Selesai acara makan malam, Haidar tidak main PS bersama anak-anak. Anak-anak sempat protes, tapi setelah diberi pengertian, bahwa besok mereka akan diajak pergi ke rumah nenek, barulah keduanya menurut untuk tidur lebih awal.
Sementara papah dan mamahnya harus berbicara serius, mendiskusikan tentang masa depan anaknya.
"Apa tidak sebaiknya Aku kerja saja?" tanyanya masih berusaha untuk membuat suaminya mau merestui agar dia bisa bekerja.
"Keputusanku tetap dan tidak bisa diganggu gugat. Maaf, untuk yang satu ini Aku tidak beri Kamu ijin dan tidak perlu kujelaskan lagi bukan alasannya?"
Nada bicaranya sudah sedikit berubah. Dia sangat sensitif. Jika harus membahas tentang sang istri yang harus bekerja.
"Tolong Kamu pikirkan lagi, kita sudah sama-sama tua. Anak-anak akan semakin besar, pengeluaran juga akan semakin meningkat. Aku yakin, Kamu bisa menyikapinya dengan bijak."
Haidar terdiam beberapa saat, mendengar ucapan Safira membuatnya berpikir, agar istrinya tidak khawatir lagi.
"Senin, Aku ijin pulang agak malaman."
"Mau apa?"
"Nanti Kamu tahu. Pokoknya, mulai sekarang. Tolong jangan memikirkan hal lain, selain mengurus kami dan rumah ini. Maaf, jika kamu berpikir telah kubuat menjadi seorang asisten rumah tangga. Itu sama sekali tidak benar, karena Aku tidak bisa menggaji kamu dengan baik. Tolong bertahan, sekecil apapun penghasilanku. Kita lewati bersama. Terima kasih, karena Kamu selalu sabar, menghadapi ini semua. Aku gagal membuatmu merasakan rumah tangga tanpa khawatir masalah keuangan."
Jujur saja, sebagai seorang suami. Dia merasa sedih, mendengar istrinya beberapakali meminta untuk bekerja. Meskipun, dia sadar ini adalah kesalahannya.
"Enggak, maksudku bukan begitu. Jika ini masalahnya menyangkut diriku, masih bisa kutahan. Namun, ini masalah anak. Liana meragukan kita bisa membiayainya sekolah di tempat itu. Aku takut, dia menjadi minder nantinya. Belum lagi, nanti setelah Liana masuk SMA, Rezka akan masuk SMP. Sepertinya kita membutuhkan banyak biaya. Aku tidak berniat merendahkanmu, hanya ingin membantu. Kita harus bersama, supaya masalah ini selesai."
"Maaf Sayang, Aku tidak bisa."
Haidar tetap menolak, Safira menghela nafas. Dia sudah berusaha untuk membujuk suaminya. Namun, tetap tidak berhasil.
"Ya sudah. Terserah Kamu," ujarnya. Lalu dia berbaring.
Enggan untuk melanjutkan pembicaraan ini, karena tahu ujung-ujungnya pasti akan kalah juga.
Sementara Haidar mengusap rambut istrinya sebentar, lalu keluar dari kamar. Dia tahu, istrinya sedang marah, tapi dia juga tidak akan menyerah begitu saja.
Sebelum ke ruang tamu, dia melihat anak-anaknya terlebih dahulu, mereka berdua sudah pisah kamar. Pertama, dia melihat anak bungsunya, ternyata sudah terlelap, tapi saat melihat anak pertamanya ternyata masih terjaga.
"Kakak belum tidur?" Tanyanya sembari menghampiri sang anak yang sedang terduduk di pinggir ranjang.
"Belum mengantuk Pah," jawabnya.
"Kenapa Sayang? Ada yang Kamu pikirkan?"
Anak sulungnya itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin karena anak perempuan, dia lebih dekat dengan Safira. Terkadang, seperti menjaga jarak dengannya. Berbanding terbalik dengan Rezka sangat manja.
Kemudian, dia ingat yang istrinya bilang, bahwa Liana mengkhawatirkan biaya sekolah.
"Kakak percaya tidak pada Papah?" tanyanya. Membuka percakapan di antara keduanya.
"Percaya."
"Selagi Papah sehat, masalah biaya sekolahmu. Menjadi tanggung jawab Papah sepenuhnya. Itu urusan Kami, Kamu tidak perlu khawatir. Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan buat kami bangga padamu."
