Masih aneh

1020 Words
"Kakak sakit? Kok tiba-tiba ingin pulang?" Liana tiba-tiba saja meminta pulang, saat mereka sedang asik bermain. Belum sampai lima menit, dia sudah kembali merasakan hal yang membuatnya sakit. Entahlah, Liana masih belum bisa mengeluarkan isi hatinya. "Enggak, tapi Aku lapar Pah." Haidar sedikit lega, setelah melihat wajah tegang sang anak. Dia tersenyum, lalu mengajak mereka pulang, setelah membujuk si bungsu tentunya. Dia masih ingin bermain katanya. Mereka pulang bertiga, Safira sedang menyapu teras depan rumah mereka. "Tumben cepat sekali Pah, biasanya kalian suka lupa waktu," ujarnya terheran-heran. "Kakak sudah lapar katanya. Mamah sudah selesai masaknya?" Safira melihat ke arah sang anak sebentar, sebelum mengalihkan kepada suaminya. "Sudah. Ayo kita makan. Masuk saja duluan, nanti mamah nyusul. Sebentar lagi selesai nyapunya." "Papah mau mandi dulu ya," "Adek juga." Sementara Liana masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun. Safira menyelesaikan tugasnya, kemudian dia masuk ke dalam rumah. Segera menyiapkan makanan, untuk keluarganya sarapan bersama. "Pah, Kakak, Adek, ayo makan!" Panggilannya dari dapur yang menyatu dengan ruang makan. Karena tidak memiliki cukup lahan, dia memanfaatkan yang ada. Dengan desain modern, dapurnya terlihat cukup luas. Tak lama, mereka semua mendatangi sumber suara. "Adek, Kakak. Mau ke rumah nenek gak hari ini?" "Mau!" Teriak Rezka bersemangat. "Kakak?" "Ikut." "Sudah, kalian makan dulu baru nanti ngobrol lagi, Adek nanti kuning telurnya taruh ke piring mamah saja. Mamah mau muterin cucian dulu. Sepertinya sudah tidak bersuara lagi." "Mah, tunggu. Kamu duduk saja. Biar papah saja, sekalian mau cuci tangan." Haidar mengangkat kedua tangannya, kemudian berdiri. Pergi ke tempat mesin cuci tersebut. Sederhana, tapi mampu membuat Safira bersyukur. Perhatian seperti ini, di mana dia bisa mendapatkannya. Jika bukan dari seorang Haidar. Lelaki yang sangat dia sayangi, sampai saat ini. Tidak pernah sekalipun Safira merasa menyesal menikah dengannya. "Mamah mau ikut ke rumah Nenek?" "Enggak sayang, nanti saja ya. Masih banyak cucian soalnya." "Padahal aunty suka sekali menanyakan Mamah." "Bilang saja, Mamah salam gitu ya," ujarnya. "Iya Mah," jawab Rezka. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti tidak nyamannya jika berada di rumah mertua. Dia dan mertuanya tidak pernah ada konflik, mereka benar-benar hidup masing-masing. Tidak saling mengusik satu sama lain, mungkin karena Safira juga memiliki orang tua. Dia tidak terlalu perduli dengan sikap mertuanya yang terkesan dingin itu. Setelah acara makan selesai, mereka semua pergi. Sementara dirinya sibuk mencuci piring dan juga menyelesaikan menjemur baju. Pikirannya tentang bekerja masih saja berputar-putar. Bukan tidak percaya jika sang suami bisa menyelesaikan kebutuhan mereka. Dia hanya khawatir, jika Haidar akan bekerja terlalu keras. Sementara dirinya menganggur saja di rumah. Pernah terpikirkan untuk berjualan online, seperti orang lain. Namun, sayang sekali dia tidak memilik banyak relasi. Karena setelah menikah, dia menjauhi teman-temannya. Karena kesibukan masing-masing tentunya. Kebanyakan dari teman-temannya yang lain sudah sukses secara finansial dan juga pendidikan. Membuatnya sedikit minder. Dia juga tidak pernah ikut arisan, karena merasa khawatir tidak bisa membayar iuran bulanannya. Jadi, dia benar-benar tidak lagi bertemu atau berkomunikasi kecuali tidak sengaja bertemu di keramaian. Itupun, jika sudah tidak masih bisa menghindar. Hanya ada satu orang temannya yang sampai saat ini masih bertahan, yaitu Lana. Wanita