Menaklukan Diana

1039 Words
"Sekretaris yang sekarang sama saja, punya hubungan dengan presdir juga." Bisik-bisik dari salah seorang karyawan kantor ketika Dione melewatinya, membuat Dione tersedak minumannya sendiri. Dia melihat jam yang ada di ponselnya. Masih jam 8 pagi, baru juga datang ke kantor, ada drama apa lagi ini? Terlebih ponselnya berdering beberapa kali. Notifikasi berbeda yang menandakan ada pesan masuk dari grup. Dione berhenti sebentar, duduk di salah satu bangku yang berada di lobby kantor untuk mengecek isi grup. Ruka : Aku baru pulang dari Paris. Dan apa ini? Dione menyipitkan mata melihat sebuah screenshoot yang di kirim Ruka. Berita mengenai generasi ketiga konglomerat yang memborong bunga mawar merah dari seluruh toko bunga di ibukota, untuk merayakan ulangtahun kekasihnya, yang merupakan sekretarisnya sendiri. Kai : Bisa saja itu konglomerat lain, bukannya Axel dan Dione Kai : Ayolah teman-temann, kita tau Dione sangat membenci Axel Ruka : Bagaimana aku tidak mau percaya? Salah satu temanku yang punya toko bunga bilang sendiri yang membeli seluruh bunga mawar di tempatnya mengatas namakan Axel Ruka : Dan Dione adalah satu-satunya sekretaris Axel Jevan : Ini pasti ada yang salah, benarkan Dione? Kalau kau sudah membaca grup. Kami menuntut penjelasan mu Dione yang tadinya menyipitkan mata kini membelalak. Dia yang menjadi topic utama saja tidak tahu apa yang terjadi. Padahal semalam dia tidak mimpi apa pun. Pagi hari pun dia sudah berdoa agar hari ini berjalan dengan baik. Otaknya merasa blank sesaat mencerna awal hari yang ternyata buruk. Dione : Aku tidak tahu apa-apa Hanya itu yang Dione kirim ke grup. Dia menyimpan ponselnya kembali, sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruanganya yang berada di lantai paling atas. Dia ternganga saat berhasil melewati lobby. Di tiap tiang dan tembok kantor penuh dengan bunga mawar yang sudah rangkai sebegitu indahnya dan juga terdapat kata-kata romantis yang ditunjuk untuk Diana. Orang-orang yang menyadari keberadaan Dione, menjadikan wanita itu pusat perhatian. Dione menelan ludah, harus menyiapkan mental menghadapi hari yang masih amat panjang ini. Dia sedikit menunduk untuk menghindar dari pandangan orang-orang yang menuntut penjelasan padanya dan masih tidak percaya dengan hubungan Dione dan Axel. Axel memang dikenal sering dan selalu punya hubungan dengan sekretarisnya sendiri. Tapi dengan sekretaris yang kecantikannya di atas rata-rata bukannya dengan sekretaris penampilan kuno seperti Dione. Apa lagi, Dione adalah satu-satunya wanita yang di publish Axel di kantor. "Apa maunya si b******k itu," desis Dione saat sudah sampai di lantai tujuannya. Dia bergegas membuka pintu ruang Presdir dan seperti manusia yang tidak memiliki norma kesopanan, Dione menendang pintu hingga terbuka lebar. Dan kemudian menutupnya kembali dengan kencang juga. Si pemilik ruangan tidak kaget sama sekali. Sepertinya dia sudah menebak apa yang terjadi. Dengan santainya Axel menutup dokumen yang dia baca. Dia menunjukan senyum menyebalkannya seraya berdiri dari kursinya. "Padahal aku berekspetasi kau akan menghancurkan pintu ruanganku." Pria itu menunjukan ponselnya yang menampilkan room chat entah dengan siapa. “Aku sampai sudah menyuruh orang untuk memperbaikinya. Dione menyisir kasar rambut panjangnya sehingga tidak lagi tertata dengan rapih. "Apa yang anda lakukan wahai tuan presdir? Anda mau membuat saya malu seharian ini?" "Kau 'kan yang menantangku untuk merebut kembali hati mu. Dan kau tidak membatasi hal apa yang aku lakukan untuk mu. Jadi apa aku salah?" tanya Axel tanpa wajah berdosa. “Aku hanya mau menyenangkan wanita incaranku.” Dione berdecak, sorot matanya menajam. "Saya tidak suka menjadi pusat perhatian terutama hal konyol seperti ini." Axel menaikan sebelah alisnya. "Padahal dulu kau suka sekali aku membuat kehebohan dengan menunjukan betapa aku menyukaimu." Ah iya. Dione sekilas lupa bahwa dirinya tengah menjadi Diana. Dia pun berdalih. "Saya sudah berubah. Saya sama sekali tidak menyukai percintaan yang menjadi konsumsi public." Axel menjentikan jarinya. "Berarti kau menyukai sesuatu yang manis di mana hanya kau yang dapat menikmatinya sendirian." Dione memutar bola matanya bosan. Ingin berceletuk sekeras apa pun usaha Axel untuk mendapatkannya akan percuma karena bukan Axel yang dia mau. Tapi jika dia berkata seperti itu. Axel pasti akan melakukan penyataan cinta yang lebih brutal lagi. Dia pun menjawab. "Terserah anda saja. Yang jelas saya tidak mau ada gossip antara kita." *** Sebenarnya jadwal Axel hari ini tidak begitu padat. Tapi sengaja dia padati agar waktu bersama Diana lebih lama. Sudah pukul 7 malam. Diana masih menemaninya datang ke acara gender reveal Rodion dan istrinya. Berbeda dengan acara yang biasa mereka datangi berdua. Diana yang biasanya menunjukan wajah datar, kini menatap Rodion penuh minat. Dengan kurang ajarnya Axel berkata, "kau jangan menyukai Rodion, dia cinta mati pada istrinya. Tuh, kau lihat istri Rodion sangat cantik, beda denganmu yang tidak mempedulikan penampilan. Istri Rodion juga dari kalangan atas, lagi-lagi beda jauh darimu.." Diana yang mendapat omongan seperti itu tersentak melirik sebal Axel. "Saya hanya kagum dengan sahabat anda yang tulus mencintai istrinya," timpal Diana, "saya tidak menyangka, dia berteman dengan anda yang lahir dari batu karena tidak tahu cara menghargai wanita." Terlontar lagi omongan pedas dari bibir sewarna buah peach itu. Axel mendelik sinis. "Sudahlah aku malas bicara dengan mu." "Terimakasih." Axel semakin kesal dibuatnya. Seakan lupa pagi tadi membeli bunga mawar untuk memenuhi kantor hanya untuk menarik perhatian sekretarisnya. "Aku ingin bicara dengan Rodion dulu. Kau tidak perlu mengikuti ku." “Saya juga tidak berniat mengikuti anda, Pak.” Pria itu meninggalkan Diana yang masih berdiri di samping meja penuh makanan, meski begitu dia memperhatikan Diana dan menatap tajam tiap pria yang sepertinya ingin bicara dengan Diana. Dan tersenyum puas ketika para pria itu tak jadi mendekati Diana. Kekuasaan memang segalanya. "Belakangan ini kau jadi lebih sering tersenyum," Rodion menaikan sebelah alisnya heran, "tapi dalam harfiah bukan sesuatu yang baik. Karena senyum mu seperti senyum psikopat." "Sekretarisku yang lebih psikopat," Axel membela dirinya, "dia memintaku untuk merebut hatinya kembali jika ingin tidur dengannya." Rodion menepuk dahinya. "Jadi kau membuat heboh pagi ini membeli mawar di seluruh kota, hanya agar kau bisa tidur dengan sekretaris mu? Kau dan dia sama-sama gila!" "Tapi dia tidak tersentuh sama sekali padaku." "Hanya wanita yang menginginkan harta mu saja yang akan luluh dengan perbuatanmu tadi," celetuk Rodion, "pasti selanjutnya kau mau melakukan hal yang lebih nekat lagi." Axel mengedipkan sebelah alisnya. "Aku berniat membeli jet pribadi, dan membawanya ke Manhattan minggu depan untuk bertemu keluargaku." Axel pastikan Diana akan lebih tergila-gila padanya setelah ini. Kalau tidak berhasil juga, memang ada yang tidak beres dengan otak wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD