Menantang Si Cassanova

1051 Words
January 201X ‘Ada pria yang ingin berkenalan denganku. Aku mengenalnya karena dia sering menjadi perbincangan di sekolah kami. Dan sejauh ini, rumor mengenai dirinya memang tidak bagus.’ April 201X ‘Aku satu kelas dengan Axel! Dia berhasil membuat kelas kami heboh, karena dengan lantangnya dia sengaja pindah kelas agar bisa lebih dekat denganku.’ June 201X ‘Awalnya aku ragu, tapi Axel terus bersikap manis denganku. Gawat, kalau dia seperti ini terus. Aku bisa mencintainya.’ Dione menutup rapat buku bersampul merah muda dalam genggamannya, itu buku harian milik mendiang saudari kembarnya. Tiap lembaran yang berada di awal berisi kisah manis layaknya orang yang jatuh cinta dari sudut pandang Diana. Padahal jika di tela'ah kembali. Seharusnya Diana curiga dengan ungkapan cinta yang menggebu-gebu padanya saat mereka baru saling mengenal. Love boombing sebagai bentuk manipulasi dalam hal cinta. Dione tak menyalahkan Diana, dia tahu Diana pun sama sepertinya yang kurang kasih sayang. Mereka berdua anak dari korban perceraian orangtua mereka. Dione tinggal bersama ayahnya dan Diana tinggal bersama ibunya. Mungkin itu yang membuat Diana kurang figure lelaki dalam hidupnya, sehingga hadirnya cinta dari lelaki lain, membuatnya merasakan sebuah euphoria lain yang menyenangkan. Serta ungkapan kasih sayang terhadap orang lain itu sangat berharga untuk Diana. Sayangnya, Diana bertemu dengan orang yang salah. Orang yang malah memanfaatkan perasaan cinta yang diberikannya secara percuma. "Padahal kau tahu, dengan membaca dairy Diana, malah membuatmu semakin ingin membunuh Axel. Tapi tetap saja kau baca dan kau bawa dairy itu kemana pun," ujar Kai. Pria itu mendekati Dione, guna mengambil buku di tangan Dione untuk ditaruh di atas meja. Sahabat Dione itu melemparkan pistol yang sudah diisi peluru. Karena sekarang giliran Dione untuk menembak papan target. Mereka sedang berada di lapangan tembak khusus milik ayah angkat Dione. Tempat biasa Dione menghabiskan waktu untuk berlatih ketika dirinya masih bekerja di kepolisian. "Justru dengan aku yang terus membaca ini. Aku jadi tau strategi yang bagus untuk membalaskan dendam Diana. Akan aku pastikan lebih menyakitkan dari pada langsung dibunuh." Kai mengenakan kembali penutup telinganya, dan duduk tak begitu jauh di belakang Dione yang sudah bersiap menarik pelatuknya. Dan hanya butuh sekali tembakan. Wanita itu berhasil mengenai target tepat sasaran, benar-benar ditengah meski papan target berjarak cukup jauh. Dione akhirnya mengambil posisi duduk di samping Kai. "Memangnya apa yang akan kau lakukan pada pria b******k itu?" "Yang aku baca dari dairy Diana. Axel amat baik ketika mendekati Diana, dan perlahan berubah ketika Diana menjadi miliknya dan puncaknya, pria itu pergi setelah berhasil tidur dengan Diana." Kai menaikan sebelah alisnya. Dia masih tidak paham. "Jadi?" "Akan aku buat dia jatuh cinta padaku. Sampai di titik dia akan merasa ingin mati ketika aku tidak dengannya. Lalu setelah itu, karma akan menjemputnya dengan aku yang sepenuhnya menghilang dari hidupnya." "Kau tahu dia itu player, dia punya pengalaman yang banyak dengan wanita. Dia juga pernah mendapatkan Diana padahal dia tidak mencintai Diana. Kau yakin bisa mendapatkannya?" "Aku tidak pernah gagal dalam misiku saat masih di CIA. Kau juga tahu aku selalu mendapatkan misi yang sulit." Dione mengetuk kepalanya, "otakku sudah dirancang khusus untuk memberikan balasan setimpal bagi penjahat." Kai mendengus geli. “Yang terpenting kau jangan terjebak juga dalam pesona Axel.” “Sampai mati aku tidak akan pernah terpikat pada pria sepertinya!” *** "Selamat pagi, pak." Axel melirik sinis sekretarisnya yang mengucapkan salam padanya. Wanita itu memasang wajah datar seperti biasanya. Ya, wanita itu bersikap biasa, seolah pada malam itu tidak terjadi apa pun pada mereka. Seolah tidak ingat malam tempo lalu, mereka saling bertukar saliva di mobil milik Axel dan gagal melanjutkan ke ranjang karena terhalang tamu bulanan. Apa Diana sebegitunya tidak bisa minum alcohol dan melupakan semua yang terjadi ketika sedang mabuk? Padahal sampai detik ini Axel mati-matian menahan hasratnya, karena tidak bisa dia salurkan pada wanita mana pun sebab ayahnya sedang mengawasi gerak geriknya. Wanita sialan itu yang membuat hidup Axel tidak sebebas dulu, jadi bukankah harusnya wanita itu juga yang bertanggung jawab atas hasrat Axel yang tidak bisa tersalurkan? Paling tidak dibantu tuntaskan dulu kejadian di mobil. "Ada apa dengan pakaian mu?" tanya Axel begitu mereka sampai di ruangan Presdir. Wanita itu melihat penampilannya sendiri. Dia mengernyit, merasa tidak ada yang aneh. "Ada apa dengan pakaian saya? Biasanya saya juga berpenampilan seperti ini.” Kemeja dengan blazer kebesaran dan jangan lupakan juga rok sebatas tumit yang dikenakannya. Pakaian yang tidak menonjolkan lekuk tubuhnya sama sekali. Pakaian culun khas seorang Diana. Axel duduk di kursinya, dia melipat tangan di depan d**a. Matanya menelusur memperhatikan sekretarisnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kenapa kau tidak mengenakan pakaian seperti malam itu? Kau lebih cocok seperti itu dari pada penampilan culun mu seperti sekarang." "Saya bekerja di sini hanya sebagai sekretaris. Bukan sebagai p*****r pribadi anda dengan dalih menjadi sekretaris." Axel tersenyum miring. "Padahal malam itu pakaian mu lebih menggoda dari pada p*****r. Mungkin… lebih nikmat juga?" godanya. Masih dengan ekspresi yang datar sang sekretaris membalas, "tapi pada akhirnya anda juga menikmatinya bukan? Di mobil-" "Hei!" Axel spontan berdiri dan menunjuk lawan bicaranya itu, "kau ingat kejadian malam itu?!" Padahal dia sudah kesal setengah mati karena mengira Diana lupa kejadian di mobil. "Tentu saja." "Lalu kenapa hari ini kau bersikap biasa saja padaku?” tanyanya tak terima. Turun sudah harga dirinya sebagai player, karena wanita di depannya ini sama sekali tak menunjukan ketertarikan padanya. “Seolah kita tidak melakukan apa pun!” "Memangnya saya harus bersikap seperti apa setelah kita melakukan sesuatu yang tidak penting itu?" "Tidak penting katamu?" Axel menganga tak percaya, frustasi sendiri dibuatnya. Wanita itu bilang tidak penting? Bahkan banyak wanita di luar sana yang ingin tidur dengan Axel meski hanya melakukan one night stand! Si culun ini, bisa-bisanya bilang seperti itu. Pride nya sebagai pria merasa dipermainkan. Wanita itu mendengus. "Berarti menurut anda itu penting? Bukannya anda sering tidur dengan banyak wanita. Ah –atau mungkin saya wanita paling nikmat yang pernah anda rasakan?" Gila... dia benar-benar membuat kesabaran Axel di uji. Axel ingin membalas. Omongannya harus lebih pedas dari pada si gila ini. "Bukan. Aku hanya kembali penasaran dengan mu. Kalau aku sudah dapatkan lagi, juga aku tinggalkan." "Kalau begitu, coba dapatkan saya kembali, bebaskan rasa penasaran anda. Buat saya jatuh cinta lagi, dan akan saya berikan apa yang anda mau." Axel menyeringai. Berani sekali memberikan tantangan semudah ini padanya. “Akan kubuat kau bertekuk lutut di kakiku lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD