“Siapa barusan?” Costa menghampiri Thalia dan menunjuk ke arah laki-laki yang berlalu pergi dengan dagunya. Thalia mengambil helm dari tangan Costa. “Mantan.” Ia berusaha menyingkirkan soal ucapan Fajar dari benaknya. Mungkin lelaki itu hanya mengigau dan menyesal telah memutuskannya. “Oh, ya? Lagi?” Alarm tanda waspada langsung berdering di benak Costa. “Banyak benar mantanmu!” sindirnya. “Cuma enam belas.” “Dia mantan yang ke berapa?” “Lupa. Mungkin yang ke sepuluh, atau sebelas.” “Ck ck ck!” Costa geleng-geleng kepala. Rasanya masih sulit dipercaya, pacar kecilnya itu mengalahkannya dalam urusan asmara. “Kalian ngomongin apa aja?” “Nggak ada. Cuma say hi.” “Beneran?” “Sumpah!” Thalia mengangkat dua jarinya. Rasanya tidak enak harus berbohong, tetapi urusannya dengan Fajar tida

