“Siapa yang cemburu?” sahut Costa setelah terdiam beberapa saat. Ia masih bertahan dengan penyangkalannya. “Sembarangan! Ayo pulang!” Ia mengambil seluruh paper bag dari tangan Thalia. Sebelah tangannya menggenggam jemari gadis itu, lalu menyeretnya kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Thalia menyunggingkan senyuman tipis melihat eratnya tautan tangan mereka. Terlihat jelas dari sikapnya bahwa Costa cemburu. Alih-alih seram, tingkah pria itu malah menggelikan. Katakanlah ia sengaja menyiram minyak untuk melihat reaksi Costa dengan terus membicarakan Jason, teman masa kecilnya semasa tinggal beberapa tahun di Yogyakarta. Setibanya di hotel, Costa memutar lewat pintu belakang untuk menghindari kemungkinan ada karyawan memergoki mereka di depan. Ia meletakkan barang-barang kepunyaan Tha

