Menjadi Penguntit

1097 Words
Dione : Aku tidak peduli dengan Ruka. Mau datang atau tidak itu urusannya Dione :Yang jelas Kai dan Jevan harus datang. Terutama kau Jevan Ruka : Padahal aku yang mengajakmu makan siang bersama Ruka : Tapi kebetulan sekali, aku sudah berbaikan dengan kekasihku. Jadi kau beruntung Dione Jevan : Iya aku akan ke sana. Sebentar lagi sampai Kai : Aku juga sebentar lagi sampai. Restoran itu dekat dengan agensiku. "Apa ponselmu itu lebih enak dari pada makananmu?" Mendengar celetukan pria di depannya. Dione menggeleng pelan, dia menaruh ponsel di atas meja. Dia mati-matian menahan senyum ketika mengetik pesan untuk grup chat nya, tapi tidak bisa dia sembunyikan. Dan sepertinya Axel memperhatikan hal tersebut. Lihat saja tatapan penasaran yang pria itu tunjukan. Dan jangan lupakan lontaran pertanyaan blak-blakan tersebut. "Kau menghubungi siapa, sih?" Bisa saja Dione menjawab dia tengah menghubung temannya. Tapi bukannya lebih seru jika dia membuat Axel setengah mati penasaran? "Bukan orang yang ada urusannya dengan pekerjaan. Jadi aku rasa kau tidak perlu tahu," balas Dione dengan seulas senyum tipis. "Jadi aku rasa kau tidak perlu tahu." Ini semakin terlihat menarik ketika Axel menggenggam semakin erat pisau dan garpu dipegangannya. "Apa yang menghubungi itu seorang pria?" Dione mengedikan bahunya. "Lebih tepatnya bukan seorang." "Hah? Maksud–" "Diana!" Bunyi kerincingan terdengar ketika pintu restoran terbuka. Ditambah dengan nama saudarinya yang dipanggil. Dione dan Axel menoleh ke sumber suara bersama. Tak pernah sesenang ini ketika kedua teman prianya datang dan menghampirinya. Tak hanya Axel saja yang tampak kaget melihat circle Dione, melainkan beberapa orang di restoran juga. Terutama saat Kai membuka maskernya. Hei, siapa yang tidak kenal penyanyi yang sedang naik daun sebab tiap lagunya berada di urutan nomor satu billboard? Tidak mungkin Dione tidak memanfaatkan moment sebagus ini. Wanita itu sengaja berdiri menyambut teman prianya. Dia memeluk riang keduanya seraya berbisik, "jangan sampai salah menyebutkan nama." Tanpa persetujuan dari Axel, Dione mempersilahkan Kai dan Jevan duduk di satu meja yang sama dengannya. Axel mendelik melihat Jevan yang duduk di sampingnya, terutama Kai yang duduk di samping Dione. "Apa-apaan ini, Diana?" tanyanya, pria itu tampak tidak ingin menyembunyikan rasa kesalnya. "Aku sudah janji lebih dulu dengan temanku untuk makan siang. Karena pekerjaan kita sudah beres, jadi tidak masalah bukan jika aku mengajak teman-temanku?" Axel memijat keningnya. "Tidak, tidak. Bukan itu maksudnya, sejak kapan kau satu circle dengan dua makhluk ini." Kai merasa tersinggung dengan ucapan Axel, dia ingin menyela. "Mahluk? Hei, bukannya ucapanmu–" "Sstt!" Axel menaruh telunjuk di depan bibirnya sendiri, menyuruh pria berdarah Amerika Korea itu diam. "Aku tidak mau bicara dengan pria yang menjual tampangnya untuk public." Kai speechless mendengarnya. Lain dengan Jevan yang langsung menutup mulut menyembunyikan senyuman gelinya mendengar ucapan Axel pada sahabatnya. Sudah pernah bertemu dengan Axel, dia tahu memang lebih baik tidak mengatakan apa pun pada pria itu. Tangan Kai yang berada di atas meja terkepal kuat. Telinga pria itu memerah, jelas menahan marah. Jika ini bukan di ruang public, mungkin dia akan meninju tuan muda itu. Dia jadi menyesal mengiyakan ajakan Dione untuk makan siang bersama. Pandangan Axel kembali tertuju ke Dione. "Nona, jawab pertanyaanku." "Kami memang sudah berteman lama. Hanya saja aku menyembunyikannya darimu." "Ini tidak masuk akal sama sekali." Axel kembali memperhatikan dua pria itu. Sangat curiga salah satunya sedang kencan dengan Dione. Terutama pada pria yang duduk di samping Dione. "Hei, kau. Apa kau kencan dengan Diana?" "Hah?" Axel berdecak. "Jauhi, Diana. Kau tidak takut terkena skandal kencan?" Kai yang biasanya sangat ahli dalam control emosi, kini tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Pria itu menyisir rambut dengan jemarinya, sebelum menunjuk Axel. "Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan, Dione. Tapi aku sama sekali tidak kencan dengan Dione!" Dione dan Jevan melotot mendengar penuturan Kai. Dalam beberapa saat dia baru sadar kalau dirinya malah menyebutkan nama asli Dione. "Dione?" Axel mengulang panggilan yang diberikan Kai. Kai panik. Tanpa sadar dia malah berbicara lantang hal yang bisa membuat dirinya sendiri terjebak karena melindungi temannya. "Dione itu wanita yang kencan denganku. Aku salah menyebutkan nama tadi." Kini orang-orang yang berada di restoran tertuju pada meja mereka. Hening sama sekali di sini. Pikiran Kai menerawang, sudah bersiap menyusun kata untuk klarifikasi setelah pergi dari tempat ini. Tak hanya kedua temannya yang menyesal datang ke sini. Dione pun sama, seharusnya dia tidak gegabah menyuruh kedua temannya datang hanya untuk membuat Axel kesal. *** "Sial. Aku merasa jadi penguntit sekarang." Axel melihat ke arah pemakaman umum tempat terakhir kali Dione masuk ke sana. Dan dalam waktu lama wanita itu belum juga ada tanda-tanda ingin keluar dari tempat tersebut. Entah makam siapa yang wanita itu datangi. Seraya menunggu Dione, Axel membuka informasi tentang pria yang beberapa hari lalu salah menyebutkan nama Diana itu. "Ternyata dia berasal dari keluarga konglomerat juga. Bisa-bisanya pria itu punya hidup yang tak jauh berbeda denganku. Argh! Kenapa disekitar Diana banyak sekali pria seperti ini sih?!" Dia jadi kesal sendiri memikirkannya. Terlebih ketika Kai beralibi tidak sedang kencan dengan sekretarisnya, Axel yakin sekali mereka sedang kencan. Bernafsu ingin menjatuhkan Kai, dia sampai mengikuti akun fanbase haters Kai agar bisa mendapatkan info buruk pria itu untuk menjelek-jelekannya di depan wanita incarannya itu. Axel menoleh, mengecek apakah Dione sudah hendak keluar pemakaman. Dan Axel segera menyalakan kembali mobilnya, mengikuti mobil yang dikendari Dione sendiri tentu dengan jarak aman agar wanita itu tidak menyadari keberadaannya. Axel sudah curiga jika Dione pergi ke agensi milik Kai, atau mungkin pergi kediaman Jevan. Sama sekali tidak dia sangka wanita itu malah menuju ke venue tempat fanmeet Chris di adakan. "Sejak kapan wanita itu mulai aktif jadi fangirl?" gumam Axel. Pria itu seperti punya sinyal tersendiri untuk menghalangi Dione bertemu dengan Chris. Axel mencoba terlihat natural turun dari mobilnya dan dengan wajah tebal dia menghampiri Dione yang juga baru keluar dari mobil. "Lho? Kau kenapa ada di sini?" tanya Axel pura-pura bodoh. Padahal seharusnya itu adalah kalimat yang Dione ucapkan. "Seharusnya aku yang tanya seperti itu," Dione melipat tangan di depan d**a, "aku kesini karena ikut fanmeet. Kau 'kan bukan penggemar Chris, kenapa kau ada di sini?" "Sepupuku sangat menyukai Chris, dia meminta aku untuk mendapatkan tanda tangannya." Dione menyipit, tidak percaya dengan yang Axel katakan. "Benarkah?" Agar terlihat meyakinkan dia kembali melanjutkan, "iya. Aku sampai muak mendengarnya membicarakan tentang Chris. Aku sampai tahu informasi tidak penting mengenai pria itu. Lahir di Hawaii tanggal 14 agustus. Ayahnya–" "Tunggu," Dione memotong ucapan Axel. Wanita itu menunjukan senyum miringnya. Axel mulai mendapat firasat yang tidak mengenakan. "Kau habis mencaritahu tentang Kai ya? Yang kau bicarakan itu, tempat dan tanggal lahir Kai. Bukan Chris." Axel diam. Entah sudah berapa kali pada hari ini, dia mengumpat dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD