamahnya perlu istirahat. Padahal, Haidar tidak ingin Safira memaksakan diri untuk bangun. Dia tahu, wanita itu tidak akan membiarkan anak-anaknya tahu bahwa dia sedang kesakitan. “Belum bisa Sayang, kenapa memangnya?” “Kuning telurku?” Liana berinisiatif dengan menyodorkan piringnya. “Sini, biar Kakak yang makan.” Haidar hanya tersenyum, dia merasa beruntung memiliki anak yang sangat pengertian satu sama lain, meskipun dia juga sadar, tidak selamanya mereka akur seperti ini. Namanya juga masih anak-anak, mereka kadang masih beberebutan beberapa hal yang mengakibatkan salah satu di antaranya berakhir dengan menangis. Acara makan pun sudah selesai, Haidar mencuci piring dan membersihkan segala alat masak yang tadi dipakainya, dia tidak ingin ketika sang istri bangun, dia melihat dapur berantakan. Setelah selesai, dia membawakan sarapan untuk sang istri. Dia sengaja memasak nasi goreng, karena Safira memang sangat meyukai nasi goreng untuk sarapan. “Kakak kok sudah pakai tas, nanti ya berangkatnya, masih ada waktu satu jam sebelum masuk. Papah mau temani mamah saarapan dulu.” “Aku berangkat sekolahnya bareng teman-teman saja Pah,” “Kenapa? Nanti Papah antarkan saja. Tunggu dulu sebentar.” “Kata mamah boleh,” ujar Liana. Dia memakai senjata terakhirnya. “No, Papah akan tetap antarkan Kamu sekolah. Mau berangkat sekarang? Oke tunggu.” Beginilah posesifnya seorang Haidar terhadap anak perempuannya. Padahal, ketika pulang sekolah, mereka juga jalan kaki. Liana hanya bisa menghela nafasnya, dia tidak mengerti, kenapa sulit sekali untuk menghindar dari papahnya. Haidar masuk ke dalam kamar, dia mengambil jaket dan kunci motor dengan terburu-buru. Membuat sang istri kebingungan. “Kamu mau kemana?” “Anterin anak-anak sekolah.” Tanpa berkata apapun lagi, dia langsung keluar kamar. Mengeluarkan motornya, dia melihat  Liana sudah menunggu di luar rumah . “ADEK!” Rezka keluar dari rumah dan menghampiri keduanya. “Kenapa pagi sekali kita berangkatnya?” Tanya Rezka. Dia masih ingin menonton kartun kesukaannya. “Aku piket.” Liana menjawab dengan nada bicara yang jutek. “Sudah, jangan bertengkar. Ayo kita berangkat.” Sampai detik ini, Haidar masih belum sepenuhnya sadar, dengan kelakuan Liana yang sengaja menghindarinya, mungkin karena sifat pendiam, jadi dia berpikir bahwa anak sulungnya baik-baik saja. Sesampainya di sekolah, mereka berpamitan. Baru ada beberapa orang yang datang, mungkin karena masih cukup pagi. “Kakak jagain adiknya ya, kalian jangan bertengkar di sekolah. Rajin belajarnya, jadi anak baik ya sayang.” “Iya Pah.” Mereka berdua berjalan masuk ke dalam gedung sekolah. Haidar masih setia melihat kedua anaknya sampai benar-benar tidak terlihat pandangan lagi. Barulah dia bersiap untuk pulang. “Pagi Pak Haidar,” ujar salah satu atpam yang cukup kenal dengannya. “Pagi Pak, Saya titip anak-anak ya,” ujarnya ramah. Dia memang cukup akrab dengan  satpam sekolah. Salah satu orang yang dia percaya untuk memberikan informasi akurat mengenai anaknya. “Siap komandan!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD