Ke Manhattan Bersama

1018 Words
"Hari ini aku libur!" pekik Dione senang ketika Ruka mengangkat teleponnya. "Di hari senin ini?" tanya Ruka ragu di ujung telepon. "Iya, sudah genap tiga hari aku tidak bertemu Axel. Ayo kita rayakan, aku akan mentraktir mu satu tas mahal harga ratusan dollar." Dengan semangat Ruka menjawab. "Kau ada di mana sekarang? Aku akan menjemputmu." "Aku ada di rumah. 10 menit lagi kau tak datang, penawaranku akan hangus." "Aku akan bersiap secepat kilat. Dan sampai ke rumahmu lebih cepat dari cahaya." Telepon dimatikan oleh Ruka. Dione terkekeh pelan. Dione melepaskan handuk yang melilit kepalanya, membiarkan rambut panjangnya yang masih lembab tergerai. Kemudian menyemprotkan parfum beraroma mawar ke perpotongan lehernya dan beberapa sisi tubuhnya. Dione mengenakan dress jeans hitam yang melekat pas ditubuhnya hingga nampak jelas lekukannya, serta menggunakan sneakers putih yang diberikan Kai dari hasil kolaborasi sahabatnya itu dengan perusahaan fashion ternama. "Nona Dione, Presdir perusahaan tempat nona bekerja datang ke sini." Dione membelalakan matanya. "Kau mungkin salah orang." Pengurus rumah yang menyampaikan kabar tersebut kembali menjelaskan. "Pria yang datang ke sini, berambut hitam dan kulitnya sangat putih. Dia juga bilang namanya Axel." "Bilang padanya sebentar lagi aku akan menemuinya." "Baik nona." Pintu ruang ganti pakaian di tutup kembali oleh pekerja rumah tersebut. Dione segera mengganti pakaiannya menjadi dress biru muda dengan rok yang mengembang, menimbukan kesan manis dan sopan, berbanding terbalik dengan pakaiannya yang tadi. Dia tidak melupakan kacamata bulat yang biasa dia gunakan saat menjadi Diana. "Ada ap-" Suara Dione terputus setelah keluar dari rumahnya, dia mendapati Axel yang menyuruh hampir seluruh pekerja rumah Dione mengambil beberapa barang miliknya untuk di masukan ke koper yang di bawa oleh supir pria tersebut. "Apa-apaan ini?!" teriak Dione. Dia menyuruh pengurus rumahnya masuk dan tak lagi menghiraukan perintah Axel. "Pak, anda beristirahat lah dulu di rumah saya," ujar Dione pada supir Axel. "Masuklah dulu," tambah Axel. Hingga di pekarangan rumah ini hanya ada Dione dan Axel. "Bukannya hari ini anda menyuruh saya libur?" Dione menunjukan ponselnya yang menampilkan chat dari Axel. Di mana Axel jelas-jelas menyuruhnya untuk libur. Axel mengangguk. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya lebih dulu sebelum menjawab. "Aku menyuruhmu libur dari kantor. Karena aku akan mengajakmu berlibur ke Manhattan," balasnya dengan senyum sumringah tanpa beban. Pria itu seolah tidak mempedulikan wajah kesal yang Dione tunjukan karena mengganggu schedule kecilnya. "Saya belum mengurus passport dan visa." Axel mengeluarkan dua passport dari kantung jaketnya. "Tenang saja aku sudah menyiapkan semuanya. Kau hanya perlu ikut bersama ku saja." "Saya belum membereskan barang-barang yang harus saya bawa." Axel menunjuk koper yang sudah berisi pakaian Dione. "Pengurus rumahmu sudah mengambil barang-barang penting milikmu seperti laptop yang digunakan untuk bekerja. Dan perihal pakaian, aku akan membelikan mu yang baru saja." Dione baru membuka mulutnya hendak menimpali omongan Axel. Namun pria itu lebih dulu menyela, "apa lagi? Kau ada acara pagi ini? Kita bisa pergi dengan jam yang sesuai jadwalmu. Aku sudah membeli pesawat pribadi untuk penerbangan kita." Axel menjentikan jari dan mengedipkan sebelah matanya. Pria itu merasa menang telak saat Dione menganga mendengar ucapannya. Dione menghela napas kasar. Kalah sudah. "Berapa lama kita ke sana?" "Hanya dua hari saja." *** Ruka : b******k! Kau meninggalkan aku? Ruka : Padahal belum ada 10 menit aku sudah sampai rumahmu. Dasar pembohong Ruka : Di mana kau sekarang? Aku akan menyusulmu Dione memfoto jendela pesawat sampingnya dan juga meja di depannya yang terdapat beberapa menu sarapan. Dan mengirimkannya ke Ruka. Dione : Aku ada di pesawat pribadi milik Axel. Aku sedang berangkat menuju Manhattan, bertemu keluarganya "Siapa itu? Kenapa dia mengirimkan chat banyak? Apa itu kekasihmu? Kau punya kekasih setelah aku?" Dione segera menutup layar ponselnya saat mendengar pertanyaan beruntun dari suara pria di belakangnya. Ternyata Axel sudah selesai dari toilet. "Tidak sopan melihat isi chat orang lain sembarangan, Pak," omel Dione. Axel tampak masa bodo. Pria itu duduk di kursi kosong yang berada di depan Dione. "Oh berarti kau sedang pamer ke temanmu ya," ledek Axel, "aku melihat kau mengirim gambar, kau pasti sedang pamer menaiki pesawat pribadi." Dione memutar bola matanya bosan. Bukan baru sekali dia menaiki pesawat pribadi, malah sudah berkali-kali. Jevan, sahabatnya yang juga merupakan anak dari konglomerat seperti Axel –hanya saja tidak sombong seperti Axel- juga punya pesawat pribadi milik keluarganya. Dan saat mereka berempat pergi berlibur pasti menggunakan pesawat pribadi keluarga Jevan. "Terserah anda saja Pak." Dione mengambil mangkuk berisi nasi dan beberapa potong ayam serta sayur miliknya. Dia mengaduk nasi dengan komponen lain tersebut sepenuh tenaga untuk menumpahkan rasa kesalnya. "Kalau sedang berdua saja denganku tidak perlu berkata formal," ujar Axel sambil menyuap roti yang sudah diberikan selai coklat. "Kalau begitu sa- maksudnya, kalau begitu aku boleh memanggilmu dengan kata-kata kasar? Kau bilang tidak usah formal." Axel mendengus. "Kau sopan sekali ya pada orang yang sudah memberikanmu gaji tiap bulan,” sarkasnya. Dione mengulum senyum kecil. "Terimakasih atas pujiannya, Pak." Dione menyuap makanan di mangkuknya, kebetulan perutnya belum terisi sama sekali. Jadi dia berniat menghabiskan makanan dengan tenang tidak mempedulikan sepasang mata yang tengah memperhatikannya intens, seakan dirinya adalah anomali yang tidak boleh dilewatkan. Dione anggaplah ini pesawat milikmu dan jangan pedulikan makhluk di depanmu ini, berkali-kali Dione berkata seperti itu pada dirinya sendiri agar merasa tidak terusik dengan Axel. "Badanmu kecil tapi makan mu banyak juga ya," komentar Axel, "ini mangkuk kedua yang kau makan padahal belum selang sejam." Sepertinya pria itu tidak suka melihat Dione tenang. "Kenapa? Kau ilfeel melihatku makan banyak? Lain sekali dengan para mantan kekasih mu yang lain, yang sangat menjaga pola makannya." "Padahal dulu kau bilang kau selalu menjaga pola makan mu. Dan tidak bisa makan banyak." Dione berdecak. "Sudah kubilang jangan bandingkan aku yang dulu dan aku yang sekarang. Aku sudah merubah semua yang ada di diriku sebelum kita bertemu lagi." Axel menaikan sebelah alisnya. "Kenapa harus begitu?" "Karena untuk menghadapi orang gila seperti mu, aku harus lebih gila dari pada kau." Axel menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napas pelan. "Kasihan sekali kekasihmu sekarang harus berhadapan dengan wanita gila seperti mu." "Sudah kubilang aku tidak punya kekasih!" "Aku juga tidak punya kekasih. Kalau begitu bagaimana jika hari ini jadi hari pertama kita?" "Pak, anda mau saya lempar dari pesawat detik ini juga?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD