Cemburu Dengan Jevan

1018 Words
"Kau yakin tidak mau tidur di rumahku saja?" tawar Axel sepertinya ini sudah yang ke 5 kalinya. Bahkan Dione sangat kesal mendengar pertanyaan yang sama dari pria itu. "Pak," karena mereka tidak berdua saja di mobil, melainkan juga ada supir dan bodyguard. Dione jadi kembali berbicara formal pada Axel, "lebih baik saya tidur di pinggir jalan dari pada harus menginap di kandang buaya." "Bahasa mu selalu pedas ya." "Terimakasih," balas Dione seperti biasa. "Kalau tidak mau menginap di rumahku. Kenapa tidak kembali ke rumah mu atau ke apartemenmu yang lebih dekat ke kantor? Besok 'kan kau sudah harus masuk kerja. Orang macam kau mana mungkin mau bolos." "Saya malas naik transportasi umum saat pagi, atau mengendarai mobil sendiri. Jadi besok pagi, minta di antar teman saja." "Aku bisa menjemputmu kalau kau mau." Dione menoleh, dia tersenyum kecil. "Sepertinya naik trasportasi umum lebih baik dari pada berangkat kerja bersama anda, Pak." Axel menatapnya tajam. Dione tidak mempedulikan tatapan yang seakan ingin menusuknya itu. Pandangannya tertuju pada rumah besar yang tak jauh dari laju mobil, dan di depan rumah tersebut ada seorang pria yang sepertinya sedang menunggu seseorang. "Tolong berhenti di depan rumah itu ya," ujarnya. "Baik." Mobil berhenti. Dione keluar setelah pamit dan mengucapkan terimakasih pada Axel. Dia mengira pria itu langsung pergi setelah menurunkannya di rumah Jevan. Tapi ternyata Axel ikut turun bersamanya. Jevan melirik Dione bingung. Pandangan mata yang seolah berkata. Kenapa pria itu ikut turun. Karena tidak mungkin berkata seperti itu, Jevan berbasa basi. "Terimakasih sudah mengantar, Diana." Axel tidak menyahut, pria itu memperhatikan kediaman milik Jevan dan juga memperhatikan pria di depannya itu. "Diana, kau kencan dengan manusia ini makanya kau mau menginap di rumah kumuh ini?" Jevan diam, sepertinya dia syok mendengar ucapan menohok dari Axel. Dalam circle pertemanan Dione, Jevan memang pria yang terhitung pendiam. "Kami hanya sahabat," balas Dione, kemudian menyampaikan informasi yang mungkin akan mencubit harga diri pria itu, "alasanku ingin menginap di sini, karena rumah Jevan nyaman, fasilitasnya juga lengkap seperti rumahmu. Jevan 'kan juga berasal dari keluarga konglomerat sepertimu." Axel bergeming. Tapi pupil pria itu yang terlihat membesar, jelas sekali bahwa dirinya terkejut. Terlebih setelah Dione melanjutkan ucapannya. "Hanya saja, Jevan tidak berisik seperti kau, Pak." Dione menggenggam tangan Jevan. Wanita itu menundukan badannya sedikit, "permisi Pak. Kami masuk lebih dulu ya. Semoga selamat sampai rumah." Dione membuka pintu gerbang dan masuk ke halaman rumah Jevan bersama pemilik rumah tersebut tanpa menunggu Axel pergi. Sampai di ruang tamu. Jevan baru membuka mulut. "Dione, sekarang aku tahu kenapa kau sangat bernafsu untuk menghancurkan hidup pria itu," kekesalan pria itu baru ditunjukan, "aku bingung kenapa mendiang saudirimu sangat menyukainya." Dione tergelak. Dia menaruh kopernya sembarangan, dan mengambil posisi duduk di samping Ruka. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada pundak sahabatnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Ruka merasa bodoh karena dirinya tak tahu apa pun. "Ada perdebatan kecil antara Jevan dan Axel," balas Dione. Ruka melirik koper Dione. "Apa kau membawakan kami oleh-oleh?" "Tentu saja," jawab Dione, "tapi aku membawa cerita yang lebih seru untuk kalian dengar, lebih dari sekadar oleh-oleh yang ku bawa." "Aku rasa ceritaku lebih seru," wanita itu melipat tangan di depan d**a, dia melirik Dione dengan senyum miringnya. Dione mulai merasakan firasat tidak mengenakan. "Aku bertemu dengan Chris. Mantan kekasihmu yang masih kau cintai itu." Dione menutup telinga dengan kedua tangannya. "Aku tidak mau dengar apa pun soal dia." *** Axel melihat wajahnya di cermin. Ada lingkaran hitam dibawah matanya, efek dari begadang dan dia harus bangun pagi untuk bekerja hari ini. Pria itu menghela napas pelan. Menaruh kembali cermin ke atas meja, kembali menatap layar komputernya melihat artikel tentang Jevan yang menjadi alasannya begadang semalaman. Dia mendecih berkali-kali saat membaca artikel tentang pria itu. Lulusan kampus terbaik di dunia, bahkan dia adalah yang terbaik di angkatannya. Berasal dari keluarga konglomerat, kakekya menurupakan salah satu orang terkaya di negara ini. Tidak ada rumor scandal mengenai dirinya, bahkan Axel hanya menemukan hal-hal baik yang pria itu lakukan. Walau Axel tak percaya dengan apa yang dibacanya. "Ini pasti pencitraan saja," ujarnya tak terima. Meski begitu, dia tetap mencari tahu tentang Jevan. Ketukan pintu ruang kerjanya, membuat Axel menoleh ke arah pintu, "masuk," ucap pria itu. Wanita yang semalam diantarnya ke rumah yang kata wanita itu adalah –sahabatnya- kini datang ke ruangannya, membawa berkas untuk meeting. "Pagi, Pak," sapanya ramah. "Pagi," balas Axel singkat. Melihat Dione, dia jadi sebal sendiri mengingat wanita itu menggenggam tangan yang kata wanita itu sekali lagi adalah sahabatnya. Dione mengernyit, agak bingung dengan Axel hari ini. Tidak menunjukan raut menyebalkan seperti biasa atau menggodanya. Dione merogoh saku rok selututnya, mengeluarkan permen kopi, membuka bungkusnya dan memberikannya pada Axel. "Bawah mata anda hitam, sepertinya anda kurang tidur ya. Untuk anda." Axel mengambil permen tersebut, langsung memakannya. "Terimakasih. Tapi sepertinya ini kurang, siang nanti aku mau minum kopi saja. Aku masih mengantuk karena begadang semalaman. Kau pesankan tempat ya." Dione mengangguk. "Kopi yang ada di cafeteria?" "Tidak. Kopi yang ada di kedai kopi langgananku saja." Pria itu berdiri dari bangkunya. "Kau akan istirahat di mana?" "Sepertinya ke restoran bersama teman. Hari ini dia–" "Kau ikut bersamaku," potong Axel, "istirahat nanti ada yang ingin aku bicarakan mengenai pekerjaan." Pria itu melangkah mendekati Dione. Dione mengerut kesal. Tapi tak bisa membantah meskipun bingung dengan Axel. "Baik, Pak." Dengan menggerakan kepala dia menunjuk meja kerjanya. "Bawakan berkas yang ada di mejaku." "Baik, Pak." Dione mendengus kesal. Ingin rasanya memaki Axel, atau menimpuk belakang kepala pria itu menggunakan tumpukan dokumen yang dibawanya dengan alasan tidak sengaja. Tapi... sepertinya dia menemukan ide yang lebih baik dari menimpuk pria itu dengan buku, setelah melihat komputer Axel yang masih menyala dan tengah menampilkan sebuah artikel mengenai Jevan. "Pak," Dione tersenyum penuh arti, "jadi Jevan yang membuatmu begadang semalaman penuh?" Axel awalnya bingung. Sadar layar komputernya belum dimatikan, matanya membola dengan cepat berlari mendekati Dione yang berada di mejanya, untuk segera mematikan komputernya. Meski itu adalah hal yang percuma karena Dione sudah melihatnya. "Ini salah paham," balas Axel. Dione menaikan sebelah alisnya, masih ingin menggoda Axel. "Salah paham? Oh, aku mengerti, setelah bertemu dengan Jevan. Kau jadi menyukainya ya?" "Tidak. Yang aku sukai itu kau."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD