Di dalam rumah besar bergaya klasik itu, keheningan yang sejak pagi menyelimuti seketika pecah oleh suara bisik-bisik cemas yang mulai terdengar dari sudut ruang tamu.
Alina baru saja keluar dari kamarnya ketika langkahnya terhenti, mendengar suara bibi Maggie yang sedang berbicara lewat telepon dengan nada penuh kekhawatiran.
Mata Alina melekat pada sosok bibi Maggie yang terlihat tegang, entah sedang berbicara dengan siapa tetapi dari nada suaranya, Alina bisa menangkap bahwa topik pembicaraannya terlihat serius.
“Bagaimana keadaan Nyonya? Apakah sudah ditangani dengan baik oleh Dokter?” tanya bibi Maggie dengan suara yang sedikit gemetar, seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Axel yang berada jauh di rumah sakit, melalui ponselnya menjawab dengan suara yang berat, “Nyonya Agatha dalam kondisi kritis, Bibi Maggie. Beberapa jam lalu kondisinya sempat membaik, tapi selang beberapa jam kemudian terjadi henti jantung yang di alami nyonya. Tim medis pun dengan cepat langsung berusaha sekuat tenaga untuk menstabilkannya.”
Mendengar kata “henti jantung”, bibi Maggie benar-benar shock
“Henti jantung?!” pekik bibi Maggie dengan suaranya yang meninggi penuh ketakutan dan kecemasan.
Tubuh Alina yang sejak tadi berdiri di belakang bibi Maggie mendadak lemas, seluruh nadinya terasa berhenti sejenak.
Mendengar kabar itu membuat dadanya sesak. Artinya, sakit yang diderita Agatha jauh lebih serius dari yang selama ini ia bayangkan.
Rasa bersalah yang membuncah menggelayuti pikirannya, bagaimana mungkin ia tak tahu? Bagaimana mungkin ia tidak diizinkan tahu lebih banyak?
Alina pun menunggu bibi Maggiew menyelesaikan panggilannya dulu lalu baru berani melangkah maju, dan menatap bibi Maggie dengan mata yang penuh harap dan getir, “Bibi Maggie... saya... saya ingin melihat Agatha. Saya harus tahu keadaannya.”
Bibi Maggie tersentak ketika melihat Alina disini, ia mengatupkan bibirnya rapat, pandangannya turun naik menilai Alina.
Ada tanya-tanya yang terpendam di balik tatapannya, seperti ragu dan sekaligus ingin memastikan.
Ia tahu Alina memang sepupu jauh nyonyanya, tapi ia tak pernah mengetahui apakah Alina mengetahui sakit Agatha secara rinci atau tidak, karena setahu dirinya, hanya ia dan Axel saja yang mengetahui karena ini sangat rahasia dan Damian tak membiarkan rahasia ini terbongkar.
“Nona Alina?” Suara bibi Maggie akhirnya pecah, menandakan dia menangkap kehadiran Alina.
Dengan suara pelan tapi penuh desakan, Alina mengulang, “Saya mohon, Bibi. Bibi juga ingin ke sana, kan? Saya tak bisa diam saja di sini tanpa tahu apa pun tentang keadaannya.”
Diam sejenak, bibi Maggie menatap Alina dengan dalam.
Pikiran dan hatinya bertarung antara keraguan dan kewajiban. Namun, ia tahu satu hal pasti, Alina masih satu keluarga dengan nyonyanya.
Kehadirannya disini pasti tentu tuannya telah mengizinkan yang itu berarti kemungkinan besar Alina telah mengetahui hal ini.
Dan juga bila ia menolak permintaan Alina, bukankah sama saja seperti ia menolak kehendak Agatha sendiri, yang mungkin diam-diam berharap Alina bisa berada di sisinya saat ini.
Bibi Maggie menghela napas panjang, akhirnya berkata dengan suara pelan,
“Baiklah, Nona. Kita pergi ke rumah sakit sekarang. Tapi, ingat, kita harus tetap tenang dan mengikuti arahan Dokter.”
Alina mengangguk penuh terima kasih, meski di hatinya ketegangan semakin menjadi.
Ia tahu perjalanan menuju rumah sakit kali ini bukan sekadar kunjungan biasa.
Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih berat yang harus ia hadapi. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
***
Masih mengenakan daster longgar agar tak memperlihatkan perutnya kepada bibi Maggie atau orang rumah bila ia tengah mengandung, mereka berdua melangkah menuju tempat ICU yang telah di beritahu oleh Axel.
Pagi yang seharusnya ia mendapatkan kabar baik tentang Agatha, tetapi ia justru mendapatkan kabar buruk yang tanpa ia sengaja ia dengar pula dari bibi Maggie.
Di ujung lorong tepatnya di depan ruang ICU, ia sudah melihat Damian yang tengah duduk setengah membungkuk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tuan Damian," kata bibi Maggie ketika telah sampai di depan Damian, ia menatap Damian dengan penuh iba merasakan bagaimana menyedihkannya melihat nyonyanya di dalam tengah berjuang antara hidup dan mati.
Damian perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya bukan hanya tertuju pada bibi Maggie saja, tetapi juga menyapu ke arah Alina yang ternyata ikut datang ke sini. Sebuah napas kasar terdengar dari dadanya.
Untuk apa dia datang ke sini? pikir Damian dengan penuh kemarahan. Kehadiran Alina dianggapnya tidak pantas, bukan bagian dari kehidupan mereka. Alina hanyalah orang asing, sosok yang tak seharusnya berada di tempat seperti ini.
Alina sendiri bisa merasakan tatapan penuh kebencian yang menusuk dari mata Damian. Tubuhnya gemetar, ia mencengkram erat ujung pakaiannya sendiri, mencoba menahan aura mencekam yang terpancar dari pria itu.
Ia pun langsung menghentikan langkahnya, tak berani maju mendekat seperti bibi Maggie yang begitu berani dan penuh kasih.
Tapi Damian sedang tidak ingin menciptakan keributan di sini.
Istrinya masih berada dalam masa kritis, belum melewati titik bahaya setelah semalam mengalami kondisi yang nyaris fatal, detak jantung Agatha sempat menghilang, tak terdeteksi.
Ia hanya bisa berharap, berdoa agar Tuhan mendengar jerit hatinya dan memberikan kesembuhan bagi istrinya.
Ia dan Agatha hanya ingin hidup bahagia, tapi kenapa begitu sulit?
Kevin, yang sudah mengerti betul kondisi tuannya, segera mendekat ke bibi Maggie. Dengan isyarat gelengan kepala, ia memberi tahu bahwa nyonya mereka masih belum melewati masa kritis.
Tubuh bibi Maggie seketika melemas. Matanya menatap ke arah pintu dengan kaca buram yang menjadi pembatas antara mereka dan Agatha.
Meski kaca itu buram, bibi Maggie bisa melihat sedikit lewat celah pintu, di mana nyonya itu terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan yang menempel di hidungnya. Beberapa alat lain juga tersambung ke tubuh Agatha, memantau detak jantung dan fungsi vital lainnya.
Hati Bibi Maggie begitu sakit melihatnya, ia telah bekerja begitu lama bersama dengan Agatha bahkan sebelum menikah ia lebih dulu ikut dengan Agatha, tapi kini ia harus melihat wanita yang begitu baik hati itu harus terbaring lemah di sana.
Ini bukanlah akhir dirinya bekerja dengan nyonyanya bukan?
Di sisi lain, Alina sangat ingin melangkah mendekat, ingin melihat kondisi Agatha lebih jelas dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Namun kenyataan yang pahit langsung menamparnya. Tatapan peringatan Damian yang dingin dan penuh kebencian sudah menjelaskan bahwa ia tak berhak ikut campur.
Bibi Maggie baru menyadari keberadaan Alina yang memilih duduk agak jauh dari mereka. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri Alina.
“Nona Alina, kenapa tidak mendekat untuk melihat nyonya Agatha?” tanya bibi Maggie dengan suara lembut.
Alina hanya menggeleng kepalanya pelan, "Saya-- saya hanya takut memperkeruh keadaan, Bi."
Bibi Maggie mengusap bahu Alina, meskipun begitu bibi Maggie pasti tahu apa yang Alina rasakan, ia saja yang hanya sebatas maid merasakan kesedihan mendalam apalagi Alina yang merupakan sepupunya, meskipun hanya sepupu jauh.
"Saya percaya Nyonya Agatha bisa bertahan, Nyonya Agatha adalah orang yang kuat dalam mengatasi semuanya,"
Alina mendengarkan dengan seksama, hatinya sesak penuh kesedihan. Tanpa sadar, air mata mulai menetes perlahan di pipinya.
"Lima tahun Nyonya Agatha bisa bertahan akan penyakitnya, saya yakin Nyonya bisa melaluinya, operasi pengangkatan rahimnya sudah di depan mata, tidak mungkin nyonya akan menyerah begitu saja," kata bibi Maggie yang akhirnya ikut menangis tersedu.
Alina yang mendengar benar-benar shock, pengangkatan rahim? Itu artinya rahim Agatha memiliki masalah yang serius?
"Pengangkatan rahim?" cicit Alina pelan dan itu dapat di dengar oleh bibi Maggie.
Bibi Maggie menatap Alina dengan raut wajah bingung tapi lembut, “Ya, operasi pengangkatan kanker rahim dan ovarium milik Nyonya. Nona sudah tahu, bukan?” tanyanya dengan suara serak dan isak tangis yang berusaha ditahannya.
Alina terdiam. Kata-kata itu menusuk jauh ke dalam hatinya.
Jadi inilah alasan Agatha melakukan surrogasi ini? Karena kanker rahim yang ia derita?
Tangis Alina kembali pecah. Ia tidak pernah tahu bahwa beban yang dipikul Agatha sedemikian berat.
Wanita yang selama ini ia lihat tidak pernah memperlihatkan kesedihan, justru terlihat kuat dan tabah, ternyata menyimpan perjuangan yang begitu dalam.
Hingga tak lama kemudian Dokter dan tim medis lainnya bergerak dengan cepat menuju ke arah tempat Agatha berada.
Pandangan mereka semua tertuju pada sang dokter terutama Damian yang melihat kehadiran dokter dan para medis sontak bangkit dan menghampiri dokter.
“Apa yang terjadi? Kenapa kalian datang ke sini?” Damian bertanya dengan nada gemetar, takut sesuatu yang buruk akan terjadi.
Namun dokter tidak menjawab langsung. Mereka segera masuk dan menyiapkan alat untuk menangani keadaan darurat.
Damian panik dan menahan salah satu perawat, suaranya bergetar penuh ketegangan.
"Apa yang terjadi pada istri saya!!!"
“Maaf, Tuan. Kami harus segera menangani keadaan pasien yang terdeteksi kehilangan detak jantung kembali,” jawab perawat dengan cepat.
Dunia Damian seolah runtuh dalam sekejap.
Detak jantung istrinya kembali hilang, seolah semua harapan kembali sirna.