Saling Membalas

1017 Words
"Diana, rangkuman meeting tadi, aku minta selesai dalam 2 jam dari sekarang." "Hei, Diana! Revisi ulang jadwalku bulan depan. Aku ada acara keluargaku di Manhattan awal bulan." "Apa kau tidak bisa melakukan kerjaanmu dengan benar?!" "Sekali lagi kau membuat kesalahan aku akan pecat kau sekarang juga tanpa harus konfirmasi ke ayahku!" Tak lama, terdengar suara benda yang dibanting dengan keras. Axel menoleh kebelakang, asal suara itu berada. "Kenapa kau lempar? Kau kesal seharian ini mendapat komplenan dariku atas kerjaan mu yang tidak beres itu?" Dione menatap tajam Axel di balik kacamata bulatnya. Pengang sekali telinganya mendengar ocehan tak bermutu bossnya itu sejak tadi pagi. Dione pun membalasa, "tidak, Pak. Tangan saya terasa licin, makanya dokumen ini terjatuh." Axel menaikan sebelah alisnya. "Kalau begitu cepat ambil kembali. Waktuku lebih berharga dari pada menunggumu." Pria itu pun membalikan badan berjalan kembali meninggalkan Dione yang menjadi pusat perhatian karyawan yang berada di lobby. Dengan kesal dia mengambil tumpukan dokumen tersebut. Menggerutu pelan agar tak terdengar orang lain, "tuan muda sialan! Seharusnya aku menimpuk saja kepalanya dengan alasan tak sengaja, sepertinya itu lebih baik dari pada membanting kertas tak berguna ini!" Axel seperti sedang membalas perbuatan Dione tempo lalu, pria itu memberikan Dione banyak pekerjaan kemudian berkomentar bahwa tiap yang Dione kerjakan tidak ada yang benar. Dan pria yang tak punya simpati apa lagi empati itu, mengomelinya di depan karyawan yang lain, sengaja membuatnya malu. Kalau pria b******k itu tahu, bahwa Dione adalah mantan intel kepolisian sebelum bekerja dengannya dan seorang anak angkat menteri. Demi apa pun Dione yakin Axel tidak akan memandangnya rendah. Saat seperti ini, memang paling bernafsu untuk membongkar identitasnya sendiri. Tapi Dione tahan mati-matian agar dendamnya terbalas dengan sempurna. "Kau tidak mengadu ke ayahku lagi tentang apa yang aku lakukan padamu?" tanya Axel saat mereka berdua sudah berada di mobil yang akan melaju ke restoran untuk makan siang. "Lalu setelah itu anda akan melakukan hal yang lebih tak masuk akal dari pada yang anda lakukan hari ini, Pak?" sarkas Dione. Axel mendelik ke wanita yang sedang menyetir mobil itu. "Kau berkata seolah aku adalah penjahat di sini." Batin Dione berteriak, memang Axel penjahatnya! "Saya tidak bermaksud begitu. Kalau anda berpikir begitu, mungkin anda sendiri yang menganggap diri anda adalah seorang penjahat," timpal Dione. Wanita itu mengangkat bahunya acuh. Axel tidak mau kalah. "Aku hanya mencoba professional di sini. Tak beda jauh dengan kau yang melaporkanku pada ayahku." Dione mengulum senyum. "Pak, sejak tadi saya sama sekali tidak membahas kejadian tempo lalu. Dengan anda sendiri yang membahasnya, bukankah itu sama saja membuktikan bahwa anda sedang membalas perbuatan saya?" Axel berdecak kesal. Merasa kalah telak dengan sekretarisnya. "Kau sedang melakukan psikologi terbalik ya?" Dione mengedikan bahunya lagi. "Psikologi terbalik? Saya saja tidak tahu itu apa." Pura-pura bodoh padahal dia pernah berkuliah di jurusan psikologi meski tidak sampai lulus karena memilih untuk pindah jurusan. Axel memicingkan matanya. Menaruh rasa curiga, meski Dione menunjukan wajah yang terlihat meyakinkan. "Sudahlah aku malas berdebat denganmu." Mobil yang mereka naiki sudah sampai di parkiran restoran, sebelum keluar lebih dulu Axel berkata, "malam ini ikut aku ke pesta ulangtahun perusahaan partner kita. Aku sudah menyiapkan baju untuk mu, ada di dashboard mobil." Selepas Axel turun dari mobil. Dione langsung membuka dashboard untuk mengambil pakaian yang disiapkan Axel. Kemudian dia tertawa sumbar. "Dia benar-benar ingin mengerjaiku sampai titik darah penghabisan ternyata,” desisnya. Axel hanya memberikan kemeja kebesaran dengan blazer biru gelap dan rok hitam selulut yang kebesaran pula. Sangat tidak pantas kalau dia gunakan untuk pergi ke acara besar perusahaan. Bukan Dione namanya jika tidak mengikuti alur permainan pria b******k itu. Dia mengambil ponselnya untuk menelepon Ruka, sahabatnya yang merupakan seorang designer. "Kau belum berangkat ke Paris 'kan?" "Belum, lusa aku baru berangkat. Kau berubah pikiran dan mau ikut denganku?" "Tidak. Aku mau meminta tolong, kau bisa permak pakaianku agar lebih –ah, bukan, permak pakaianku agar sangat seksi." "Hah?" Dione menyeringai. “Aku mau membuat boss gilaku, terjebak diperangkapnya sendiri.” *** Ruka : Apa kau gila? Katanya kau mau menyamar jadi Diana. Mana mungkin Diana memakai pakaian terbuka seperti itu? Dione : Aku akan menjadi Diana versi baru. Lagi pula, mana bisa aku diam saja saat dia ingin mengerjaiku terus Ruka : Terserah kau saja kepala batu Hasil tangan designer kelas dunia memang beda. Kurang dari sehari, malah hanya beberapa jam saja bisa menghasilkan pakaian model baru. Dione memperhatikan pakaiannya yang sangat melekat dengan tubuhnya, terlalu menampilkan lekuk tubuhnya. Jika tidak ditutupi blazer, pakaian dalamnya yang kontras dengan kemejanya ini sampai terlihat menerawang. "Kubuat kau mati berdiri, Axel!" pekik Dione menggebu. Dia mengambil kunci mobil yang berada di atas sofa apartemennya. Bersiap untuk menjemput atasannya itu. Apartemen yang dia tempati saat ini, adalah salah satu fasilitas dari perusahaan. Tak heran jika apartemennya dekat dengan rumah pribadi Axel. Sehingga tak butuh waktu lama untuk sampai sana. Dione : Pak, saya sudah sampai di halaman rumah anda Dione turun dari mobil setelah mengirimkan pesan tersebut ke Axel. Menunggu dalam beberapa saat sampai presdirnya itu keluar dari rumah dan mematung ketika melihat Dione. "Pak?" panggil Dione menyadarkan Axel. Axel menghela napas kasar, dia melangkah mendekati Dione dan menunjuk wanita itu. "Apa-apaan baju mu itu? Kau tidak memakai baju yang aku berikan untukmu?" Dione menunjuk saku kemeja yang terdapat logo perusahaannya. "Saya hanya mengubahnya sedikit. Anda hanya menyuruh saya memakai pakaian yang anda siapkan, bukan? Berarti tidak masalah jika saya mengubahnya." Axel mengacak kasar rambutnya. Lupa rambutnya itu sudah tertata dengan rapih. Ingin menyangkal tapi ucapan Dione benar juga. "Terserah kau saja. Ayo kira berangkat sekarang." Dione membukakan pintu untuk Axel di kursi bagian belakang. Kemudian pria itu berujar, "aku ingin duduk di sampingmu saja." "Baik, Pak." Dione menurut. Setelah pria itu masuk ke mobil, Dione pun menyusulnya, seperti biasa, dia yang mengemudi. Lewat ekor matanya, dapat dia lihat Axel mencuri pandang padanya, melirik gelisah ke beberapa bagian di tubuh Dione. Wanita itu pun berceletuk. "Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" Axel menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya belum terbiasa dengan kau yang sekarang, Diana." "Ah... begitu." Dione bersorak dalam hati. Akan ku buat kau terangsang ingin menyentuh tubuhkku, tapi tidak bisa melampiaskannya padaku, tuan muda b******k!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD