Diana Yang Berbeda

1027 Words
"Diana." Dione membuka ponselnya hendak mengetik sebuah pesan pada seseorang. Sengaja tidak mendengarkan Axel yang memanggilnya dengan menyebut nama mendiang saudarinya "Diana!" Bentakan itu membuatnya menoleh pada seorang CEO b******k bernama Axel. Axel mendekatinya dengan tangan yang taruh di saku. Tanpa permisi dia mengambil ponsel Dione dan menyimpannya di saku. "Aku sita ponselmu sampai jam pulang kantor," ucap pria itu dengan wajah datarnya, "jangan karena kita pernah menjalin hubungan kau jadi seenaknya saja Diana." Dione tidak meminta maaf, atau menunduk karena takut menatap Axel. Sorot biru miliknya malah menatap nyalang pada Axel dan juga wanita jalang yang menempel pada Axel. Dione juga pernah bekerja diperusahaan besar, dan dia tau bagaimana attitude menjadi sekretaris. Bukan tanpa alasan sejak tadi dia mengotak atik ponsel miliknya. Toh dia tidak merasa sedang bekerja. Dione tidak tahu apa yang ada di otak Axel. Setelah meeting, awalnya mereka hanya kembali ke ruangan berdua saja untuk melanjutkan pekerjaan, selepas itu hanya selang beberapa menit datang seorang wanita panggilan. Dan tak lama kemudian Dione melihat adegan tak senonoh terjadi di depannya. Mungkin kalau Diana yang benar-benar menjadi sekretaris Axel, saudari kembarnya itu akan menangis meraung-raung melihat pria yang dicintainya b******u dengan wanita lain. Dione berdiri dari kursinya. "Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Dione dengan wajah dibuat pura-pura polos. "Ini masih jam kerja dan kau malah tidak mengerjakan pekerjaan mu," desik Axel. "Pak, saya sudah mengerjakan pekerjaan sebelumnya menyangkut pembahasan meeting tadi, saya sudah menyerahkannya ke anda lewat email. Saya hanya tinggal menunggu pekerjaan selanjutnya dari anda yang tak kunjung anda berikan karena anda sibuk foreplay dengan wanita jalang yang anda sewa." "Hei! Kau berani membalas ucapanku?" "Tentu saja, karena saya benar," Dione membalasnya lagi, kali ini dengan sebuah senyuman diwajah cantiknya, "pekerjaan saya adalah menunggu perintah dari Pak Axel. Selagi anda melakukan kegiatan c***l seperti tadi, bukahkah sebaiknya saya menyibukan diri dari pada harus melihatnya? Atau anda punya kelaian suka melakukannya di depan umum dan anda menyuruh saya melihatnya?" Tangan Axel terangkat sudah menunjuk Dione tepat di wajahnya. Belum sempat sumpah serapah keluar dari bibir tipisnya, pintu ruangan Presdir terbuka. Sontak ketiga orang yang berada di ruangan tersebut pun menoleh ke orang yang dengan beraninya membuka pintu tanpa permisi. Axel pucat pasi ketika melihat siapa yang datang. Dia langsung menghempaskan wanita yang merangkul lengannya sampai wanita itu mundur cukup jauh. Berbanding terbalik dengan Dione yang mengulum senyum puas. "A-ayah?" Axel masih tidak percaya ayahnya datang ke sini tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, sebab yang dia tahu ayahnya masih berada di Shanghai, kenapa tiba-tiba bisa ada di sini? Dione membungkukan tubuh sebagai bentuk hormat. Melvin menatap putra tunggalnya dengan sorot yang tajam, kemudian beralih pada wanita dengan pakaian minim berada tak jauh dari putranya. "Tak salah aku mempekerjakan mu sebagai sekretaris putraku, Diana. Terimakasih sudah memberitahu kelakukannya yang menyalah gunakan jabatannya." Axel membelalakan mata. Dia beradu pandang dengan sekretarisnya yang masih tersenyum puas karena sudah mengadu pada ayahnya. Axel hanya mempu mengumpat dalam hati memaki wanita yang dia yakini adalah Diana. Walau perbedaan sifat Diana yang dia kenal saat ini, berbanding terbalik dengan Diana yang dulu mudah dia bodohi. Penampilan fisik masih