baik berparas cantik, sudah dianggapnya sebagai saudara. Meskipun jarang berkomunikasi karena sudah sama-sama menikah, tapi sesekali dalam setahun mereka masih bisa bertatap muka. Kehidupannya berbanding terbalik dengan Lana. Wanita itu menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karier. Karena setelah menikah, dia langsung bekerja. Sesekali, Lana juga menampilkan kehidupannya di sosial media. Paling terbaru, dia membeli sebuah mobil berwarna merah menyala, dengan mesin yang terlihat canggih. Safira tidak tahu namanya, mungkin bisa dibilang mobil sport. Meskipun begitu, Lana tidak pernah sombong padanya. Bahkan terkesan royal, ketika dia ulang tahun. Wanita itu masih sering mengirimkan kado, meskipun telat. Awalnya, dia berpikir jika kehidupan pernikahan tidak akan membuatnya menjadi wanita yang mengharuskan untuk tinggal di rumah. Dia merasa bisa bebas ketika suaminya sedang bekerja. Namun, semua tidak sepenuhnya terjadi. Dia memang bebas, suaminya tidak banyak melarang, tapi pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, membuatnya tidak bisa pergi semaunya sendiri. Dia hanya akan menyempatkan diri pergi ke rumah orang tuanya saja. Jika mereka tidak bisa berkunjung ke rumahnya, atau salah satu diantara keduanya ada yang sakit. Itupun, dia akan meminta ijin terlebih dulu pada sang suami. "Yurrrrrrr, Sayurrrr!" Suara tukang sayur, membuyarkan lamunannya. Safira membilas tangannya yang penuh busa. Masih ada beberapa piring kotor yang belum sempat dicuci, dia harus mengejar tukang sayur dulu. Safira keluar dari rumah, dia menggunakan daster dan juga sendal jepit saja. Rambutnya diikat asal, tangannya memegang uang dan selembar catatan. Kebiasaannya, setiap malam membuat list belanjaan untuk masak besok. Terkadang, dia merasa kasian. Khawatir anak-anak merasa bosan, tapi sejauh ini. Mereka tidak ada yang komplain mengenai masakannya. Safira baru sadar, dia juga punya lingkungan dan bersosialisasi. Seperti saat ini, di tempat sayur ini misalnya. Ada ibu-ibu rempong yang senang membicarakan perihal kabar terhangat di perumahan tersebut. "Jeng, Kamu bukannya kemarin sudah beli kangkung ya? Kok sekarang kangkung lagi. Nanti cepet ngantuk loh." Begini lah nasibnya, diam saja diusik apalagi usil. "Si bungsu hanya suka sayur ini Bu, jadi Saya sering memasaknya. Kalau tidak, nanti dia tidak makan sayur." "Dengerin Bu Sri, kepo banget sih jadi orang." Kali ini, yang bersuara bukan safira, melainkan ibu-ibu yang lain. Dia mana mungkin berani menjawab seperti itu. "Oh begitu, Saya pikir hemat. Jangan sampai kayak tetangga kita. Dia makannya ngirit banget, padahal kaya. Tahu sendiri uang gak akan dibawa mati." Nah kan, mulai. Dia hanya dijadikan alat untuk memancing pembicaraan yang lain. Safira tidak mau mendengarkan ucapan mereka, dia lebih memilih fokus terhadap apa yang ingin dibeli. Setelah selesai, dia langsung bayar dan permisi pulang. Bukan sok suci, dia hanya malas saja. Karena saat ada dia yang diobrolkan orang lain, tapi saat dia tidak ada, yang diobrolkan dia. Jadi, diam adalah pilihan yang tepat. Lagipula, di tempat ini tidak ada yang seumuran dengannya. Hampir semuanya sudah memiliki anak yang sedang kuliah. Sesampainya di rumah, dia memulai kembali pekerjaan yang sempat tertunda karena harus membeli sayur mayur.  Hari ini, dia tidak akan masak, biasanya jika anak-anak pergi ke rumah Haidar, mereka akan makan malam di sana juga. Jadi, pulang sudah pada kenyang. Sementara dirinya? Makan mie saja sudah cukup. Kecuali, Haidar yang tiba-tiba ingin dibikinkan nasi goreng malam-malam. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD