"Kau pasti terkejut ya melihat rumah inti keluargaku yang semewah ini," ucap Axel dengan nada sombong khas pria itu, seolah dunia dalam genggamannya.
Menyebalkan sekali.
Dione tidak terkejut sama sekali. Sebagai orang yang berteman dekat dengan anak keluarga konglomerat generasi kedua, dia sudah sering melihat penampakan rumah terbilang amat mewah di depan matanya.
Dione melirik sekilas. Tidak ingin adu mulut dia hanya mengikuti apa yang diinginkan pria itu saja. "Wah, iya, saya sangat terkejut,” jawabnya dengan ekspresi datar.
Walau yang dia ucapkan terdengar sarkastik. Tapi sepertinya Axel mengenyampingkan hal itu. Dia tetap menceritakan tentang keluarganya. Di mana sebenarnya Dione pun sudah tahu pria itu berasal dari salah satu keluarga terkaya di negaranya.
Sambutan besar dia dapatkan bahkan dari semenjak menginjakan kaki di halaman rumah.
Pertama kali dia melihat keluarga dari pria itu berkumpul. Bahkan Dione yakin kembarannya ataupun wanita mana pun yang berkencan dengan Axel tidak pernah diajak untuk bertemu dengan keluarga konglomerat ini.
Yang dia kenal saat berada di sini, hanya ayah dari pria itu.
Axel hendak menarik tangannya seperti ingin mengenalkan Dione untuk berkenalan dengan keluarganya. Tapi pria itu lebih dulu ditarik oleh dua anak kecil yang sepertinya adalah keponakan dari pria itu.
Axel berkumpul dengan keluarganya. Ini juga pertama kalinya dia melihat pria itu tersenyum dengann normal tanpa ada unsur yang menyebalkan.
"Enak sekali hidupnya," gumam Dione yang tanpa di sadari wanita itu sendiri ketika melihat sosok Axel bersama keluarganya.
Hidup dengan sokongan harta, pertemanan yang baik, bahkan percintaan yang berjalan mulus semau pria itu.
Curang sekali.
Bagaimana bisa dia sebahagia itu setelah menjadi penyebab orang lain bunuh diri?
Padahal selama ini Dione membenci pria itu karena mengusik satu-satunya hal yang Dione miliki. Keluarganya yang masih tersisa.
"Diana."
Dia masih melamun, tidak sadar ada seseorang yang tengah memanggilnya dengan nama identitas yang dia gunakan saat ini.
"Diana."
Panggilan ulang dan tepukan di bahu baru menyadarkannya. Dione menoleh, dia mendapati ayah Axel berada di sampingnya.
Spontan Dione menundukkan sedikit tubuhnya sebagai bentuk hormat. "Ah iya."
"Aku tidak menyangka anakku mengajakmu ke sini," ujar pria paruh baya itu, "padahal biasanya setiap tahun dia hanya datang sendiri."
Dione hanya menanggapinya dengan menyulum senyum tipis.
"Apa kau punya hubungan dengan anakku?"
Wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa keberatan sama sekali. Sepertinya tidak peduli jika anaknya memilih pasangan yang entah berasal dari keluarga manapun, meski mungkin tidak setara dengannya.
Dione menggeleng kuat. "Tidak, Pak. Hubungan kami hanya sebatas sekretaris dan atasan saja."
Sepertinya Dione lupa dengan perjanjian antara dirinya dan Axel. Di mana seharusnya dia berkata kalau dirinya adalah pasangan Axel.
Sialanya, pria itu mendengar obrolan antara sekretarisnya dengan ayahnya. Tangan pria itu yang berada di kantung celana, sengaja menekal tombol yang seharusnya tidak ditekan pada saat ini.
Dione mengernyit, memejamkan matanya kuat merasakan ada getaran kecil di bagian bawah tubuhnya. Dia memaki Axel dalam hati.
Apa yang pria itu lakukan padanya?!
"Nak, kau tidak apa-apa?"
Dione mengangguk menanggapinya.
Axel datang menghampiri mereka. Dia merangkul pinggang Dione di depan ayahnya. "Ayah. Sudah mau makan siang bersama, ayo kumpul bersama yang lain. Ada yang mau aku beritahu juga."
"Ah iya benar."
Ayahnya berjalan lebih dulu. Sementara Axel masih merangkul Dione dan membuat wanita itu risih.
Mungkin Axel tahu wanita itu ingin menepis tangannya, sehingga Axel berkata, "kau lupa kesepakatan kita? Selama berada di sini kau jadi kekasihku."
Tanpa ada rasa bersalah Dione menjawab, "iya aku lupa."
"Dasar wanita menyebalkan."
"Terimakasih."
Axel melirik kesal wanita yang masih saja memasang wajah datar itu. Seperti robot yang di template untuk membuatnya darah tinggi.
Sayangnya mereka berada di depan keluarganya, sehingga Axel tidak bisa membalas wanita itu.
Axel mendekatkan tubuh Dione padanya. Keluarganya pun bingung karena ini pertama kalinya Axel membawa seorang wanita ke hadapan keluarga besarnya. Terutama saat pria yang di cap cassanova itu berkata,
"Perkenalkan, ini Diana. Sekretarisku sekaligus wanita yang ingin kunikahi."
***
Ini diluar dari kesepakatan mereka.
Pandangan menusuk Dione tidak bisa lepas dari Axel yang beberapa jam lalu membuat kehebohan dikeluarganya karena memutuskan untuk menikah dengan sekretarisnya sendiri.
Apa pria itu mengira mereka tengah menjadi tokoh utama dalam telenovela?
Lain dengan Dione yang seperti kebakaran jenggot, pria itu malah tampak santai bahkan saat mereka kembali ke hotel, pria itu tidak menjelaskan sama sekali maksud dari perkataannya di depan keluarganya.
Berlagak cuek seakan tidak terjadi apa-apa. Seakan mereka benar-benar mempunya hubungan yang special.
Axel melepaskan kemeja yang dipakainya, menampakan tubuh atletisnya. Menyisahkan celana hitam panjang saja.
"Kalau kita berada di dunia komik. Sepertinya aku bisa mati hanya dengan dipandangi olehmu saja," sarkas Axel.
Pria itu membalikan tubuh, melipat tangan di depan d**a, melihat wanita yang duduk diam di pinggiran ranjang masih dengan pakaian lengkapnya.
"Kenapa kau bilang ingin menikah denganku? Kesepakatan kita 'kan hanya sampai pada aku adalah kekasihmu."
“Kalau punya kekasih di umur segini, keluarga juga pasti mendesak untuk segara menikah.”
Dione menyipitkan mata, menatap Axel penuh kecurigaan, "apa kau diminta ayahmu untuk segera menikah supaya kau bisa mewarisi seluruh kekayaan keluargamu?"
"Kau terlalu banyak menonton drama tentang keluarga konglomerat." Axel tertawa pelan. "Aku hanya pertama kali mengenalkan seorang wanita ke keluargaku, keluargaku pasti sudah menganggap hubungan kita ini serius, dari pada ditanya banyak hal, lebih baik langsung aku sampaikan begitu."
"Oh, baik –mau apa kau?"
Axel mendekatinya. Membuat Dione mengepalkan tangannya, bersiap jika pria itu ingin melakukan sesuatu padanya.
Axel mengeluarkan remote kecil dari sakunya. "Kau dari pagi merengek untuk aku lepaskan. Tapi sepertinya kau menyukai sensasinya sehingga tidak mau aku lepaskan ya?"
Dione menghela napas kasar. "Baiklah. Lepaskan mainanmu itu dari tubuhku."
"Akan kulakukan dengan senang hati."
Axel semakin menipiskan jarak, tubuh Dione tanpa sadar bergerak mundur sehingga mudah bagi pria itu dalam satu gerakan membuat Dione berbaring di ranjang.
Dione memberikan jarak dengan kedua tangannya yang berada di depan d**a saat Axel di atas tubuhnya.
"Ini terlalu berlebihan."
Axel menggesekan hidungnya diperpotongan leher Dione, menghirup aroma manis dari tubuh wanita itu. "Aku suka aroma tubuhmu yang sekarang," gumam pria itu dengan nafas beratnya.
Ini sudah tidak beres.
Terutama ketika pria itu kembali menekan salah satu tombol dari remote yang digenggamnya.
Dione mengigit bibir bawahnya, menahan desahannya mati-matian.
Bodoh sekali dia menganggap Axel akan melepaskannya begitu saja.