sama. Lantas, apa yang membuat sifat wanita itu berbanding terbalik sekali? *** "b******k! Diana b******k! Padahal dulu dia mengemis cinta padaku!" maki Axel tanpa peduli beberapa meliriknya karena teriakannya. Axel menuang kembali tequila ke dalam gelasnya. Dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Tak kunjung mendapatkan balasan dari temannya yang dia ajak minum di bar malam ini, Axel semakin kesal. "Rodion, kalau kau tidak ingin menemaniku di sini lebih baik kau pulang saja kembali menjadi b***k cinta istrimu." "Aku juga ingin berduaan saja dengan istriku, dan aku harap besok dia tetap menjadi istriku." Rodion mengambil tequila milik Axel, dan menuangkannya ke dalam gelas miliknya. Axel memutar bola matanya bosan. Dia berniat mengajak Rodion untuk minum bersamanya agar sahabatnya itu mendengar keluh kesahnya, tapi sepertinya malah dirinya yang mendapat curhatan dari Rodion. Axel memilih mengabaikan ucapan Rodion. "Kepala ku hampir saja pecah karena sekretarisku memberitahu kelakuanku ke ayahku. Padahal aku berniat membuatnya resign dengan cara bermesraan dengan wanita lain di depannya, tapi hal yang dia lakukan malah diluar nalar." "Sekretarismu itu mantan kekasih mu 'kan?" "Iya, dia Diana mantan kekasihku yang katanya-" "Mantan kekasih memang sumber masalah," Rodion menyela, diam kembali mengalihkan curhatan Axel ke masalah pribadinya, "mantan kekasihku juga sama. Malah mungkin lebih parah, karena wanita gila itu datang kembali di kehidupanku, rumah tanggaku hampir hancur aku tidak menyangka mendapat surat gugatan cerai dari istriku." Axel mendelik menatap kesal Rodion yang memotong cerita Axel dengan kisah rumah tangganya yang tidak ingin Axel dengar. Tapi dia tetap bertanya sekedar menghargai temannya itu. "Lalu kau melakukan apa pada mantan kekasihmu itu?" "Kau tahu aku 'kan? Aku tidak akan tinggal diam saja dan membiarkannya keluar sebagai pemenang." Terpikirkan sesuatu atas omongan Rodion, Axel pun mengangguk seraya menunjukan seringainya. “Kau ada benarnya juga.” *** Dione tidak sempat mengganti pakaian sepulang dari kantor. Dia langsung menginjakan kakinya di bar yang biasa dia kunjungi bersama teman-temannya. "Kenapa wajah cantikmu terlihat kusut begitu?" canda pria yang bernama Kai itu. Dia menggeser tubuhnya agar Dione bisa duduk di sampingnya. Dione melepas kacamatanya, serta blazer yang dipakainya, dia hanya menyisahkan rok span panjang dan kemeja kebesaran dengan dua kancing teratas yang dibuka. Dione menyandarkan tubuhnya di sofa. Menghembuskan napas kasar. "Kai, aku lupa membawa rokok." Tangannya mengadah, Kai segera memberi apa yang wanita itu minta. "Kau baru beberapa hari bekerja dengan Axel, tapi sepertinya beban mu banyak sekali," Jevan menimpali. "Semakin lama bersamanya aku semakin melihat sisi menjijikan pada dirinya. Aku sampai bingung kenapa Diana bisa jatuh cinta padanya." "Hei, jangan menyalahi adikmu," balas Ruka, "kau sih tidak pernah jatuh cinta dengan perasaan yang teramat dalam, jadi kau tidak pernah tahu bahwa hati tidak bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta." "Omonganmu memuakkan sekali, Ruka." Dione mendelik. "Memang apa yang dilakukan Axel tadi?" tanya Kai. "Dia menyewa wanita jalang, kemudian foreplay di depanku. Mataku hampir sakit dibuatnya, untung saja aku segera melapor ke ayahnya sehingga aku tidak melihat mereka saling membuka pakaian." Penjelasan Dione dibalas gelakan tawa ketiga temannya. Dione merinding sendiri kembali mengingat apa yang tertangkap di matanya tadi. "Semoga pembalasan dendamku ini berjalan dengan cepat agar aku tak bertemu lagi dengan Axel!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD