Mengerjai Sekretaris Galak 21+

1112 Words
"Sudah bangun?" Dione melihat Axel yang telanjang d**a berada di sebelahnya sambil memegang kamera. Dione beranjak dari kasur dengan gesit dan mengubah posisinya menjadi duduk. Dia terlalu terkejut sampai tidak bisa berteriak. Dione memijat kepalanya yang terasa pening. Mencoba menela’ah apa yang terjadi setelah ingatannya terakhir tentang dirinya yang mabuk karena kalah saat Axel mengajaknya bermain kartu. "Ah, pemandangan yang bagus sekali." Perkataan Axel menyadarkannya dari lamunan. Pria itu menunjukkan cengiran dan meng-klik kameranya ke arah Dione. Dione kebingungan dan melihat ke arah badannya sendiri. Dione baru menyadari, dia tak memakai apa pun. Dione langsung mengambil selimutnya untuk menutupi badannya yang terasa berdesir terlebih ketika melihat pria itu. "Apa yang kau lakukan sialan?!" Dia masih bertanya padahal sudah tau apa yang terjadi. Pria itu pasti memberinya obat tidur dan obat perangsang. "Menuntaskan apa yang sempat tertunda malam itu di mobil… mungkin?" Axel menaruh ibu jari dan telunjuk kanannya di dagu Dione. Dione menepis tangan Axel dan merapatkan selimutnya. Bohong. Pria itu berbohong. Dione tidak merasakan apa pun pada bagian bawahnya. Axel pasti punya rencana lain. "Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku?!" teriaknya kembali. Axel mengedipkan sebelah matanya. "Aku melakukan hal yang membuatmu menurut padaku." Axel beranjak dari kasur dan mengambil sesuatu dari meja di samping tempat tidur. Dia memberikan beberapa foto padanya. Dione mengambilnya dan syok setengah mati. Bisa-bisanya dia lengkah dan masuk ke perangkap iblis seperti Axel. Axel memberikan foto Dione dan dirinya tengah di atas ranjang tanpa mengenakan apa pun. Dan terlebih lagi, banyak foto Dione bergaya seksi. Seperti tangannya ditaruh di atas kepalanya, sehingga badan Dione terekspos. Badannya yang tertutup selimut tapi tak mengenakan apapun. Dione merobek semua foto itu, tapi Axel menunjukkan flashdisk yang pasti berisi foto-foto tersebut. Berarti Axel menyimpannya untuk jaga-jaga. Dione ingin mengambil flashdisk itu, persetan dengan dirinya yang tidak mengenakan apa pun di depan Axel, tapi Axel mengangkat tinggi benda tersebut, jadi Dione tak bisa menjangkaunya. Dan Axel memegang tangan Dione yang ingin mengambil foto itu. "Kau tahu, kau itu lebih cantik jika melepas kacamatamu. Dan membiarkan rambut panjangmu terurai seperti ini daripada dikuncir," katanya sambil menjilat bibir atasnya. "Kau berurusan dengan orang yang salah Axel." "Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu." Dione meronta. Axel mendorong tubuh Dione di ranjang dan Axel berada di atasnya. Axel menciumi sisi wajah kanan Dione, sedangkan Dione memberontak. Tapi, Axel tidak menggubrisnya. Terus memberikan kecupan ringan sampai ke sudut bibir Dione. Dan dilanjutkan dengan mencium bibir mungil itu. Axel semakin berani melumat bibirnya sampai Dione sudah tidak tahan untuk menutupnya terus. Langkah selanjutnya adalah Axel gigit bibir bawahnya, jelas membuat Dione nyeri dan lidahnya segera masuk ke dalam mulut Dione. Dijelajahi ruang mulut itu dengan lidahnya. Dan lidahnya menekan lidah Dione untuk tetap berada di bawah. Dione tak bisa berkelit, karena mulut serta lidahnya tertahan olehnya. Axel mengakhiri ciuman panas itu sehingga tercipta benang saliva antara mereka Sentuhan dari Axel membuat tubuhnya memanas menginginkan hal yang lebih karena efek obat perangsang yang pria itu berikan. "Kau yang sekarang lebih enak dari pada yang dulu." "Sementara kau tetap saja. Tetap menjadi yang paling buruk." Dione mendorong pundak Axel untuk lepas darinya. Sialnya tenaga pria itu lebih besar darinya. Ini semua karena kondisi tubuhnya sekarang! "Aku punya kesepakatan denganmu," kata Axel yang masih berada di atas Dione. Dione mengangkat alisnya tidak mengerti. "Apa mau mu?" "Kau mau semua foto mu yang tadi hilangkan?" Dione mendengus kesal. "Kau tidak akan membuatnya mudah 'kan?" sarkas Dione. "Bersikaplah seolah kau benar-benar kekasihku selama kita berada di sini. Kau harus menuruti semua permintaanku selama kau masih berpura-pura menjadi kekasihku. Apapun itu, kau harus menurutinya." "Aku tidak mau!" teriaknya. Dione menatap Axel dengan penuh emosi. "Kau mau membuat ini sulit? Mudah bagiku menyebarkan ini dan membuat mu viral karena foto telanjangmu itu," kata Axel sambil menyeringai. Axel yang melihat wanita itu di ambang kebingungan harus berpikir jernih ditengah keadaan tubuhnya yang ingin dipuaskan sampai mengeluarkan keringat. Tangan pria itu langsung tertuju ke d**a Dione. Diremas dengan pelan, kemudian menambah sedikit kecepatan meremasnya. Dione mengeluarkan desahannya tak terkendali. "Aaah... ahh... aaahh... " Tahu akan seseru ini. Sepertinya dia harus punya banyak stok obat perangsang. Untuk mengerjai wanita galak ini. "Hm, jadi apa pilihanmu?" tanyanya masih meremas d**a wanita di bawah tubuhnya ini. Dione yang masih mendesah menggeleng pelan. Wanita itu masih mati-matian menahan nafsunya agar tidak meminta lebih. Tangan Axel turun perlahan-lahan ke di selangkangannya. Jemarinya bermain di area kewanitaan Dione. "Kau sengaja tidak mau menjawab karena ingin terus seperti ini ya?" "Baiklah!" Axel berhasil mengusik harga diri wanita itu. "Aku menuruti kemauanmu." Axel tersenyum puas. "Pilihan yang bagus. Memang tidak ada baiknya untuk menolak permintaanku." Tangan kanan Axel meraba-raba pinggulnya dan berhenti di selangkangannya. Dione tersentak karena Axel sempat menggelitik selangkangannya. Tapi, Dione merasa yang menggelitik bukan jari pria itu. Itu alat bantu seks. Yang di sepertinya dikontrol dengan remote agar menimbulkan efek getaran. "Ahh!" Dione kesakitan karena merasa bagian bawahnya dimasuki oleh sesuatu. Sesuatu yang besar sehingga membuatnya sakit karena belum siap. Dione memegang pundak Axel karena perbuatan tiba-tiba pria itu. Dione mengangkat wajahnya melihat wajah puas Axel. "Keluarkan," pinta Dione dengan nafas tersengal. "Nanti setelah kita pulang dari rumah keluargaku. Aku ingin bermain sedikit denganmu." *** Axel berlagak memperlakukannya sebagai kekasih. Untuk bertemu dengan keluarga dari pria itu. Axel membawanya ke store brand ternama hanya untuk membeli baju baru dan memakai pakaian terbaik. "Tak perlu seperti ini. Toh aku hanya menjadi kekasihmu selama berada di sini." "Justru karena kita hanya menjadi kekasih selama di sini saja, Diana. Aku ingin membuatmu mengingat kembali. Berapa beruntungnya menjadi pasanganku." Dione mendelik. Dia mencibir, "ya... sangat beruntung." "Bisa tidak, saat menjadi kekasihku, kau bicara yang baik-baik saja selayaknya seorang kekasih?" Ketika pria itu menunjukan seringai menyebalkannya dan mengeluarkan remote kecil dari saku celananya. Membuat Dione tersadar hidupnya di Manhattan ini tidak akan mudah. "Kau tahu aku memegang kendali atas tubuhmu?" "Kau-" Ucapannya tertahan kala Axel menekan tombol hijau dari remote yang dipegangnya. Dione merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Sesuatu di area bawah Dione bergetar. Getarannya kecil, tapi menimbulkan geli dan enak. Dione menggigit bibir bawahnya agar menahan desahan yang ingin keluar dari mulutnya. Axel melihat wajah wanita itu dari samping. Keringat mukanya bercucuran sedikit. Matanya tertutup rapat. Axel suka sekali ekspresi yang wanita itu tunjukkan. Dia pun menekan tombol lain. "Ah!" Beruntung di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Tangan Dione yang tadinya diam meremas pelan lengan Axel. Isyarat agar pria itu berhenti. Axel menambah getarannya dengan menekan tombol 'Up'. Dione sudah tidak kuat lagi. Dia jatuhkan kepalanya ke bahu pria itu. Axel menelan ludahnya sendiri. Sial! Dia ingin mengerjai sekretarisnya akibat penolakan yang selalu wanita itu berikan. Lagi-lagi kembali terulang, malah dia yang ikut terangsang karena melihat wanita itu seperti tak berdaya minta untuk disentuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD