Axel menelan ludah. Pupil matanya terus bergulir ke wanita yang sedang mengendarai mobilnya ini. Kenapa Diana bisa jadi semenarik ini?
Sial! Dia terangsang dengan hanya melihat sekretarisnya memakai pakaian yang menampilkan lekuk tubunya. Dan apa itu? Kenapa wanita gila itu mengenakan bra berwarna hitam yang kontras dengan kemeja putih yang dikenakannya?!
Tanpa sadar dirinya berceletuk. "Bra mu kelihatan. Lebih baik kau copot saja kemeja mu itu, tidak berfungsi sama sekali."
Wanita berkacamata itu menjawab, "ah jadi anda terus melihat ke arah saya karena memperhatikan pakaian saya yang terlihat transparan?"
Axel kembali mengumpat dalam hati. Sumpah, demi apa pun, sekarang wanita itu jadi jago dalam berkata-kata yang membuat lawan bicaranya terdiam. Mana Diana yang selalu menunduk dan bersemu merah tiap berbicara dengannya?
Wanita itu menoleh dan mengedipkan sebelah matanya. "Bagaimana tubuh saya lebih menggoda dari pada sebelumnya bukan?"
Axel membelalakan matanya, tidak pernah terpikirkan olehnya, bahkan terlintas di otaknya pun tidak pernah, Diana berkata seperti itu padanya.
Meski begitu, dalam hati dia tetap menjawab pertanyaan mantan kekasihnya itu. Diana memang sangat menggoda dari yang terakhir Axel lihat!
Mereka sudah sampai di gedung tempat acara di adakan. Yang Axel lakukan pertama kali bukan bersiap turun dari mobil.
Namun melirik sekretarisnya yang sepertinya tidak membawa blazer yang dia berikan.
Axel pun melepaskan jasnya, dia melemparnya ke pangkuan wanita itu. "Kau tidak membawa blazer mu 'kan? Pakai jas ku saja. Agar tubuhmu tidak menarik perhatian."
Sekretarisnya itu tampak tertegun sebelum mendengar Axel melanjutkan ucapannya.
"Aku saja belum merasakannya lagi. Masa kau mau orang lain melihatnya sih."
***
Axel si pria sialan itu!
Tak henti-hentinya Dione mengumpat dalam hati.
Pada hitungan detik Dione hampir saja tertipu jika Axel tidak melanjutkan ucapannya kembali. Ya, mana mungkin sikap orang berubah hanya dalam semalam? Apa lagi sifat buruk yang sudah tertanam bertahun-tahun menjadi tabiatnya.
Dione meneguk minuman yang diambilnya dari pelayan yang berjalan dengan menawarkan minuman.
Alcohol memang paling enak diminum ketika pusing dengan atasan yang gila seperti Axel.
Dione menatap tajam pria itu yang sedang berbicang dengan presdir dari perusahaan lain, namun sesekali matanya melirik ke Dione. Seperti takut jika Dione melepas jas miliknya.
Bukan, bukan karena takut jas dengan brand mahal ini rusak atau apa, Axel mana pernah peduli dengan uang? Sebab yang hanya dia pedulikan adalah wanita yang menjadi incarannya.
Itu yang Dione tangkap dari buku harian milik mendiang kembarannya, Diana.
Baiklah, karena bosan dengan suasana yang tenang ini. Dione ingin membuat bossnya itu kelimpungan.
Dia menaruh gelas yang hanya tersisa sedikit tersebut di atas meja terdekatnya. Tepat ketika Axel mencuri pandangan padanya lagi, dia melepaskan jas milik Axel dan membuat mata pria itu membola.
Bukan hanya Axel, tapi orang-orang yang berada di sekitarnya pun terutama pria, menoleh padanya dengan pandangan penuh nafsu.
Dione melepaskan kacamatanya dan menggantung benda tersebut di kemejanya, sehingga belahan dadanya semakin terlihat jelas karena tergantung kacamata.
Dengan gerakan sensual dia mengambil minumannya kembali, sengaja meminumnya dengan berantakan agar sisa air keluar dari sisi mulutnya dan terkena ke kemejanya sehingga pakaiannya semakin transparan.
"Apa yang kau lakukan bodoh?!" bentak Axel dengan suara yang hanya dapat di dengar oleh Dione.
"Kau itu tidak pernah bisa minum alcohol, kenapa kau malah minum alcohol?"
Diana yang Axel kenal, dan Diana yang Dione kenal memang tidak pernah bisa meminum alcohol walau hanya seteguk. Jadi alcohol adalah alasan yang pas bagi Dione menjadi dalih dari perilaku nekatnya ini.
Axel mengambil gelas yang sudah kosong itu, menaruhnya asal, dan memakaikan kembali jasnya ke tubuh Dione.
Tanpa pamitan dengan tuan rumah. Pria itu menarik Dione keluar gedung dan masuk ke mobil mereka yang terpakir paling jauh dari kerumunan.
Terbiasa dengan pekerjaan lamanya yang menyamar, mudah bagi Dione pura-pura terlihat mabuk padahal alcohol yang hanya segelas tak mampu menghilangkan kesadarkannya.
Hanya berdua di mobil, dia mulai menggoda Axel dengan berani.
"Ah, pakaianku basah," gumamnya pura-pura terkejut kemejanya basah.
Dione melempar kacamatanya kesembarang arah, perlahan dia melepaskan kancing kemejanya. Namun karena pura-pura mabuk, dia membuat seolah dirinya sulit melepaskan satu kancing pun.
Dapat dia dengar napas pria di samping itu memberat. Setelah kejadian ayahnya yang datang tiba-tiba ke kantor, Axel mendapatkan pengawasan ketat dan sulit baginya melampiaskan nafsunya itu.
Pasti pria itu berpikir ini adalah momen yang tepat.
"Biar aku bantu."
Axel mengarahkan Dione agar menghadap ke arahnya. Mereka berada di kursi belakang sehingga mudah bagi pria itu mendekati Dione.
Dengan tidak sabar dia melepaskan kancing kemeja Dione dan bagian atas tubuh wanita itu hanya tersisa bra hitam saja yang menutupi d**a.
"Kau sengaja ingin menggodaku ya?" tanya Axel tepat di telinga Dione dengan nada seduktif.
Dione menggeleng pelan sebagai jawaban.
Axel menangkup wajah Dione, mereka bertatapan dalam beberapa saat sampai Axel menciumnya dalam.
Lidah mereka beradu, saling bertukar liur hingga suara decapan memenuhi mobil ini. Tangan pria itu tidak tinggal diam.
Dia melepaskan pengait bra Dione, dan saat terlepas sedikit tergesa dia meremas d**a Dione lembut sampai Dione melenguh dalam ciumannya.
Dione pernah melakukannya dengan mantan kekasihnya, foreplay yang seperti ini bukan pertama baginya. Jadi dia bisa menilai, Axel cukup ahli dalam membuat lawannya merasa nyaman dan terangsang dengan mudah.
Pantas banyak wanita yang ingin tidur dengannya. Permainannya cukup hebat.
Axel melepaskan ciumannya, kini bibir pria itu turun ke perpotongan lehernya.
"Aku turuti keinganan mu untuk tidur denganku lagi," ucap Axel.
Pria itu dengan lihat membuat tanda kemerahan di tempat yang tidak terlihat orang lain, lama-lama merambat turun hingga akhirnya mengulum p****g d**a Dione. Bagian paling sensitive di tubuhnya, terlebih pria itu jago sekali memainkannya dengan lidah di dalam mulutnya yang hangat.
"Ahh... ahh..."
Desahannya dibuat semakin menjadi-jadi seraya meremas belakang kepala Axel seolah menginginkan agar pria itu melakukan yang lebih. Sengaja memancing libido Axel sampai ke pucak dan merasa harus tersalurkan sekarang juga.
Tangan pria itu turun ke bawah menyelusup ke rok yang Dione gunakan.
Kemudian mengernyit dan melepaskan kulumannya pada d**a Dione.
Pada detik berikutnya. "Diana! Kenapa kau memancingku padahal kau sedang haid?!"
Dione mati-matian menyembunyikan senyuman gelinya dengan menunjukan ekspresi polos tidak tahu apa-apa.
Padahal ini adalah rencananya. Dia tahu Axel tidak segila itu melampiaskan nafsunya pada wanita yang sedang menstruasi, walau sebenarnya Dione hanya menggunakan pembalut saja meski hari ini dia tidak datang bulan.
Rasakan itu tuan muda!