Malam harinya Haidar dan anak-anak pulang. Kedua anaknya sudah terlelap. Katanya, kelelahan. Karena di sana, mereka bermain bersama ponakan-ponakannya yang lain. Biasanya memang mereka akan kumpul keluarga di hari weekend. Sama seperti di kediaman orang tua Safira juga. Namun, dia jarang sekali ikut kumpul. Karena dia tidak ingin membuat suaminya harus memilih antara ke rumahnya atau ke rumah orang tua safira. Beruntung, Haidar adalah suami pengertian. Dia akan mengantar istrinya sebulan dua kali untuk pergi ke rumah mamahnya. Jadi, dalam sebulan dua kali ke rumahnya dan dua kali ke rumah sang istri.
“Mas belum tidur? Besok kan kerja.”
Safira memulai obrolan. Dia sendiri tidak mengantuk, karena saat sore hari ketiduran saat sedang menonton televisi.
Suaminya tersenyum, mengalihkan pandangan kea rah sang istri, sembari memegang stik PS di sebelah kanan, tangan sebelah kirinya dia tepukkan pada bagian sofa di sebelahnya.
“Duduk Mah, sini temenin Papah dulu.”
Sang istri tanpa menjawab, dia langsung duduk di samping suaminya.
“Kamu sendiri kenapa belum tidur? Ini sudah malam. Kangen?” tanyanya jahil. Meskipun sudah lama menikah, hal sederhana seperti ini, selalu mampu membuat Safira tersipu. Dia seperti merasa masih menjadi anak remaja yang baru belajar jatuh cinta. Karena waktu tidak mampu menghapus rasa cintanya pada lelaki di sampingnya ini.
Semenjak lelaki itu mengucapkan ijab qabul dengan atas namanya. Di situlah, Safira berjanji jiwa dan raganya hanya untuk sang suami. Dia tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta selain pada suaminya. Mungkin, itu jugalah yang mampu membuatnya bertahan dengan Hiadar sejauh ini. Menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Menerima keras kepalanya, egonya, tingkah lakunya yang kadang buat geleng-geleng kepala.
Dia juga tidak menyangka. Tuhan menakdirkannya bersama dengan laki-laki yang sangat dia cintai. Lelaki yang sedari pertama mata memandang, dia bisa merasakan ada tujuan hidupnya di sana. 12 tahun sudah, mereka merajut kasih. Selama itu pula, tidak sedikitpun terlintas dalam pikirannya untuk merasakan bosan. Dia juga percaya, suaminya merasakan hal yang sama. Karena sampai saat ini, Haidar tidak pernah berubah dalam memperlakukannya. Lelaki itu sangat lemah lembut. Tidak pernah sekalipun membentaknya. Marahnya diam. Ketika lelaki itu sedang lelah dengan pekerjaannya, dia hanya akan minta tidur duluan dan jangan diganggu. Masalah makan pun dia tidak rewel. Apapun yang dimasaknya lelaki itu pasti makan. Tidak perduli rasanya terlalu pedas atau terlalu asin, dia akan menghargainya. Begitu juga dengan pakaian, Safira yang selalu membelikan pakaian dan juga memilihkannya dan selalu dipakai oleh suaminya.
“Enggak. Masih belum ngantuk aja. Tadi sore ketiduran.”
“Oh, jadi gak kangen nih?” tayanya sembari memberikan tatapan yang mampu membuat jiwanya meronta-ronta. Namun sebisa mungkin dia tahan.
“Hmm. Gimana ya, enggak sepertinya.”
“Jadi begitu? Oke.”
Haidar menaruh stik PSnya. Dia langsung mencari di mana letak pinggang sang istri. Dia tahu yang membuat istrinya sangat lemah. Safira sudah siaga satu dia memperhatikan tangan yang sudah bergerak bersiap-siap membuatnya kegelian.
“Tidakk!” teriaknya. Dia berusaha untuk kabur. Namun tangan sang suami lebih dulu menahannya, membuatnya kini menjadi duduk di atas pangkuan suaminya sembari menggeliat tidak karuan karena kegelian.
“Kangen gak?”
“Ampun Pah,” ujarnya yang masih sengaja berpura-pura tidak mendengar suaminya berbicara.
“Bilang kangen dulu, nanti baru lepasin.”
Dengan terpaksa, Safira mengalah. Dia tidak kuat jika dibuat geli seperti ini.
“Iya kangen.”
Suaminya tersenyum penuh kemenangan. Sementara istrinya cemberut, sembari merapihkan bajunya yang sedikit berantakan.
“Curang,” ujarnya yang masih belum terima dengan kekalahannya.
“Lagian ngeselin. Kamu kenapa tidur sore? Kan tidak baik untuk kesehatan.”
“Ketiduran. Tadi kekenyangan kayaknya, jadi bawaannya mengantuk.”
“kekenyangan atau kelelahan?”
Haidar ketika sengan bersama istrinya, dia langsung lupa sebelumnya sedang asik bermain PS. Sekalipun gamenya kalah, dia tidak perduli.
“Kekenyangan. Hari ini kan hanya cuci aja, sama bersihin rumah.”
“Hanya? Hmm.”
“Kenapa?”
“Aneh saja. Kamu tuh kan setiap hari sudah bersih-bersih rumah. Kenapa coba di hari weekend masih saja bersih-bersih? Gak lelah apa? Kerja aja ada liburnya,”
“Gimana ya jelasinnya, Aku juga bingung. Intinya, rumah yang bersih dan rapih akan membuat penghuninya nyaman. “
Haidar tersenyum.
“Terima kasih ya, Kamu selalu mengutamakan Kami.”
Tangannya menggengam tangan sang istri.
Safira menautkan alisnya, dia bingung dengan ucapan haidar, sementara dirinya tidak merasa melakukan hal yang luar biasa.
“Mungkin Kamu tidak merasa sudah berbuat hal penting untuk keluarga ini. Namun sebenarnya Kamu salah besar. Kamu itu penting. Jika bukan karena Kamu, mungkin keluarga kita tidak akan seperti sekarang ini. Anak-anak tumbuh dengan sehat dan berakhlak baik itu juga Kamu yang berusaha dengan keras. Tanpa lelah, Kamu selalu mengutamakan Aku dan anak-anak di atas dirimu sendiri.”
“Jangan berlebihan, itu sudah tugasku.”
“Memang. Itu sudah tugasmu, tapi Kamu bisa tidak melakukan itu jika Kamu Mau. Namun apa? Kamu sangat bekerja keras, lebih dari yang Aku lakuakan.”
Safira terdiam. Dia masih ragu, sementara dalam pikirannya, semuanya sangat biasa. Dia akan merasa berharga saat dirinya bisa membantu suaminya dalam masalah keuangan . barulah di sana dia merasa sangat senang.
“Mungkin, bagi Kamu hal ini sepele. Namun untukku ini sangat luar biasa, bagaimana Kamu bisa melakukan semua ini tanpa merasa jenuh dan lelah. Jangan memandang sesuatu hanya dari segi materi saja Sayang, karena berharga tidak akan ternilai oleh angka.”
“ini bukan cara Kamu bujuk Aku supaya tidak perlu kerja bukan?”
“Untuk yang satu itu, tanpa sepertujuan Kamu tetap Aku akan melarangnya.”
Safira diam. Dia merasakan kehangatan di sini. Tiba-tiba rasa gelisahnya menguap begitu saja. Padahal sebelumnya dia merasakan kegelisahan terhadap hal yang beberapa waktu ini membuatnya sedikit terganggu.
“Begini ya Sayang. Mungkin yang Kamu lihat Aku yang lelah kerja, pergi pagi pulang sore. Pulang ke rumah kadang dalam keadaan suntuk. Terus, Kamu merasa Aku yang lelah sendirian. Padahal sebenarnya. Kamu lah yang kelelahan. Kamu bekerja 24 jam untuk kelurga. Dalam tidurmu sering gelisah, karena memikirkan Kami. Takut kesiangan, pakaian yang besok Kami pakai, makanan yang bisa membuat Kami kuat seharian. Itu hal pertama dan penting. Jadi, sekarang jangan merasa Kamu tidak berbuat apa-apa untuk keluarga ini. Justru Akulah yang sangat bergantung sama Kamu. Jika bukan Kamu yang jadi istri Aku mungkin tidak akan sebahagia ini.”
Safira tidak dapat membendung air matanya. Dia sangat terharu dengan ucapan dari sang suami. Dia melepaskan genggaman itu, dan langsung memeluk suaminya. Sembari membisikkan sesuatu yang mampu membuat Haidar tersenyum lebar.