Liana memberikan sorot mata yang berbeda. Anak itu mengangguk, tapi raut wajahnya terlihat sangat datar.
"Semoga Papah bisa terselamatkan dari segala hal. Aku sudah mengantuk, ingin istirahat. Selamat malam."
Liana kemudian berbaring, membiarkan Haidar kebingungan sendirian. Dia mencoba mencerna dengan baik apa yang anaknya katakan. Namun, yang terpikirkan adalah, itu doa yang baik, Liana memang anak yang cerdas.
Setelah sang anak tertidur, dia keluar dari kamar dan pergi ke ruang tamu. Pikirannya menjadi tidak tenang. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia merasakan banyak kegelisahan.
Sembari mencabut charger handphone. Dia memainkan ponsel pintarnya itu. Mencari-cari usaha sampingan. Setelah dia mencari beberapa referensi akhirnya memutuskan untuk mengambil cara yang satu ini. Tidak salah, dia meminta ijin pulang malam untuk hari Senin, memang akan selalu ada jalan, untuk seseorang yang mau berjuang.
Karena merasa sangat suntuk. Dia memutuskan untuk bermain PS sendirian. Ditemani dengan secangkir kopi yang sudah dingin buatan sang istri, dia berharap bisa melewati malam ini dengan baik. Minimal, bisa tidur pukul 2 malam. Jangan sampai tidak bisa tidur sama sekali.
Meskipun terlihat tenang, dia juga manusia biasa. Haidar merasakan banyak rasa dalam hidupnya, tapi dia mencoba untuk tidak menunjukan kepada siapapun, termasuk keluarga. Dia ingin, mereka melihat dirinya sebagai laki-laki yang tangguh dan bisa menyelesaikan segala permasalahan, tanpa emosi. Karena, dia hanya memiliki satu tempat untuk mengadu, dan hanya padanya lah dia bisa bercerita banyak hal tentang segala keresahan hidupnya.
Waktu menunjukan pukul lima pagi, Safira merasa dirinya sudah kesiangan, karena adzan subuh berkumandang. Dia mengedarkan pandangannya, mencari tahu di mana suaminya berada, tapi sepertinya malam ini Haidar tidak tidur di ranjang yang sama.
Dia bangun dari kasur, dan keluar rumah. Mencari keberadaan suaminya, sekaligus ingin pergi ke kamar mandi. Rumah mereka tergolong cukup luas, dengan tiga kamar tidur, satu ruang tamu dan ruang keluarga. Dapur, sekaligus ruang makan, dan satu kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar, dia melihat suaminya sedang tertidur lelap di sofa, sepertinya kelelehan karena main PS, sampai lupa matikan televisi.
"Pah, bangun. Sudah subuh."
Dia mengguncang-guncangkan lengan Haidar, tapi pria itu masih tetap tertidur. Ketika nada bicara sang istri sudah mulai naik. Barulah, dia menjawab.
"Hmm, iya sebentar. Kepalaku pusing sekali, tadi baru tidur jam empatan. Sebentar lagi ya," ujarnya memberikan alasan kenapa masih belum bisa bangun.
"Kamu ngapain main PS gak inget waktu begitu sih? Ya ampun, mana badannya jadi hangat begini."
"Tenang Sayang, ini cuma efek saja. Nanti juga sembuh. Kamu sudah salat?" tanyanya, sembari perlahan membuka mata. Meskipun masih sangat pusing dan mengantuk, dia tetap memaksakan diri daripada membuat istrinya khawatir.
"Belum, Aku kesiangan. Ini baru mau salat."
"Ya sudah, wudhu dulu gih, nanti Aku imamin."
"Kan lagi sakit Kamunya."
"Enggak. Ayo buruan, nanti keburu habis waktu salatnya. Anak-anak sekalian bangunin."
"Oke,"
Meskipun masih kesal, tapi jika melihat suaminya sakit, dia sangat khawatir.
Mereka salat subuh berjamaah, di ruang tengah, dengan mengampar karpet dan juga sajadah.
Setelah selesai, Safira langsung kembali sibuk ke dapur. Mulai membuatkan masakan untuk mereka sarapan.
"Mamah kakaknya nih iseng!" Teriak anak bungsunya.
"Kakak, jangan isengin adiknya. Ini masih pagi, jangan teriak-teriak!" Teriaknya dari dapur sembari menggoreng nasi.
"Mamah juga teriak," ujar Liana pelan. Haidar tersenyum, melihat tingkah laku keluarganya yang sangat kocak.
"Adek, itu kakak bercanda saja. Mobilan kamu ada di belakang kursi."
Rezka mencari mainannya. Kemudian dia menemukan, lalu duduk di antara kakak dan papahnya.
"Sudah besar, masih saja main mobilan."
"Biarin, yang penting main mobilan bukan boneka."
Haidar memijit pelipisnya, dia masih merasa pusing, karena waktu tidurnya hanya satu jam saja.
"Kalian ini, jagoan-jagoan Papah yang hebat, harusnya saling menjaga dong, jangan saling ledek gini. Apalagi, kalau Papah tidak ada di rumah. Nanti Mamah kelelahan dan sakit jaga kalian."
"Papah mau kemana?" Tanya Rezka.
"Enggak kemana-mana, jika sedang kerja."
"Ouh begitu, kukira mau pergi."
Lagi, ucapan anak sulungnya membuat dia merasa tersindir. Namun, dia tidak menanggapinya dengan serius.
"Bagaimana, jika kita olahraga pagi dulu?"
"Ayo!" Teriak Rezka bahagia. Dia sangat senang olahraga karena banyak melihat film superhero.
"Kakak di rumah saja, sedang tidak enak badan."
"O-ke kalau begitu, kita saja yuk Dek, Papah siap-siap dulu."
Tidak sampai lima menit, setelah berpamitan, mereka memilih untuk olahraga. Di area komplek ini disediakan taman yang ada alat olahraganya.
"Kakak kenapa? Kok seperti sedang marah sama Papah?" tanya Safira. Dia sempat mendengar obrolan mereka ketika mengambil sosis di kulkas.
"Enggak Mah, mungkin perasaan saja."
"Kemarin Kamu memikirkan soal biaya, dan hari ini Mamah melihatmu terlihat emosi. Jangan dipendam sendirian. Coba ceritakan."
"Aku baik-baik saja, ini juga akan menyusul mereka olahraga. Bye Mah!"
Belum sempat dia bicara, anaknya itu sudah keluar dari rumah.
"Kenapa sih Kamu Kak?"
Dia bertanya-tanya sendiri. Tidak biasanya Liana seperti itu, dia hafal betul. Bagaimana manjanya anak itu kepada Haidar.
Liana keluar dari rumah, sembari mengusap air matanya. Memang ada yang dia sembunyikan, tapi tidak bisa dia beritahukan kepada mamahnya.
"Adek, kalau besar mau jadi apa?"
"Papah nanya itu melulu. Perasaan Minggu lalu sudah kujawan ingin jadi polisi."
"Kirain sudah berubah. Anak kecil kan suka sekali merubah cita-citanya."
"Oh tentu tidak, Aku masih ingin jadi polisi, biar bisa memberantas penjahat, dan menjaga masyarakat."
"Kamu sepertinya kebanyakan nonton film Dek,"
"Enggak. Pokonya Aku ingin jadi polisi titik."
"Siap komandan. Papah dukung pokoknya."
"Dulu, cita-cita Papah apa?"
"Ingin jadi bos."
"Kenapa?"
"Supaya bisa bermanfaat untuk banyak orang, memberikan lapangan pekerjaan yang luas, dan juga mensejahterakan keluarga. Supaya anak dan istri Papah tidak harus kesusahan."
Sembari terus berlari kecil, mereka manjutkan obrolan santai ini. Sementara Liana langsung pergi ke taman karena memang jaraknya tidak jauh dari rumah.
"Kakak!" Teriak sang adik yang melihat kakaknya sedang duduk, perempuan berusia 11 tahun itu langsung menutupi kesedihannya, juga air mata yang sedari tadi dia coba untuk tahan agar tidak keluar, tapi sama sekali tidak bisa.
"Katanya gak mau olahraga? Tapi sekarang datang duluan," ujar Rezka yang merasa senang kakaknya berada di sini.
"Mau jemput Kamu supaya tidak lama-lama olahraganya, Aku sudah lapar."
Sembari memegangi perutnya, supaya ucapannya terkesan nyata. Padahal, dia pergi hanya untuk menghindari pertanyaan mamahnya yang tidak akan mungkin berhenti. Sampai mendengarkan jawaban yang sesungguhnya.
"Kakak gak mau olahraga ya, gimana kalau main ayunan saja. Papah yang ayunkan?"
"Boleh."