Dione berteriak senang dalam hati, dia melirik sinis pada pria yang berbaring memunggunginya. Senyum miring terukir di wajahnya, meremehkan pria bodoh yang berpikir bisa memperkosanya.
"Sialan! Tendanganmu sakit sekali."
Dione tersenyum penuh kemenangan. "Sebagai bentuk perlindungan diri."
Yakin pria itu tidak akan mengganggunya. Dengan langkah ringan dia menuju ranjang, berbaring di samping Axel.
Jika pria itu tahu wanita yang bersamanya adalah pernah bekerja di kepolisian, Dione yakin Axel tidak akan menyentuhnya secara gegabah.
Dione puas sekali dengan apa yang dilakukannya tadi. Awalnya dia memang diam saja, menunggu waktu yang pas setelah Axel melepaskan mainan itu dari tubuhnya, Dione langsung menendang bagian bawah perut pria itu hingga pria itu berteriak kesakitan dan jatuh dari ranjang.
Axel yang punya harga diri tinggi, tidak mungkin melaporkan apa yang Dione perbuat padanya. Harga dirinya bisa terinjak jika orang lain tahu pria itu mendapatkan penolakan kasar dari seorang wanita. 'Kan yang selalu dibanggakan pria itu selain hartanya adalah kemampuannya dalam memikat wanita.
Axel membalikan tubuhnya, dia menurunkan bantal yang menghalangi pandangannya dari Dione.
"Kau sekarang sudah tidak normal ya? Sudah tidak menyukai pria?"
Dione mendengus. "Kenapa? Kau masih tidak terima dengan penolakanku? Bukankah kita sudah sepakat aku akan tidur denganmu jika kau bisa membuatku jatuh cinta lagi?"
Axel menghela napas kesal.
Dione tahu pria itu ingin bermain curang. Mulai dari menggunakan obat perangsang dan mencoba merangsangnya secara langsung.
Terlalu cepat bagi Axel untuk mengelabui otak pintarnya yang sudah sering dipakai untuk berpikir menangkap penjahat kelas berat.
"Dan yang paling membuatku bingung..." Dione ingin memendam pertanyaan yang terus mengusiknya setelah melihat keakraban Axel dengan keluarganya. Tapi dia benci rasa penasaran yang terus menghantuinya, "...kenapa kau senang sekali mempermainkan wanita? Kau punya karir yang bagus, keluarga yang harmonis, hidupmu itu sempurna. Apa karena kau memiliki semuanya jadi kau menganggap wanita itu murah?"
"Hidupku tidak sesempurna itu."
Pria itu kini menatap langit-langit kamar, lengannya yang dia gunakan sebagai tumpuan.
Dione diam, memperhatian Axel. Pria itu seperti ingin melanjutkan ucapannya. Tapi entah kenapa begitu lama menyiapkan diri.
Dione tidak ingin mendesak, dia menunggu. Butuh beberapa saat bagi Axel untuk kembali bersuara.
"Kau tidak memperhatikan di acara tadi sama sekali tidak ada ibuku ya?"
Dalam beberapa detik, Dione baru mengangguk. Dia sempat menyelidiki latar belakang Axel, tapi memang tidak ada satu pun yang dia dapat mengenai orangtua pria itu. Menurutnya itu wajar, keluarga konglomerat tidak mungkin mudah diselidiki begitu saja.
Dione mengira sengaja disembunyikan agar tidak disangkut pautkan dengan urusan bisnis. Namun sepertinya ada hal lain yang menyertainya.
"Ayahku menikah 4 kali."
Dione tidak berkomentar apa pun. Tapi otaknya menangkap sikap Axel ternyata turun dari ayahnya.
Dan sepertinya Axel tahu isi pikiran Dione. "Tidak. Ayahku tidak sepertiku. Dia pria baik yang berbeda jauh denganku."
"Lalu?"
"Dari pernikahan pertama yaitu dengan ibu kandungku sampai pernikahan ke empat. Ayahku ditinggalkan istrinya."
Dione mulai paham. "Itu yang membuatmu benci terhadap perempuan?"
Axel melirik Dione. "Kau bisa lebih sabar menungguku selesai cerita?"
"Baiklah."
"Ibuku kabur meninggalkan ayahku setelah beberapa asset milik ayah sudah dibalik nama menjadi miliknya. Ya... tidak beda jauh dengan mantan istri ayahku yang lain. Dari banyaknya percintaan orangtuaku yang gagal dan aku melihat sendiri, aku jadi takut mempercayai orang lain, atau disebut Pistanthrophobia."
Dione tahu sekali.
Sebab mantan kekasihnya pun memiliki phobia yang sama.
Perasaan takut percaya pada orang lain, selalu berasumsi negative, tidak percaya dengan hubungan. Hal-hal buruk yang sulit dikendalikan itu membuat pengidap dan pasangannya berada dihubungan yang toxic.
Karena alasan itu pula Dione dan kekasihnya berpisah meski keduanya saling mencintai.
Hanya saja dalam kasus Axel, sepertinya pria itu menanggapi phobianya dengan cara yang berbeda.
"Karena kau takut dikhianati dan disakiti lebih dulu dalam hubungan. Makanya kau yang menyakiti duluan?"
Axel diam. Hanya menoleh ke Dione tanpa disertai jawaban apa pun.
Tapi tanpa pria itu menjawabnya. Dione sudah tahu jawabannya pastilah iya.
"Apa kau tidak takut karma datang menjemputmu? Bisa saja ada wanita yang benar-benar tulus denganmu tanpa memikirkan uang kau miliki namun kau berprasangka buruk sehingga kau menyakitinya."
"Apa kau berbicara tentang dirimu sendiri?"
Ah... Dione lupa, kini dia menjadi Diana. Wanita yang sangat menyukai Axel. "Tapi aku yang sekatang tidak menyukaimu."
Axel terkekeh pelan. "Persetan dengan karma. Aku tidak akan pernah jatuh cinta."
***
Dione membaca berita mengenai aktor yang baru saja memenangkan Oscar. Dia mengulas senyum tipis. Kemudian menekan icon search setelah mengetik nama aktor tersebut.
Salah satu aktor kebanggaan negaranya yang sudah melambungkan nama ke kancah dunia.
Dione menekan salah satu foto aktor tersebut, kemudian menzoomnya, memperhatikan senyum manis yang ada di foto tersebut.
"Kau menyukai Demian Chris?"
Suara dibelakangnya membuat Dione terlonjak. Dia segera menyimpan ponselnya di atas meja agar tidak dilihat Axel.
Pria itu kembali duduk di depannya, menyantap kembali makanan yang sudah dibawakan pramugari.
"Bukankah sudah kubilang tidak sopan melihat ponsel orang lain sembarangan?"
Axel sama sekali tidak mempedulikan ucapan Dione. Pria menyebalkan itu kembali bertanya lagi, "apa belakangan ini kau menyukai film-filmnya? Aku tidak tahu hobimu yang lain satu itu."
Karena Axel yang lebih dulu tidak menanggapi ucapnnya. Dione pun tidak menjawab sekali, dia sibuk menghabiskan roti dengan selai keju itu.
Tapi Axel tetap bertanya padanya dengan kalimat yang berbeda lagi.
"Apa kau sering fangirling seperti wanita lain? Sering datang ke fansign atau apalah itu namanya? Ah! Apa kau juga sering mengkhayal kencan dengannya? Aku tidak pernah lihat dia dekat dengan wanita mana pun, aku curiga dia gay."
"Uhuk!"
Dione terbatuk mendengarnya. Rasa tidak terima yang muncul membuat Dione baru membuka suara. "Dia itu normal! Dia tidak sepertimu yang suka bermain wanita, makanya dia tidak pernah digosipkan dengan wanita mana pun."
Axel tersenyum mengejek. "Ternyata kau benar-benar menyukainya ya. Sampai tidak mau mendengar orang lain menjelekannya."
Dione mengalihkan padangannya ke jendela pesawat. Dia menghela napas pelan. "Iya... aku menyukainya."
"Saran ku, kau jangan menyukainya lagi."
Dione mendelik. "Kenapa memangnya?"
"Dia itu hanya aktor, kau tidak akan bisa meraihnya, uangnya juga akan habis setelah masa jayanya selesai. Lebih baik denganku, dari keluarga konglomerat dan bisa kau raih karena aku menginginkanmu."
"Lebih baik aku tidak menikah seumur hidupku dari pada harus denganmu."
"Sayang sekali."
"Sayang sekali apa?" tanya Dione tak mengerti.
"Sayang kalau kau tidak memutuskan untuk menikah. Padahalkan kau suka sekali dipuaskan di atas ranjang."
Dione menggenggam erat pisau makan miliknya. "Hei. Bagaimana jika kita membuat berita seorang sekretaris yang membunuh CEO nya sendiri?"